
Maaf Typo bertebaran beb
Belum sempat edit.
.
.
.
.
.
Sebelum membaca, Jangan lupa ya kakak komen dan like nya ya.... dan juga jangan lupa follow aku ya kakak supaya kita bisa berteman.. semua itu buat semangat ku untuk menulis..
.
.
.
.
TERIMAKASIH
.
.
.
...selamat membaca semoga suka ceritanya......
*********
...GAIRAH CINTA KUANRIN ...
.
.
.
.
.
Ting
Tong
Ceklek
Krekkk
"Eh~ nyonya."
"Kenapa Bi kog kaget kaya abis liat setan." Ucapku yang melihat Bibi Surti kaget saat membukakan pintu.
"Bukan nya~ anu~ itu nya~."
"Bibi nih ngomongnya bukan anu inu aja deh, aku mau bangunin Kuan Ge, soalnya aku hari ini mau cek apa aku hamil atau tidak." Ucapku tidak sabar dan mengabaikan panggilan Bibi.
"Nya~ nyonya Karin--- eh Tuan besar dan nyonya Besar silahkan duduk dulu! Sebentar ya~ nyonya Karin---."
Ceklek
Kreeekk
"Ku-Kuan Ge?!"
Aku mematung melihat pemandangan yang ada didepanku ini, dan ini tidak mungkin.
Suamiku dia---.
.
.
.
.
.
.
****
"Ge----." Teriak ku.
Aku berlari kearah Kuan Ge untuk menolongnya, suamiku sudah bersimbah darah. Dia pingsan dan tergeletak di lantai.
Banyak darah yang keluar dari hidungnya, aku pun dengan panik memanggilnya agar Kuan Ge sadar dari pingsan nya. "Ge--- bangun!! Kuan Ge bangun--!! Mama--- Papa--- cepat kemari!!" Teriak ku yang panik memanggil kedua orang tua ku.
Dengan segera aku mengambil tisu yang selalu tersedia di nakas. Ku bersihkan semua darah yang keluar dari hidung suamiku dengan tisu itu dan tangan ini sedikit gemetar karena aku tidak terbiasa melihat darah sebanyak itu kecuali darah datang bulanku sendiri.
Mama dan Papa akhirnya datang bersama Bibi yang mengikuti dari belakang sedikit ketakutan.
Tap
Tap
Tap
"Ya ampun Karin ada apa ini?? Apa yang terjadi pada Kuan??!" Tanya Mama yang kaget dan beliau langsung membantuku membersihkan darah yang keluar dari hidung suamiku.
"Karin enggak tahu Mam, tadi saat masuk tiba-tiba Kuan seperti ini?!"
"Bi~ apa yang terjadi pada Kuan??" Tanya Papa pada Bibi lalu iya ikut membantu menggotong tubuh Kuan Ge ke atas tempat tidur setelah aku dan Mama membersihkan noda darah yang keluar dari hidung Kuan Ge.
"Ma~ maaf nyonya, saya tidak tau. Cuma tadi waktu pulang memang Tuan bilang sedikit pusing dan minta jangan ada yang mengganggunya karena mau istirahat sebentar." Jelas Bibi padaku. "Kata Tuan semalam ada operasi mendadak yang membuat dia tidak dapat beristirahat dengan benar." Jelasnya lagi.
Setelah mendengarkan penjelasan Bibi aku segera menghubungi Dokter Jung teman dari suamiku untuk datang kerumah memeriksa Kuan Ge.
Kejadian ini benar-benar membuat ku ketakutan, Padahal hari ini adalah hari dimana aku harus cek kandungan ku ini? Tapi tidak mungkin kan aku meninggalkan suamiku dalam keadaan seperti ini?
- **"Ya Tuhan aku pasrah saja, jika memang jodohku memiliki seorang anak maka engkau akan memberikannya. Tapi jika emang belum rejekiku maka aku akan terima dengan ikhlas asal suamiku ini sembuh dan tidak terjadi apa-apa dengannya, dan semoga embrio ini berkembang di kandunganku." Ucapku dalam hati**-.
