Gu Jia

Gu Jia
Bab 15. Mr Poh.


__ADS_3

Bab 15. Mr. Poh.


"Ada apa lagi Shen Shen?" tanya Shiena dengan nada yang meninggi.


Shen Shen tersenyum canggung. Dia mengaku salah karena tidak sekalian bertanya pada Shiena sebelumnya. Dengan langkah malu-malu dia datang mendekati Shiena.


"Gaji untuk para pelayan dan pegawai yang bekerja di rumah ini belum dibayarkan, Nona," ucap shen Shen dengan wajah yang sedikit takut.


Ekspresi wajah Shiena berubah menjadi lebih lembut. Untuk kali ini dialah yang bersalah. Seharusnya dia meminta Kimmy untuk mengurusnya ketika mereka bertemu malam itu.


"Astaga! Maafkan aku Shen Shen. Tolong ambilkan ponselku di kamar. Aku akan menghubungi Kimmy sekarang." Shiena tidak bersemangat lagi untuk berolah raga. Dia memilih turun dan pergi ke taman samping untuk menghirup udara segar.


Shiena berlari-lari kecil di taman sambil melakukan beberapa gerakan perenggangan otot. Udara di pagi hari masih lumayan segar. Tubuhnya seperti mendapatkan kekuatan baru untuk memulai hari.


Tidak lama kemudian Shen Shen datang menghampirinya dengan membawa ponsel yang diinginkannya.


"Terima kasih. Kamu boleh pergi sekarang." Shiena mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Kimmy.


"Baik, Nona." Shen Shen kembali pada pekerjaannya.


Setelah selesai mengirimkan pesan, Shiena ingin kembali berolahraga di taman. Namun, saat akan meletakkan ponselnya, ada sebuah pesan masuk dengan nada khusus di sana. Shiena segera membukanya karena pesan itu berasal dari Mr. Pho.


Mr. Pho memintanya untuk datang ke kantor hari ini. Terpaksa dia harus membatalkan janjinya pada Sean untuk datang ke kantornya. Tidak ingin membuatnya menunggu, Shiena segera memberi kabar pada Sean saat ini juga.


Pesan yang dikirim oleh Shiena telah terkirim semuanya. Shiena meletakkan ponselnya untuk melanjutkan olahraga. Namun, baru beberapa langkah dia berjalan ponselnya kembali berdering. Sebuah panggilan masuk membuatnya terpaksa harus mengangkatnya.


"Ada apa dengan pagi ini? Aku benar-benar tidak bisa menikmati ketenangan hidup." Shiena menggerutu menahan kekesalan di hatinya.


Di layar ponsel Shiena tertulis nama Sean. Terputar kembali memori yang muncul dalam mimpinya semalam membuat tangan Shiena bergetar ketika akan mengangkatnya. Hatinya merasa penuh dan tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sean. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu saat ini. Beri aku waktu untuk memikirkan segalanya." Shiena membiarkan ponselnya begitu saja.


Suasana hatinya merasa gamang. Shiena memilih untuk pergi ke kamarnya dan bersiap untuk menemui Mr. Pho.


"Tua bangka itu pasti akan mengomel jika aku tidak segera datang ke kantor. Kalau bukan karena ingin menutupi identitasku, mungkin aku sudah keluar dari agen rahasia miliknya." Kekesalan Shiena terus berlanjut.


Bunga-bunga di taman serta tanaman hias yang dilewatinya mendadak menjadi layu. Bukan itu saja, benda-benda yang ada disekitar tubuhnya mendadak jatuh ke lantai. Pelayan di rumahnya tampak ketakutan dan melaporkan apa yang terjadi pada Shen Shen. Mereka tidak ingin dituduh merusakkan barang-barang yang jatuh tanpa mereka sentuh.


"Nyonya Shen Shen, kami tidak menjatuhkan benda-benda itu. Saat Nona Shiena melewatinya benda itu jatuh ke lantai," jelas salah seorang pelayan mewakili teman-temannya.


Shen Shen tidak terkejut saat mendengarnya. Apa yang terjadi mungkin di luar nalar, tetapi dia tidak ingin menjelaskan banyak hal tentang Shiena kepada mereka. Dia hanya cukup memberinya pengertian jika sebagian benda-benda di rumah ini memang mudah rusak.


