Gairah Cinta KuanRin

Gairah Cinta KuanRin
Rencana Ingin Memiliki Anak


__ADS_3

Maaf Typo bertebaran beb


Belum sempat edit.


.


.


.


.


.


...Sebelum membaca, Jangan lupa ya kakak komen dan like nya ya.... dan juga jangan lupa follow aku ya kakak supaya kita bisa berteman.. semua itu buat semangat ku untuk menulis.....


.......


.......


.......


.......


...TERIMAKASIH...


.......


.......


.......


...selamat membaca semoga suka ceritanya......


...*********...


...GAIRAH CINTA KUANRIN ...


.......


.......


.......


.......


.......


"Mama, kenapa Mama tidak terima Papa menikah lagi?? Sedangkan Mama saja memaksa Kuan Ge untuk menikah lagi?!" Tanya ku tiba-tiba pada wanita yang sudah melahirkan suamiku ini.


Deg


Seketika wajah Mama pun menjadi pias, dia ingin membalas perkataanku tapi tidak bisa. Sepertinya dia bingung apa yang mau iya katakan?


-**"Sial Kenapa Karin mengungkit ini?? Apa yang harus aku jawab?? Aku ingin cucu maka aku memperbolehkan Kuan menikah lagi, sedang kan suamiku sudah ada Kuan cuma dianya saja yang tak tau diri, bukankah itu beda situasi??" Tanyanya dalam hati.**-


.


.


.


.


Aku melihat wajah Mama mertua ku itu tampak tidak mengenakan, entah apa yang dia pikirkan tapi aku tau dia akan segera memarahiku dengan perkataan yang aku keluarkan tadi.


-**"Jangan Mama kira aku bisa terima saja semuanya, aku juga sama kaya Mama tidak terima jika suami memiliki istri lagi." Kataku dalam hati.**-


"Jangan pernah ikut campur kamu Karin!!! Ini beda khasusnya, saya sudah memiliki Kuan dan pria ini saja yang gatel sampai tidak bersyukur sudah mendapatkan Kuan, malah mencari yang lain. Sedangkan kamu apa?? Kamu belum menghasilkan apa-apa buat keluarga Liu jadi jangan kamu samakan ini dengan aku menyuruh Kuan untuk menikah lagi." Ucap Mama mertua aku emosi.


"Sudah Ma! Jangan marahi Karin lagi!" Pinta Kuan yang selalu membelaku jika Ibunya marah-marah.


"Kuan kenapa kamu selalu saja menentang Mama?? Apa jangan-jangan kamu tau kelakuan Papa kamu ini dengan gundiknya itu." Ucap Mama mertua sedikit meninggi.


"Hentikan ucapan kasar kamu Juan Ling, jangan berbicara kasar pada istriku!"


"Apa kamu bilang??? Istri?? Lalu aku apamu hah??"


"Kamu tetap istri ku Ibu dari Liu Haikuan, tapi Sasa juga istri ku yang lain dan aku tidak suka kamu merendahkannya. "


"Jadi kamu lebig membelanya dari pada membela aku?? Apa kamu lupa kebersamaan kita selama ini yang selalu romantis tanpa ada yang mengganggu. Tapi aku tidak menyangka dibalik keromantisanmu itu kamu menghianati aku Pa?! Aku sudah memberimu seorang anak apa kamu tidak puas??" Tanya Mama mertua yang sekarang mengeluarkan air mata.


"Aku tau disini aku salah Ma, tapi apa Mama tidak lihat Sasa juga memberiku seorang anak dan aku tidak peduli itu laki-laki atau pun wanita. Mereka tetap anak-anakku." Jelas Papa mertua dan seketika Bibi Sasa merangkul lengan Papa dan juga putrinya Mei juga ikut memeluk Papa. Melihat itu Mama mertua pun jadi murka.


"Kamu benar-benar keterlaluan Liu Han, dan kamu wanita jalang pergi dari rumah ini bersama dengan anak harammu itu! Aku muak dengan kalian bertiga." Pinta Mama mertua dan seketika Papa pun berdiri.


"Kami akan pergi, tapi setelah hatimu melunak dan emosimu tidak menggebu-gebu aku akan datang dan kita akan berbicara baik-baik." Terang Papa mertua lalu dia pun pergi sambil menggandeng ke 2 wanita yang berbeda usia itu.

__ADS_1


"Liu Han----- dasar Baji**an kamu--- liat saja aku akan mengadu pada Ayah dan Ibu biar tau rasa kamu." Teriak Mama mertua, lalu aku pun pergi ke dapur untuk mengambilkan nya minum.


Walaupun dia sangat menyebalkan tapi aku masih menghormatinya juga masih ada rasa sayang padanya, karena dulu dia tidak seperti ini. Hanya karena kekurangan ku dia jadi kasar padaku dan bertindak kejam.


"Mam ini minum dulu!" Pinta ku padanya dan Mama malah memukul gelas yang ada di tanganku hingga jatuh dan pecah berkeping-keping.


