
Bab 08. Leo si Siluman Laba-laba.
Shiena menemani Yushi hingga terlelap. Dia sendiri sulit tertidur dan memilih duduk di sebuah bangku yang ada di kamar Yushi. Malam ini berada di sana hingga pukul tiga dini hari.
Shiena kembali ke kota tempatnya menjalankan misi tanpa menunggu Yushi terbangun. Dia juga tidak berpamitan kepada siapapun. Dalam sekejap dia sudah sampai di hotel tempatnya menginap.
Sebelum melakukan aktivitas, Shiena berniat untuk merebahkan tubuhnya sejenak. Rasa lelah membuatnya tertidur dalam sekejap tanpa direncanakan. Beruntung alarm ponselnya selalu berbunyi ketika jam menunjukkan pukul enam pagi.
Di jam itu biasanya Sienna melakukan olahraga baru bersiap untuk melakukan aktivitas lainnya. Kepalanya sedikit terasa berat karena dia hanya beristirahat kurang lebih tiga jam saja. Akan tetapi dia tidak ingin menunda tugasnya lebih lama.
Pukul 07.00 pagi dia telah siap dan turun dari kamarnya menuju ke tempat sarapan yang disediakan oleh hotel. Di sana disajikan berbagai pilihan menu. Sebagai seorang agen rahasia profesional Shiena harus sampai di lokasi sebelum target datang.
Setengah jam kemudian dia telah berangkat menuju ke perusahaan cabang milik Sean. Jarak antara perusahaan dengan hotel bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 15 menit.
Keadaan masih sepi saat dia sampai di tempat itu. Belum banyak karyawan yang datang di sana hanya beberapa petugas keamanan dan petugas kebersihan yang telah memulai pekerjaannya.
Shiena memarkirkan mobilnya di tempat yang sedikit tersembunyi. Dia lalu melompati pagar dan mencari tempat yang aman untuk mengintai. Tidak ada seorangpun yang melihatnya karena dia menyembunyikan hawa kehadirannya dengan rapi.
Pegawai perusahaan mulai berdatangan tetapi Shiena belum melihat target datang. Diam-diam dia mendengarkan obrolan dari para karyawan yang membicarakan atasan mereka. Berapa kali mereka menyebutkan sebuah nama.
"Siapa Leo? Mengapa mereka sangat ketakutan. Bukankah bos di sini adalah Hazzel?" batin Shiena yang merasa heran.
Tidak lama kemudian datanglah sebuah mobil sport berwarna hitam metalik. Seorang pria keluar dari sana dengan memakai pakaian yang rapi. Shiena terkejut karena tidak asing dengan wajahnya.
"Tidak mungkin bukankah dia pria laba-laba yang bertarung denganku kemarin?" Shiena menahan dirinya untuk tidak bersuara saat melihat siluman yang menyerangnya.
Tidak lama dia melihat satpam berlari-lari kecil dan menghampiri mobilnya untuk membukakan pintu.
"Selamat pagi, Tuan Leo!" sapa petugas keamanan itu.
__ADS_1
"Hmm." Orang yang dipanggil Leo berjalan dengan cepat meninggalkan halaman parkir.
Shiena semakin tidak percaya dan berpikir bahwa dialah musuh yang sebenarnya. Kasus ini semakin menarik untuknya. Kini dia tinggal menunggu kedatangan Hazzel.
Hazzel datang paling akhir bersama dua orang asisten yang membawakannya banyak berkas. Mereka berjalan cepat memasuki perusahaan tanpa mengobrol. Wajah mereka terlihat sangat serius.
Tidak ingin kehilangan jejak, Shiena pun mengawasi mereka dengan membagi bayangannya. Tidak ada yang bisa melihatnya karena yang dikirimkannya hanyalah sebuah bayangan akan tetapi bayangan itu bisa melihat mendengar dan merasakan sesuatu yang terjadi di sekitarnya.
Di dalam sebuah ruangan Leo duduk di sebuah kursi yang membelakangi pintu. Hazzel datang bersama kedua asistennya dengan setumpuk berkas di tangan mereka masing-masing. Berkas-berkas itu diletakkan di atas meja.
"Kalian boleh pergi sekarang!" perintah Hazzel.
"Baik, Tuan." Salah satu dari mereka mewakili untuk menjawab.
Bayangan Shiena juga berada di ruangan itu dan mengawasi apa yang mereka lakukan. Hingga detik ini dia belum bisa menyimpulkan sesuatu tentang apa yang terjadi. Dia juga tidak tahu sebenarnya ruangan ini milik Hazzel atau Leo.
