
Bab 10. Lawan Berat.
Saat menyerang Shiena, Leo bergerak berkeliling mencari celah untuk kabur dari pertarungan. Tenaganya terus berkurang dan tidak berdaya melawan Shiena. Terlebih lagi dia menggunakan wujud laba-laba raksasa yang membutuhkan banyak energi.
Serangan yang dilepaskan oleh Leo kian melemah. Begitu banyak energi yang terbuang sia-sia karena tidak satu pun lemparan Leo mengenai sasarannya. Langkah kakinya semakin melambat dengan tubuhnya yang serasa berat.
"Sungguh malang sekali nasibmu, Leo. Lihatlah ruas-ruas kakimu sudah mengeluarkan darah. Sampai kapan kamu akan bertahan dengan tubuhmu yang sekarang?"
Shiena tersenyum mengejek dengan tubuhnya yang telah berubah menjadi panglima Gu Jia. Aura energinya bertambah kuat dengan hawa siluman yang sangat pekat. Sekali kakinya melangkah, maka Leo akan mundur selangkah.
Dengan kekuatannya dia mengeluarkan sebatang besi lalu menancapkannya ke tanah. Besi berdiameter kurang lebih sepuluh sentimeter itu memiliki daya tarik yang sangat kuat. Tubuh Leo tertarik ke belakang dan menghantam besi dengan kuat. Seketika tubuhnya berubah menjadi seorang manusia.
Darah segar menyembur dari mulutnya. Leo memegangi dadanya yang terasa sakit. Mungkin saat ini dia menderita luka dalam yang cukup serius.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Leo dengan nafas yang tersengal-sengal.
Gu Jia tersenyum.
"Sepertinya kamu sangat ingin tahu siapa diriku. Baiklah, akan aku katakan sekarang. Aku adalah Gu Jia. Wanita dari masa lalu yang telah diabaikan oleh jaman. Kamu tidak akan pernah tahu karena aku memang sengaja mengaburkan kisah tentang hidupku."
Gu Jia mengulurkan tangannya ke depan dan mengikat tubuh Leo pada tiang dengan energinya. Mereka berdua sama-sama menggunakan teknik dan energi yang berbeda dari pertarungan sebelumnya. Apapun itu nyatanya tidak bisa membuat Gu Jia kalah.
Daya hidup Leo kian melemah. Dia bergantung pada sisa kekuatan yang masih ada di dalam inti energinya. Tidak bisa dipastikan berapa lama dia akan bertahan hidup.
Wajahnya terlihat sangat ketakutan ketika dia melihat Gu Jia melangkah maju ke hadapannya. Sorot matanya mengeluarkan aura membunuh yang sangat mengerikan. Leo tidak berdaya layaknya seorang pecundang.
__ADS_1
"Dimana keberanian yang selalu kamu tunjukkan padaku sebelumnya? Aku bukanlah dirimu yang tega memakan manusia hidup-hidup demi sebuah kekuatan." Gu Jia berbicara sembari menatap tajam ke arah Leo.
"Dari mana kamu mengetahuinya?" tanya Leo sedikit terkejut.
Dia tidak menyangka ada orang yang mengetahui rahasia besar yang disimpannya rapat-rapat. Dia tidak merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya saat dia memangsa pemulung yang ditangkapnya.
"Aku tahu segalanya tentangmu. Oh, iya, aku ingin tahu mengapa kamu memaksa Hazzel untuk melakukan tindak korupsi tanpa mendapatkan uang yang sepadan? Kamu sangat pintar sekali memanfaatkan posisinya untuk memuluskan kepentinganmu!" Gu Jia mulai membahas misi yang sedang ditanganinya.
Tidak ada gunanya untuk menyanggah tetapi Leo tidak ingin mati hari ini. Dia memiliki seorang ibu yang harus dia jaga. Kota ini adalah kota ternyaman untuknya dimana dia tidak harus mencuri ternak warga untuk memberinya makan.
"Kamu salah, Nona. Hazzel mengambil uang itu untuk memperkaya dirinya. Bagaimana bisa kamu menyalahkanku untuk masalah ini? Aku tidak bersalah!" elak Leo.
Gu Jia tersenyum sinis. Dia lalu mendorong jari telunjuknya ke kening Leo. Sesaat dia mengirimkan ingatan tentang pertemuan Leo dan Hazzel di ruangannya. Setelah itu dia baru mengambil ingatan Leo tentang semua peristiwa yang berhubungan dengan korupsi yang dilakukan oleh Hazzel.