"Jangan khawatir. Nona Shiena tidak akan marah untuk kesalahan sekecil ini. Kalian bisa membersihkannya sekarang, selebihnya biar aku yang mengurusnya. Oh, iya, sebentar lagi Tuan Kimmy akan segera tiba untuk mengantarkan gaji kalian." Shen Shen memberikan kabar gembira untuk mendinginkan suasana.


Mereka terlihat gembira dan bersorak. Dibandingkan dengan tempat lain, gaji dari Shiena lebih besar. Pekerjaan yang mereka lakukan juga terbilang ringan karena dikerjakan secara bersama-sama.


Wajah takut para pelayan itu menguap berganti kebahagiaan. Mereka bisa berbelanja dan menikmati gaji mereka setelah ini. Shen Shen dan Shiena tidak melarang mereka untuk pergi keluar selama pekerjaan mereka sudah beres.


Jika bukan karena menikah atau hal yang mendesak. Pelayan Shiena jarang sekali berhenti. Mereka sangat betah bekerja di sana.


Shen Shen berdiri di dekat meja makan untuk menyambut Shiena. Dia tahu jika suasana hati majikannya sedang tidak baik-baik saja. Hal yang lebih buruk bisa saja terjadi jika dia sampai membuat kesalahan.


Setelah Shiena duduk, Shen Shen segera menyiapkan sarapan untuknya. Raut wajah Shiena masih terlihat dingin tetapi sudah tidak separah sebelumnya. Shen Shen melayaninya dengan baik dan membantunya untuk bersiap.


"Nona pergi pagi-pagi sekali. Apakah ada pekerjaan yang mendesak?" tanya Shen Shen berbasa-basi.


"Aku harus menemui si Tua Bangka itu. Entah apa yang diinginkannya. Aku sedang malas ribut." Shiena berbicara sambil berjalan meninggalkan ruang makan.


Shen Shen mengikutinya di belakang dan mengantarkannya hingga ke depan pintu. Kali ini Shiena pergi dengan sopirnya karena sedang tidak ingin menyetir sendiri. Suasana hatinya yang kurang baik bisa membuat semuanya menjadi kacau.

__ADS_1


"Antarkan aku ke Elang Emas!" perintah Shiena pada sopir pribadinya setelah berada di dalam mobilnya.


"Baik, Nona." Sopir Shiena segera melanjutkan mobilnya menuju ke arah kantor Mr. Pho.


Tidak ada percakapan di antara keduanya. Shiena lebih banyak melamun memikirkan tentang mimpinya semalam dan mengabaikan semua hal disekelilingnya. Dia masih belum bisa menerima jika takdir hidupnya terhubung dengan Sean.


Terlalu asyik dengan lamunannya membuat Shiena tidak sadar jika mobil yang membawanya sudah sampai di halaman gedung Elang Emas. Dia bahkan terkejut saat sopir membuka pintu untuknya.


"Kamu boleh pulang sekarang. Aku akan menghubungi jika aku membutuhkanmu," ucap Shiena sebelum pergi meninggalkan mobilnya.


"Baik, Nona." Sopir Shiena kembali masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan halaman kantor Mr. Pho.


Kantor Elang Emas masih sepi saat mereka tiba di sana. Shiena berpikir jika Mr. Pho hanya mengerjainya saja, ternyata dia memang sudah menunggunya di lobi depan. Memang mengejutkan tetapi Shiena tidak heran dengan tingkah aneh atasannya itu.


"Selamat pagi, Mr. Pho," sapa Shiena.


"Selamat pagi. Aku sudah menunggumu hampir lima belas menit," ketus pria berkepala plontos itu.


"Maaf. Jalan sedikit macet. Apakah ada pekerjaan penting yang harus aku lakukan?" tanya Shiena dengan suara datar.


Mr. Pho tidak langsung menjawab. Dia lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke ruangannya.


Shiena mengikutinya di belakang.


Beberapa pengawal pribadi Mr. Pho memberi jalan untuk keduanya. Mereka membungkuk hormat saat Mr. Pho dan Shiena melewati keduanya. Selama ini, Mr. Pho terkenal sangat tegas dan disiplin sehingga mereka berusaha untuk tidak membuat kesalahan.


"Duduklah!" perintah Mr. Pho


Tanpa perintahnya, Shiena tidak berani untuk duduk atau melakukan hal sekecil apapun.

__ADS_1


__ADS_2