"Karin kamu bisa pergi dengan Papa untuk periksa kandunganmu, dan biarkan Mama yang rawat suamimu ini bersama Bibi." Usul dari Mama yang tau kalau aku sedang dilema.
"Tidak perlu Mam, aku akan tetap disini, jika memang rejeki, aku pasti akan memilikinya. Jika belum rejeki ya sudah tidak apa-apa." Ucapku walaupun sedikit sedih. "Asal Gege baik-baik saja aku ikhlas." Kata ku mencoba menguatkan diri sendiri dari keadaan ini.
"Ya sudah terserah kamu saja, semoga kamu tidak akan menyesal karena sudah mengambil keputusan ini."
"Karin rasa Karin tidak akan menyesal, malah kalau aku pergi terus Kuan Ge kenapa-kenapa malah aku akan nyesel nantinya." Ucap ku menyakinkan Mama.
"Lebih baik seperti ini, karena memang istri harus selalu disamping suami apapun kejadiannya, kamu sudah benar jika tetap ingin disamping suamimu. Papa yakin nanti kamu akan mendapatkan yang kamu inginkan." Ucap Papa menyakinkanku atas tindakkan ku untuk tetap berada disisi Kuan Ge.
Setelah beberapa saat, akhirnya Dokter Jung datang lalu iya pun segera memeriksa Kuan Ge. Dari hasil pemeriksaan Kuan Ge hanya kecapaian saja, Tidak ada yang serius.
Tapi kata Dokter Jung jika masih takut terjadi sesuatu maka disarankan untuk cek darah komplit.
__ADS_1
"Terimakasih Dokter Jung, nanti saat Kuan Ge sudah sadar, aku akan minta dia untuk cek lab saja! biar aku tidak cemas nantinya." Ucapku pada Dokter yang sekaligus teman suamiku ini.
"Itu lebih bagus, dan jangan lupa suruh minum obat yang teratur. Kadang seorang Dokter akan lebih susah untuk minum obat karena dia suka merasa dirinya lebih tau dengan kondisi tubuhnya, dan selalu bilang baik-baik saja."
"Siap Dok."
Setelahnya Dokter Jung pun pergi meninggalkan rumah tak lama kemudian Kuan Ge pun sadar dari pingsannya.
"Karin Papa dan Mama pulang dulu, nanti kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungi kami!" Kata Mama ku yang sepertinya ada keperluan lain.
"Baik Mam, Karin tidak apa-apa, lagian ada Bibi dirumah."
"Ya sudah Nak, kamu harus sabar dan kuat. Ini adalah ujian dalam pernikahanmu." Nasehat dari Papa ku lalu mereka pun pergi meninggalkan rumah.
Setelah kepergian mereka, terjadi pergerakan pada Kuan Ge yang menandakan kalau dia akan segera sadar dari pingsannya.
"Eeegghhh."
Aku mendengar suara rintihan dari suami ku itu dan ternyata iya terbangun dari pingsan nya. "Ge~ kamu sudah sadar?!"
"Eengg~ Karin?? Ka--kamu sudah pulang??" Tanya nya kaget.
"Iya sudah." Ucap ku menjawab pertanyaan Kuan Ge. "Kenapa?? Gege kaget?!"
"Ti--tidak~ eng-- Kamu tidak ke rumah sakit?!" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Tidak!"
"Kenapa??"
-**"Ya ampun suamiku ini bener-bener pikun atau apa ya??" Ucapku dalam hati**-. "Ge~ tidak mungkin kan aku pergi kesana dengan keadaanmu yang seperti ini?? Apa aku bisa??" Tanya ku padanya.
"Maaf karena aku kamu?!"
"Ini bukan salah Kuan Ge, disini tidak ada yang salah, yang penting Gege sehat saja aku sudah senang. Soal anak~ jika memang sudah rejeki ya pasti tidak akan kemana-mana bukan?!" Tanya ku untuk menenangkan nya.
"Maaf."
"Ya aku maafkan."
