
Maaf Typo bertebaran beb
Belum sempat edit.
.
.
.
.
.
Sebelum membaca, Jangan lupa ya kakak komen dan like nya ya.... dan juga jangan lupa follow aku ya kakak supaya kita bisa berteman.. semua itu buat semangat ku untuk menulis..
.
.
.
.
TERIMAKASIH
.
.
.
...selamat membaca semoga suka ceritanya...🙏...
...*********...
...GAIRAH CINTA KUANRIN ...
.
.
.
.
.
Dirumah orang tuanya Karin pun mengadu jika suaminya Kuan sudah menghabiskan semua sempolan yang iya mau.
"Jadi hanya seperti itu kamu marah dan langsung pulang kerumah??" Tanya nyonya Aizawa.
"Mam-- Kuan Ge jahat, dia gak inget istri dan calon anaknya." Kesal Karin karena tidak mendapat dukungan dari Mama nya.
Nyonya Aizawa hanya tersenyum mendengar keluhan putrinya yang manja ini. "Kalau doa tidak sayang padamu, tidak akan ada namanya drama sempolan ini." Ucapnya.
"Maksudnya?!"
"Kamu bangunin Kuan untuk minta dibikinin dia bangun loh, nah tapi kamu nya juga kan yang bilang kalau ngantuk, makan saja! Jadi itu bukan sepenuhnya salah Kuan, kamu juga punya andil dalam kesalahan Kuan." Jelas sang Ibu sambil menoel hidung Karin dengan jari telunjuknya.
Karin terdiam sebentar lalu dia pun berfikir kalau yang dikatakan sang Ibu ada benarnya juga. "Mama bener juga, ya sudah deh Karin mau pulang dulu deh mam."
"Ya sudah, nanti kalau nanti bertemu suamimu langsung minta maaf ya!" Pinta sang Ibu.
Karin mengangguk dan berkata. "Iya Mam, Karin akan minta maaf sama Kuan. Mama jangan khawatir."
"Anak pintar, nah sebelum pulang ayo sarapan dulu. Jadi nanti kamu pulang sudah terisi perutnya." Ajak nyonya Aizawa pada putri nya.
"Tapi Mam?!"
"Tidak ada tapi-tapian! Kasihan cucu Mama kalau kamu makan saja susah."
"Hola~." Kata Karin walaupun sedikit malas, tapi dia pun menuruti perintah sang Ibu.
Setelah pulang dari rumah Mamanya, Karin pun segera meminta maaf pada Kuan saat suaminya itu sudah sampai dirumah.
Kuan yang sangat menyayangi Karin segera memaafkannya, ya memang istri nya ini tidak melakukan kesalahan yang fatal, karena gimana pun juga dirinya juga bersalah kepada Karin.
"Istri Kuan yang cantik ini sudah makan apa belum?" Tanya Haikuan lembut.
"Tadi pagi sudah, tapi yang siang belum."
"Kenapa gak makan hem?!"
"Pengen makan bareng Kuan Ge saja." Manja Karin.
Haikuan tersenyum melihat tingkah istrinya ini. "Ya sudah kita makan diluar yuk!" Ajaknya. Karin pun senang lalu dia pun bersiap-siap.
Tulalit tulalit
\*panggilan on\*
("Ya hallo Mam.").
("Kuan-- kamu kesini ya! Mama masakkan makanan kesukaan kamu dan karin. Mama ingin melihat cucu Mama.").
("Kebetulan Kuan dan Karin mau makan diluar, Kuan bilang sana Karin ya Mam.").
("Jangan makan diluar! Tidak bagus buat janin kalian.").
("Ya sudah, Kuan kesana sama Karin.").
("Mama tunggu.")
\*panggilan off\*
Tap
Tap
Tap
"Siapa Ge?!"
__ADS_1
"Oh~ itu Mama~ dia mengundang kita untuk makan disana. Katanya kangen sama cucu nya." Terang Kuan membuat Karin terkaget.
"Cucu?? Sejak kapan Mama perhatian sama calon cucunya?" Tanya nya heran.
Kuan tersenyum mendengar perkataan istrinya. "Sejak sekarang." Ucapnya sambil menoel hidung Karin. "Harusnya kamu senang kalau Mama perhatian dengan calon cucu nya sayang."
"Aku sih senang Ge, cuma aku khawatir aja ini cuma akal-akalan Mama saja." Ucap Karin sambil cemberut.
"Jangan berprasangka buruk dulu, ayo kita coba kesana?!" Tanya Kuan mengajak Karin dan mau tidak mau Karin pun setuju.