"Aku tidak butuh rasa kasihanmu padaku, ini pasti semua ulahmu kan karin?? Ingat mama tetap pada pendirian Mama untuk meminta Kuan menikah dengan Rubi agar dia memiliki seorang putra untuk penerus." Kata Mama membuat Rubi tersenyum sambil melihat ku.



**"Aku gak habis fikir Mama masih aja sempet-sempet nya memikirkan perjodohan itu padahal dia sendiri tidak terima dengan pernikahan diam-diam suaminya." Kataku dalam hati.**-



"Apa Mama sudah setuju dan memaafkan pernikahan Papa??" Tanya ku padanya.


"Itu masalah lain dan jangan campur adukan itu semua." Katanya membuatku yang mendengarnya kesal, tapi Kuan Ge pun akhirnya angkat bicara.


"Mam hentikan itu semua, Mama saja sakit hati Papa sama wanita lain dan itu juga yang Karin rasakan, kenapa Mama masih keras kepala?? Coba Mama diposisikan dengan Karin pasti akan sedih kalau mertuanya memaksa anaknya menikah lagi dengan wanita lain. Ya sudah Kuan dan Karin mau pergi dulu, Mama bisa disini sama Rubi dan renungin semua itu jangan sampai Mama jadi berbuat tidak baik sama menantu dan putra sendiri." Ucap Kuan lalu dia pun segera meninggalkan rumahnya bersama Karin istrinya itu.


Sedangkan Mama nya teriak memanggil-manggil namanya tapi Kuan tidak bergeming dan tetap berlalu meninggalkan rumahnya.


"Kuaaannn-----." Teriaknya. "Lihat itu Rubi anakku saja meninggalkanku seperti ini. Harusnya dia disini menghiburku kenapa dia tega sekali padaku." Rengek sang Ibu yang sekarang hanya ditemani oleh Rubi calon menantu yang dia inginkan.


"Bibi~ hanya aku yang menemani Bibi. Kelak kalau aku menjadi menantumu aku akan sering-sering bersama Bibi, juga aku akan selalu menjaga dan menemani Bibi. Tidak seperti Karin yang sama Bibi cuek dan tidak sopan seperti itu." Ucap Rubi memanas-manasi.


"Bener kata mu Rubi, nanti Bibi akan secepatnya menyuruh Kuan untuk menikahi mu, agar kamu selalu bersama Bibi, tidak seperti Karin yang tingkahnya masih kaya bocah dan tidak punya sopan santun." Ucap nyonya Liu kesal setelah dikomporin oleh Rubi.


.


.


.


.


Setelah sampai dirumah Karin pun duduk di ruang tamu bersama Kuan, mereka masih terdiam dan melamun dengan pikirannya sendiri.


Karin menoleh kearah suaminya dan dia pun akhirnya berkata lebih dulu. "Ge, apa dengan kejadian ini Mama tidak akan memaksakan kehendaknya lagi ya??"


"Semoga saya ya sayang." Ucap Kuan tersenyum, dia tau kalau istrinya ini masih khawatir tentang perjodohan dirinya dengan Rubi yang selalu dipaksakan oleh sang Ibu. "Kamu tidak perlu khawatir sayang, aku akan menolak itu. Karena memang aku sudah berjanji pada Papamu saat menikah dulu akan menjagamu dan menjadikan kamu satu-satunya istriku apapun yang terjadi pada dirimu aku menerimanya." Ucap Kuan tulus.


"Sungguh??"


"Hm, sungguh." Kata Kuan menyakinkan lagi.


Memang awalnya seperti itu, tapi lama-kelamaan didalam diri nya tumbuh rasa cinta pada Karin, walaupun istrinya ini kadang masih bertingkah seperti bocah. Tapi itu tidak dipermasalahkan olehnya.


Dia sudah bisa menerima semua kekurangan dan kelebihan didalam diri Karin, apa lagi kekurangan Karin yang disebabkan oleh dirinya itu.


"Jangan berfikir macem-macem, aku mencintaimu dan cukup itu saja kamu harus tau dan jangan sampai omongan orang menjadikan kita bertengkar. Karin aku sayang kamu dan aku juga sayang Mama ku, kamu tau artinya??" Tanya Kuan pada Karin dan istrinya itu hanya menggelengkan kepalanya Kuan pun tersenyum. "Artinya jangan memaksaku untuk memilih salah satu diantara kalian, aku tidak sanggup. Aku ingin kalian berdua." Jelasnya dan kini Karin pun mengangguk.


"Tapi Mama tidak menyukaiku Ge."


"Kalau gitu kamu harus mengambil hatinya agar dia menjadi suka padamu lagi." Ucap Kuan sambil manoel hidung Karin.


"Nanti deh aku coba."


"Nah gitu dong. Ayo kita kekamar! Penat dengan semua masalah, pengen hilangin setres. Kan dari kejadian kamu ngambek kita belum sempet ehem--ehem lagi." Ajak Kuan.


