
Bab 13. Tamu Tak Diundang.
Shiena tiba di rumahnya saat hari mendekati tengah malam. Dari luar pintu rumahnya dia mendengar suara seorang pria sedang bercakap-cakap dengan Shen Shen, kepala pelayan di rumahnya.
"Aku merasa tidak asing dengan pemilik suara ini. Bagaimana bisa seorang pria berada di rumahku hingga selarut ini?" Shiena berjalan dengan menahan marah.
Orang-orang di negeri ini terlalu ramah pada orang baru. Ada kalanya dia menyukai ini, tetapi tidak jarang dia tidak terbiasa. Rasa ingin tahu yang tinggi membuatnya kehilangan kebebasan.
Shiena lebih senang tinggal di Eropa dan Asia bagian timur. Di sana dia merasa lebih bebas. Individualisme yang tinggi membuatnya nyaman karena kehidupannya tidak akan terlalu dikulik.
Pintu rumah Shiena sedikit terbuka. Kini dia bisa melihat dengan jelas siapa orang yang bertamu ke rumahnya.
"Tidak mungkin," bisik Shiena lirih.
Rasanya dia tidak mempercayai matanya tetapi ini benar-benar nyata. Hatinya berdesir hebat saat melihat pria yang memiliki gelombang energi aneh di tubuhnya. Shiena memukul-mukulkan pangkal telapak tangannya pada keningnya sambil berjalan.
"Selamat malam, Nona!" sapa Shen Shen saat pertama kali melihatnya.
"Hmm." Shiena mengangguk lalu menatap Tuan Sean yang ikut berdiri menyambutnya.
Kedua alisnya yang bertaut membuat Tuan Sean mengerti bahwa Shiena sedang bertanya-tanya akan kedatangannya.
"Maaf, jika kedatanganku mengganggumu. Aku hanya ingin memastikan kepulanganmu dan satu lagi ...." Tuan Sean mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan beberapa foto di galerinya.
"Apa maksudnya ini?" Shiena memandangi ponsel Tuan Sean yang ada di tangannya.
"Itu adalah motor yang aku janjikan untukmu. Kamu bisa memilih mana yang kamu sukai aku akan mengirimnya besok." Tuan Sean terlihat begitu bersemangat.
Shiena memberikan tatapan aneh pada Tuan Sean.
"Jadi, dia datang hanya untuk ini? Bukankah dia bisa mengirimkan gambarnya ke ponselku? Ada-ada saja!" Shiena tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Tuan Sean.
"Bukankah besok atau lusa aku juga datang ke kantormu? Aku akan menyerahkan semua bukti dan seluruh data yang berhasil aku dapatkan." Shiena duduk di sebuah sofa single yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Tuan Sean terlihat gelagapan. Entah apa yang mendorongnya, dia sangat ingin bertemu dengan Shiena. Saat berada di dekatnya dirinya seperti sedang berada di dekat Phoenix Merah yang diselamatkannya waktu kecil.
Sebenarnya dia ingin jujur tetapi rasanya sangat memalukan jika dia mengatakan tentang sahabatnya itu. Seorang pria tampan, kaya dan sedikit sombong bersahabat dengan burung phoenix, sulit dipercaya.
"Aku sudah beberapa kali gagal mengirimkan orang untuk menangkap Hazzel dan Leo. Anggap saja aku sedang mengkhawatirkanmu, Nona."
Ucapan Tuan Sean membuat Shiena terkesan. Namun, gengsinya yang tinggi membuatnya bersikap biasa-biasa saja. Lain halnya dengan Shen Shen yang tersipu malu ketika majikannya mendapatkan perhatian dari seorang pria.
"Ada apa dengan mulutku? Seharusnya aku tidak mengatakan ini." Sean terlihat gugup.
"Terima kasih. Aku sangat lelah malam ini. Sampai ketemu besok." Shiena pergi meninggalkan Tuan Sean yang merasa bingung dengan dirinya.
Tuan Sean hanya bisa menatap kepergian Shiena tanpa berkata apa-apa. Image-nya sebagai pria dingin yang acuh terhadap wanita runtuh seketika. Sekuat apapun akalnya menolak, hatinya terus mendorongnya untuk mendekati Shiena.
Shen Shen merasa bingung menghadapi Tuan Sean. Tidak mungkin dia mengusirnya untuk pulang meskipun dia sudah mengantuk.
Hingga beberapa saat Tuan Sean terus melamun dan tidak sadar jika Shiena telah menghilang. Suara Shen Shen yang berpura-pura batuk lah yang membuatnya terbangun dari lamunan. Wajahnya merona saat tahu jika Shen Shen tengah memperhatikannya.
