
Aldy mengantar Fatimeh kembali ke club setelah hari mulai sore, ia tak mau wanita itu kecapekan karena harus bekerja malam nanti.
Sepanjang jalan mereka saling terdiam dan tak banyak bicara, nampaknya Fatimeh masih bingung untuk menjawab pertanyaan Aldy tadi.
Sementara Aldy sendiri juga tampak canggung untuk berbicara dengan Fatimeh sebelum mendapat jawaban pasti dari wanita itu.
Setibanya di depan club, Fatimeh langsung turun dari motor dan menghadap ke arah Aldy untuk berpamitan.
"Mas, makasih ya tumpangannya! Kalo gitu aku langsung mau masuk ke dalam, permisi!" ucap Fatimeh.
"Eh tunggu Meh!" Aldy menahan Imeh dengan mencekal lengannya.
"Aih, mas Aldy pasti mau bahas soal hubungan aku sama dia. Gimana ini?" batin Fatimeh.
"Eee iya, ada apa ya mas?" tanya Fatimeh dengan gugup.
"Kita masuknya barengan aja, soalnya aku pengen ke dalam juga. Aku penasaran soal Tina, aku mau tahu kira-kira dia udah pulang atau belum." jawab Aldy sambil tersenyum.
"Huh syukurlah!"
"Oh gitu, yaudah ayo kita masuk!" ucap Fatimeh tersenyum lega.
"Iya," ucap Aldy singkat.
Aldy pun membuka resleting jaketnya dan berjalan masuk ke dalam club itu dengan menggandeng tangan Fatimeh.
Fatimeh hanya terdiam pasrah mendapati tangannya digenggam oleh Aldy, ia tak berani komplain atau berontak darinya.
"Eee mas, kira-kira bos Ajun udah tahu belum ya kabar Tina hilang ini?" tanya Fatimeh pada Aldy.
"Entahlah, semoga aja belum! Karena kalau sampai dia tau, beuh bakal riweh urusannya!" jawab Aldy.
"Maksudnya?" tanya Fatimeh tak mengerti.
"Ya gitu deh Meh, papi aku itu pasti gak bakal terima kalau salah satu anak buahnya hilang. Dia akan marah besar juga sama semua orang disini, nantinya bakal heboh deh!" jelas Aldy.
"Ohh, berarti bos Ajun perduli dan perhatian ya sama semua anak buahnya?" ucap Fatimeh.
"Gak perduli juga sih, tapi papi aku takut kehilangan sumber uangnya. Makanya dia gak mau ada anak buahnya yang hilang," ucap Aldy.
"Oh gitu," ucap Fatimeh manggut-manggut.
Sesampainya di dalam, terlihat banyak orang tengah bersedih dan menangis sesenggukan.
Tentu saja Aldy serta Fatimeh sama-sama dibuat bingung menyaksikan itu semua.
"Loh mas, itu kenapa ya?" tanya Fatimeh.
__ADS_1
"Gak tahu deh, kita cek aja yuk!" ujar Aldy.
Fatimeh mengangguk dan mereka pun melangkah bersamaan mendekati orang-orang itu.
"Hiks hiks Tina... kenapa ini semua terjadi sama kamu Tina?? Aku sedih banget kehilangan kamu, Tina bangun Tina!!" suara tangisan Mira terus terdengar di telinga Aldy dan Fatimeh.
"Hey hey!" Aldy menegur mereka dengan wajah penasaran.
"Ada apa ini? Kenapa kalian semua nangis kayak gini?" tanya Aldy pada mereka.
"Mas Aldy? Mas, Tina mas!" ucap Mira terus menangis sesenggukan.
"Hah? Tina kenapa? Ada apa sama Tina? Dia sudah kembali?" tanya Aldy penasaran.
Lalu, Dans selaku manager disana datang menghampiri Aldy dengan wajah sedih dan sedikit menunduk.
"Begini tuan Aldy, barusan ada seseorang yang menaruh karung di depan tempat ini. Setelah dicek, di dalam karung itu ternyata terdapat jenazah Tina yang sudah dimutilasi. Kami benar-benar syok berat melihatnya tuan," jelas Dans.
"Apa??" Aldy terkejut hebat dan langsung menutup mulutnya begitu mendengar penjelasan dari Dans.
Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang diucapkan Dans.
"Kamu gak bohong kan?" tanya Aldy.
"Enggak tuan, ini semua benar-benar terjadi. Kalau tuan mau lihat sendiri, silahkan saja tuan kesana!" jawab Dans.
