
“Di bawah seruan Gumintang, yang Agung, aku bersumpah! Negeri Segara tidak boleh hancur oleh serangan makhluk tanpa dasar yang menyerang kebangkitan Hiranya, ibu alam semesta,” teriak Banes, melayang di atas permukaan dengan petir menyambar di seluruh tubuhnya.
Banes menarik kekuatan senjata Jenuz ke dalam dirinya. “Senjata Jenuz ini tidak sekuat yang kita kira. Mereka menyerang tiba-tiba dan membabi buta, seolah-olah mereka kuat karena serangan mereka bisa membunuh Yang Agung hanya dengan satu kali!” desisnya dengan geram.
Poram, Banes, dan Naya segera mendekati Hako yang berusaha menahan serangan para makhluk Jenuz. Naya memerintahkan koloni Sadako untuk menyamar sebagai tumbuh-tumbuhan dan segera mengumpulkan informasi, “Apapun yang mereka diskusikan, berikanlah informasi sekecil apapun dengan cepat.”
Para koloni Kin’Yobi juga telah menyebar ke dimensi maya, seperti Rajas, Argogos, Or’or, Sile, Norg, Gigel, Noru, Baldax, Zerab, Mogalri, Kora, Ibo, Zorg, Impaler, Ripper, Krueger, Jiao, dan Nao. “Pergilah dan gunakan seluruh kekuatan kita,” ujar Banes, dan seketika mereka menghilang dengan bayangan mereka.
Setibanya di perbatasan barat daya Negeri Segara, yang masih terjebak dalam hutan Kalas, Banes dengan sigap mengeluarkan perintah kepada pasukannya. “Hentikan! Jangan gunakan tenaga berlebihan untuk menahan serangan makhluk Jenuz ini,” serunya dengan suara tegas. “Kabut hitam yang sudah menyebar akan menghalangi penglihatan mereka.”
“Tidak! Ini tidak akan berhasil. Tidak ada satupun dari kita yang mengetahui identitas pasti makhluk itu,” ucap Hako dengan nada skeptis.
Naya mengangguk setuju, mendukung argumen Hako. Dia juga tengah sibuk memulihkan kekuatan koloni Getsuwage. “Sage, Mandavya, Gaze, Bahu, Cira, dan Vira, pulihkan kekuatan koloni Getsuwage dengan segera!” perintah Naya sambil langit di atas mereka diterangi kilatan putih dan ungu, disertai suara ledakan yang menggema seperti batu meteor yang meledak. Kembang api indah pun tercipta di tengah kegelapan dan pertempuran sengit melawan makhluk Jenuz.
Dalam kegelapan malam, kilatan putih dan ungu terus menerus memecah kegelapan, menyoroti wajah-wajah penuh ketegangan para penjaga Negeri Segara. Makhluk Jenuz, terdorong oleh keinginan membabi buta, terus menyerang pertahanan tersembunyi di hutan Kalas yang sebelumnya aman dari pandangan mereka. Senjata Jenuz yang dicuri oleh Naya telah membuat mereka menemukan lokasi rahasia ini, mengungkapkan sisi terlindungi dari Negeri Segara.
Hako, pemimpin Getsuwage dengan keberanian tak tergoyahkan, memimpin pertahanan dengan tekad yang kuat. Hako dan pasukannya bertahan sekuat tenaga, menghadapi serangan makhluk Jenuz dengan kebijaksanaan dan kecermatan. Peluru-peluru energi melesat melalui udara, menciptakan jejak cahaya menyilaukan, tetapi Hako dan pasukannya mampu mempertahankan posisi mereka dengan keberanian dan keahlian bertempur.
Namun, serangan makhluk Jenuz semakin ganas. Mereka menyerang dengan gerakan cepat dan kekuatan yang tak terduga, mencoba mencari celah di pertahanan Hako. Kekuatan dan kecepatan makhluk Jenuz membuat pertempuran semakin sulit. Hako menyadari bahwa dia harus mengambil tindakan cepat.
“Dorong mereka ke arah perangkap!” seru Hako kepada pasukannya, suaranya gemuruh melintasi hutan Kalas. “Kita harus membuat mereka terjebak dan memanfaatkan kelemahan mereka. Jangan biarkan mereka mendekati titik lemah pertahanan kita!”
Dengan koordinasi yang cepat dan kerjasama tim yang kuat, pasukan Hako berhasil menggiring makhluk Jenuz ke arah perangkap yang telah mereka persiapkan dengan cermat. Sambil bertempur dengan sengit, mereka mengarahkan makhluk Jenuz ke tempat yang telah mereka siapkan, di mana perangkap besar dengan kekuatan Getsuwage siap membelenggu makhluk-makhluk itu.