Gambaran di dalam ingatan Leo perlahan terbuka dan menunjukkan sebuah ruangan yang sangat gelap. Gu Jia memperhatikannya dengan fokus karena merasa sangat penasaran.
Sreettt!
Sebuah benda bulat pipih melayang ke arahnya. Mau tidak mau Gu Jia harus melepaskan Leo untuk menghindari serangan tiba-tiba itu. Hal yang menurutnya sangat aneh mengingat dimensi tanpa batas miliknya sulit ditembus oleh kekuatan apapun.
"Siapa kamu?" tanya Gu Jia saat melihat sebuah bayangan hitam mendarat di depannya.
Berangsur-angsur bayangan itu membentuk tubuh seorang wanita gemuk dengan wajah yang sangat mengerikan. Dari ciri fisik dan jenis energinya dia sangat mirip dengan Leo. Satu-satunya hal yang membedakan adalah hawa siluman di tubuhnya lebih besar dari Leo.
Gu Jia baru tersadar saat membuka ingatan Leo secara otomatis dia juga memberi kesempatan bagi Leo untuk mengirimkan sinyal bahaya keluar. Kekuatan energi yang dikeluarkan oleh Gu Jia juga dimanfaatkan untuk membuka portal menuju ke tempat itu.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Lepaskan anakku atau aku akan membunuhmu sekarang!" ancam ibu Leo.
"Aku tidak percaya jika Leo adalah anakmu. Dia memiliki darah manusia di tubuhnya sedangkan kamu tidak. Kamu pasti telah memperbudaknya untuk memenuhi keinginanmu." Gu Jia mengeluarkan energi yang menyelimuti tubuhnya untuk melindunginya dari hawa racun yang dikeluarkan oleh ibu Leo.
"Itu bukan urusanmu!" ibu Leo mulai melemparkan serangannya ke arah Gu Jia.
Gu Jia melompat ke samping dan berusaha menghindarkan serangan agar tidak mengenai tubuh Leo. Sebelum tahu lebih jauh tentang rahasia dibalik semua peristiwa ini, dia tidak ingin bertindak gegabah dan membunuh Leo.
Serangan berbahaya terus dilepaskan oleh ibu Leo. Untuk mengimbanginya, Gu Jia pun tidak tinggal diam, dia juga memberikan lemparan api yang sangat panas untuknya. Terdengar ledakan yang sangat keras ketika energi mereka saling menghantam.
Tubuh besar ibu Leo berdiri dengan kokoh saat Gu Jia mendorongnya dengan serangan energi angin. Di luar dugaan Gu Jia, wanita gemuk itu mengeluarkan semacam jaring untuk menangkapnya. Jari itu berhasil mengurung tubuh Gu Jia dan membuatnya sulit untuk bergerak.
"Hahaha! Aku pikir kamu begitu hebat, ternyata semudah ini aku bisa menangkapmu. Aku merasakan energi yang besar dari tubuhmu. Kekuatanku akan bertambah pesat jika aku berhasil mengambil inti energi jiwa dari dalam tubuhmu." Ibu Leo merasa sangat senang.
Dia tidak lagi tertarik untuk menyelamatkan Leo dan memilih fokus untuk menakhlukkan Gu Jia. Mangsa sudah ada di depan mata, dia tidak mungkin melepaskannya begitu saja.
"Sialan! Ikatan dari jaring ini sangat kuat. Aku juga merasakan energiku terhisap ke dalamnya. Aku tidak bisa tinggal diam!" umpatan Gu Jia yang terus berusaha untuk melepaskan dirinya.
Saat kedua tangannya membentuk sebuah bola api, energi yang dikeluarkannya terus keluar dan menghilang begitu saja. Jika hal ini terus terjadi maka tubuhnya akan melemah karena energinya habis terserap oleh lawan.
Gu Jia berpikir bagaimana cara untuk mengatasi masalah ini. Semakin dia berusaha untuk menyerang maka energinya akan terbuang sia-sia.
"Kamu tidak akan berhasil, Nona Manis. Aku akan menunggumu menjadi tidak berdaya hingga aku bisa memangsamu dengan mudah!" ucap ibu Leo penuh percaya diri.
Gu Jia menatapnya penuh kebencian. Hanya ada sebuah jalan yang harus ditempuhnya untuk mengatasi lawan yang berat.
__ADS_1