
Bab 09. Bertarung Lagi.
Aroma tidak sedap tercium oleh Shiena bersamaan dengan kemunculan Leo. Semula dia berpikir jika aroma itu berasal dari tubuh Leo. Namun, lambat laun baunya menghilang dan tidak meninggalkan bekas.
Wajah Leo terlihat gelisah dan berjalan ke sana kemari seperti sedang memikirkan sesuatu. Tidak terucap sepatah kata pun dari mulutnya tetapi terlihat jelas jika dia sedang tidak baik-baik saja.
Leo berjalan mendekati jendela kaca yang ada di ruangannya. Dari sana dia melihat seorang pemulung sedang berjalan di tepi jalanan yang sepi. Senyuman menyeringai terlihat jelas di wajahnya lalu tubuhnya menghilang dalam sekejap.
Bayangan Shiena mengikuti energi yang ditinggalkan oleh Leo. Dalam waktu singkat dia telah berhasil menyusulnya ke tepi jalan.
Saat ini Leo mengambil wujud sebagai sosok yang menyeramkan. Dia bersembunyi di sebuah gang sempit yang jarang dilalui oleh orang. Gang itu diapit dua buah bangunan tua yang sudah ditempati lagi oleh pemiliknya.
Bayangan Shiena terus mengamati gerak-gerik Leo tanpa tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini. Hatinya terdorong untuk merekam aksi yang akan dilakukan oleh Leo. Sebuah kamera kecil yang dibawanya sudah menyala sejak dia berada di dalam ruangan Leo.
"Astaga! Ternyata aku lupa untuk mematikannya. Sudahlah mungkin banyak hal yang berguna yang bisa kubawa ke hadapan Sean nantinya!" sesal Shiena dan mengarahkan kameranya pada Leo.
Tubuh Leo berubah menjadi sebuah bayangan hitam dan bergerak dengan cepat mendekati pemulung yang sedang asyik memungut barang bekas di dalam sebuah bak sampah. Pemulung dan Leo bergerak cepat meninggalkan tempat itu, meninggalkan barang bekas yang terlempar dan berantakan di pinggir jalan.
Shiena mengikuti ke mana Leo membawa pemulung pergi. Bayangan hitam berhenti di dalam sebuah gedung kosong yang tidak jauh dari tempat itu.
Sama seperti yang dilakukan Leo padanya tempo hari, tubuh pemulung itu telah terbungkus rapat menyerupai sebuah kepompong dan terikat pada jaring-jaring energi yang sudah terbentuk.
Suara hati Shiena berperang antara menyelamatkan pemulung itu atau melihat apa yang terjadi hingga akhir. Dia menimbang-nimbangnya dengan matang mengingat semuanya mengandung resiko untuknya.
Di tengah pergolakan batin yang sedang dia hadapi, Leo telah melakukan aksinya pada pemulung. Sudah sangat terlambat bagi Shiena untuk menyelamatkan pemulung yang malang itu. Leo sudah menghisap seluruh cairan di tubuhnya dan membuatnya mati mengering di dalam kantong putih yang membungkusnya.
Keadaan tubuhnya sangat memprihatinkan ketika Leo melepaskan ikatannya dan menarik kembali jaring-jaring energinya. Dia kemudian meninggalkan mayat pemulung begitu saja dan pergi menjadi bayangan hitam.
__ADS_1
Tiba-tiba dia sudah berada di parkiran kantor dan berjalan menghampiri seorang satpam.
"Selamat siang, Pak!" sapa Leo sopan.
Sikapnya terlihat sangat manis. Setelah mendapatkan seorang korban, suasana hatinya menjadi sangat baik.
"Selamat siang, Tuan Leo. Apakah ada yang harus saya kerjakan?" tanya satpam yang bernama Hadi.
Leo mengangguk lalu mengeluarkan sebuah amplop berisi uang dari dalam kantong celananya. Dia menyerahkan amplop tebal itu pada Hadi.
"Kamu belikan aku sepuluh ekor kambing. Setelah kamu dapat, kamu antar ke rumah dan ikat kambing-kambing itu di halaman rumahku. Jika kamu sudah melakukan tugasmu segera kamu hubungi aku. Kamu masih menyimpan nomor teleponku, bukan?" tanya Leo untuk meyakinkannya saja.
"Masih, Tuan. Saya akan berangkat sekarang." Hadi bersiap untuk pergi dari hadapan Leo.
