Gumintang Kunang-Kunang

Gumintang Kunang-Kunang
Rahasia Otoman: Petualangan di Hutan Vikrama


__ADS_3

    Penggunaan Otoman sebagai alat kekuatan Getsuwage telah menciptakan sebuah misteri yang membingungkan, yakni: "Mengapa Otoman dapat mengancam penggunanya bahkan Hako?" Pertanyaan ini muncul setelah insiden hampir menghilangkan Hako, menyebabkan lenyapnya Poram, dan hampir membahayakan Negeri Segara. Ancaman ini berasal dari dimensi maya yang misterius. Jika dimensi ini terbuka, entitas berbahaya dapat masuk ke Negeri Segara.


    Gumintang, yang merasakan ketidaknormalan dalam perilaku Eleonor, memanfaatkan kekuatan pikiran maya untuk mempengaruhi pikiran Eleonor agar menjawab dengan jujur, "Siapakah dirimu?" pertanyaan pertama yang Gumintang sampaikan melalui pikiran maya kepada Eleonor. Namun, ia hanya mendapatkan keheningan sebagai tanggapan.


    Tiba-tiba, Hako mengeluarkan kekuatan Gedo’Shi yang mengguncangkan dataran Negeri Segara. Naya bertanya pada Hako, "Apa yang sedang dilakukan oleh Hako?" Hako hanya diam dan fokus pada kekuatannya. Makhluk tanah mirip Masesur muncul di depan Gumintang, Naya, Arkana, Masesur, dan Eleonor. Keseluruhan sembilan makhluk tanah membentuk formasi Nawa Gedo, formasi sembilan mata Aegir. Ini adalah langkah yang diambil Hako untuk mengembalikan Otoman sebagai kekuatannya.


    Sebelum kekuatan Gedo’Shi dikeluarkan, Gumintang telah berdiskusi dengan Hako melalui kekuatan pikiran maya.


    “Hako, Otoman telah tidak berfungsi sebagai media yang aman,” kata Gumintang.


    “Mohon maafkan atas kesalahanku, Yang Agung,” kata Hako dengan penuh penyesalan dan bersalah atas kejadian yang telah menimpa Gumintang.


    “Mengapa engkau tidak membangkitkan kembali kekuatan itu kepada dirimu, Hako?” tanya Gumintang.


    “Aku takut jika aku terlena akan kekuatanku sendiri,” jawab Hako.


    “Tapi dirimu telah melupakan tugas dari Hiranya, begitupun dengan Aegir Segara,” kata Gumintang.


    “Namun, siapakah yang akan menuntunku, Yang Agung,” kata Hako.


    “Mengapa dirimu memerlukan itu?” tanya Gumintang, nada pelan.


    “Bukankah pecahan Hiranya sudah cukup membantumu, dirimu adalah pecahan terbesar dari Hiranya,” imbuh Gumintang, meyakinkan Hako untuk kembalikan Otoman pada dalam dirinya. Gumintang menyadari bahwa Otoman harus selalu di bawah kendali Hako, keberadaan Otoman membahayakan bagi Negeri Segara.


    “Aku telah membagi kekuatanku kepada Otoman, Yang Agung, dan untuk mengembalikannya kembali seperti sedia kala dan menyatukan kepada diriku kembali memerlukan kekuatan yang sama seperti saat aku membangkitkan Otoman,” kata Hako.


    “Mata Aegir, lakukanlah itu,” kata Gumintang.


    “Formasi sembilan mata Aegir, Yang Agung?” tanya Hako.


    “Benar, aku telah melihat bagaimana dirimu menciptakan Otoman dengan formasi tersebut,” jawab Gumintang.


    “Terlebih Enure masih mengalir dalam tubuhmu, Hako,” imbuh Gumintang.


    “Baiklah, Yang Agung, formasi sembilan mata Aegir,” kata Hako, berseru dalam dirinya untuk kembali bangkit.


    Kekuatan pikiran maya, Gumintang telah mengetahui, “Penciptaan Otoman di Hutan Vikrama.” Sebuah media yang awalnya diciptakan untuk membagi kekuatan Hako menjadi Otoman. Kini berubah menjadi media ancaman terbesar bagi Negeri Segara, Otoman tidak dapat dikendalikan oleh siapapun. Ia tidak mampu mengenali kebenaran dan ketidakbenaran.


