
Cat dan Nuril kini telah terduduk di sofa ruang tamu bersama Gani serta Rimar.
Namun, Rimar pergi sebentar ke dapur untuk membuatkan minum bagi mereka berdua.
Itu dijadikan kesempatan oleh Gani untuk bertanya pada mereka terlebih dulu.
"Eee kalian itu mau bicara apa toh?" tanya Gani.
"Ada deh paman, nanti paman juga tahu sendiri kok. Kita bakalan bicara kalau udah ada tante Rimar, sabar ya paman!" jawab Cat.
"Iya paman, lagian paman kenapa sih kayak panik gitu? Kita kesini kan cuma mau bicara, jadi paman santai ajalah, rileks gitu!" sahut Nuril.
"Kamu bicara apa sih? Lagian siapa juga yang panik? Saya itu kan cuma penasaran aja sama apa yang mau kalian bicarakan," elak Gani.
"Yaudah, paman nanti dengerin baik-baik ya sewaktu kita berdua bicara sama paman dan tante Rimar! Aku yakin deh, paman pasti bakalan kaget dengarnya nanti!" ucap Cat.
Gani masih tampak gusar dan cemas memikirkan apa maksud dari Cat barusan.
Sementara Cat dan Nuril hanya terkekeh kecil melihat ekspresi Gani saat ini.
Tak lama kemudian, Rimar kembali membawa dua gelas minuman untuk Cat dan Nuril.
"Nah, ini dia minumannya.. silahkan diminum dulu nak Cat, nak Nuril!" ucap Rimar seraya meletakkan dua gelas itu di atas meja.
"Makasih tante!" ucap Cat sambil tersenyum.
Cat dan Nuril pun meminum minuman itu, sedangkan Rimar duduk di kursi tanpa menaruh nampannya lebih dulu.
"Jadi, kalian berdua mau bicara apa nih sama om dan tante?" tanya Rimar penasaran.
"Ah iya tante, ini itu masalah Fatimeh. Kita berdua baru beberapa hari yang lalu ketemu sama dia dan kita dapetin informasi yang penting banget tentang Fatimeh," jawab Cat.
Deg!
Jantung Gani seketika berdetak makin kencang mendengar ucapan Cat barusan.
"Gawat! Ngapain sih mereka pake bahas Imeh segala? Bisa mampus saya!" batin Gani.
Sontak Rimar semakin merasa penasaran dengan apa yang hendak dikatakan oleh Cat serta Nuril padanya saat ini.
"Informasi apa ya yang penting banget mengenai Fatimeh?" tanya Rimar.
"Eee begini tante, selain Fatimeh masalah ini juga menyangkut om Gani." jawab Nuril.
__ADS_1
"Maksudnya apa? Kok jadi saya dibawa-bawa juga? Kalian langsung aja lah bicara dan jangan bertele-tele!" ujar Gani panik.
"Oh gitu ya om? Oke deh, kayaknya om gak sabar banget pengen kita bicara. Langsung aja deh saya kasih tahu ke om sama tante," ujar Nuril.
"Emang ada apa sih ini nak Nuril? Tante benar-benar gak ngerti deh," tanya Rimar.
"Penyebab utama Fatimeh pergi dari rumah ini, itu bukan karena dia mau tinggal mandiri. Tapi, ada suatu alasan lain yang membuat Fatimeh gak bisa tinggal lagi disini tante." jawab Nuril.
"Hah? Alasan apa?" tanya Rimar penasaran.
Jantung Gani semakin berdetak kencang, pikirannya tidak bisa diajak berkompromi karena suasananya yang sedang panik.
"Om Gani adalah penyebabnya, bertahun-tahun om Gani selalu berbuat yang tidak-tidak dengan Fatimeh, sampai dia juga merenggut kesucian Fatimeh secara paksa." jelas Nuril.
"Ya tante, paman Gani ini tidak sebaik yang tante kira, karena dia itu orang jahat!" sahut Cat.
Sorot mata tajam langsung mengarah ke Gani, pria itu lagi dan lagi makin dibuat tak berkutik dengan ucapan kedua orang itu.
"Apa??" Rimar terkejut bukan main.
Lalu, Rimar menoleh ke arah suaminya dan menatap dengan tidak percaya.
"Benar begitu mas?" tanya Rimar pada suaminya.
