
Dalam istana bawah tanah yang sunyi, atmosfer tegang menyelimuti ruangan di mana Rerq, pemimpin Jenuz selatan, duduk diikat dengan formasi mata dewa. Namun, bukannya menunjukkan penyesalan, Rerq mencoba berbohong lagi, merencanakan lapisan demi lapisan kebohongan dengan harapan bisa lolos dari siniasi berbahaya ini.
Namun, Sambu yang bijak dan penuh kesabaran telah mencapai titik kejenuhan. Kesabaran Sambu habis oleh rangkaian kebohongan yang ditimpahkan oleh Rerq. Dalam satu momen ketegangan, Sambu mengangkat tangannya, memfokuskan energi terkuatnya. Mata dewa yang memantulkan kekuatan alam semesta menyala dengan cahaya yang menyilaukan.
"Rerq, waktu untuk bermain-main telah berakhir," ucap Sambu dengan suara tegas. "Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan negeri ini dengan kebohonganmu. Sebagai pemimpin, kamu harus menghadapi konsekuensi dari tindakanmu sendiri."
Sebuah ledakan cahaya hebat melingkupi ruangan, menyaksikan lenyapnya Rerq. Kekuatan formasi mata dewa bersatu dengan keberanian Sambu, menghancurkan segala kebohongan dan kecurangan yang selama ini dilakukan oleh Rerq. Ruangan ini bergemuruh oleh energi yang dilepaskan, menciptakan gelombang getaran yang terasa hingga ke sudut-sudut terjauh dari istana bawah tanah ini.
Hako, sang arsitek dan pembangun istana ini, melihat dengan penuh kagum dan rasa hormat. Hako tahu bahwa ini adalah tindakan yang sulit bagi Sambu, namun juga tindakan yang diperlukan. Keseluruhan Negeri Segara harus diutamakan di atas segalanya karena tipuan Rerq dapat menyebabkan kegagalan misi menyelamatkan Negeri Segara.
Di sana, di dalam ruangan yang kini diberkahi oleh cahaya, Sambu berdiri dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lega karena ancaman Rerq telah dihapuskan, namun juga ada rasa kesedihan karena tindakan ini diperlukan untuk melindungi negerinya. Dengan hati yang penuh tekad, Sambu melangkah keluar dari ruangan, siap menghadapi tantangan berikutnya yang menunggu di luar istana bawah tanah ini.
Dalam momen kemenangan setelah mengalahkan Rerq, Sambu merasakan energi inti ungu yang sebelumnya berada di tangan musuh sekarang berhasil direbut dan diamankan di dalam istana bawah tanah Negeri Segara. Energi yang seharusnya digunakan untuk kebaikan, bukan untuk kejahatan, kini berada di tangan yang benar. Dalam keremangan ruangan istana, energi ini bersinar dengan kekuatan dan potensi yang membara.
Namun, ketenangan tidak berlangsung lama. Sebuah gema keras memenuhi udara ketika pasukan Jenuz ungu, yang masih bertahan di luar pertahanan batas barat daya Negeri Segara, melancarkan serangan besar-besaran. Mereka meringsek masuk dengan kekuatan penuh, mendorong batas pertahanan dan memasuki wilayah Negeri Segara.
__ADS_1
Situasi ini menjadi genting, dan Negeri Segara segera diselimuti oleh atmosfer peperangan. Hako, sang arsitek yang mahir, Banes yang perkasa, dan Naya yang penuh kebijaksanaan, segera bersiap untuk melawan kekuatan Jenuz ungu yang mendekat dengan gesit.
Dalam kerjasama yang harmonis, Banes, Hako, Naya dan Poram mengerahkan kekuatan mereka. Hako, dengan keahlian arsitekturnya, menciptakan benteng-benteng pertahanan sementara dari tanah dan batu, mencoba memperlambat laju pasukan Jenuz ungu. Banes, penuh dengan keberanian dan kekuatan, memimpin pasukan dalam serangan balasan yang gigih. Sementara ini, Naya, dengan cahaya hijau dan akar pohon, merencanakan strategi bertahan yang cerdik dan melindungi wilayah Negeri Segara sebaik mungkin.
Dalam kegelapan malam, gemuruh pertempuran terdengar menggema di udara. Cahaya membara dari sihir dan senjata menyinari gelapnya malam, menciptakan pemandangan yang spektakuler dan menegangkan. Setiap serangan dan pertahanan memiliki tujuan yang jelas: melindungi Negeri Segara dari ancaman pasukan Jenuz ungu yang ingin merebut kembali energi inti yang baru saja direbut oleh Sambu.
Dalam pertempuran yang sengit ini, keberanian, keahlian, dan kebijaksanaan bertemu dalam satu harmoni. Banes yang memimpin serangan adalah penjaga terakhir batas barat daya Negeri Segara, dan koloni Negeri Segara bersumpah untuk menjaga keamanan negeri mereka dengan segala yang mereka miliki. Dalam gemuruh perang, mereka berdiri sebagai perisai terakhir Negeri Segara, siap menghadapi setiap tantangan dan mengorbankan diri demi keberlanjutan negeri mereka yang tercinta.