    Sebuah penciptaan Otoman dimulai dari sebuah Shakeel yang menginginkan sebuah dataran selatan yang terjaga dan terlindungi oleh energi yang membahayakan, Shakeel yang pernah melihat sebuah energi misterius dan kemudian menyerang dirinya saat tengah melakukan pemantauan dimensi. Shakeel dikejutkan oleh sebuah energi misterius yang sejatinya itu adalah energi Banes yang tidak dapat terkendali merusak elemen-elemen yang telah dibuat oleh Shakeel.


    Melihat peristiwa energi Banes yang menyerang membabi buta kepada Shakeel, akhirnya memutuskan untuk memberitahukan kepada Hako untuk membuat sebuah media untuk mencegah energi misterius tersebut melakukan hal serupa dan membatasi pergerakannya.


    “Wahai, Tuan. Aku telah mengalami penyerangan oleh energi misterius secara membabi buta dan merusak elemen-elemen yang telah aku buat,” kata Shakeel.


    “Apakah kamu mengetahui energi misterius tersebut?” tanya Hako.


    “Aku tidak mengetahuinya,” jawab Shakeel.


    “Apakah yang ingin kamu lakukan Shakeel?” tanya Hako kembali yang tengah duduk di sebuah pasir membentuk tempat singgasana, kemudian membuka matanya.


    “Apakah bisa kita membuat sebuah senjata pembatas ruang gerak dan menjadikannya sebagai media untuk menampung segala informasi dimensi, Tuan?” tanya Shakeel.


    “Aku juga memikirkan hal yang sama, hanya saja aku masih mengalami ketakutan untuk menciptakan alat tersebut,” jawab Hako.


    “Mengapa, Tuan?” tanya Shakeel kembali kepada Hako.


    “Bukan ketakutan yang membuatku menolak, tapi senjata ini tentu akan menjadi senjata terkuat di Negeri Segara, Shakeel, lantas siapa yang akan mengendalikannya?” kata Hako dengan terus terang memikirkan solusinya.


    “Eleonor,” ujar Shakeel.


    “Eleonor adalah seseorang yang dapat mengendalikannya,” lanjut Shakeel.


    “Tapi Eleonor sudah aku tugaskan untuk menjaga dataran Negeri Segara, Shakeel,” jelas Hako.


    “Senjata ini akan membantunya, Tuan,” kata Shakeel.


    “Benar, namun masih ada keraguan pada diriku, terlebih lagi kita harus menantikan kedatangan, Yang Agung ke dataran selatan, Shakeel,” kata Hako.


    “Mohon jadikanlah saranku sebagai pertimbangan, Tuan,” usul Shakeel dihadapan Hako bersama kedua temannya, Rapad dan Devien.


    “Baiklah, namun aku harus pergi ke Hutan Vikrama terlebih dahulu,” kata Hako.


    Hako pun memutuskan untuk menuju Hutan Vikrama.


    Hutan Vikrama menjadi tempat Hako untuk menjelajahi Hiranya, begitupun dengan para Koloni Getsuwage yang lain berusaha mencari jejak-jejak Hiranya berada.


Terciptanya Arkana dan Masesur di Vikrama

__ADS_1


    Sebuah Hutan Vikrama secara tidak sengaja tercipta ketika Naya merasakan kesedihan dan kemarahan atas kegagalannya dalam menciptakan Koloni Sadako. Kekuatan Naya belum bisa bangkit saat ia pertama kali tiba di Negeri Segara. "Perasaan ini... begitu dipenuhi dengan kesedihan dan penderitaan. Terdengar jelas jeritan, padahal tak seorang pun terlihat di sekitar sini..." batin Naya, merasa bingung karena tiba-tiba merasakan perubahan dalam perasaan dan kekuatannya ketika tiba di Negeri Segara.


    Sementara hari-hari berlalu, langit berganti gelap dan terang. Naya akhirnya menemukan penyebab dan asal usul semua yang dialaminya. Ia melihat satu benih tumbuhan terakhir dari Negeri Segara. Meskipun waktu telah berlalu, peradaban pertama baru saja dimulai. Aegir Segara dengan sengaja membiarkan satu benih itu untuk menyampaikan pesan, "Bunuh aku, Naya. Aku tidak tahan melihat teman-temanku menderita tanpa pertahanan..."


