Gu Jia

Gu Jia
Bab 07. Kekesalan Shiena.


__ADS_3

Bab 07. Kekesalan Shiena.


Shiena tidak segera pulang ke rumahnya. Sudah lama dia tidak mengunjungi Yushi. Pelayan setianya itu sudah berusia lanjut saat ini. Meskipun dia bisa bertahan hidup tetapi raganya sudah tidak bisa terlihat muda seperti Gu Jia yang tetap awet muda.


Jarak tempatnya saat ini dengan tempat tinggal Yushi masih cukup jauh tetapi Shiena tidak ingin mencari taksi. Sudah lama dia tidak berjalan kaki. Langkahnya terlihat biasa tetapi melampaui kecepatan kereta listrik ciptaan tercanggih.


Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit saja dia bisa mencapai tempat yang ditujunya.


Di depan pintu gerbang dia disambut oleh penjaga keamanan di sana. Mereka masih merupakan keturunan Yushi sehingga tidak merasa heran dengan kedatangan Shiena yang tiba-tiba.


"Selamat malam, Nona!" sapa mereka.


"Selamat malam. Apakah Yushi sudah tertidur?" tanya Shiena.


Pandangannya mengedar ke sekeliling dan mendapati keadaan rumah itu tidak banyak berubah. Hampir dua puluh tahun Yushi menempatinya di negara ini. Mereka cukup betah mengingat lingkungan dan cuaca yang baik.


"Biasanya belum, Nona. Nenek masih terjaga meskipun sedang berada di kamarnya!" jelas salah satu pria itu.


"Hmm." Shiena mengangguk lalu berjalan meninggalkan kedua penjaga gerbang.


Tempat tinggal Yushi cukup luas. Mereka mengambil konsep natural dengan memperluas area hijau dan taman yang indah di sekeliling rumah. Namun, Shiena tidak mengijinkan mereka untuk memelihara binatang jenis apapun di sini.


Rumah Yushi tampak lengang. Para pelayan mungkin sudah tertidur saat ini mengingat hari sudah larut malam. Shiena tidak memanggil siapapun untuk menyambutnya dan berjalan seorang diri menuju ke kamar Yushi.


Wanita tua itu terlihat sedang duduk ketika Shiena datang. Meskipun ratusan kali Gu Jia merubah nama dan penampilannya dia tetap mengenalinya dengan baik. Yushi berusaha bangkit dari duduknya untuk menyambut Gu Jia.


"Diamlah di situ! Biar aku saja yang datang." Shiena merasa iba melihat tubuh renta Yushi.


Yushi tersenyum senang.

__ADS_1


"Nona Gu memang tidak pernah berubah. Kebaikan hatimu membuatku tersanjung. Salam hormat, Yang Mulia!" Yushi menyatukan kedua tangannya di depan wajahnya.


"Kamu terlalu berlebihan memujiku. Bagaimana keadaanmu? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Shiena.


"Aku baik-baik saja, Nona." Wajah Yushi terlihat sedih. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Shiena sangat mengenal Yushi. Dia lebih senang memendam masalahnya ketimbang mengungkapkannya pada siapapun. Namun, sedikit saja perubahan ekspresi di wajahnya mampu ditangkap oleh Shiena.


"Kamu tidak baik-baik saja. Apa yang kamu pikirkan? Apakah cucu-cucumu tidak memperlakukanmu dengan baik?" selidik Shiena.


Yushi buru-buru menggeleng. Dia tidak ingin Shiena salah paham dan menyalahkan cucu-cucunya.


"Lalu?" Shiena masih mengejarnya dengan pertanyaan.


Yushi menundukkan kepalanya. Beberapa hari ini pikirannya memang merasa terganggu. Dia merasa sudah terlalu tua dan lelah dengan kondisi tubuhnya.


"Hmmh!" Shiena mendengus.


Sebagai seorang panglima di masa lalu, sikap tegasnya masih mendominasi hingga saat ini. Dia tidak suka dengan hal yang berbelit-belit. Kesabarannya sangat tipis.


"Ampun, Nona. Tidak ada hal yang kurang dari Anda. Aku hanya memikirkan tentang diriku sendiri!" Yushi kembali membuat teka-teki.


"Dirimu? Ada apa dengan dirimu?" sorot mata Shiena menatap tajam Yushi.


Siapapun akan menciut ketika melihatnya seperti ini. Shiena seperti seekor elang yang bersiap untuk menerkam mangsanya. Tidak ada yang bisa menghindari tatapan matanya.