"Hah??" Aldy mengarahkan pandangannya ke pojok dimana terdapat karung penuh bercak darah.
Maesaroh dan yang lainnya juga menghampiri Fatimeh, mereka berpelukan bersama-sama disertai tangisan histeris.
"Walau aku dan Tina baru kenal selama disini, tapi berita ini benar-benar bikin aku sedih. Tina, aku minta maaf ya kalau ada salah sama kamu! Aku gak nyangka kamu harus meninggal dalam keadaan yang mengenaskan seperti ini," batin Fatimeh.
•
•
Gani menghampiri istrinya yang tengah duduk di sofa sambil melipat baju-bajunya.
Gani tampak tak tega melihat Rimar terus bersedih akibat ditinggal oleh Fatimeh.
"Sayang.." ucap Gani lirih sembari duduk di sebelah Rimar dan menyentuh pundak istrinya itu.
"Hm," Rimar hanya berdehem pelan tanpa menatap wajah suaminya.
"Kamu mau sampai kapan kayak gini terus? Ini udah berminggu-minggu loh sejak Imeh gak tinggal disini lagi, masa kamu masih belum bisa lupain dia?" tanya Gani.
"Gimana aku bisa lupain Imeh, mas? Imeh itu satu-satunya peninggalan saudara aku, dia sangat berarti buat aku mas!" jawab Rimar tegas.
__ADS_1
"Ya aku tahu, tapi mau gimana lagi? Imeh sendiri yang putusin buat pergi dari sini, kita kan udah berusaha ajak dia kembali kesini waktu itu, tapi dia malah nolak." ujar Gani.
"Tetep aja mas, aku ngerasa ada yang gak beres dengan kepergian Imeh ini." ucap Rimar sinis.
"Maksud kamu?" tanya Gani tak mengerti.
"Entahlah, aku curiga aja sama kamu. Soalnya gak mungkin Imeh punya pikiran itu secara tiba-tiba," ucap Rimar.
"Apa sih sayang? Kamu nuduh aku yang udah usir Imeh gitu? Mana mungkin sih sayang? Aku juga gak mau kehilangan dia loh!" elak Gani.
"Bisa aja kan mas, Imeh ngerasa gak nyaman tinggal disini gara-gara ulah kamu." ucap Rimar.
Gani mulai panik karena terus-terusan dicecar oleh Rimar, namun ia masih berusaha tetap tenang agar tak membuat Rimar makin curiga.
"Kamu jangan mikir gitu lah! Aku ini suami kamu loh, masa iya aku tega lakuin itu sama keponakan kamu sendiri? Imeh juga udah aku anggap sebagai anak aku sendiri loh," ucap Gani.
"Ya baguslah kalau emang begitu, tapi kan gak ada yang tahu sama apa yang udah kamu lakuin ke Imeh sewaktu aku pergi." kata Rimar.
"Astaga sayang! Udah ya cukup, jangan bahas itu lagi! Aku gak suka kamu tuduh aku kayak gitu, paham?!" ujar Gani.
"Iya iya.." ucap Rimar menurut.
Gani pun memalingkan wajahnya, ia mengerutkan keningnya dan merasa khawatir jikalau Rimar masih terus menaruh curiga padanya.
"Aduh! Gimana ini ya? Kalau Rimar tahu, dia pasti bakal marah besar sama aku!" batin Gani.
Disaat ia tengah berpikir keras, tiba-tiba saja sebuah ketukan pintu terdengar dari arah depan.
TOK TOK TOK...
"Permisi, selamat sore!" suara itu membuat Gani dan Rimar terkejut.
"Mas, kamu buka gih pintunya!" pinta Rimar.
"Iya iya," Gani menurut dan bangkit dari duduknya lalu menuju ke pintu.
Ceklek...
"Ya cari siapa?" tanya Gani pada dua orang siswa SMA yang ada di depan rumahnya.
"Halo paman! Ini aku Cat, temannya Imeh. Dan ini juga sahabat aku, namanya kak Nuril." ucap seorang wanita yang ternyata adalah Cat.
"Selamat sore paman Gani!" sapa Nuril sambil tersenyum lebar.
"Hah? Mau apa teman-temannya Fatimeh ini datang kesini? Kok saya tiba-tiba jadi panik kayak gini ya?" batin Gani.
Cat dan Nuril tersenyum saja dan saling pandang, mereka seperti bisa menebak jika Gani sedang terkejut saat ini.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...