Gu Jia

Gu Jia
Bab 11. Kekalahan Ibu Leo


__ADS_3

Bab 11. Kekalahan Ibu Leo.


"Terpaksa aku harus mengeluarkan Pedang Cahaya Langit. Meskipun aku tidak akan mati begitu saja, aku harus menghancurkan kesombongan wanita iblis ini!" Gu Jia berkonsentrasi untuk mengeluarkan Pedang Cahaya Langit yang tersimpan di tubuhnya.


Sudah sangat lama pedang legendaris itu tidak dikeluarkannya. Sejak dihidupkan kembali, baru kali ini dia menggunakan pedang ini.


Suara petir menggelegar berada di atas kepala mereka. Kilatnya menyambar apa saja yang dilewatinya. Ibu Leo tampak bingung dengan apa yang sedang terjadi. Dia memasang armor pelindung untuk menahan serangan petir yang semakin tidak terkendali.


Cahaya kemerahan memancar dari tubuh Gu Jia dan membuatnya terlihat seperti cahaya merah yang sangat menyilaukan. Jaring energi yang mengurungnya meleleh oleh energi panas yang keluar dari tubuhnya. Hawa panas itu membuat benda-benda yang mudah terbakar menyala dan berkobar.


Ibu Leo mundur beberapa langkah untuk menghindari hawa panas yang dikeluarkan oleh Gu Jia. Dia seperti berada di dekat magma gunung berapi yang siap melahapnya.


Perlahan cahaya merah di tubuh Gu Jia mulai memudar. Muncullah sebuah pedang berkilauan dengan aura energi yang sangat pekat. Di beberapa bagian wajah Gu Jia muncul tato api berwarna merah.


Penampilan baru Gu Jia membuat ibu Leo terperangah. Selama ini dia hanya mendengar Legenda Phoenix Api hanya dalam cerita dongeng saja. Namun, hari ini dia bisa melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.


"Ja-jadi kamu adalah Phoenix Api yang melegenda itu?" tanya ibu Leo dengan wajah gugup.


Gu Jia memasang wajah sombong dengan mengangkat sebelah ujung bibirnya.


"Aku tidak sehebat itu. Bukankah kamu ingin memangsaku? Tunjukkan nyalimu sekarang!" tantang Gu Jia.


Hawa panas itu masih terasa meskipun cahaya yang menyelimuti tubuh Gu Jia telah meredup. Tidak heran jika ibu Leo terus bergerak ke belakang untuk menjauhinya.


"Aku tidak takut padamu. Aku hanya terkejut saja," ucap ibu Leo.


Tidak ingin kalah dari Gu Jia, wanita gemuk itu juga mengeluarkan sebuah pedang energi. Dia lalu mengacungkannya ke depan untuk menyambut pedang Gu Jia.


"Apa yang kamu tunggu? Serang aku!" seru Gu Jia dengan senyum mengejek. Dalam sekali tebas pedang milik ibu Leo akan lenyap seketika.


Di medan perang dia selalu memenangkan pertarungan melawan musuh dengan pedang ini. Pedang berbahan meteor yang dipadukan dengan besi berusia ribuan tahun ini memiliki energi spiritual yang sangat besar. Belum ada kekuatan yang mampu menahan serangannya.

__ADS_1


Ibu Leo pun menyerang Gu Jia dengan mengerahkan seluruh kemampuannya. Tangannya mengayunkan pedang ke samping dengan kuat lalu bergerak ke depan dengan cepat.


Gu Jia terlihat tenang saat melihat kedatangan ibu Leo. Baru setelah serangan pedang mendekat dia menyambutnya dengan pedang miliknya.


Pedang energi milik ibu Leo berubah menjadi butiran-butiran energi yang berpendar lalu tersapu oleh gelombang energi yang dikeluarkan oleh pedang Gu Jia.


"Kamu masih ingin bermain-main atau mati dengan cepat?" tanya Gu Jia sambil melangkah maju mendekati ibu Leo.


Wanita itu menggelengkan kepalanya dan terus bergerak mundur.


Gu Jia menyeringai kejam dan bergerak cepat untuk menusukkan pedangnya di tubuh ibu Leo. Dia tidak ingin membuang waktunya dan segera menghukum orang yang pantas untuk dihukum mati.