    Suasana menjadi hening dan angin panas berhembus...


    "Aku adalah Aleksa, benih tumbuhan dari pohon Kelapa... Ayahku telah pergi, Naya," kata Aleksa dengan nada sedih dan tangisnya pecah. "Negeri Segara telah kehilangan arahnya. Semua makhluk terdombak tanpa mengenal 'Sadako.' Tolong, Naya," lanjut Aleksa dengan isak tangisnya.


    HISHA!


    Tanpa sepatah kata, Naya mengubah seluruh dataran, mulai dari timur hingga selatan, menjadi hijau. Dengan itu, terciptalah Hutan Vikrama, tempat yang kini dikenal sebagai Koloni Getsuwage dan tempat bagi Otoman.


    Untuk menjaga Hutan Vikrama tetap terlindungi, Hako menciptakan air terjun dan sungai yang mengelilingi wilayah hutan. Di sana juga ada dua makhluk, Arkana dan Masesur. Arkana tercipta dari air, sementara Masesur berasal dari tanah.


Garis Perbatasan Wilayah Daerah Selatan Getsuwage


    Hutan Vikrama, dilingkupi oleh aliran sungai yang menetralisir segala bentuk energi, merajut kedamaian yang sempurna dan menawarkan kedamaian bagi yang merindukan kesendirian di tengah-tengahnya. Di bawah perwalian Arkana dan Masesur, wilayah ini dijaga dengan tekun.


    Namun, takdir membawa Hako untuk memasuki Hutan Vikrama dengan tujuan yang kuat: mendirikan Koloni Getsuwage, sebuah tempat pelatihan energi Aegir. "Wahai, Negeri Segara! Aku memohon izin untuk mendirikan rumah," serunya, sambil menggenggam tanah dan melepaskannya, membangkitkan keajaiban.


    Dari genggaman tangan Hako, tiang-tiang besar muncul dan tangga terbentuk, membangun jalan menuju rumah yang tegak di tengah-tengah hutan. Dalam perjalanan di Hutan Vikrama, Hako mulai menjejak jejak-jejak Hiranya. Dengan tekun, langkahnya mengarahkan ke bangunan yang baru tercipta. Kaki kanan masuk, diikuti oleh ayunan tangan kiri. Dalam diri yang kokoh, mata tajam memandang, mengungkapkan tekad serius dalam menghadapi misteri misi yang diembannya.


    Di dalam jantung Hutan Vikrama, menjulanglah sebuah bangunan yang diberi nama Amura. Dalam cahaya matahari sore yang memantulkan ke bangunan itu, aura kekuatan Getsuwage tampak memancar dengan cemerlangnya, memperlihatkan kehadirannya yang megah dalam nuansa cahaya merah yang mengagumkan.


    Dengan kekuatan ilusi semesta yang melekat padanya, Hako menjelajahi hutan dengan penuh tekad. Dia bertanya kepada makhluk-makhluk di sekitarnya, mulai dari pohon-pohon yang kuno hingga hewan-hewan yang diam-diam menyaksikan alam. Dari mereka, Hako mencari petunjuk tentang cahaya biru yang pernah ada, mencoba mengumpulkan jejak yang berpotensi mengarah pada tujuannya.


    (Berbicara dengan tekad) “Ada yang pernah melihat cahaya biru yang tak biasa? Ceritakan padaku,” kata Hako.


    Informasi yang diperoleh Hako dia sebarkan dengan teliti. Setiap makhluk yang ia temui, ia berbagi cerita tentang misi rahasia yang diemban dan cahaya biru yang dicarinya. Saat Hako berjalan dengan mantap, aura merah yang terpancar dari tubuhnya membuat para makhluk di sekitarnya merasa hormat dan terpukau.


    Namun, tanpa disadarinya, ada dimensi maya yang terbuka beberapa kali di tengah Hutan Vikrama. Namun, Hako belum menyadari bahwa itu adalah Banes yang secara tidak sengaja mengganggu perjalanannya. Oleh karena itu, beberapa kali dimensi maya tersebut hancur saat Hako memutuskan untuk menghadapinya.


    Dalam petualangan yang berlangsung, Hako belum menyadari ancaman Banes yang mengintai. Amura dan jejak cahaya biru adalah pusat perhatiannya, dan perjalanannya yang penuh misteri akan membawanya pada kebenaran yang tak terduga.