"Gege yakin nanti kita akan memiliki Karin dan Kuan kecil, yang akan memeriahkan suasana rumah ini." Ucap Kuan Ge menghiburku dan aku hanya tersenyum sambil memeluknya. "Maaf ya sayang?!"
"Iya Gege cerewet."
Kata itu lagi yang keluar dari mulut suamiku dan kali ini aku membalasnya dengan tersenyum sambil memeluk dan merebahkan kepala ku di dadanya yang bidang. Ya seperti itu lah Kuan Ge dia akan selalu minta maaf untuk kesalahan apapun sampai benar-benar aku memaafkannya dan juga tersenyum padanya.
.
.
.
.
Setelah 3 hari, sakit Kuan Ge pun sembuh. Semua pemeriksaan darah pun normal tidak ada penyakit yang serius.
Karena suamiku ini sudah sehat, maka kami menjadwalkan ulang pemeriksaan kemarin yang sempat tertunda.
Ya aku dan Kuan Ge ingin mengetahui apakah embrio itu sudah tertanam apa belum?? Karena walaupun telat pemeriksaan kan tidak berarti gagal bukan?
Siapa tahu saja ternyata embrio itu sudah tertanam bukan?? Ya semoga saja sudah.
Tapi saat kami ingin pergi, tiba-tiba Rubi dan Mama mertua datang marah-marah lagi. "KUANN--- KENAPA KAMU SAKIT KEMARIN MAMA TIDAK DIBERITAHUKAN?!" Tanyanya marah sambil teriak-teriak.
Kami yang berada diruanh tengah terkaget dengan kedatangan Mama yang tiba-tiba berteriak saat memasuki rumah.
"Mam, kecil kan suaranya." Pinta Kuan, tapi tetap saja Mama nya tidak mau mengecilkan volume suaranya.
"Ya Mama tau kan alasan Kuan kenapa Kuan tidak Mau memberitahukan kalau Kuan sakit? Ya seperti ini?! Kuan gak mau kalau Mama dateng tapi yang ada marah-marah mulu." Katanya membuat sang Mama tambah kesal.
"KAMU ITU YA-- SEMENJAK BERSAMA WANITA MANDUL INI, KAMU JADI SUKA SEKALI MEMBANTAH MAMAMU." Teriaknya marah.
"Mam, siapa yang membantah Mama?? Ayo lah Mam jangan selalu bicara yang menyakitkan seperti itu." Bela Kuan pada istrinya. "Jika misalkan disini Kuan yang tidak subur alias Mandul gimana??"
"ITU TIDAK MUNGKIN, KARENA DISEJARAH KELUARGA KITA TIDAK ADA YANG SEPERTI ITU." Marahnya lagi dengan nada keras.
"Bibi jangan marah-marah!! Ingat darah tinggimu." Ucap Rubi memperingatkan.
"Lihat! Hanya Rubi seorang yang memperhatikan Mamamu ini Kuan, istrimu saja tidak seperti ini."
"Mama mertua aku yang cantik dan baik hati, juga tidak pernah sombong. -**"Tapi sering marah-marah kaya nenek sihir." Ucap Karin dalam hatinya**-. "Aku ini sebenernya perhatian loh sama Mama, cuma ya Mama aja yang suka sensi sama aku." Ucap ku kesal. "Entah lah, salah ku ya apa coba selalu dimarahin sama Mama. Ya dasarnya sudah tidak suka ya mau seperti apapun tetap saja tidak suka."
"Kamu--!" Kesal nyonya Liu. Lalu dia mengatur nafasnya yang tadi empat kesal. "Lalu ini kalian mau kemana??" Tanyanya penasaran.
"Kami mau periksa kandungan." Ucap Kuan membuat Rubi kaget juga termasuk Ibunya yang kaget.
"Karin hamil??" Tanya Rubi penasaran.
"Kenapa memangnya?? Merasa kesal jika nanti aku benaran hamil?! Ucap Karin sinis membuat Rubi yang mendengarnya tidak suka.