"Tunggu! Jika ada sisa uang, kamu boleh mengambilnya. Tapi ingat, kambing-kambing itu harus bagus seperti biasanya." Leo memberi peringatan pada Hadi.
"Baik, Tuan. Saya permisi!" Hadi menyimpan uang itu ke dalam tas kecil yang selalu dibawanya.
Leo sedikit terkejut dengan kedatangan Shiena yang tiba-tiba.
"Selamat siang, Tuan Leo! Senang bertemu dengan Anda lagi!" sapa Shiena.
Leo terkejut hingga kakinya tanpa sadar mundur selangkah ke belakang.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Leo dengan wajahnya yang memucat.
Shiena tersenyum menyeringai dan terus berjalan mendekatinya. Bukan hanya Leo yang bisa mengaburkan alam di sekitarnya menjadi terpisah dengan alam manusia. Saat ini Shiena sedang melakukannya.
__ADS_1
"Siapa kamu sebenarnya?" Leo kembali bertanya meskipun pertanyaan sebelumnya belum dijawab oleh Shiena.
"Aku adalah malaikat pencabut nyawa yang akan membawamu ke neraka," ucap Shiena dengan suaranya yang lantang.
Leo terkesiap mendengar ucapan Shiena tetapi dia tidak ingin memperlihatkan ketakutannya. Sebelumnya dia telah dikalahkan, dia tidak ingin hal itu terulang lagi.
Sepintas Shiena terlihat santai dan berpura-pura tidak tahu jika Leo sedang mengerahkan seluruh kekuatannya untuk bersiap melawannya. Dibalik sikap santainya, Shiena pun bersiap untuk merubah wujudnya menjadi phoenix api.
Aura energi Leo terasa sangat pekat dan lebih kuat dari energi yang dimilikinya tempo hari. Inti kehidupan yang direnggutnya dari pemulung membuat energinya melesat beberapa tingkat dari sebelumnya. Dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang, dirinya merasa yakin bisa mengalahkan Shiena dengan mudah.
Sebuah bola energi terbentuk di tangan Leo. Energi itu bisa membunuh lawannya dengan cepat karena mengandung racun. Sedikit saja energi itu menggores tubuh lawannya maka racun di dalamnya akan masuk dengan cepat ke dalam tubuhnya.
"Hebat sekali! Dalam semalam energimu telah meningkat dengan begitu pesat," ucap Shiena yang berisi pujian tetapi terdengar seperti ejekan.
"Jangan banyak bicara! Rasakan ini! Haaa!" seru Leo yang melemparkan bola energinya ke arah Shiena.
Dia kembali membentuk bola energi lain untuk serangan berikutnya.
Shiena melompat ke udara dengan tubuh yang berubah menjadi phoenix api untuk menghindari serangan Leo. Bola api yang tidak mengenai sasaran terlempar di tempat kosong dan menimbulkan suara ledakan yang sangat keras. Dari ledakan itu keluar cairan berlendir berwarna biru kehijauan berbau menyengat.
Untuk menetralkan efek racun yang bisa saja menyebar, Shiena melemparkan bola api untuk membakar bekas serangan Leo. Serangan kedua datang menghampirinya dan membuatnya hampir terlambat untuk menghindar.
Sehelai bulunya terkena bola energi milik Leo dan seketika membuatnya berubah menjadi kehitaman. Sebelum racun di bulunya menyebar, Shiena rela menahan rasa sakit untuk melepaskannya. Bulu yang terlepas segera dibakarnya bersama racun-racun yang berhamburan di tanah.
"Kamu memang benar-benar tidak pantas untuk dikasihani," ucap Shiena sambil mengepakkan sayapnya.
Dia terbang dengan pola tertentu di atas kepala Leo. Dari sayap yang dikepak keluar serbuk api berwarna kuning kemerahan. Serbuk itu bertaburan menyelimuti tubuh Leo dengan hawa panas yang membuatnya sulit untuk bernafas.
__ADS_1
"Apa ini? Aku harus segera menghindar!" batin Leo, lalu berubah menjadi seekor laba-laba raksasa dan bergerak mundur.
Dengan wujudnya saat ini dia akan mengeluarkan serangan dengan menggunakan mulutnya. Selain bola api, Leo juga melemparkan serangan berupa cairan lem berharap bisa mengenai Shiena dan membatasi geraknya.