Gu Jia

Gu Jia
Bab 20. Pria Sombong.


__ADS_3

Bab 20. Pria Sombong.


Matahari sudah condong ke barat menghasilkan sinar redup yang berpendar. Rasa hangat masih menyentuh kulit tetapi tidak panas seperti ketika waktu terik. Shiena begitu menikmati sentuhan udara yang menyapa tubuhnya.


Senyuman merekah di bibirnya setiap kali dia berhasil menyalip mobil yang berjajar di depannya. Dia begitu menikmati pengalaman pertamanya mengendarai motor seorang diri. Tanpa tujuan yang jelas dia terus melaju meninggalkan keramaian kota.


"Aku baru tahu jika mengendarai motor cukup menyenangkan. Seharusnya aku memilikinya sejak lama. Mengapa aku tidak berpikir untuk membelinya? Meskipun tidak memakainya setiap hari setidaknya aku bisa terhibur dengan cara seperti ini. Aku bisa bermain-main dengan kecepatan dan merasakan udara berhembus dengan bebas...." Shiena masih tenggelam dalam kesenangannya.


Tidak terasa dia telah sampai di perbatasan kota. Shiena menghentikan mobilnya di pinggir sebuah jembatan tua yang menghadap ke arah perbukitan. Dia ingin menikmati pemandangan ketika matahari tenggelam.


Suara cuitan burung begitu riuh di sekelilingnya. Tidak ada bangunan di sana hanya ada pohon-pohon besar dan sungai yang mengalir di bawah jembatan. Nyala lampu dari rumah-rumah penduduk terlihat di kejauhan.


Shiena duduk di atas motornya dengan kaki yang bertumpu pada pagar jembatan. Sesekali terlihat kendaraan melintas di belakangnya. Dia tidak mempedulikannya dan asyik dengan dunianya sendiri.


Saat hari telah benar-benar malam, Shiena baru pergi dari sana. Kali ini dia tidak mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Dia memilih berjalan pelan dan menikmati udara malam lebih lama.


"Aku merasa sangat lapar. Sebaiknya aku makan dulu, sudah lama aku tidak menikmati makanan pedagang kaki lima yang dijual di pinggir jalan." Shiena bermonolog dalam hati.


Setelah berjalan-jalan cukup lama, akhirnya dia menemukan perdagangan kaki lima yang menjajakan makanannya di pinggir jalan. Meski berada di pinggir kota tetapi terlihat sangat ramai. Dari apa nama yang terpasang tertera jika sekitar tempat itu adalah wilayah pemancingan.


Shiena memilih berhenti di depan sebuah kedai yang menjual mie ayam. Melihat banyaknya pengunjung yang sedang mengantri, dia yakin jika masakan di kedai itu pasti enak. Wajahnya yang cantik menarik perhatian para pengunjung lainnya. Mereka rela memberikan antriannya agar Shiena bisa mendapatkan makanannya lebih awal.


"Tidak usah, terima kasih. Aku akan mengantri sebagaimana kalian mengantri. Tidak perlu mengistimewakanku," ucap Shiena.

__ADS_1


"Wah, ternyata Nona ini selain cantik juga sangat sopan. Kebanyakan orang cantik selalu sombong, rupanya masih ada orang cantik yang baik hati!" pujian salah seorang.


"Iya, benar. Baru kali ini aku bertemu dengan wanita cantik yang tidak sombong. Meskipun kita sendiri yang mau dia menyerobot tetapi dia menolaknya. Sungguh wanita yang sangat pengertian," imbuh pengunjung lain.


Mereka sahut menyahut memberikan pujian untuk Shiena. Namun sepertinya Shiena tidak tertarik sama sekali dan memilih untuk bersikap cuek. Dia hanya menanggapinya dengan seolah senyuman tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Setelah sampai pada gilirannya dia segera memesan dua porsi sekaligus. Dia tidak peduli dengan pendapat orang tentangnya. Daripada dia memesan satu maka butuh waktu yang panjang lagi untuk mengantri jika dia ingin menambah.


Sebagian merasa hal ini biasa saja dan sebagian lain berpikir jika Shiena wanita yang banyak makan. Apapun pendapat mereka Shiena tidak menanggapinya dan memilih untuk menunggu sambil menikmati minuman dingin yang telah tiba lebih dulu.


