
Bab 12. Misi Terselesaikan.
Hazzel tidak bisa memahami kode yang diberikan oleh Leo. Dia masih saja menunjukkan sikap arogansinya di hadapan Shiena. Hari ini mereka benar-benar habis.
Tanpa mempedulikan apa yang dilakukan oleh Hazzel, Shiena memilih untuk mengambil ponselnya dan menelepon Sean.
"Selamat siang, Tuan. Kasus sudah terbukti. Anda bisa meminta pihak kepolisian untuk menjemput target." Shiena tidak ingin berbasa-basi pada Sean.
"Selamat siang. Kerja bagus, Nona. Segeralah kembali aku memiliki hadiah untukmu." Suara Sean terdengar sangat gembira.
"Terima kasih. Sampai nanti," pamit Shiena.
"Sampai nanti," jawab Sean.
Panggilan mereka terputus.
Hazzel menatap Leo dengan wajahnya yang tegang. Perasaannya tidak enak ketika dia mendengar cara Shiena berbicara. Dia terlihat seperti seorang detektif atau agen rahasia.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Hazzel untuk yang ke sekian kalinya.
Sorot matanya mengandung kemarahan tetapi itu tidak berarti apa-apa untuk Shiena. Baginya perlawanan yang mungkin saja dilakukan oleh Hazzel hanya akan menjadi sebuah lelucon. Selain bukti-bukti, Shiena juga bukan orang yang mudah dihadapi meskipun dia adalah seorang wanita.
Setelah menyimpan ponselnya Shiena bangkit dari duduknya lalu berdiri dalam jarak yang sangat dekat di hadapan Hazzel.
"Sepertinya kamu sangat ingin tahu siapa aku. Aku adalah utusan dari Tuan Sean. Kalian berdua telah terbukti melakukan tindak korupsi dan penyalahgunaan jabatan. Bersiap-siaplah karena sebentar lagi polisi akan datang untuk menjemput kalian berdua!" Shiena berbicara dengan suara yang tenang tetapi mengandung sarkasme.
Mata Hazzel terbelalak tak percaya dengan pendengarannya. Berbeda dengan Leo yang tidak lagi terkejut dan terlihat pasrah. Meskipun dia terbukti bersalah tetapi tidak ingin membiarkan Shiena menangkapnya.
"Tidak! Tidak bisa. Aku tidak ingin membusuk di penjara. Hukum bagi seorang koruptor sangatlah berat. Aku tidak bisa tinggal diam. Wanita ini harus kubunuh sekarang juga." Hazzel mengepalkan tangannya erat-erat.
Tanpa banyak bertanya lagi dia melayangkan pukulan pada Shiena yang berdiri santai dengan tangannya yang masih terlipat di dada. Sebelum pukulan Hazzel menyentuh wajahnya, Shiena telah meliukkan tubuhnya ke kiri. Pukulan Hazzel hanya mengenai sebuah tempat kosong.
__ADS_1
Hazzel terlihat semakin bersemangat karena Shiena bisa mengimbangi serangannya. Pengalamannya sebagai seorang juara karate membuatnya sangat percaya diri. Dia berpikir jika Shiena akan segera dikalahkannya dengan mudah.
Walaupun hanya dengan tangan kosong, Shiena bisa menghadapi sepuluh orang Hazzel sekalipun. Di masa lalu Shiena telah melakukan latihan yang sangat keras dalam perjalanannya sebagai seorang panglima.
Pukulan dan tendangan saling beradu di antara keduanya. Sungguh disayangkan kesabaran Shiena mulai menyusut. Dia ingin menyelesaikan pertarungannya dengan cepat lalu kembali ke kotanya.
Tangan dan kakinya bekerjasama untuk melakukan teknik mengunci gerakan lawan. Sebuah puntiran yang sangat kuat pada lengan Hazzel membuatnya berteriak kesakitan. Dalam keadaannya yang tidak berdaya, Shiena segera menjegal dan membantingnya ke lantai.
"Seperti ini saja kemampuanmu?" ejek Shiena dengan nafasnya yang masih tersengal.
Di tengah ketegangan yang terjadi terselip rasa takjub di hati Leo. Tanpa mengeluarkan tenaga dalam Shiena mampu mengalahkan Hazzel dalam beberapa jurus saja.
"Pantas saja dia menyebut dirinya sebagai Dewi Kematian. Wanita ini memang sungguh menakutkan. Aku tidak mungkin membocorkan rahasia tentang kekuatan spiritual yang dimilikinya. Semua orang pasti akan mengatakan aku gila jika sampai itu kulakukan!" Leo bermonolog dalam hati sambil melihat Shiena yang sedang mengikat tangan dan kaki Hazzel.