"Hazzel!" panggil Leo.
"Apakah Sean curiga dengan manipulasi data yang kita lakukan?" tanya Leo.
Perlahan kursi yang didudukinya berputar menghadap ke arah Hazzel.
"Sejauh ini aku belum menerima laporan tentang masalah ini, Tuan."
Leo menatap Hazzel tajam. Dia merasa jika pria di hadapannya itu sangat bodoh. Beberapa hari ini sudah santer terdengar desas-desus tentang agen rahasia yang dikirim oleh Sean tetapi dia tidak tahu.
"Sean membayar seorang agen rahasia. Aku mencurigai seorang wanita yang datang ke kota ini kemarin. Namun, sepertinya aku salah orang. Ternyata dia bukan manusia."
Wanita yang dimaksud oleh Leo mungkin adalah Shiena. Dia pikir seorang agen rahasia adalah manusia biasa. Bayangan Shiena tersenyum melihat kebingungan di wajah Leo dan Hazzel.
__ADS_1
Hazzel tampak yang berpikir setelah mendengar penjelasan Leo. Selama 3 bulan ini Leo memang mengambil uang perusahaan sangat banyak. Meskipun Hazzel hanya mendapatkan sedikit bagian tetapi tanggung jawab besar menjadi miliknya sebagai seorang pemimpin.
"Saya benar-benar tidak tahu. Mungkin Tuan Sean sudah curiga dengan defisit perusahaan sementara grafik perkembangan terus naik," jelas Hazzel.
Leo menggerakkan tubuhnya condong ke arah Hazzel. Kedua telapak tangannya melekat pada meja untuk bertolak.
"Kamu harus lebih pintar dari Sean. Hilangkan semua bukti kecurangan yang dilakukan oleh perusahaan ini. Buat seolah-olah kita tidak mengambil uang perusahaan untuk kepentingan pribadi melainkan untuk biaya operasional." Leo berbicara dengan tatapan mengintimidasi.
Hazzel mengangguk patuh. Wajahnya terlihat pucat karena menyimpan ketakutan yang luar biasa. Setelah merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, dia memilih untuk kembali ke ruangannya sendiri.
Setelah kepergian Hazzel, Leo merubah tubuhnya menjadi sosok yang menyeramkan. Dia berjalan menuju ke sebuah pintu lalu membukanya. Terdapat sebuah ruangan yang sangat gelap dan dipenuhi oleh sarang laba-laba terhubung dengan ruangan sebelumnya.
Leo memasuki ruangan itu dan melangkah dengan hati-hati. Banyak sekali tulang belulang yang berserakan di bawah kakinya. Bau tidak sedap menyeruak memenuhi ruangan yang tidak memiliki lubang ventilasi sama sekali.
"Ibu, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Leo kepada seseorang yang tidak terlihat jelas.
"Aku lapar! Aku haus! Bawakan sepuluh ekor kambing sekarang!" Terdengar suara berat dan menakutkan dari ujung ruangan.
"Baiklah! Tapi berikan aku sedikit kekuatanmu. Kemarin aku hampir saja terbunuh oleh seorang wanita asing yang bertarung denganku," jelas Leo.
"Aku akan memberikannya setelah kamu membawakan apa yang kuinginkan." Orang yang dipanggil ibu itu tidak menuruti keinginan Leo.
"Baiklah!" Leo terlihat kecewa saat mendengar jawabannya.
Untuk memulihkan kekuatan tanpa bantuan ibunya dia harus mengambil darah seorang manusia.
Di luar ruang rahasia milik Leo, bayangan Shiena mencoba untuk masuk ke sana. Namun, dia tidak bisa menembus energi perlindungan yang dipasang oleh Leo.
"Sial! Energi ini kuat sekali!" umpat Shiena di dalam hatinya karena berulang kali gagal membuka pintu itu.
__ADS_1
Tidak ada celah yang bisa dilewatinya untuk masuk ke dalam ruangan itu. Meskipun sudah berusaha tetapi dia tetap tidak bisa melihat apa yang dilakukan oleh Leo di dalam ruangan itu. Shiena juga tidak tahu jika ada makhluk lain di dalamnya.
Pintu ruangan kembali terbuka. Bayangan Shiena mundur beberapa langkah dengan terkejut. Meskipun Leo tidak melihatnya, jika energi mereka bertabrakan maka dia akan ketahuan.