Gu Jia

Gu Jia
Bab 16. Keluar Sebagai Agen Rahasia.


__ADS_3

Bab 16. Keluar Sebagai Agen Rahasia.


Shiena segera duduk di hadapan Mr. Pho karena dia bukanlah orang yang sabar. Di usianya yang sudah tua dia semakin susah untuk mengendalikan emosinya. Dia tidak pernah bersikap baik pada anak buahnya meskipun para anggota Elang Emas bekerja dengan sangat baik. Mr. Pho sangat sulit diajak untuk kompromi tetapi Shiena termasuk anggota yang jarang diprotes olehnya.


"Aku dengar kamu telah menyelesaikan misimu di perusahaan milik Tuan Sean? Sulit dipercaya pekerjaan yang beberapa kali gagal diselesaikan oleh orang lain tetapi kamu bisa menyelesaikannya dalam waktu yang singkat." Mr. Pho diam dan menatap tajam ke arah Shiena.


"Memang benar, lalu apa yang salah jika aku menyelesaikannya dalam waktu yang cepat? Bukankah itu lebih baik sehingga aku bisa beristirahat atau menjalankan misi yang lain?" Kali ini Shiena mencoba mendebat Mr. Pho.


"Kamu memang anggota yang bisa kuandalkan, tetapi aku curiga kamu memiliki hubungan kerjasama dengan tersangka yang kamu tangani." Mr. Pho mengatakan apa yang sejak tadi ditahannya.


Sienna tidak terima dengan tuduhan Mr. Pho. Dia sudah mulai lelah dan ingin berhenti saat itu juga. Rasa tidak nyaman yang dirasakannya sebenarnya sudah ada sejak lama. Dia bertahan selama 3 tahun di agen milik Mr. Pho. Namun kali ini sepertinya dia tidak bisa lagi bertahan.


"Saya sudah bekerja sesuai prosedur. Jika saya membutuhkan waktu yang lebih singkat dari anggota yang lain untuk menyelesaikan pekerjaan, bukan berarti saya berbuat curang dan melakukan cara kotor untuk menyelesaikannya." Shiena tidak takut lagi pada Mr. Pho dengan kemungkinan terburuk yang mungkin diterimanya.


Setelah mengatakan itu Shiena beranjak dari duduknya dan menatap tajam Mr. Pho. Darahnya serasa naik ke ubun-ubun saat emosinya tengah memuncak.


"Di mana kesopananmu, Nona?" Mr. Pho berbicara dengan nada yang meninggi dia lalu ikut berdiri dan menatap Shiena penuh kemarahan.


Untuk beberapa saat mereka saling menatap penuh kebencian. Ruangan yang semula tenang menjadi tegang. Efek dari kemarahan Shiena membuat keadaan di dalam ruangan itu menjadi aneh. Hawa panas menyelimuti seluruh penjuru ruangan meskipun pendingin ruangan dinyalakan. Lampu yang berada di sana mendadak pecah berhamburan.


Mr. Pho tidak menyadari jika semua yang terjadi merupakan akibat dari kemarahan Shiena. Dia pikir semua hal yang terjadi karena pengaruh cuaca dari luar padahal saat itu hari masih pagi. Udara di ruangan seperti berada dalam oven.

__ADS_1


"Aku tidak ingin berdebat denganmu, Tuan. Mulai hari ini aku ingin keluar dari agensi. Aku akan menyerahkan semua salinan data-data yang aku kumpulkan pada misi terakhirku." Shiena tidak peduli lagi dengan reputasinya dan akan mencari pekerjaan lain untuk menyembunyikan identitasnya sebagai Gu Jia.


"Baiklah kamu yang menginginkannya, bukan aku yang memecatmu. Aku tunggu surat pengunduran diri darimu. Kuharap kamu tidak menyesal." Sesungguhnya Mr. Pho tidak rela kehilangan Shiena ego-nya yang tinggi menuntutnya selalu dihormati.


Ketegangan di antara keduanya belum berakhir Sheina tidak ingin berlama-lama ada di sana. Namun, dia masih memiliki sedikit rasa hormat pada Mr. Pho.


"Saya permisi, Tuan. Berkas-berkas yang ada di tangan saya akan diantarkan oleh sopir saya setelah ini. Sampai jumpa!" Pamit Shiena lalu segera berbalik meninggalkan ruangan tanpa menunggu Mr. Pho menjawab.