    Namun, dalam situasi yang tidak terduga, Swarlog, seekor burung kenari, menyaksikan pemandangan mengejutkan. Cahaya biru yang menyilaukan mata membuatnya terganggu saat sedang melintasi langit. Kekagumannya pada cahaya biru itu membuatnya hilang kendali, sehingga dengan tidak sengaja ia menabrak pohon yang tiba-tiba muncul di jalannya.


    “Sepertinya aku melihat cahaya biru seperti informasi yang aku terima, Tuan,” kata Swarlog sambil mengepakan sayapnya kepada Hako.


    “Benarkah cahaya biru itu yang kamu lihat?” tanya Hako, matanya bersinar penuh antusiasme.


    “Benar, Tuan,” jawab Swarlog.


    “Swarlog,” jawab Swarlog dengan suara bergetar.


    “Bisakah kamu mengantarkanku ke sana?” tanya Hako.


    Swarlog ragu-ragu sejenak. “Ada sebuah makhluk menyeramkan disana, sosoknya berkepala gajah dengan tubuh ikan serta memiliki sayap ditubuhnya, Tuan.”


    “Baiklah, aku ada bersamamu, Swarlog, percayalah denganku,” kata Hako dengan bijaksana.


    Hako bergerak melintasi ruang dan waktu, menuju tempat yang Swarlog gambarkan. Dan memang, tampaklah makhluk yang dijelaskan, berkepala gajah dan tubuh ikan, dengan sayap yang menaungi.


    Hako berbicara kepada makhluk tersebut, "Engkau tinggal di daerahku, maka engkau adalah milikku."


    Mendengar kata-kata Hako, makhluk tersebut tiba-tiba menyelam ke dalam samudra, lalu dengan cepat, Arkana dan Masesur muncul di sebelah Hako. Mereka merasakan pergerakan yang mengancam perbatasan wilayah.


    Tiba-tiba, semburan air dari dasar laut melanda daerah selatan dengan kekuatan dahsyat, memenuhi udara dengan suara gemuruh. "Aku adalah Ravata!" seru makhluk itu, tiba-tiba terlihat lebih besar, bercahaya biru dari ujung ke ujung tubuhnya.


Pertarungan Hako Menaklukkan Ravata


    Dengan lantang, Swarlog berhasil mengabarkan adanya cahaya biru kepada Hako, yang kemudian merespons dengan tindakan cepat. Ravata, sebagai pecahan pertama dari cahaya biru, ditemukan berkat usaha Swarlog. Sayangnya, Ravata belum menyadari perannya, bahkan bentuknya yang menakutkan harus diatasi.


    Namun, Hako tak berdiam diri. Dia merasa perlu untuk mengatasi Ravata. Dengan tekad yang kuat, Arkana dan Masesur berubah wujud menjadi raksasa, siap untuk menghadapi Ravata.


    “Ravata! Aku adalah Arkana, siapkan dirimu merasakan kekuatan airku hahaha!” seru Arkana sambil menyerang Ravata dengan kekuatannya yang mengagumkan.


    Namun, perlawanan Ravata juga tak bisa dianggap enteng. Dia melompat ke daratan, menuju Hako dan Masesur. Tatapan Hako terpaku pada ukuran Ravata yang jauh melebihi Masesur yang berdiri di depannya. Hako dengan tekad mengenali bahwa Ravata adalah cahaya biru yang merupakan pecahan pertama dari kristal biru Hiranya.


    “Ravata! Engkau adalah cahaya biru, cobalah sadar. Tidak seharusnya engkau menjadi begitu keras kepala. Seharusnya engkau melindungi dataran selatan, bukan merusaknya,” seru Hako dengan harapannya bahwa kata-katanya akan meresap ke dalam kesadaran Ravata.


    “Tak ada yang mampu menaklukkan diriku, termasuk dirimu!” balas Ravata sambil melontarkan serangan ke arah Masesur dan Hako. Namun, ketika serangannya berhasil dihindari, Ravata justru tertawa melihat upayanya sia-sia.


    “Wahai, Ravata! Ingatlah bahwa wilayah ini adalah wilayahku. Jika kau berani merusaknya sedikit pun, maka engkau harus siap menghadapi kehancuran yang tak terbayangkan,” ujar Hako dengan bijaksana, sambil terus menghindari serangan Ravata.