Mereka pun pergi menuju tempat Mama nya Haikuan berada.
\*\*
Ting
Tong
Ceklek
"Selamat datang tuan muda dan nyonya muda." Ucap salah satu maid yang ada dirumah itu.
"Hai Bi--." Sapa Karin ramah lalu dia pun pergi meninggalkan Maid itu menuju ruang tengah dimana Ibu mertuanya sekarang berada disana.
Tap
Tap
Tap
Karin berjalan bersama Haikuan. Tapi dia berhenti setelah melihat diruang tengah Ruby juga berada disana.
Kuan yang tau itu pun bertanya. "Kenapa sayang?"
Karin memegang tangan Kuan dengan kencang. "Kita pergi saja dari sini! Perasaan ku tidak enak." Ucap Karin tapi Kuan mencegahnya.
"Tenang dulu, tidak enak kalau kita pergi begitu saja." Ucap Kuan dan Karin juga berfikir demikian.
"Kenapa kalian diam saja? Ayo kita menuju ruang makan, nanti makanannya keburu dingin." Ucap lembut Mama mertuanya.
Disini Karin bingung, tidak biasanya mertuanya itu sebaik ini? Apa mungkin dia kesambet? Atau memang dia sudah berubah?! Entahlah yang pasti Karin tidak bisa menerka-nerkanya.
Karin dan Kuan berjalan mengikuti mertuanya juga si ulat bulu yang selalu menempel dengan mertuanya itu.
"Tumben Mama mengundang kami kesini?!" Tanya Karin tanpa basa-basi.
"Mama cuma ingin ikut senang dengan kehamilanmu itu."
"Lalu kenapa dia juga ada disini?" Tanya Karin malas.
"Ruby tamu Mama dan kami tidak memiliki masalah, jadi Mama mengundangnya juga." Terang nyonya Liu.
"Tapi dia kan bermasalah denganku." Ucap Karin kesal.
"Karin sudah--!" Haikuan mencoba menenangkan istrinya.
"Kamu kenapa sih? Selalu sinis dengan ku? Aku tidak ada masalah dengan Bibi Liu dan aku juga masih menginginkan Haikuan kembali padaku, kenapa kamu takut kalau itu terjadi?!"
"Dasar perempuan tak tahu malu." Sinis Karin lagi.
"Ruby~ sudah aku bilang lupakan masa lalu dan didalam kamusku itu tidak ada masa lalu yang ada masa depan bersama Karin. Jadi jangan bermimpi untuk kita bersama lagi." Ucap Haikuan tegas membuat Karin tersenyum penuh kemenangan.
Ruby yang mendengar itu pun kesal, tapi didalam hatinya dia berkata. -\*\*"**Lihat saja jika istrimu itu tidak memiliki anak lagi apa benar kamu masih bisa menghindariku? Kuan aku yakin kamu masih mencintaiku**."\*\*-.
Ruby pun tersenyum kecut, dia berharap rencananya akan berjalan lancar dan dia bisa memiliki Haikuan lagi seperti dulu.
"Sudah-sudah jangan ribut! Ayo Karin makan ini! Ini sangat enak sekali." Ucap nyonya Liu lalu dia pun meletakkan lauk diatas piring Karin.
Karin yang melihat itu menerimanya dengan senang hati, dia berharap kalau mertuanya ini benar-benar sudah bertobat.
"Terimakasih Mam." Ucapnya sambil tersenyum lalu dia segera melahap lauk yang diberikan oleh mertuanya itu.
Mereka semua makan dengan tenang, Karin melahap semua masakan yang ada dimeja makan. Ruby yang melihat itu senang. Dia berharap rencananya akan berjalan dengan lancar.
Setelah makan nya selesai, Karin dan Kuan duduk santai di teras samping rumah Kuan. Dia menikmati pemandangan kolam renang dan juga taman yang berada dirumah itu.
__ADS_1
Tiba-tiba perutnya terasa sakit. "Aaagggh--- Ge--- Kuan Ge-- perut Karin sakit." Ucapnya sambil memegang perutnya yang sakit dan meremasnya.
"Karin kenapa??" Tanya Kuan panik.
Mertuanya yang mendengar jeritan Karin pun menuju tempat dia berada sekarang. "Karin kamu kenapa sayang??" Tanya nya panik.
Ruby yang melihat itu terlihat senyum kepuasan tapi dia berakting sama paniknya seperti yang lain. "Ya ampun Karin kamu kenapa? Kuan Ge segera bawa Karin kedalam takutnya dia kenapa-kenapa."