Tubuh ibu Leo ambruk ke belakang. Gu Jia membuat sebuah segel mantra agar Dewa mengunci jalur reinkarnasi makhluk yang terbunuh oleh pedangnya. Jika tidak, maka dia akan menjadi bahaya bagi orang lain di masa depan.


Mayat wanita gemuk itu menghilang bersama dengan menghilangnya segel pengikat jiwa yang menguncinya. Bersamaan dengan itu, seluruh kekuatan dan pengaruhnya pun ikut menghilang dari tubuh Leo.


Gu Jia berjalan mendekatinya dan melepaskan ikatannya. Meskipun dia melakukan tindak kejahatan karena dalam pengaruh kekuatan iblis tetapi dia harus tetap mempertanggungjawabkan semuanya.


Sebelum membangunkan Leo, Gu Jia merubah tubuhnya menjadi Shiena terlebih dahulu.


Leo tertelungkup di bawah kaki Shiena. Perlahan dia membuka matanya dan mendapati dirinya sangat berantakan. Bajunya sangat kotor dan robek di beberapa bagian.


"Apakah kamu masih mengingat semuanya?" tanya Shiena sambil menatap Leo dengan tatapan mengejek.


Leo yang tengah berusaha duduk beringsut mundur untuk menghindari Shiena.


"Jangan takut! Aku tidak akan membunuhmu. Cukup kamu akui saja kesalahanmu di pengadilan. Ada dua opsi yang mungkin kamu terima. Penjara atau rumah sakit jiwa," jelas Shiena dengan perasaan gembira.


Bibir Leo terkatup rapat. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Saat ini dia hanyalah seorang manusia tak berguna. Tanpa dukungan kekuatan dari siluman laba-laba dia tidak mungkin melawan Shiena.


Merasa tidak ada perlawanan dari Leo, Shiena segera membawanya ke alam manusia. Mereka berdua kembali ke parkiran mobil perusahaan di awal perpindahan.

__ADS_1


Petugas keamanan yang berjaga di dekat mereka terkejut saat melihat keadaan Leo yang memprihatinkan. Selama ini mereka lebih sering diuntungkan ketimbang dirugikan karena sering mendapatkan tips dari Leo.


"Tuan, apa yang terjadi padamu?" tanya Hadi yang khawatir.


"Aku sudah menyelesaikan tugasku dengan baik," imbuhnya.


Satpam itu membantu Leo untuk berdiri dan menatap penuh selidik ke arah Shiena. Dia baru pertama kali melihatnya di sini. Jika melihat tangannya yang bersih, dia merasa tidak mungkin jika Shiena yang menghajar Leo.


"Apakah Nona tahu siapa orang yang membuat Tuan Leo terluka?" tanya Hadi dengan polosnya.


Tatapan tajam Shiena membuatnya bergidik.


"Itu bukan urusanmu. Bawa dia ikut denganku!" seru Shiena.


Hadi terlihat bingung tetapi dia pun mengikuti perintah Shiena. Dia membawa Leo berjalan mengikutinya masuk ke dalam perusahaan. Tidak ada penolakan dari Leo karena tidak ada gunanya lagi dia melawan.


Meskipun baru pertama kali memasuki perusahaan itu tetapi Shiena tahu di mana letak ruangan Hazzel berada. Setelah sampai di depan ruangannya dia mendorong pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Hazzel yang sedang bekerja terkejut dengan kedatangan Shiena, Leo dan Hadi.


Tanpa menunggu dipersilakan masuk oleh Hazzel, Shiena berjalan menuju ke sebuah sofa tamu lalu duduk di sana dengan menyilangkan kaki. Apa yang dilakukannya mengundang rasa penasaran Hazzel. Pria itu datang mendekat dengan wajah yang sedikit marah.


"Siapa kamu? Dasar tidak tahu etika!" Hazzel menghardik Shiena.


"Heh! Kamu boleh pergi!" Shiena memberi kode pada Hadi untuk pergi dari ruangan Hazzel.


Hadi pergi tanpa mengeluarkan ucapan sepatah kata pun.


"Kamu memerintah satpam yang bekerja di perusahaanku? Heh!" Hazzel semakin tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Dia lalu berjalan mendekati Leo berharap menemukan jawaban darinya.


Leo hanya tertunduk tanpa berani berkata apa-apa. Melawan Shiena sama halnya menantang maut.

__ADS_1


__ADS_2