"Aku kan hanya tanya saja apa tidak boleh?!" Kesal Rubi.
Karin yang mendengarnya pun malas. "Tidak boleh." Ucapnya ketus.
"Karin-- Belum tahu Rubi, doakan saja." Ucap Kuan. "Ayo Karin kita pergi! Mama kalau mau ikut silahkan."
"Isstt--- pake ngomong baik-baik segala." Cibir Karin.
"Ya sudah Mama mau ikut, mau lihat apa benar si mandul ini bisa punya anak."
Mendengar itu Karin tambah kesal. "Oh Tuhan beri aku kesabaran." Ucap nya tapi mendengar itu Kuan malah tersenyum sambil mengelus punggung Karin.
Mereka pun pergi ke Rumah Sakit dengan mobil yang berbeda.
Sesampainya dirumah sakit, Karin pun diperiksa oleh Dokter kandungannya. Dokter Chuncu pun memeriksa kandungan Karin.
"Baik nyonya Karin ini ternyata embrio yang tertanam kemarin berkembang dengan baik." Ucap Dokter Chuncu.
Karin sempat bingung tapi melihat ekspresi wajah suaminya yang senang dia pun jadi penasaran. "Maksud Dokter??"
"Kamu hamil sayang." Kuan yang menjelaskan pada Karin sangking senangnya.
"Apa?? Yang benar Ge??" Tanya Karin menyakinkan lagi.
"Iya sayang, Tanya aja Dokter kalau tidak percaya." Kata Kuan senang.
"Bener Dok??"
__ADS_1
"Iya--- nyonya Karin. Selamat janin nya kembar." Ucap Dokter Chuncu membuat Karin senang juga Haikuan tapi tidak dengan Nyonya Liu dan juga Rubi.
"Tidak mungkin menantu saya ini dapat hamil Dokter?! Anda pasti berbohong agar saya percaya kalau menantu mandul ini bisa hamil." Ucap ketus sang Ibu mertua.
"Anda bisa lihat sendiri nyonya Liu, lihat!! Itu janinnya dan itu denyut jantungnya. Anda bisa mendengarkan nya bukan?? Ini suara detak jantung calon bayi nyonya Karin." Jelas Dokter Chuncu.
Karin melihat kearah mertuanya dengan wajah penuh ejekan. -\*\*"Lihat aku bisa hamil bukan?! Aku menang Mama mertua ku tersayang." Katanya dalam hati\*\*-. Lalu dia berkata lirih sambil melambaikan tangannya. "Bye-bye Rubi."
Karin tersenyum dan dia mendengarkan semua yang diucapkan oleh Dokter Chuncu. Sedangkan Rubi dan nyonya Liu keluar ruangan dengan kesal.
"Bibi gimana ini? Kuan bisa memiliki anak? Dan aku tidak bisa dengan Kuan sekarang?!" Kesal Rubi.
"Emang hanya kamu yang kesal?! Aku juga. Kenapa mereka sampai berhasil dengan program bayi tabung ini?! Padahal aku udah berusaha supaya program ini tidak berhasil?!"
Selagi Rubi dan Nyonya Liu berbicara, orang tua Karin yang menyusul pun mendengar ucapan mereka. "Jadi selama ini anda berusaha supaya putri saya yang sudah mendapatkan seorang anak menjadi tambah susah?!" Tanyanya kesal. Ibu nya Karin tidak terima jika putrinya mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Eh besan. Anda salah dengar." Elak dari nyonya Liu.
"Kamu kira saya budek? Saya tidak abis fikir dengan anda, sudah mendapatkan ujian jika suami ternyata menikah lagi eh dia ingin membuat anaknya sama seperti Ayahnya. Harusnya kamu bisa kan merasakan sakitnya gimana dihianati dan tau gimana rasanya Karin nanti jika berada diposisi kamu?!"
"Itu?! Itu bukan urusan anda nyonya Aizawa."