"Iisstt~ apaan sih Ge, malu dilihat Bibi itu." Elak Karin.


"Tenang saja nyonya, anggap saja Bibi ini tak tampak. Lagian Bibi paham gairah anak muda." Kata Bibi lalu dia pun berlalu meninggalkan Tuan dan Nyonya nya ini yang sedang bermesraan.


"Kalau begitu ayo Ge kita kekamar." Ajak Karin kali ini.


Mereka berdua pun masuk kedalam kamar, seperti pasangan yang lain jika abis bertengkar maka akan kembali romantis, begitu pula dengan mereka berdua.


Terdengar alunan musik nan merdu yang bersautan dari gairah cinta mereka yang menggebu-gebu, entah berapa lama nyanyian itu terdengar di ruangan yang bernuansa biru itu, hingga dini hari baru musik itu berhenti menandakan kegiatan mereka pun berakhir.



"Pagi nyonya."



"Pagi Bi~ mau masak apa kita hari ini?" Tanyaku pada Bibi yang sudah bekerja denganku selama aku menikah dengan Kuan Ge.



"Nyonya mau dimasakin apa??"



"Apa aja lah Bi, tapi buat sarapan Karin mau nasi goreng saja." Pintaku lagi, Karena nasi goreng masakan Bibi surti itu sangat enak.


__ADS_1


Bibi yang bekerja dirumah ku ini berasal dari Indonesia, jadi kadang dia memaksakan makanan dari negaranya. Sebenernya dia masih muda menurut ku karena umurnya baru 38 tahun.



"Siap laksanakan nya." Ucapnya aku pun tersenyum dan meninggalkan dapur menuju kamar ku lagi untuk membangunkan suami ku yang tampan itu.



Kenapa aku bilang tampan?? Karena memang dia tampan. Nyatanya disukai sama pelakor.



Aku melihatnya masih tertidur dengan nyenyaknya, harusnya aku yang tidur karena semalam kami melakukannya sampai dini hari dan itu membuat ku lelah.



Tapi hari ini berhubung dia libur, aku ingin mengajaknya untuk konsultasi ke Dokter kandungan. Tampaknya aku harus ikut program bayi tabung supaya aku bisa mendapatkan Kuan junior.



Jadi Mama mertua tidak terus-terusan menjodohkan Kuan Ge dengan wanita uget-uget itu.



"Ge bangun! Ayo bangun!! Karin mau punya anak nih."



"Apa?? Kamu hamil??" Tanya Kuan yang bangun seketika.



"Isstt~ Gege nih apa-apaan sih?? Siapa juga yang hamil??"



"Itu barusan kamu bilang."



"Aku bilang kan aku mau punya anak, bukan hamil Gege."



"Oo-- kirain kamu hamil sayang, aku kan sudah kaget dan senang eh ternyata salah dengar."



Kasihan sekali suami ku ini, apa dia beneran berharap memiliki seorang anak ha?? "Mau nya gitu Ge, oiya kita ke Dokter kandungan yuk Ge~ kita lakukan program bayi tabung, mau tidak??" Ajak ku pada suami tampanku ini.



"Kamu yakin sayang mau program bayi tabung??" Tanya Kuan Ge menatapku.



"Yakin Ge, kita kan sudah 2 tahun menikah. Kayaknya sudah cukup kita berpengantin baru ria selama ini. Jadi menurutku sekarang saatnya kita punya Kuan atau Karin Junior. Lagian usia Karin sudah 20 tahun." Ucap ku menyakinkan suamiku ini, dan dia tersenyum dengan senyum andalannya lalu mengusap kepalaku lembut.



"Ya sudah kalau itu mau mu sayang. Gege akan turuti. Setelah Gege siap-siap dan sarapan kita berangkat ke rumah sakit."



"Terimakasih sayang." Ucap ku girang lalu mencium pipi suami ku yang tampan ini.



Kuan Ge pun memasuki kamar mandi dan bersiap-siap, aku pun pergi keluar lagi menunggu sarapan yang dibuat oleh Bibi.



Setelah selesai sarapan kami pun pergi ke rumah sakit untuk konsultasi tentang gimana caranya melakukan program bayi tabung. Semoga saja ini adalah jalanku dan Kuan Ge untuk memiliki seorang anak.



Dan semoga saja jika nanti berhasil, Mama mertua tidak akan lagi memaksakan kehendaknya untuk menikahkan Kuan Ge pada wanita lain. Semoga Tuhan melancarkan semua urusanku.



*TBC


*VI3NY18066


Hayo-hayo kalau sudah baca jangan lupa ya kasih komen dan Votenya juga like dan subscribe nya ya kakak🙏🏽 juga jangan lupa follow biar kita jadi teman.🤗😉😘


*TERIMAKASIH 🙏🏽

__ADS_1


...☆☆☆23-07-2021☆☆☆...


__ADS_2