"Enggak sayang, itu gak benar. Kamu jangan kemakan omongan mereka! Mana mungkin aku ngelakuin itu semua sama Fatimeh? Dia itu keponakan aku loh," elak Gani.
"Diam kamu bocah ingusan! Kamu benar-benar bikin saya emosi!" ucap Gani kesal dan langsung berdiri menunjuk Nuril.
•
•
Disisi lain, Fatimeh menghampiri Alana yang sedang menangis seorang diri di club milik bos Ajun.
Fatimeh merasa heran melihat Alana menangis sesenggukan seperti itu, ia tak mengerti mengapa Alana bisa menangis sederas itu.
"Alana.." panggil Fatimeh lirih.
"Eh, lu ngapain kesini? Club ini kan tutup, lu mau godain siapa disini? Gue?" ujar Alana.
"Hahaha, ya enggak lah Alana.. aku kesini tuh karena dengar suara tangisan kamu tadi, kamu kenapa nangis disini Alana? Ada yang lagi kamu pikirin ya?" ucap Fatimeh.
"Ah enggak, gue cuma bingung aja. Gue gak tahu harus cari uang kayak gimana lagi," ucap Alana.
__ADS_1
"Ohh, kamu nangis karena gak punya uang? Emang kamu lagi butuh banget uang ya?" tanya Fatimeh.
"Ya begitu deh, gue harus bayar kontrakan yang udah nunggak tiga bulan. Ngapain lu tanya-tanya begitu? Lu mau bayarin?" jawab Alana.
"Boleh," ucap Fatimeh sambil tersenyum.
"Hah? Serius lu?" tanya Alana memastikan.
"Iya dong Alana, sesama teman itu kan harus saling membantu. Tapi sebelum aku bantu kamu, aku punya satu permintaan dong." jawab Fatimeh.
"Permintaan apa? Lu mau gue puasin?" tanya Alana frontal.
Fatimeh menggeleng sambil terkekeh pelan, "Bukan begitu Alana, yakali aku minta dipuasin sama kamu." ucapnya mengelak.
"Terus, lu minta apa dari gue? Ngomong aja langsung gausah malu-malu!" ujar Alana.
"Aku pengen lihat kamu rubah penampilan kamu, kamu itu kan cowok jadi kamu harus ubah penampilan kamu seperti cowok pada umumnya! Jangan lah jadi kayak gini!" ucap Fatimeh.
"Heh! Lu mau nasehatin gue? Emang lu pikir hidup lu sendiri udah bener? Lu aja jadi wanita malam kayak gini, pake segala ceramahin gue! Urus dulu tuh hidup lu yang bener!" ujar Alana emosi.
"Kamu kok marah sih? Aku kan cuma ingetin kamu, kalau kamu itu laki-laki bukan perempuan. Ayo dong ubah penampilan kamu! Aku yakin, setelah itu pasti rezeki kamu lebih baik lagi!" ucap Fatimeh.
"Gausah sok tahu lu! Dari dulu sampe sekarang gue juga sadar kali, kalo gue ini laki-laki! Jadi, lu gak perlu repot-repot ingetin!" ucap Alana.
"Ya bagus deh! Tapi, kamu coba dong tunjukin kalau kamu emang laki-laki sejati! Ubah penampilan kamu!" ucap Fatimeh.
"Kalo gue gak mau gimana? Lu masih tetep maksa gue?" tanya Alana.
"Gak juga sih, semua terserah kamu. Tapi, demi kebaikan kamu sebaiknya ya kamu ikutin aja kata-kata aku." jawab Fatimeh.
"Heh! Denger ya, gue bakal ubah tampilan gue sesuai omongan lu, asalkan lu juga mau berhenti jadi wanita malam!" ucap Alana.
Fatimeh terdiam membeku.
"Kenapa? Gak bisa kan? Ya itulah yang gue rasain, gue juga susah buat berubah!" ucap Alana.
"Kata siapa? Aku bisa kok," ucap Fatimeh lantang.
Alana terkejut dan kembali menatap Fatimeh dengan wajah kaget.
"Lu serius?" tanya Alana.
"Iya, kita sama-sama berubah yuk!" jawab Fatimeh sambil tersenyum dan meraih satu tangan Alana lalu digenggamnya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...