Kuan pun menuruti perkataan Ruby dia pun segera mengangkat tubuh Karin, tapi saat diangkat nyonya Liu menjerit. "Darahh---- Kuan lihat Karin berdarah!! Celana nya ada noda darah?!"
"Iya itu Kuan--! Segera bawa Karin kerumah sakit!!" Perintah Ruby.
"Ge-- apa yang terjadi?? Benarkah aku berdarah?" Tanya Karin berusaha meraih celananya. "Kyaa--- Ge ini darah aarggh--- Ge baby kita." Panik Karin.
Kuan yang melihat itu juga panik tapi sebagai Dokter dia berusaha tenang agar istrinya tidak tambah panik yang nantinya berbahaya dengan janinnya. "Karin tenang, mereka pasti akan baik-baik saja. Aku akan segera membawa kamu ke rumah sakit!" Ucapnya lalu Kuan segera membawa Karin menuju rumah sakit menggunakan mobilnya.
Sesampainya disana Karin ditangani oleh Dokter kandungannya, sedangkan Kuan menunggu didepan pintu ruang tindakan.
Ditempat itu juga ada nyonya Liu dan juga Ruby yang tampat tersenyum dan berharap kalau bayi nya tidak akan selamat.
"Kuan sabar-- Mama yakin Karin kuat dan bayinya aman." Ucap nyonya Liu menguatkan.
Kuan hanya terdiam, disini Ruby ikut menghibur Kuan dia memasang wajah sedih dan turut prihatin.
Tap
Tap
Tap
Orang tua Karin datang setelah tadi Kuan memberitahukannya. Mereka datang dengan paniknya.
"Kuan gimana dengan Karin dan anak-anaknya??" Tanya nyonya Aizawa panik.
"Karin masih didalam Mam." Ucap Kuan dengan wajah lusuh.
"Kamu yang sabar ya Kuan dan banyak-banyak lah berdoa." Ucap Tuan Aizawa memberi kekuatan kepadaku Kuan.
"Terimakasih Pa." Ucap Kuan.
Setelah beberapa lama Dokter pun datang. Dokter Chuncu memberi tahukan. "Nyonya Karin sudah dalam kondisi yang stabil sekarang, tapi ada kabar buruk untuk kalian semuanya."
"Apa itu Dok?!" Tanya Kuan penasaran dan cemas.
"Bayi semuanya bisa kami selamatkan tapi salah satu bayi nya sangat lemah. Kami sedang berusaha menyelamatkan yang satu nya. Semoga nyonya Karin bisa bertahan dan kuat agar bayi yang satunya pun bisa bertahan." Ucap sang Dokter. Mendengar itu Kuan pun terkaget.
Tidak hanya kuan tapi orang tuanya serta ke 2 mertuanya pun kaget. Tapi tidak dengan Ruby yang tampak senang sekaligus kesal.
-**"Sial-- kenapa semua selamat sih?? hanya 1 saja yang lemah? Harusnya dua-duanya saja sekalian mati biar dia tidak bisa memiliki anak lagi." Ucap Ruby dalam hatinya**-.
"Kira-kira apa yang sebenarnya yang terjadi pada Karin?? Dia baik-baik saja tadi, tiba-tiba jadi seperti ini? Apa kamu bisa memberi tahu padaku Dokter Chuncu?" Tanya Kuan pada Dokter yang sekaligus temannya ini.
"Sampel darah Karin sedang di cek, kita lihat saja sebentar lagi hasilnya jika sudah keluar." Ucap Dokter Chuncu.
Tap
Tap
Tap
"Dokter ini hasil tes dari nyonya Karin." Ucap perawat yang datang membawakan hasil lab dari Karin.
Dokter pun membaca nya lalu dia berkata. "Ada zat makanan yang nyonya Karin makan. Dia seperti keracunan makanan, zat itu sangat berbahaya bagi Ibu hamil."
"Makanan?" Tanya Kuan heran. "Kami baru saja selesai makan dirumah Mamaku Dok, dan aku tidak kenapa-kenapa, Mama juga Ruby baik-baik saja?!"
"Ini hanya berpengaruh untuk ibu hamil saja." Jelas Dokter Chuncu lagi.
Kali ini Kuan pun melihat kearah Mamanya dan dia berjalan perlahan kearahnya membuat Nyonya Liu salah tingkah dan ketakutan.
"Jelaskan padaku apa ini rencana Mama?" Tanya nya sedikit penekanan.