Di dataran selatan Negeri Jaez, ketujuh kekuatan yang tergabung dalam tim dataran selatan mengamati dengan hati-hati buah anggur putih yang telah perlahan-lahan mengering dan layu. Cahaya kemerahan dari energi inti ungu yang sebelumnya diserap oleh anggur-anggur ini kini sudah tidak terlihat lagi. Ini adalah pertanda nyata bahwa energi inti ungu telah dicabut, dan Sambu telah berhasil mengalahkan Rerq, pemimpin Jenuz ungu.
Ibo mengangkat kepala dengan rasa bangga, "Sambu telah melakukannya. Rerq telah dikalahkan. Kini, kita harus fokus pada langkah berikutnya: menghadapi Roghitman dan mengakhiri ancaman anggur ungu sepenuhnya."
Zorg, yang selalu bijaksana dalam berbicara, menambahkan, "Kita harus bersyukur kepada Sambu dan para pejuang kita di Negeri Segara. Mereka telah melindungi energi inti ungu dari jatuh ke tangan yang salah."
Makara, dengan mata yang bersinar penuh tekad, berkata, "Kita harus terus maju. Waktu tidak menunggu. Roghitman masih berada di luar sana, dan Roghitman tidak akan berhenti sebelum misinya tercapai. Kita harus menemukannya dan menghentikannya."
__ADS_1
Dalam cahaya bulan yang pucat, ketujuh kekuatan (Norg, Zerab, Mogalri, Kora, Ibo, Zorg, dan Makara) melanjutkan perjalanan mereka. Norg, Zerab, Mogalri, Kora, Ibo, Zorg, dan Makara tidak memiliki waktu untuk bersantai; tugas mereka baru saja dimulai. Norg, Zerab, Mogalri, Kora, Ibo, Zorg, dan Makara bertekad untuk menyelamatkan Negeri Segara dari ancaman Jenuz, memastikan bahwa energi inti ungu tidak jatuh ke tangan yang salah, dan membawa kedamaian kembali ke tanah Negeri Segara yang tercinta. Dengan langkah mantap, Norg, Zerab, Mogalri, Kora, Ibo, Zorg, dan Makara melanjutkan petualangan mereka, siap menghadapi segala rintangan yang mungkin menghadang.
Di tengah malam yang kelam, pasukan Jenuz ungu, marah karena kematian Rerq, membanjiri pertahanan batas barat daya Negeri Segara. Pasukan Jenuz ungu datang dengan kemarahan yang menggelora, mengibaskan senjata-senjata mereka dengan amarah yang tak terbendung. Para pemimpin koloni yang berada di garis depan pertahanan Negeri Segara menyadari bahwa mereka sekarang berada dalam pertarungan hidup dan mati.
Hako, Banes, dan Naya, bersama dengan pasukan Negeri Segara, berkumpul untuk menghadapi serbuan yang mengamuk. Mata mereka penuh dengan ketegangan, namun di dalam hati, mereka memiliki tekad yang kuat untuk mempertahankan negeri ini. Setiap serangan dan setiap pertahanan adalah bagian dari perjuangan untuk keberlanjutan Negeri Segara.
Saat senjata bertemu dengan senjata, cahaya api dan percikan bunga api menyala di malam yang gelap. Langit menjadi terang oleh gemuruh peperangan. Para pemimpin koloni mengeluarkan strategi terbaik mereka, mencoba memanfaatkan setiap kelemahan yang dapat ditemukan dalam serangan pasukan Jenuz ungu. Namun, pasukan Jenuz ungu juga tidak kalah tangguh, mereka membalas dengan serangan ganas dan keberanian.
Situasinya semakin genting. Suara serangan dan jeritan pertempuran melingkupi udara, menciptakan pemandangan yang mencekam. Tidak ada yang tahu bagaimana pertarungan ini akan berakhir. Apakah para pemimpin koloni dan pasukan Negeri Segara mampu memenangkan pertempuran ini dan menghalau serangan pasukan Jenuz ungu, ataukah mereka akan menghadapi kekalahan yang pahit?
Dalam ketegangan yang memuncak, para pemimpin koloni dan pasukan Negeri Segara bertekad untuk berdiri teguh. Keputusan ini tidak hanya memengaruhi nasib Negeri Segara, tetapi juga nasib banyak nyawa yang ada di tangan mereka. Mereka bertekad untuk melindungi Negeri Segara dengan segala yang mereka miliki. Sementara itu, di balik langit yang gelap, pertarungan hidup dan mati terus berlanjut, menjadi cermin dari keberanian dan keteguhan hati manusia yang berjuang untuk melindungi yang mereka cintai.
~ Catatan ~
Terkadang, kita harus berjuang untuk kebenaran bahkan jika itu berarti melawan kemarahan dan kebencian. Kita harus mempertahankan nilai-nilai kita dan melindungi yang benar meskipun dalam situasi yang sulit.
__ADS_1