
Gumintang, dalam momen yang sarat emosi, menyampaikan ucapan dan pesan terakhir kepada Naya. Matanya penuh dengan kebijaksanaan dan tekad, dia berkata, "Naya, engkau adalah harapan bagi Negeri Segara, dan aku percaya sepenuhnya pada kekuatanmu. Sekarang, aku meminta agar engkau pergi ke Hutan Kalas bersama koloni lainnya. Di sana, kalian akan merencanakan kebangkitan Hiranya kembali."
Naya, dengan air mata di matanya, menjawab, "Tapi Yang Agung..."
Gumintang dengan lembut mengangkat tangannya untuk menahan perkataan Naya. "Hiduplah, Naya, dan teruskanlah harapan Negeri Segara. Ordes Dih Aweyam telah memberikan takdir bagi kita semua, begitu juga dengan Hiranya dan diriku sendiri. Aku percaya bahwa kalian akan berhasil."
Dengan berat hati, Naya mengangguk, lalu bersiap untuk pergi bersama koloni lainnya. Gumintang memberikan senyuman terakhirnya kepada Naya sebelum dia melawan ribuan cahaya biru.
Gumintang, dalam kedalaman hatinya, merasa yakin bahwa Negeri Segara akan melanjutkan perjuangannya dengan gagah berani dan tidak akan pernah menyerah. Dia tahu bahwa takdir mereka telah ditentukan, dan dia akan menjalani peran terakhirnya dengan keberanian dan pengabdian.
Dalam diam, Gumintang berdoa agar semesta selalu melindungi Negeri Segara dan Hiranya. Dia menunggu dengan tekad yang kuat, siap untuk menghadapi cahaya biru yang semakin mendekat, sambil menyimpan harapan bahwa suatu hari mereka akan bertemu lagi, dalam damai dan keharmonisan yang mereka rindukan.
Dasawarsa Xar Ada di Bukit Baji
Gumintang, di saat-saat terakhirnya sebelum kebangkitan Hiranya terjadi di Diengala, menitipkan pesan yang penting kepada koloni Xar. Meskipun Xar belum mengetahui siapa yang berbicara, ia mengingat dengan seksama setiap kata yang diucapkan.
"Dalam dasawarsa yang akan datang," Gumintang berbicara dengan tekad tulus, "pergilah ke Hutan Kalas, tetapi jangan lewati Hutan Vikrama. Pergilah dengan diam-diam dan dengan hati-hati. Dalam Ordes Dih Aweyam, Xar harus tetap hidup, begitu juga dengan seluruh koloni."
Xar, meskipun masih bingung tentang identitas pembicara ini, merasa perintah ini adalah tugas yang harus ia penuhi. Ia dengan tulus menjawab, "Aku mengingat pesanmu, dan aku akan menjalankannya. Aku berjanji akan menjaga kelangsungan hidup koloni Xar."
Dengan sepenuh hati, Xar bersumpah untuk melanjutkan perintah ini, meskipun belum tahu betapa pentingnya pesan ini dalam perjalanan mereka ke depan.
Perjanjian Xar dengan Gumintang di Bukit Baji
__ADS_1
Gumintang Yang Agung melangkah perlahan-lahan melewati hamparan padang rumput yang melambai perlahan di bawah matahari senja. Angin sejuk berdesir di sekelilingnya, dan kehadiran Bukit Baji yang menjulang tinggi di kejauhan membuatnya merasa tegar. Ia tahu bahwa saat ini ia adalah penjelmaan dari harapan dan impian Koloni Xar.
Dalam hati, Gumintang mengucapkan terima kasih kepada Koloni Xar, meskipun mereka tidak berbicara secara langsung. Mereka telah menggunakan kekuatan pikiran maya untuk mengirim pesan dan berjanji untuk membantu Koloni Xar dalam waktu yang sulit ini. Ia merasa tanggung jawab yang besar untuk memenuhi janji ini.
"Sesampainya di Bukit Baji," Gumintang mengingatkan dirinya sendiri, "Aku harus berhati-hati dan menjaga perjanjian ini dengan setia. Bukit Baji akan menjadi saksi yang setia atas janji ini."
Saat matahari hampir tenggelam di horizon, Gumintang akhirnya mencapai Bukit Baji. Ia berdiri di puncak bukit, mengamati pemandangan yang megah di sekitarnya. Tiba-tiba, tiga sosok muncul dari balik pepohonan yang rimbun.
Mereka adalah Koloni Sadako, Koloni Kin'Yobi, dan Koloni Getsuwage. Gumintang tahu bahwa mereka adalah pemimpin dari koloni-koloni suku Xar yang berbeda, dan mereka adalah kunci dalam menjalin persahabatan di Negeri Segara yang kuat untuk melawan ancaman yang mengintai.