"Kuan Mama tidak mungkin seperti itu pada cucu Mama sendiri."
"Dari awal Karin sudah merasa tidak enak perasaannya untuk makan dirumah Mama tapi aku menyakinkannya kalau Mama sudah berubah dan akan menyayanginya. Tapi ternyata seperti ini."
"Kuan percaya pada Mama, Sumpah demi Tuhan Mama tidak melakukan itu! Dan Mama mengharapkan cucu Mama lahir dengan selamat. Kuan kamu harus percaya pada Mama!"
"Kamu keterlaluan besan!! Apa segitu bencinya kamu pada putri ku sampai kamu juga membenci keturunanmu sendiri. Wanita gak punya hati! Pantesan kamu ditinggal oleh suamimu dan kali ini aku setuju dengan tuan Liu menikahi wanita lain yang lebih manusiawi dari pada kamu!" Maki nyonya Aizawa yang merasa marah mengetahui kondisi putri dan calon cucunya.
"Kenapa kalian tidak percaya padaku?? Aku berkata jujur kalau aku tidak melakukannya. Dan anda harus tau, memang aku membenci putri mu itu, tapi aku tidak akan membiarkan cucu ku apa lagi dia penerus keluarga Liu untuk terluka." Ucap tegas nyonya Liu lalu dia melihat kearah Ruby. "Apa kamu biang kerok dari semua ini Ruby??" Tanya nyonya Liu marah.
Semua melihat kearah Ruby lalu dia pun berkata secara terbata. "A~aku?? Ti~tidak mungkin Bi, kan aku diundang oleh Bibi, lalu aku kapan memberikan racun itu kemakanan??"
"Kami tidak peduli siapa yang benar dan salah, khasus ini akan kami laporkan kepada polisi, dan biar polisi lah yang menyelidiki semuanya. Kalian berdua harus menanggung dan mempertanggung jawabkan semuanya." Ucap Tuan Aizawa geram.
"Tunggu!! Kenapa jadi aku yang kena?? Kan aku hanya tamu saja?!"
"Mau kamu tamu atau tidak biar polisi saja yang membuktikannya." Ucap Tuan Aizawa lagi.
.
.
.
.
Nyonya Liu dan Ruby dibawa ke kantor polisi. Mereka pun diintrogasi oleh polisi selama kurang lebih 24 jam. Tapi karena tidak ada cukup bukti maka mereka berdua pun dibebaskan.
Sedangkan Karin yang mengetahui kalau salah satu dari bayinya bermasalah, dia pun bersedih. Tapi Haikuan mencoba menenagkannya.
Karena masalah ini, Karin pun menjaga jarak dengan mertuanya. Walaupun sang mertua tiap hari datang kerumah sakit untuk menjenguk juga untuk meminta maaf tapi Karin tidak pernah memaafkannya.
"Ge maaf kalau aku belum bisa memaafkan tindakan Mama." Ucap Karin sedikit sedih. Sebetulnya dia tidak ingin bersikap seperti ini, tapi dia ingin membuat mertuanya jera dan tidak akan mengulangi tindakan yang membahayakan calon bayinya lagi.
"Tidak apa-apa, aku memaklumi itu, tapi kalau bisa jangan terlalu lama ya?!"
"Hm~ suatu saat aku akan memaafkan Mama dan semoga saat itu tiba dia akan bersikap lebih baik lagi terhadapku juga terhadap cucunya."
"Gege yakin Mama akan sayang pada calon anak-anak kita nanti, Gege hanya berharap kalau Mama lebih sayang terhadapmu dan tidak lagi berurusan dengan Ruby." Ucap Kuan sambil mengecup kening istrinya.
"Ya~ Gege benar, hanya dengan tidak berteman dengannya lah Mama pasti akan bersikap lebih baik seperti dulu pertama kali aku masuk kekeluarga Liu." Ucap Karin sambil dia mengingat-ingat momen dimana dia pertama kali masuk kerumah itu, nyonya Liu sangat baik terhadapnya.
"Hm semoga Mama seperti dulu."
.
.
.
.
*TBC
*VI3NY18066
Ya aku up lagi, maaf ya kakak kalau lama yang up, karena ada baby jadi yang up agak terhambat.
Terimakasih yang masih setia untuk membaca dan jangan lupa follow bagi yang belum dan kasih komen juga like serta vote nya ya agar aku semangat untuk melanjutkan cerita ini.
*TERIMAKASIH 🙏
...***30-10-2021***...
__ADS_1