“Aku sudah membuatkan perangkap untuk berjaga-jaga,” ucap Hako sambil memandangi Banes, Naya, dan Poram. “Sebaiknya, kita harus segera mencari tahu makhluk ini, agar kita bisa melakukan serangan balasan.”
__ADS_1
Detak jantung para penjaga Negeri Segara mempercepat ketika perangkap itu dipicu. Kilatan cahaya dan suara ledakan menggema di malam gelap. Makhluk Jenuz terperangkap dalam kekuatan Getsuwage, terhenti dalam gerakannya yang ganas. Pasukan Hako segera melancarkan serangan balik, memanfaatkan kelemahan musuh mereka.
Pertempuran berlanjut, tetapi semangat para penjaga Negeri Segara tidak pernah surut. Dalam kegelapan dan kilatan cahaya, mereka bertempur dengan tekad yang kuat, siap melindungi negeri mereka dari ancaman makhluk Jenuz yang membawa kegelapan dan kehancuran.
Keberhasilan perangkap yang digunakan oleh Hako membawa hasil positif, memungkinkan koloni Getsuwage untuk mengumpulkan dan memulihkan kekuatan mereka yang telah terkuras dalam pertempuran sebelumnya. Banes dan Poram, tidak tinggal diam, mengambil alih kendali situasi.
“Poram, jangan bertindak terburu-buru. Tunggu, kamu harus mengumpulkan kekuatan bersama Naya. Kita masih menunggu informasi lebih lanjut dari makhluk Jenuz ini,” tegur Banes, mencoba menahan niat sengit Poram untuk ikut serta dalam pertahanan kali ini.
“Baiklah, aku mengerti maksudmu,” jawab Poram dengan mantap.
Banes melawan serangan balik makhluk Jenuz dengan satu serangan dahsyat. “Lexacus! Omodtyo!” Mantra Banes menyilaukan, memancarkan energi yang memaksa ratusan makhluk Jenuz terpental, bertumbangan di dataran. Banes tersenyum puas, merasa kekuatannya telah kembali pulih.
“Hyat! Inilah kekuatanku yang sesungguhnya! Hahaha...” gumam Banes dalam hatinya dengan kebanggaan.
Namun, suara peringatan tajam terdengar dari Naya, yang memperingatkan Banes, “Berhati-hatilah, Banes. Kekuatanku baru saja pulih, jangan terlalu terburu-buru menghabiskannya.”
Dalam ketegangan pertempuran, Banes merasakan kekuatan Gumintang, Yang Agung Negeri Segara, mengalir melalui dirinya. Sebuah energi luar biasa memenuhi setiap serat tubuhnya, memberinya keberanian dan kebijaksanaan untuk menghadapi ancaman ini. Dalam momen ini, Banes merasa menjadi satu dengan alam semesta, menjadi perpanjangan dari kekuatan luar biasa yang mengalir melalui dirinya.
Sementara itu, Sambu, pemilik kekuatan yang tak kalah hebat dari Koloni Kunang-Kunang, memfokuskan kekuatan makhluk Jenuz yang misterius. Dengan mata tertutup, Sambu memasuki pikiran maya salah satu makhluk Jenuz yang terjebak dalam perangkap. Sambu mencoba menyusup ke dalam benak makhluk tersebut, mencari-cari titik kelemahan, dan mencoba memahami sumber daya yang mereka miliki.
Pikiran Sambu menyusuri lorong-lorong pikiran makhluk itu, mencari tahu asal-usul kekuatan mereka. Sambu merasakan gelombang energi yang tak dikenal, sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada yang pernah dia temui sebelumnya. Meskipun begitu, Sambu tetap teguh dalam tekadnya untuk memahami musuh dan mencari cara melawannya.
Saat Banes terus melibas makhluk Jenuz dengan keberanian dan kekuatan mereka, Sambu berhasil merasuki pikiran salah satu makhluk Jenuz. Namun, apa yang Sambu temui membuatnya tercengang. Kekuatan makhluk Jenuz jauh lebih dalam dan kompleks daripada yang pernah dia bayangkan. Mereka bukan sekadar makhluk tak berakal, tetapi entitas yang memiliki sejarah, tujuan, dan keinginan mereka sendiri.
Dalam sekejap, Sambu terlempar keluar dari pikiran makhluk Jenuz tersebut, mata terbuka lebar dan wajahnya pucat. Sambu segera berbagi penemuan mengejutkan itu dengan Banes dan yang lainnya.