    Namun, akhirnya kekuatan dahsyat Ravata berhasil menghantam Masesur, menjatuhkannya hingga terpental dan masuk ke dalam hutan Vikrama. Dampak dari serangan Ravata membuat pohon-pohon di sekitarnya tumbang dan suasana menjadi kacau. Meskipun begitu, Hako masih bertahan dengan berusaha menjalin dialog dan menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh Ravata.


    Sambil mendengarkan perkataan Hako, Ravata tiba-tiba terkejut saat merasakan kehadiran Masesur dan Arkana yang bersatu. Masesur membuat jeratan lumpur yang merangkulnya, sementara Arkana menghantamnya dengan air dari atas. Formasi kekuatan ini menciptakan pilar-pilar elemen air dan tanah yang menjebak Ravata seperti dalam sebuah penjara yang tak terlihat.

__ADS_1


    Kekuatan Ravata sungguh luar biasa, bahkan membuat Arkana dan Masesur kesulitan menghadapinya.


    Uweesshh!!!


    Hempasan Ravata terus datang, membuat Arkana dan Masesur hampir tak berdaya. Serangan berlanjut, bola air dan tanah melesat dari berbagai arah, dilancarkan dengan ketekunan oleh Arkana dan Masesur kepada Ravata. Di tengah situasi ini, Hako terus berupaya menjalin komunikasi dengan Ravata.


    Weeettttttssssszzz!!!


    Raaaaghhhhhh!!!


    Amarah Ravata semakin memuncak, sementara Hako hanya bisa menghindari serangannya.


    “Wahai, Ravata! Kau telah menguji kekuatanku, mari rasakan satu pukulan yang akan membuka matamu!” kata Hako, mengumpulkan energi Aegir dan melepaskan bola panas yang menghantam Ravata. Booomm! Ledakan menggelegar, angin kencang menyapu sekitar.


    Namun, Ravata berhasil menahan pukulan ini, walau serangan sebenarnya ada di belakangnya. Boom! Hantaman dari belakang menghantam Ravata, tubuhnya terjepit antara dua energi Aegir yang membentuk bola panas. Teriakan dahsyat Ravata bergema, sedangkan Arkana dan Masesur tidak tinggal diam. Kekuatan mereka mengenai Ravata lagi.


    “Ravata! Rasakan ini hahaha!” kata Arkana, disambut oleh tawa Masesur saat melihat dampak serangannya.


    (Hening)


    Ledakan menyilaukan membutakan pandangan Hako, Arkana, dan Masesur. Nyaris tak terduga, sebuah pusaran angin mendalam melesat dari Ravata, mengakibatkan ketiganya bergerak cepat untuk menghindar. Serangan demi serangan terus dilesatkan oleh Ravata, sesudah hantaman Hako, begitu juga dari Arkana dan Masesur.


    Hako mengeluarkan kekuatannya untuk kedua kalinya, tetapi menyadari bahwa serangannya tak mampu mengalahkan Ravata. Dia melihat luka-luka akibat serangan pertama dan kedua telah pulih tanpa bekas. Hako berbagi pemahaman ini kepada Arkana dan Masesur, "Di antara kita, ada yang harus bisa menyentuh tubuhnya langsung. Ravata tidak dapat dihancurkan, kita perlu menyentuhnya untuk menaklukkannya." Arkana dan Masesur mengangguk paham.


    Mereka membentuk formasi untuk mengunci pergerakan Ravata. Tiang-tiang muncul, membentuk sebuah pilar penjara yang dikenal sebagai formasi Murva. Hanya Hako, Arkana, dan Masesur yang memiliki energi Aegir murni yang bisa menjalankan kekuatan Murva ini. Formasi ini membuat Ravata tidak bisa bergerak dan energinya terserap, melemahkannya. Namun, Murva tidak bisa menahannya terlalu lama karena Ravata terus mengalami evolusi dan menjadi lebih kuat jika terluka.


    "Tuan, saatnya!" kata Arkana kepada Hako, memberi keyakinan.


    Hako melesat cepat dan menyentuh tubuh Ravata. "Berhasil!" bisiknya. Cahaya tiba-tiba menyilaukan, memenuhi pandangan Hako, Arkana, dan Masesur. Perlahan-lahan, Ravata berubah menjadi kristal biru. Formasi Murva masih bertahan, menciptakan ruang penjara dengan pilar yang kokoh dan tinggi tanpa Ravata di dalamnya. Hako kemudian meraih kristal biru itu dan menaruhnya dalam wadah yang aman.