"Ah, maaf aku sampai melupakanmu. Sepertinya aku harus segera pulang. Terima kasih sudah mengijinkanku menunggu di sini." Sean berpamitan pada Shen Shen.
"Pria ini sangat tampan dan lembut. Ternyata tidak semua gosip itu benar. Atau ... dia bersikap baik karena menyukai Nona Gu Jia? Ah, sudahlah! Semoga mereka berjodoh." Shen Shen tidak ingin ambil pusing.
Senyumnya tidak pernah lepas dari wajahnya saat berjalan menuju ke kamarnya. Sampai-sampai dia tidak menyadari jika Shiena sedang berdiri di hadapannya. Hampir saja dia menabraknya.
"Ahh!" pekik Shen Shen.
"Astaga, Nona! Kamu mengejutkanku saja!" ucap Shen Shen sambil memegangi dadanya yang berdebar karena terkejut.
Shiena melanjutkan langkahnya pergi ke dapur untuk mengambil minum meninggalkan Shen Shen yang terpaku.
"Kamu saja yang meleng. Senyum-senyum seperti orang tidak waras." Shiena menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
Shen Shen tersenyum dan memberi tatapan genit untuk menggoda Shiena.
__ADS_1
Shiena mengidikkan bahunya merasa jijik melihat tingkah Shen Shen. Kalau bukan keturunan dari Yushi dia pasti sudah menghajarnya sampai babak belur.
"Hihh! Kamu kenapa, sih? Kamu tidak sedang mabuk, kan?" tanya Shiena sambil bergidik.
Ekspresi wajah Shen Shen seketika berubah. Dia merasa jika majikannya salah paham padanya. Sebelum semuanya menjadi runyam dia harus menjelaskan semuanya pada Shiena.
"Nona, tidak bisa diajak bercanda. Mana ada aku suka sama Nona, secara kita sama-sama perempuan," sungut Shen Shen menunjukkan wajah kesalnya.
Kedekatan mereka membuatnya sangat berani pada Shiena. Meskipun dia suka jahil tetapi Shiena jarang sekali memarahinya.
"Lalu apa maksudmu berkedip-kedip seperti itu?" Shiena tidak kalah kesal.
"Hmm, Nona terlalu kaku. Aku cuma ingin menggoda Nona saja karena sudah memiliki teman pria," jelas Shen Shen.
Shiena menautkan kedua alisnya.
"Teman dekat? Maksudmu Sean?" tanya Shiena.
Shen Shen mengangguk dengan cepat.
"Dari sorot matanya terlihat begitu jelas jika Tuan Sean menyukaimu, Nona."
Shiena menatap Shen Shen sejurus. Dia tidak mempercayai apa yang dikatakan olehnya. Baru dua kali dia bertemu dengan Tuan Sean, rasanya aneh jika Shen Shen membuat kesimpulan seperti itu.
"Kamu terlalu banyak menonton drama." Shiena berjalan meninggalkan Shen Shen. Dia tidak ingin suasana hatinya semakin kacau. Ucapan Shen Shen sering kali meracuni pikirannya.
Mereka berdua pergi ke kamar mereka masing-masing. Dan benar saja, apa yang diucapkan oleh Shen Shen sangat mengganggu bagi Shiena. Bayangan wajah Tuan Sean terus muncul di pikirannya membuat Shiena merasa frustasi.
"Arrgh! Semua ini gara-gara Shen Shen. Otakku benar-benar termakan oleh ucapannya yang tidak masuk akal itu. Sepertinya tidak mungkin jika Sean menyukaiku. Aku tidak ingin tertipu." Shiena menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Baru beberapa detik dia kembali membuka selimut itu lagi. Dia teringat janjinya pada Yushi untuk membuka hati pada seorang pria. Tidak ada salahnya dia memberi kesempatan pada Tuan Sean untuk mendekatinya.
"'Sepertinya tidak buruk. Meskipun sebelumnya pria itu sangat dingin dan sombong, dia mulai memperhatikanku. Tapi bagaimana jika penyakit sombong dan angkuhnya kambuh lagi? Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya." Kali ini Shiena memutuskan untuk tidur.
__ADS_1
Di dalam tidurnya, Tuan Sean kembali hadir. Namun, bukan sebagai sosok seorang owner dari beberapa perusahaan. Dia muncul sebagai seorang pria yang berasal dari jaman yang sama dengan awal kehidupannya.