Tidak ada celah lagi bagi Yushi untuk menyembunyikan keinginannya. Berbohong pun tidak ada guna karena Shiena dengan mudah akan mengetahuinya.


"Ampun, Nona. Sepertinya tubuhku ini sudah terlalu tua. Meskipun aku bertahan hidup tetapi aku sangat tidak berguna. Aku hanya akan menjadi beban orang-orang terdekatku saja."

__ADS_1


Akhirnya Yushi mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. Dia berharap Shiena akan mengerti dan membiarkan mati secepatnya. Yushi tidak sanggup lagi menahan ketidakberdayaannya.


Shiena terdiam mendengar perkataan Yushi. Hatinya merasa sedih saat mengingat jika hanya Yushi yang dimilikinya saat ini. Setelah kematiannya tidak ada yang peduli padanya selain Yushi.


Momen yang sangat langka pun terjadi. Saat Shiena sedang bersedih, akan membawa dampak yang buruk bagi dunia. Di malam yang cerah tiba-tiba terdengar suara petir yang menggelegar karena kesedihannya.


Awan-awan mulai berkumpul dan mendatangkan badai. Dalam waktu sekejap saja hujan turun dengan derasnya disertai angin dan petir. Badai ini memberikan dampak yang sangat buruk dan menimbulkan banyak kerusakan.


Yushi terlihat sangat khawatir. Sebelum ini hal yang sama pernah terjadi beberapa ratus tahun yang lalu, dan jika tidak segera dihentikan maka seluruh kota benar-benar akan hancur.


Tubuh Shiena berdiri mematung dengan wajahnya yang terlihat dingin. Matanya menatap kosong ke depan dengan butir-butir air mata yang menetes di pipi. Kehilangan Yushi sama artinya kehilangan separuh hidupnya.


Dengan wajah ketakutan dan perasaan bersalah Yushi turun perlahan dari kursinya. Dia lalu menjatuhkan tubuhnya di lantai dan berlutut di kaki Shiena. Rasa sesal membuat Yushi ikut menangis karena dia tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menenangkan Shiena.


"Ampuni aku, Nona. Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu. Aku bersalah telah menginginkan kematian. Aku mengaku salah, Nona. Aku ... aku rela hidup seribu tahun lagi untukmu." Yushi menangis sejadi-jadinya, dia tidak tahu lagi harus berkata apa.


Shiena mulai bergeming. Dia menatap Yushi penuh perasaan. Masih dengan sikap dinginnya dia membantu Yushi untuk bangun dan membawanya duduk di tepi ranjang.


Kesedihan Shiena masih terlihat di wajahnya meskipun sudah mulai memudar. Pandangan matanya menjadi sayu dan terlihat lebih lembut.


"Kamu seharusnya tahu jika aku rela mengorbankan apapun untukmu. Bahkan aku rela memberikan darahku untuk membuatmu tetap hidup. Apakah kamu masih ragu jika aku benar-benar takut kehilanganmu? Bersabarlah sebentar, Yushi. Setidaknya sampai aku menemukan jodohku. Saat itu kita akan pergi dari dunia ini dengan tenang dan kembali ke alam surgawi." Shiena berbicara dengan berapi-api.


Yushi hanya bisa mengangguk. Dia tidak sanggup berkata-kata lagi. Baginya yang terpenting Shiena sudah lebih tenang.


Perlahan badai mulai surut seiring dengan suasana hati Shiena yang sudah mulai membaik. Yushi merasa lega.


"Aku berjanji untuk tidak pergi sebelum Nona mendapatkan kesempurnaan. Kita akan pergi bersama-sama ke nirwana!" Yushi berbicara dengan yakin.


Shiena tersenyum senang mendengar ucapan Yushi. Hatinya merasa lebih tenang. Satu-satunya hal yang bisa mewujudkan keinginannya adalah menemukan seorang pria yang tulus mencintainya.

__ADS_1


Bagi Shiena lebih sulit menjalin relasi bersama seseorang ketimbang mempertaruhkan nyawanya untuk melawan musuh. Namun, dia harus segera melakukannya karena sejujurnya dia sendiri juga tidak tega melihat tubuh Yushi yang semakin renta.


"Aku berjanji padamu, Yushi. Setelah hari ini aku akan berusaha untuk bersikap lebih lembut pada seorang pria!" Shiena bermonolog dalam hati.


__ADS_2