Gu Jia

Gu Jia
Bab 14. Tian Zhi Shimo.


__ADS_3

Bab 14. Tian Zhi Shimo.


Penampilan Sean kali ini sangat mirip dengan seseorang yang pernah ditemui oleh Gu Jia pada masa Kekaisaran Lintas Barat. Pada masa itu mereka tidak dekat. Akan tetapi, Gu Jia merasa pernah bertemu dengannya beberapa kali.


Di dalam mimpinya kali ini, Gu Jia sedang berada di sebuah padang pasir yang tandus. Sejauh matanya memandang hanyalah daratan luas dengan sedikit tumbuhan liar. Di sana juga tidak terlihat orang lain selain pria asing yang mirip dengan Sean.


Keduanya sama-sama berjalan mendekat dan saling menatap.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Gu Jia.


Pria mirip Sean tersenyum. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.


"Apakah kita saling mengenal?" Gu Jia kembali bertanya.


Lagi-lagi pria itu hanya tersenyum.


Gu Jia berubah menjadi tidak sabar. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan kekesalannya. Lawan bicaranya bisa dengan mudah mengetahui jika dirinya sangat kesal.


"Aku merasa dibodohi oleh pria ini. Berani sekali dia mengacuhkanku." Gu Jia menggerutu dalam hati.


Menurutnya pria itu akan merasa dianggap penting jika dirinya terus berada di sana. Gu Jia melangkah pergi mengikuti kata hatinya. Saat ini dia benar-benar tidak tahu sedang berada di mana.


Di bawah kakinya dia melihat jika bayangan tubuh pria bergerak mengikutinya. Kekesalannya kian bertambah. Gu Jia memutuskan untuk menyerangnya karena merasa terganggu dengan kehadirannya.


Sebuah lemparan energi melesat dari tangan Gu Jia menuju ke arah pria asing. Serangannya meleset dari sasaran dan meledak di atas permukaan pasir. Kepulan debu membumbung membuat keadaan di sekeliling mereka menjadi gelap.


Perlahan debu itu mulai menghilang, tetapi keadaan di sekitar mereka berubah. Gu Jia berada di tempat yang berbeda dari sebelumnya. Kini dia berada di sebuah kota yang sangat ramai.


Pria asing yang mengikutinya tadi tidak tampak lagi. Gu Jia berusaha menemukannya tetapi dia seakan hilang di telan bumi.

__ADS_1


"Apakah aku terjebak di dalam sebuah ilusi? Tapi bukankah sebelum ini aku tertidur. Aku tidak sedang bertarung melawan seseorang. Sebenarnya apa yang terjadi?" Banyak sekali pertanyaan berputar-putar di kepalanya. Namun, tidak ada seorangpun yang bisa membantunya menemukan jawaban.


Gu Jia melangkah menembus keramaian melintasi jalanan yang dipenuhi oleh penduduk yang sedang bertransaksi. Banyak sekali penjual yang berjualan di pinggir jalan. Mereka bersikap acuh seakan menganggap Gu Jia tidak ada di sana.


Di kejauhan terdengar suara pandai besi sedang bekerja. Suara pukulan-pukulan mereka saat sedang menempa terdengar sangat nyaring. Hati Gu Jia terdorong untuk mendekat dan melihat mereka bekerja.


Sesampainya di sana, dia masuk ke sebuah ruangan yang diselimuti oleh hawa panas dan mendekati para pekerja yang tampak sibuk. Pandangan matanya menyapu ke seluruh ruangan dan terhenti pada seseorang.


"Dia lagi, dia lagi. Aku merasa jika Sean berada di mana-mana," bisik Gu Jia.


Seorang pria paruh baya yang telah selesai dengan pekerjaannya berjalan mendekati Gu Jia.


"Ada yang bisa aku lakukan untukmu, Nona?" tanya pria itu menawarkan bantuan.


Gu Jia tersenyum senang. Dia berharap pria itu tahu informasi tentang pria yang mirip dengan Sean.


"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Bisakah kamu memberiku jawaban yang aku inginkan?" Gu Jia tidak langsung bertanya.


"Terima kasih. Em, apakah kamu tahu tentang siapa pria itu?" tanya Gu Jia sambil menunjuk ke arah pria yang sangat mirip dengan Sean.


"Namanya Tian Zhi Shimo. Tidak banyak informasi tentangnya karena dia tidak bisa bicara. Kakek Yang menemukannya di tepi sungai lima belas tahun yang lalu. Saat itu dia masih anak-anak," jelas pria itu.