"Menjadi urusanku jika itu menyangkut kebahagiaan putriku. Dan kamu wanita muda, apa sebagai wanita kamu itu sudah tidak laku? Sampai ingin sekali menikahi pria yang sudah beristri?! Ingat jika kamu menginginkan kebahagiaan orang lain, maka Tuhan pun tidak akan pernah memberikan kebahagiaan kepadamu. Jika itu terjadi, maka tidak akan ada lagi manusia yang menyembah Tuhannya." Ucap nyonya Aizawa ketus.
Rubi yang mendengarkan itu sedikit kesal, tapi dia menahan kekesalan itu, lantaran dia tidak mau kalau dirinya malu didepan umum.
"Yang merebut kebahagiaan itu adalah putri mu nyonya, Kuan adalah milikku dan putri anda mengambilnya dariku!"
"Merebut??? Hei~ Kamu kira aku tidak tahu kamu seperti apa?? Aku tau saat Kuan menikahi Karin itu status dia lajang yang pernah ditinggal selingkuh oleh tunangannya. Sudahlah jangan menyalahkan orang lain yang mengambil kebahagiaan dirimu kalau kamu sendiri yang menghancurkannya." Ucap nyonya Aizawa pedas.
Rubi yang tidak dapat berkata-kata lagi memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit. Dia pergi dengan wajah dipenuhi kekesalan.
"Seharusnya kamu jangan berbicara kasar kepada Rubi seperti itu?!"
"Lalu aku harus berbicara seperti apa?? Dengan lembut sambil mengelus-elus dirinya lalu berkata untuk melanjutkan rencananya lalu menyemangati nya gitu? Heh~ aneh sekali kamu itu besan. Kamu lebih senang dengan wanita yang jelas-jelas sudah menghianati putramu. Apa kamu lebih senang kalau putramu itu menderita?? Ya aku rasa kamu senang karena bisa membalaskan sakit hati mu pada suami yang sudah menghianati dirimu."
"Apa maksudmu?? Tidak mungkin aku menginginkan Kuan menderita. Kamu gila ya??"
"Buktinya? Kamu lebih suka sama wanita penggoda, oh~ pantas kamu tidak merasa tersakiti saat suamimu digoda wanita lain, soalnya kamu lebih suka tipe wanita seperti itu."
"Hentikan, ini tidak ada sangkut pautnya dengan suami ku yang sudah berselingkuh. Aku hanya ingin memiliki keturunan dari Kuan dan Rubi itu cinta pertama nya Kuan."
"Cinta pertama bukan berarti cinta sejatinya bukan?! Gini nih besan, kamu itu ibaratnya mertua kamu yang menyetujui putranya menikah lagi." Sindir nyonya Aizawa.
"Tidak!! Aku tidak seperti itu." Ucap nyonya Liu sambil berfikir kalau perkataan besannya itu seperti ada benarnya juga. "Ya itu kan~." Ucap nyonya Liu terpotong karen Kuan dan Karin keluar dari ruangan pemeriksaan.
Ceklek
Blam
"Loh-- Mama disini?! Loh Rubi si ulat bulu gatel itu dimana Mama Ling? Aku tidak melihatnya kenapa dia pergi tanpa mengucapkan selamat padaku?" Tanya Karin.
"Jadi kamu beneran hamil Karin??" Tanya nyonya Aizawa penasaran.
"Iya Mam, selamat--- Mama mau punya cucu 2." Terang Karin membuat nyonya Aizawa terkejut.
"Apa?? 2 bayi??" Tanya nya kaget.
"Iya 2 bayi seneng kan Mam??"
Karin senang begitu juga Kuan, tapi nyonya Liu hanya terdiam saja. Dia berfikir walaupun tidak suka dengan Ibunya tapi yang dikandungan itu adalah cucu nya.
*TBC
*VI3NY18066
Hayo-hayo kalau sudah baca jangan lupa ya kasih komen dan Votenya juga like dan subscribe nya ya kakak🙏🏽 juga jangan lupa follow biar kita jadi teman.🤗😉😘
*TERIMAKASIH 🙏🏽
...☆☆☆21-10-2021☆☆☆...
__ADS_1