
Bab 18. Tekad Sean.
Jam dinding menunjukkan pukul 12 lewat 30 menit. Sudah saatnya jam makan siang bagi Shiena mungkin Sean juga melewatkannya, mengingat dia telah tiba di sini sekitar 30 menit yang lalu.
"Sudah saatnya makan siang, apakah kamu sudah makan siang sebelum datang ke sini?" tanya Shiena.
Sean terlihat malu-malu. Dia terlalu terburu-buru datang ke rumah Shiena sesaat sebelum jam istirahat. Sebenarnya dia tidak ingin merepotkan Shiena, tetapi dia juga tidak mungkin untuk berbohong.
"Aku terburu-buru datang kemari. Jika kamu ingin makan siang kamu boleh meninggalkanku di sini, atau mungkin aku kembali saja ke perusahaan sekarang," ucap Sean.
"Bagaimana jika aku mengundangmu untuk makan siang bersamaku? Tidak perlu khawatir, Shen Shen memasak makanan yang cukup banyak setiap harinya," undang Shiena.
"Baiklah jika kamu memaksa tidak pantas seorang tamu menolak jamuan dari tuan rumah." Sean masih terlihat canggung tetapi dia berusaha untuk bersikap biasa, padahal di dalam hatinya kegirangan.
"Mari ikut aku!" Shiena berjalan menuju ke ruang makan dan mendapati Sen Shen sudah berdiri menunggunya di samping meja makan.
Shiena mempersilahkan Sean untuk duduk. Mereka duduk saling berhadapan. Shen Shen tidak tahu jika Sean akan ikut makan bersama Shiena, dia hanya menyediakan satu piring untuk Shiena. Shen Shen lalu mengambilkan piring untuk Sean dan menata minumannya.
Menu yang disajikan di meja makan cukup lengkap hal ini sangat mengherankan bagi Sean tetapi dia tidak berani untuk bertanya.
"Jangan terlalu sungkan kamu bebas memilih makanan yang kamu sukai dan memakannya sampai kenyang." Shiena mendorong piring berisi makanan yang telah selesai diambilnya ke hadapan Sean.
"Aku tidak akan sungkan lagi." Sean memilih makanan yang dia sukai kebetulan dia sudah lama tidak memakannya.
Sikap yang canggung masih terlihat di antara keduanya. Mereka tidak banyak berbicara dan lebih fokus menikmati makanannya. Beberapa kali pandangan mereka tidak sengaja bertemu, keduanya buru-buru membuang wajahnya ke arah lain atau menunduk setiap kali pandangannya bertabrakan.
Di kejauhan Shen Shen melihat tingkah keduanya dan mengamatinya. Dia merasa memang ada sesuatu yang tidak beres dengan majikannya. Sebelumnya Shiena sangatlah acuh pada pria mana pun, tidak peduli setampan atau sehebat apapun dirinya.
__ADS_1
"Nona Shiena masih saja tidak mau mengakui kalau dirinya tertarik pada Tuan Sean. Dari gerak-geriknya saja aku sudah tahu jika mereka berdua sama-sama memiliki perasaan." Shen Shen tersenyum melihat dua sejoli yang sama-sama malu untuk mengungkapkan ketertarikannya satu sama lain.
Sean dan Shiena selesai makan hampir bersamaan. Mereka lalu menikmati hidangan penutup sambil menunggu makanan di perut mereka turun.
"Terima kasih banyak, Nona Shiena. Lain kali jangan pernah menolakku jika aku mengundangmu untuk makan malam di luar." Sean mencari kesempatan untuk bisa bertemu dengan Shiena di lain waktu.
Shiena mengangguk.
Sean melihat-lihat ke sekeliling ruang makan dan bagian-bagian rumah yang terlihat dari sana. Dia mengagumi desain interior klasik yang dipadukan dengan gaya modern khas negeri tirai bambu.
"Aku menyukai pemilihan desain untuk rumah ini. Selain nyaman aku juga melihat seni yang tinggi dari pendesainnya. Pasti dia adalah seorang desain interior yang sangat luar biasa. Bolehkah aku melihat-lihat rumah ini sebelum aku kembali ke kantor?" tanya Sean.
"Silakan saja. Menurutku ini hanya rumah klasik biasa. Mari saya antar." Shiena beranjak dari duduknya untuk pergi ke memandu Sean berkeliling.
"Terima kasih. Kamu memang orang yang tidak pelit. Lain kali kamu juga boleh pergi ke rumahku untuk melihat-lihat. Hanya saja aku tidak memiliki selera yang bagus dalam penataan rumah, jadi mungkin bagimu akan terkesan berantakan." Sean merendah.