__ADS_1
“Pertarungan ini lebih dalam daripada yang kita bayangkan,” ujar Sambu dengan napas terengah-engah. “Makhluk Jenuz bukan sekadar musuh biasa. Mereka memiliki kekuatan yang luar biasa dan tujuan yang misterius. Kami harus berhati-hati dan mencari cara untuk mengungkap rahasia di balik kekuatan mereka.”
Pertarungan melawan makhluk Jenuz terus berlanjut, namun sekarang, para penjaga Negeri Segara memiliki wawasan baru tentang musuh mereka. Dalam ketidakpastian dan bahaya yang mengancam, mereka bersatu dengan tekad yang lebih kuat untuk melindungi negeri mereka dan mengungkap kebenaran di balik ancaman makhluk Jenuz yang misterius itu.
“Aku melihat sebuah kekuatan yang tidak asing, namun luar biasa dahsyat,” ujar Sambu sambil terbaring lemas, terkena hantaman kekuatan dari makhluk Jenuz yang tahu keberadaannya. “Kekuatan ini mirip dengan Ordes Dih Aweyam yang terdapat di pusat Aegir...”
Naya segera menggerakkan kekuatan Hisha-nya untuk memulihkan energi Sambu yang telah terpukul. "Sebuah kekuatan yang persis sama yang kurasakan saat mengamati makhluk Jenuz di wilayah Amadajayana, cahaya biru yang bersinar seperti cahaya milik Hiranya," ungkap Naya, sementara dia memulihkan Sambu dengan penuh ketenangan.
"Namun, ketika aku berhadapan dengan Rotar, makhluk terkuat di Negeri Jaez itu, aku hanya melihat cahaya ungu..." tambah Poram dengan raut wajah penuh pertimbangan.
"Apakah kita diserang oleh tiga makhluk yang berbeda dari negeri yang berbeda, ataukah ada tiga makhluk yang berbeda dalam satu negeri?" ucap Naya, kebingungan mencengkeram pikirannya.
Poram menoleh ke arah Banes dengan tatapan tajam, "Banes, hentikan. Hako dan Naya akan menjerat mereka dengan Nawa Gedo." Banes segera mundur, kembali berada di dalam perisai hutan Kalas, mempersiapkan diri untuk aksi berikutnya.
"Rasakanlah kekuatan kami, para makhluk yang tidak mengenal batas!" seru Hako dengan determinasi yang membara. Naya bergabung dengan Hako dalam wujud Hisha, menciptakan aura kekuatan yang mempesona.
Hi...sha!
Akar-akar pohon melilit satu per satu makhluk Jenuz di udara, menghisap habis segala energi yang mereka miliki melalui akarnya yang menyerupai ranting-ranting tajam. Sementara itu, Hako mengunci gerak mereka dengan mengontrol seluruh energi yang mereka bawa. "Serangan ini tidak hanya akan merugikan mereka, tetapi juga akan melukai diri mereka sendiri, inilah Nawa Gedo!" seru Hako dengan suara lantang, memenuhi malam dengan keberanian dan kemarahan.
Naya berkonsentrasi untuk melemahkan pasukan makhluk Jenuz. Sambu dengan sigap meluncur melalui akar-akar pohon yang bergerak cepat, menusuk tubuh makhluk Jenuz satu per satu. Dengan kecerdasan dan ketangkasan, dia mencoba memahami kelemahan musuh mereka, mencari titik lemah yang bisa mereka manfaatkan. Dalam kegelapan hutan Kalas, pertempuran sengit melawan makhluk Jenuz mencapai puncaknya, dan para penjaga Negeri Segara memperlihatkan kekuatan dan keberanian mereka untuk melindungi tanah air mereka.
Naya yang memperhatikan dengan detail pergerakan dari makhluk Jenuz serta ditambah dari sumber informasi Poram, memberikan Naya sebuah pertanyaan dalam dirinya, apakah Negeri Jaez ini nyata dan bukanlah ilusi dari dampak kebangkitan Hiranya?
~ Catatan ~
__ADS_1
Tanah kelahiran, seperti ibu pertiwi, mengalirkan ikatan yang tak terputus. Dalam setiap tetesan darah dan serpihan tubuh makhluk yang telah bersatu dengan permukaannya, tersemat kisah tak terlupakan yang menjalin seluruh dataran. Energi yang mengalir di dalamnya menjadi embrio sebuah kekuatan baru, diciptakan dan diizinkan oleh belas kasih tanah kelahiran. Bahkan, tanah memilih individu yang beruntung untuk menginjaknya, sebuah kehormatan yang diakui oleh roh yang hidup di bawahnya. Namun, terkadang, menundukkan pandangan ke bawah, menghormati perjalanan yang telah kita lalui di atas tanah yang penuh kenangan, sungguh begitu sulitkah?