Dengan penuh hormat, Gumintang mendekati mereka. "Salam sejahtera, Koloni Sadako, Koloni Kin'Yobi, dan Koloni Getsuwage," ucap Gumintang dengan rendah hati.
Koloni Sadako, seorang wanita yang bijaksana dengan mata yang tajam, tersenyum lembut. "Salam sejahtera juga, Gumintang Yang Agung. Kami telah menantimu."
Koloni Kin'Yobi, seorang pria yang memiliki aura kebijaksanaan, mengangguk. "Kami siap untuk bekerja sama denganmu dan Koloni Xar, seperti yang dijanjikan."
Gumintang merasa haru dan bersyukur. Ia tahu bahwa dengan persatuan ini, mereka memiliki harapan untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang. Mereka semua memahami pentingnya perjanjian ini dan bersatu untuk melindungi suku Xar dan Bukit Baji yang mereka cintai.
Naya pun mengalami ingatan yang tidak terduga, sebuah ingatan tentang Gumintang di Bukit Baji.
Ucapan Terakhir Menyedihkan
Naya terdiam sejenak saat ia menyadari bahwa semua yang ia alami adalah ingatan dari Gumintang Yang Agung. Energi alam Negeri Segara telah mengirimkan pesan yang begitu kuat dan dalam kepadanya, mengungkapkan bahwa setelah peristiwa ini, sebuah kekuatan besar akan hadir di dalam Negeri Segara. Namun, Naya tidak tahu apa arti sebenarnya dari janji ini, dan pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan tentang apakah kekuatan tersebut akan membantu atau bahkan membahayakan mereka.
__ADS_1
Gemetar, Naya mengumpulkan dirinya sendiri dan merasa perlu berbicara dengan Poram tentang pengalamannya yang luar biasa ini. Ia merasa bahwa temannya, Poram, juga mungkin mengalami hal yang sama. Mereka duduk bersama di bawah pohon rindang di pinggir sungai, tempat mereka sering berbicara tentang hal-hal penting dalam hidup mereka.
"Naya," kata Poram dengan lembut, "Ada sesuatu yang harus aku bagikan denganmu. Aku mengalami hal yang luar biasa tadi."
Naya menoleh padanya dengan rasa penasaran. "Apa yang terjadi, Poram?"
Poram mengisahkan pengalamannya yang menggemparkan, tentang bagaimana ia juga merasakan ingatan Gumintang dan pesan dari energi alam Negeri Segara. Mata Naya melebar dalam keheranan ketika ia mendengar cerita yang sama dengan yang dialaminya sendiri.
"Ternyata," kata Poram, "Bukan hanya aku yang mengalami ini. Banes dan Hako juga merasakannya."
Naya merasa kagum dan terkejut oleh kisah Poram. "Ini sungguh luar biasa. Mungkin ini adalah tanda dari sesuatu yang lebih besar yang akan datang."
Namun, ketika malam tiba dan cahaya bulan meredup, mereka semua merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah getaran kuat dan suara yang mengerikan mengguncang dataran Negeri Segara. Tanah gemetar dan angin mendesis dengan keras. Mereka merasa seperti sedang berada dalam pusaran energi yang sangat kuat.
Poram mengaum begitu keras, menggetarkan dataran Negeri Segara yang diselimuti oleh kegelapan dan rasa duka. Seperti dalam mimpi, mereka merasakan diri mereka terhubung dengan Gumintang Yang Agung, yang memberikan ucapan terakhir atas kasih sayangnya kepada para koloni. Perjuangan mereka, ternyata, tidak sia-sia, dan Negeri Segara membalasnya dengan kekuatan yang begitu besar.
Naya, Poram, Banes, dan Hako, meskipun bingung dan takut, tahu bahwa mereka harus bersatu dan menghadapi perubahan yang akan datang dengan tekad dan keberanian. Mereka adalah penjaga Negeri Segara, dan tugas mereka adalah melindungi dan merawat kekuatan alam yang telah memberikan mereka begitu banyak. Dalam kegelapan yang mendalam, mereka bersama-sama berjanji untuk menjalani takdir mereka dengan penuh semangat dan kepercayaan bahwa masa depan akan membawa perubahan yang baik bagi Negeri Segara.
~ Catatan ~
Dalam setiap langkah di dalam kegelapan, kita harus ingat bahwa cahaya selalu ada, meski tersembunyi.
Kesedihan adalah bukti paling indah dari cinta yang tulus, sebab hanya yang kita cintai dengan segenap hati yang dapat kita rasakan kehilangan yang begitu mendalam.
__ADS_1
Melalui kemalangan dan penderitaan, kita menemukan kekuatan yang tersembunyi di dalam diri kita yang kadang-kadang bahkan kita sendiri tidak menyadarinya.
Itu adalah ketabahan kita yang tak terduga yang akan membawa kita melalui kegelapan menuju cahaya yang lebih cerah.