Berita ini membuat Gu Jia terkejut. Ternyata sebelumnya dia telah salah paham. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit luar biasa ketika dia menatap Tian Zhi Shimo. Gu Jia berlari keluar dari tempat pembuatan senjata dan duduk berjongkok di pinggir jalan.


Ingatannya terbuka di mana dia telah dibuatkan senjata oleh Tian Zhi Shimo. Gu Jia juga pernah diajarkan teknik pedang dan pengendalian energi spiritual yang sangat berguna dalam pertarungan. Dan dalam ingatan terakhirnya, dia bertemu dengan Sean kecil yang menyelamatkannya saat dirinya tengah terluka.


"Jadi ... jadi ... jadi dia adalah orang yang sama? Kebetulan macam apa ini?" Gu Jia merasa tidak habis pikir dengan apa yang dialaminya.


Sebagai seorang penjelajah waktu dia bisa melampaui batas logika manusia biasa. Akan tetapi, dia tidak mengerti mengapa reinkarnasi Tian Zhi Shimo seolah terus mengikutinya. Di masa lalu mereka hanyalah seorang teman yang hanya bertemu dengannya beberapa kali saja.

__ADS_1


"Aku harus kembali dan menanyakan apa yang terjadi pada Tian Zhi," batin Gu Jia. Namun, baru beberapa langkah dia berjalan tubuhnya tersentak dan terbangun.


Alarm di ponselnya membangunkannya. Ternyata hari sudah pagi. Sudah waktunya Gu Jia bangun untuk berolahraga.


"Sial! Ponsel ini mengacaukan mimpiku saja." Shiena mengumpat pada ponselnya.


Sebelum berolahraga, dia terbiasa mengganti bajunya dengan pakaian olahraga. Shiena tidak merasa sungkan karena tidak ada siapapun di ruangan itu. Ketika dia bercermin dia melihat panah yang menancap di dadanya terdapat beberapa retakan kecil.


"Aku tidak tahu apa artinya ini. Semoga saja ini bukan sebuah pertanda buruk." Shiena mengusap luka lamanya yang tampak menghitam lalu kembali mengenakan pakaian olahraga.


Dengan wujud penggantinya dia bisa menyembunyikan anak panah yang menancap di jantungnya. Tidak semua manusia bisa melihatnya. Shiena hanya menunjukkannya kepada Yushi dan beberapa orang keturunannya yang kebetulan sedang membantunya mengobati lukanya usai bertarung.


"Selamat pagi, Nona!" sapa beberapa asisten rumah tangga yang kebetulan bertemu dengannya.


"Hmm." Shiena mengangguk dan terus berjalan menuju ke ruang olahraga.


Di sana tersedia beberapa alat olahraga dengan berbagai merek. Meskipun dia memiliki kekuatan yang tidak biasa, tetapi hidup di dunia fana memerlukan ketahanan fisik. Bagaimana mungkin seorang siluman akan cepat lelah dan mudah dikalahkan oleh musuh-musuhnya.


Selain berkultivasi dan melakukan olahraga fisik. Shiena juga sering melakukan perjalanan jauh ke tempat-tempat yang mengandung esensi energi tinggi untuk menyempurnakan kekuatannya. Sesekali dia tetap harus mengasah kemampuannya menjadi lebih terampil.


"Nona, Anda ingin makan apa hari ini?" Suara Shen Shen mengejutkan Shiena yang sedang fokus olahraga.


"Mengagetkan saja! Kamu harusnya mengetuk pintu lebih dulu." Sejujurnya Shiena terkejut karena setengah melamun.


"Maaf, Nona. Apakah ada menu yang harus saya ubah atau Nona memiliki permintaan khusus?" Shen Shen ingin segera kembali bekerja dan terkesan buru-buru.


"Sediakan saja seperti yang kutulis untuk hari ini." Shiena melanjutkan olahraganya.


"Baiklah, aku permisi, Nona." Shen Shen meninggalkan Shien seorang diri.

__ADS_1


Baru sebentar keluar dari ruangan Shien, Shen Shen sudah kembali lagi. Namun, kali ini dia mengetuk pintu dengan sangat keras.


Shiena menghembuskan nafas kasar. Dia merasa jengah dengan polah Shen Shen yang seakan menguji kesabarannya.


__ADS_2