"Dasar wanita gila! Woi, lepaskan aku! Aku tidak bersalah! Aku pastikan, akan membalas dendam padamu." Hazzel terus mengumpat.
Shiena berjongkok di hadapan Hazzel sambil menatapnya tajam.
"Diam atau aku akan menyumpal mulutmu dengan vas bunga!" gertak Shiena.
Tidak butuh waktu yang lama untuk menunggu kedatangan polisi yang menjemput Hazzel dan Leo. Perintah penangkapan dari Sean telah sampai kepada mereka sesaat setelah Shiena menelepon. Untuk bukti-bukti yang telah dikumpulkan Shiena akan diserahkan pada team pengacara Sean.
Lika-liku panjang drama korupsi perusahaan cabang milik Sean telah berakhir. Sore ini juga dia bisa kembali ke kotanya...
"Sayang sekali aku tidak ingin menggunakan hotel yang telah ku bayar," gumam Shiena di dalam mobil.
Pemandangan Kota Kecil di hadapannya membuat Shiena merasa takjub. Tidak ingin melewatkannya begitu saja, dia berhenti di tepi sebuah taman wisata. Aroma sejuk udara pegunungan menyambutnya begitu turun dari mobil.
Shiena tidak ingin masuk lebih jauh. Berada di luar saja sudah membuatnya merasa senang. Pandangan matanya terhenti pada seorang pria yang terlihat gelisah. Dia berjalan mondar-mandir di depan pintu masuk sambil memegangi dompetnya.
"Sedang apa kamu di sini? Mengapa tidak masuk saja ke dalam?" tanya Shiena yang tidak sanggup menahan rasa penasarannya.
__ADS_1
Pria itu menatap Shiena dengan keragu-raguan. Tidak seharusnya dia percaya pada orang baru tetapi di antara semua pengunjung hanya Shiena saja yang peduli padanya.
"Aku sedang mendapatkan musibah karena kebodohanku. Seluruh uangku dirampas oleh wanita yang baru aku kenal. Aku tertipu olehnya," ucap pria muda itu dengan wajah sedihnya.
"Apakah kamu tinggal di sekitar sini?" tanya Shiena lagi.
Pria itu menggeleng dengan cepat.
"Aku tinggal di luar kota. Aku datang ke sini untuk menemui kekasihku. Ternyata dia telah bersuami dan membawa kabur seluruh uangku. Sungguh hari ini aku bernasib buruk. Entah bagaimana aku akan kembali ke kotaku," sesal pria itu.
Tidak menjadi keharusan untuk peduli pada orang yang baru dia temui tetapi hati kecil Shiena merasa iba.
"Armada apa yang kamu butuhkan untuk pulang ke kotamu?" tanya Shiena sambil menatap datar ke arah pria di hadapannya.
"Seperti saat aku datang, aku naik bus antar kota."
Dari raut wajahnya terlihat rasa tidak enak pada Shiena. Mungkin dia merasa kehilangan harga dirinya sebagai seorang pria karena menerima bantuan seorang wanita.
"Hari sudah sangat sore. Bus yang berangkat ke kotamu mungkin baru berangkat besok pagi." Shiena mengeluarkan beberapa lembar uang dan kartu kamar hotel yang dia pesan.
Pria itu menerima uang dan kartu yang diberikan oleh Shiena dengan ragu-ragu. Di zaman yang modern ini tidak ada sesuatu yang cuma-cuma. Dia merasa takut untuk berhutang pada orang yang baru dikenalnya.
"Bagaimana aku mengembalikan semua ini padamu? Bolehkah aku meminta alamatmu? Oh, iya, namaku John."
"Kamu lucu. Aku yang memberikannya dengan suka rela. Tidak perlu kamu khawatirkan tentang ini. Berhati-hatilah! Aku akan pergi sekarang." Shiena tidak ingin membuat John semakin tidak enak padanya.
John terbengong dan terus memandangi Shiena yang berjalan memunggunginya menuju ke sebuah mobil.
"Semoga kita bisa bertemu lagi, Nona. Kamu orang yang sangat baik. Siapa namamu?" tanya John seraya mengejar Shiena yang telah memasuki mobilnya.
"Namaku Shiena," ucapnya sambil berlalu.
__ADS_1
"Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu." John merasa sangat bersyukur.
Kebaikan Shiena menggetarkan langit. Dewa akan memberinya petunjuk untuk segera menemukan pria yang akan menjadi cinta sejatinya.