Saat Shiena keluar dari ruangan Mr. Pho, anggota Elang Emas dan para pegawai yang bekerja di sana sudah berdatangan. Mereka menatap Shiena dengan heran. Melihat langkahnya yang terburu-buru, sebagian orang menyapanya dan bertanya mengapa dia sudah kembali. Namun Sheina tidak menjawabnya.


Sesampainya di luar gedung Elang Emas, Shiena berjalan dengan langkah cepat dan lama-kelamaan tubuhnya tidak terlihat. Kecepatan langkahnya melebihi kecepatan mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Sebelum sopir dan mobilnya tiba di rumah dia sudah sampai lebih dahulu.


Tidak ingin mengejutkan sopirnya, Shiena memanggil Shen Shen dan memintanya untuk menyampaikan berkas-berkas dan surat pengunduran diri pada sopirnya. Dia harus kembali ke kantor Elang Emas untuk mengantarkannya pada Mr. Pho.


Sean hampir saja pergi ke kantor Elang Emas tetapi dia teringat jika dirinya menyimpan nomor ponsel milik Shen Shen. Sebelum dia berangkat, dia berpikir untuk meneleponnya lebih dulu. Dia ingin menanyakan biasanya pukul berapa pulang. Jika tidak terlalu sore Sean akan datang ke rumahnya setelah jam kerja.


"Halo, selamat pagi!" jawab Shen Shen sesaat setelah panggilan ponselnya terhubung.


"Selamat pagi, Nyonya. Maaf jika aku mengganggu pekerjaanmu." ucap Sean dengan sopan.


"Maaf dengan siapa saya berbicara?" Shen Shen belum menyimpan nomor kontak Sean.

__ADS_1


Di layar ponselnya tidak muncul nama pemilik nomor tersebut.


"Ini Sean, Nyonya. Semalam aku meminta nomor Anda mungkin saya lupa belum memberikan nomor ini untuk Anda." jelas Sean.


"Oh, Tuan Sean rupanya. Maaf saya tidak tahu. Ada apa Tuan pagi-pagi menelepon?" tanya Shen Shen.


"Maaf, aku cuma ingin menanyakan kira-kira pukul berapa Shiena pulang dari kantor?" Sean tidak mengatakan perihal kedatangannya pada Shen Shen.


Shen Shen terlihat bingung saat ini. Suasana hati Shiena sedang buruk. Hawa panas di sekitar rumahnya menunjukkan jika dirinya sedang marah. Belum diketahui secara pasti apa penyebabnya. Namun, Shen Shen harus berhati-hati karena takut menyinggung dan membuatnya semakin marah.


"Maaf, Tuan. Sepertinya Nona Shiena sedang tidak enak badan. Tidak lama setelah dia pergi ke kantor tiba-tiba dia sudah kembali lagi ke rumah. Wajahnya terlihat pucat, dia sedang beristirahat sekarang." Terpaksa Shen Shen berbohong agar Sean tidak mengganggu Shiena.


"Baiklah aku tutup dulu teleponnya. Terima kasih." Sean mengakhiri panggilannya dan memilih untuk memikirkan masalah Shiena seorang diri.


Sean tidak ingin menyerah. Dia tidak peduli seandainya Shiena tidak mau menemuinya. Dia akan tetap datang ke rumahnya saat jam istirahat. Sebenarnya dia sangat ingin pergi sekarang juga, tetapi motor yang dipesannya belum juga datang. Sean tidak ingin datang dengan tangan kosong.


Di rumah Shiena,


Untuk menghindari fenomena alam yang kian memburuk, Shiena memilih pergi berkultivasi di ruang khusus yang berada di samping kamarnya. Tidak ada yang tahu keberadaan ruangan itu sehingga tidak akan ada orang yang datang mengganggunya. Ruangan itu juga menjadi tempat penyimpanan barang-barang penting miliknya.


Entah sudah berapa lama waktu yang dihabiskannya untuk berkultivasi di dalam ruangan rahasia. Udara panas akibat kemarahan berangsur-angsur kembali normal seiring suasana hati yang mulai tenang.

__ADS_1


Meskipun dia telah selesai berkultivasi tetapi tidak segera keluar Shiena memilih untuk tetap berada di sana. Dia memeriksa barang-barang miliknya.


Pandangan matanya terhenti pada sebuah tombak. Dia ingat betul jika mata tombak yang ada di hadapannya dibuat oleh Tian Zhi Shimo. Shiena mengambilnya dan menggunakannya untuk berlatih. Selain bentuknya yang unik tombak itu juga memiliki aura mematikan. Berapa kali dia menggunakan saat berada di medan perang.


__ADS_2