Pengunjung lain merasa segan untuk bergabung di mejanya. Mereka memilih meja kosong lainnya. Hanya Shiena yang menggunakan meja seorang diri meskipun dia juga tidak melarang jika ada orang yang ingin bergabung.


Para pengunjung sengaja membiarkannya duduk sendiri agar mereka bisa leluasa menatap wajahnya. Penampilannya yang menarik menambah kesan jika Shiena adalah sosok orang berada. Mereka berpendapat seperti itu karena terbiasa bertemu dengan orang-orang yang berpenampilan sederhana.


Setelah menatap Shiena kini mereka beralih pada pemilik mobil mewah. Seorang pria tampan turun dari mobil itu dengan mengenakan setelan serba hitam dan juga kacamata hitam. Pria itu melangkah dengan sombong dan menyerobot antrian.


Tidak ada yang berani menegurnya karena mereka takut berurusan dengan orang kaya. Jiwa pemberontak Shiena menuntutnya untuk meluruskan sebuah kesalahan. Setelah menghabiskan satu mangkok mie ayam dia berhenti dan meninggalkan mangkok keduanya begitu saja.


Dia berjalan dengan cepat menghampiri pria sombong itu dan mendorongnya. Semua orang menatapnya dan mengakui keberaniannya. Sangat jarang seorang wanita memiliki keberanian untuk mengusik pria asing.


"Dasar wanita gila! Apa yang kamu lakukan?" umpat pria itu sambil menatap tajam ke arah Shiena.


Shiena melipat tangannya di dada sambil memberinya tatapan yang tidak kalah menakutkan.

__ADS_1


"Aku ragu apakah kamu benar-benar seorang pria atau bukan? Sudah jelas-jelas banyak orang yang mengantri di depanmu tapi seenaknya kamu menerobos dan menyingkirkan mereka. Kamu pikir kamu siapa?" amuk Shiena.


Pria asing itu terlihat gelagapan tetapi dia tidak ingin kehilangan harga dirinya di depan umum. Apa kata orang jika dia harus menciut hanya karena gertakan seorang wanita.


"Untung kamu wanita kalau kamu pria pasti sudah kurobek-robek mulutmu. Terserah aku mau apa, toh mereka diam saja. Mengapa kamu yang ribut?" Pria itu membentak Shiena dengan suara yang lantang.


"Apa yang membedakan seorang wanita dan pria? Belum tentu kamu lebih hebat dari seorang wanita. Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan. Akan kuladeni." Shiena sengaja memancing kemarahan pria yang tidak memiliki sopan santun itu.


"Baiklah aku tidak akan sungkan lagi untuk menyerangmu!" Pria itu melepaskan pukulannya ke arah Shiena.


Shiena menghindarinya dengan cepat dan menarik tangannya lalu memutarnya arah punggung. Pria itu mencoba melepaskan diri tetapi kaki Shiena dengan cepat menjegalnya dan membuatnya jatuh berlutut. Tangan kirinya bergerak untuk menyerang dan langsung disambut oleh kepalan tangan kanan Shiena.


Saat pria itu mengadu kesakitan, dengan cepat Shiena mengambil tangan kirinya dan menyatukannya dengan tangan kanan yang telah lebih dulu berada di belakang punggungnya.


Semua orang bertepuk tangan melihat ketangkasan Shiena yang mampu melumpuhkan lawannya dalam waktu singkat. Pria asing itu terlihat sangat malu. Dia telah dipecundangi oleh seorang wanita yang dianggapnya lemah.


Tidak ingin memperpanjang masalah ini, Shiena melepaskan pria itu dan meninggalkannya begitu saja. Pelajaran yang diberikan olehnya sudah cukup. Selamanya dia akan mengingatnya dan berpikir ribuan kali sebelum melakukan kesalahan yang sama.


"Sial! Aku sudah dipermalukan oleh seorang wanita. Aku pasti akan membalasnya jika bertemu dengannya lagi." Pria itu beranjak lalu masuk ke mobilnya.


Dia mendahului Shiena meninggalkan kedai mie ayam.


Beberapa orang pemuda berjalan mendekati Shiena untuk berkenalan. Namun, Shiena tidak ingin berlama-lama singgah di sana. Dia sudah mulai merasakan perasaan tidak nyaman.

__ADS_1


"Maaf, sampai jumpa di lain waktu," ucap Shiena sebelum melajukan motornya.


__ADS_2