    Murva berhasil menaklukkan Ravata.


    Arkana dan Masesur kembali ke bentuk aslinya, dan Hako memegang sebuah kotak yang berisi kristal biru, dengan cepat mengembalikan keadaan yang rusak akibat pertarungan dengan Ravata. Kristal biru itu memancarkan kilauannya dan mengembalikan suasana seperti sebelum pertarungan dimulai.


    “Tuan, kita berhasil menaklukkan Ravata!” seru Arkana.


    “Benar, terima kasih atas bantuan kalian,” kata Hako.


    (Arkana dan Masesur bersujud)


    “Kristal biru ini adalah kekuatan inti dari Hiranya, yang akan terbangkitkan dengan menggabungkan tiga pecahan kristal biru yang tersisa,” tambah Hako.


    “Jadi ada tiga kristal biru yang harus disatukan, Tuan?” tanya Arkana.


    “Aku tidak dapat memastikannya dengan pasti, tetapi saat aku terpisah, cahaya biru tersebut terpecah menjadi tiga bagian kristal biru,” jawab Hako.


    “Aku akan menciptakan sebuah alat untuk menyimpan seluruh informasi ini. Sepertinya itu akan membantu dalam mendeteksi cahaya biru,” sambung Hako.


    “Baiklah, Tuan. Sebaiknya kita kembali ke Amura untuk menyimpan kristal biru ini,” saran Arkana. Masesur juga setuju dengan saran Arkana.


Energi Hako Terbagi ke dalam Otoman


    Amura menjadi tempat penyimpanan kristal biru pertama, sementara dua kepingan kristal biru lainnya masih harus ditemukan untuk membangkitkan Hiranya. Untuk mendeteksi keberadaan cahaya biru, diperlukan senjata khusus. "Hutan Vikrama, tempat ini akan mengukir sejarah dalam hidupmu. Lindungi kristal biru ini sampai saat dirimu tak berdaya lagi, dan jagalah ibu pertiwi," kata Hako sambil merenung dan menyentuh pilar-pilar Amura. Ia meneguhkan tekadnya terhadap Hutan Vikrama dan Amura sebagai penjaga kristal biru.


    "Tuan, peradaban ini akan mencatat bahwa Hutan Vikrama akan menjaga ini dengan sepenuh hati, sampai titik akhir untuk melindungi ibu pertiwi," ucap Masesur dengan penuh keyakinan.


    "Kami (Arkana, Masesur, Hutan Vikrama, dan Amura) akan menjalankannya dengan penuh keyakinan," tegas Arkana, matanya memandang Hako dengan penuh pengertian.


    Hako berkata, "Aku percayakan ini, jagalah ibu pertiwi!" Ia segera mengeluarkan kristal biru dan membentuk formasi sembilan mata Aegir.


    Gedo'Shi!!!


    Mantra Hako membentuk formasi yang sempurna, menghasilkan senjata Otoman. Arkana dan Masesur tak bisa menutupi kekaguman mereka melihat kekuatan Hako yang sungguh memukau.


    Masesur pun berkata, "Ini adalah sejarah yang luar biasa, Grrrrrrraaaahhhhhhh!!!!" teriaknya. Formasi sembilan mata Aegir selesai, dan kilau cahaya membentuk Otoman, terdiri dari sembilan lempengan yang mengambang, diberi aliran listrik, dan berputar perlahan.


    Dengan ciptaan Otoman ini, kristal biru menjadi inti yang terus memberikan energi, menjadi penjaga setia dalam bentuk Otoman.


~ Catatan ~


    Dalam keraguan, aku menemukan kekuatan untuk menjaga kehormatanku.


    Meskipun ragu menghampiri, aku tak henti meyakinkan diri bahwa usahaku memiliki arti.


    Boleh jadi harapan tampak jauh, tapi di situlah ketekunan terbangun.


    Takdir belum terpahami, tapi dengan kerja keras, aku menjadikannya sisi gelap yang menyiratkan kemungkinan terbaik.

__ADS_1


    Dalam tangis, aku menemukan ketulusan dan keberanian untuk bertahan.


__ADS_2