Seorang boss besar yang memiliki beberapa perusahaan besar tentu memiliki rumah yang berkelas. Perbedaan selera bukan berarti rumahnya lebih buruk dari rumah Shiena. Di hadapan Shiena dia tidak ingin menyombongkan diri.
"Kita baru saja saling kenal apakah kamu tidak takut jika aku hanya ingin memanfaatkanmu saja?" Shiena mengatakan sesuatu yang buruk untuk menguji ketulusan Sean.
"Apa yang bisa kamu ambil dariku, sedangkan kamu telah memiliki segalanya. Kamu hanya menipuku dengan penampilanmu yang sederhana. Kamu adalah orang yang luar biasa," puji Sean.
Shiena tersentuh saat mendengar ucapan Sean. Sebelumnya dia tidak pernah merasakannya ketika ada orang yang memujinya. Namun, kali ini dia benar-benar sangat terharu. Mungkin Sean memang reinkarnasi Tian Zhi Shimo yang ditakdirkan oleh Dewa untuk dirinya.
Setiap kali Sean menatapnya Shiena merasakan rasa nyeri di dadanya.
Shiena tidak bisa berlama-lama mengobrol bersama Sean. Dia tidak ingin pria itu melupakan pekerjaannya karena terlalu asik bersamanya. Setelah tertangkapnya Leo dan Hazzel, banyak pembenahan yang harus dilakukannya untuk memulihkan keadaan perusahaan cabang miliknya. Sean tidak seharusnya sehat bersantai.
__ADS_1
"Aku masih merasa kurang enak badan dan ingin beristirahat lagi. Kita bisa mengobrol lain kali." Shiena membuat alasan.
"Oh, baiklah. Terima kasih atas waktunya hari ini. Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?" tanya Sean.
Sebelumnya nomer telpon milik Shiena adalah pemberian dari agensinya. Tapi karena sudah keluar dari Elang Emas, maka nomernya tidak lagi bisa dipergunakan. Oleh karena itu Sean meminta nomer pribadi milik Shiena.
"Aku akan menuliskannya di atas berkas milikmu. Tunggu sebentar." Shiena berjalan menuju ke ruang kerjanya untuk mengambil berkas yang akan diberikan pada Sean.
Sean berdiri di tempatnya dan menunggu kedatangan Shiena untuk memberikan data hasil dari misinya, juga nomor ponsel yang diinginkannya. Dia berharap setelah ini bisa lebih akrab dekat Shiena.
"Setelah sekian lama akhirnya, aku bisa merasakan ketertarikan pada seorang wanita. Kupikir aku adalah seorang pria yang tidak normal. Syukurlah, tidak peduli apakah dia nantinya juga menyukaiku atau tidak, aku akan tetap mendekatinya tanpa kenal kata menyerah." Sean bermonolog dalam hati.
Tidak lama kemudian Shiena datang membawa sebuah map, berjalan menghampiri Sean yang masih berdiri di tempatnya ketika dia meninggalkannya.
"Pria ini benar-benar unik. Saat aku memintanya menunggu dia tidak bergerak seperti batu. Bukannya dia bisa menungguku di ruang tamu. Mungkin dia hanya berpura-pura polos untuk menarik perhatianku." gumam Shiena dalam hati.
"Cepat sekali! seruan Sean saat melihat Shiena berjalan menghampirinya.
Shiena menjawabnya dengan senyuman.
"Seharusnya kamu duduk dan menungguku di ruang tamu. Ayo kita kesana!" ajak Shiena yang berjalan mendahului Sean.
Keduanya lalu duduk di ruang tamu. Shiena memberikan map itu pada Sean untuk diperiksa. Tidak lupa dia menyertakan nomor ponselnya di sebuah kertas khusus.
"Baiklah aku akan kembali ke kantor. Segeralah beristirahat, semoga lekas membaik." Sean menatap Shiena penuh arti.
"Terima kasih atas hadiahnya. Aku pasti akan mencobanya," ucap Shiena sebelum mereka berpisah.
__ADS_1
"Itu bukan hal yang besar. Kuharap kamu mau mempertimbangkan tawaranku untuk bekerja di kantorku. Aku juga butuh seorang yang akan kutempatkan di divisi penelitian dan pemeriksaan data."
"Akan kupikirkan, aku akan mengabarimu jika sudah memiliki keputusan." Shiena masih bimbang untuk bekerja di perusahaan Sean karena setiap hari mereka pasti akan bertemu dan dia belum siap untuk itu.