Gumintang Kunang-Kunang

Gumintang Kunang-Kunang
Terciptanya Tumbuhan di Seluruh Dataran Negeri Segara


__ADS_3

    Perjuangan Koloni Sadako meluas ke seluruh dataran Negeri Segara, dengan setiap langkah mereka membawa perubahan yang berarti bagi daerah  sekitar. Dengan tekad yang menggebu-gebu, mereka menghijaukan tanah yang tandus dan memulihkan keseimbangan alam yang perlahan telah terkikis. Satu demi satu, mereka menanam benih-benih harapan dan menerangi gelapnya sudut-sudut yang terabaikan.


    Namun, dalam hati Gumintang, terdapat panggilan yang lebih dalam. Ia merasa dorongan untuk memberikan lebih banyak lagi, untuk membantu secara lebih langsung dalam usaha perubahan yang dilakukan oleh Koloni Sadako. Pertanyaan muncul dalam pikiran besar, “Apakah mungkin bagi saya untuk membagi diri saya dalam kekuatan pikiran maya, mengirimkan bantuan kepada para Koloni Sadako?” Sebuah pemikiran yang memantik rasa ingin tahu dan keingintahuan akan potensi yang belum tergali sepenuhnya.


    Namun, perjalanan Koloni Sadako penuh dengan tantangan yang menguji tekad dan semangat mereka. Seperti setiap pejuang dalam perjuangan layaknya, mereka berhadapan dengan rintangan-rintangan yang bisa membuat mereka ragu. Walaupun memancarkan tekad yang kuat dan semangat yang tulus untuk membuat keindahan alam Negeri Segara, ada saat-saat ketika hambatan membuat mereka terhenti sejenak. Mereka menghadapi sisi gelap dari misi mereka yang membutuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang kekuatan diri mereka.


    Namun, dalam kehadiran Gumintang yang bijaksana, harapan terus bersinar. Meskipun mungkin tidak dengan cara langsung membagi diri, pemikiran tentang bantuan memberikan energi positif dan dukungan pada Koloni Sadako. Ketika saat-saat sulit datang, mereka merasakan kehadiran Gumintang yang membimbing mereka dengan cahaya kebijaksanaan.


    Pusaran petualangan Negeri Segara terus berlanjut, memasuki dimensi yang semakin mendalam. Perjalanan Gumintang di daerah selatan, eksplorasi Koloni Sadako, dan perjuangan mereka untuk menghijaukan dataran membawa kita ke dalam lapisan cerita yang lebih dalam tentang pertumbuhan, perubahan, dan kekuatan. Di setiap tantangan yang dihadapi, cerita ini mengajarkan kepada kita pentingnya tetap berani dalam menghadapi perubahan, sambil membuka hati kita untuk memahami kekuatan yang tak terduga yang muncul ketika kita menghadapi tantangan dengan penuh semangat dan keberanian.


Petualangan Ratha dan Haruto di Daerah Utara


    Pembagian kristal berwarna putih yang diperoleh oleh Ratha dan Haruto telah mengikat takdir mereka untuk menjalani petualangan ke dataran utara. Dataran utara dikenal secara luas karena menjadi tempat di mana pertama kali Gumintang Yang Agung menginjakkan kakinya sebagai makhluk di Negeri Segara. Gumintang, sebagai pemimpin Koloni Kunang-Kunang, terkenal sampai ke pusat Aegir. Kekuatan yang mengalir melalui energi Aegir benar-benar mempesona semua makhluk, termasuk Orgages, pemimpin putihnati.


    Ratha dan Haruto memulai perjalanan mereka ke utara dengan tugas yang diberikan oleh Naya, pemimpin Koloni Sadako. Tugas mulia ini mereka jalankan dengan tujuan menjadikan seluruh dataran Negeri Segara menjadi hijau. Kristal berwarna putih yang mereka gunakan sebagai tongkat senjata akan secara alami memudar dan hilang setelah tugas mulia ini dianggap selesai.


    Kristal putih memilih Ratha dan Haruto karena Ratha mewakili pohon cempaka yang melambangkan warna kuning, sementara Haruto membawa energi Kunang-Kunang meskipun sebagai bunga matahari karena perpaduan energi antara Gumintang dan Naya. Meskipun sebenarnya energi Haruto lebih cenderung kepada Koloni Kunang-Kunang, ia sadar dan memilih untuk mengikuti energi Koloni Sadako.


    Sebagai anggota Koloni Sadako yang bertugas menghidupkan kembali dataran utara, Ratha dan Haruto memiliki tekad dan semangat yang luar biasa dibandingkan dengan yang lain. Keyakinan mereka dalam menyelesaikan misi sungguh menggebu-gebu. Meskipun perjalanan mereka ke dataran utara lebih mudah daripada dataran tengah, Ratha menghadapi kesulitan dalam mengembalikan kehijauan yang sempurna pada daerah yang sebelumnya diperbaharui oleh energi meledak Naya. Ratha hanya perlu memanggil energi untuk menghidupkan kembali tumbuh-tumbuhan tersebut.


    "Haruto, seperti yang dikatakan Naya, kita harus menemukan tempat bernama Mopala, di sana terdapat bola air yang membeku. Itulah yang harus kita temukan," ucap Ratha.


    "Mopala dijaga oleh makhluk bernama Diagra, penjaga energi yang dapat menghancurkan siapa saja," sambung Haruto.


    "Betul, sebelum kita memasuki wilayah Mopala, sebaiknya kita mencari lokasi yang bisa kita ubah menjadi hijau terlebih dahulu," tambah Ratha.


    "Aku akan menghidupkan kembali daerah ini dengan warna hijau, bagaimana menurutmu?" tanya Ratha kepada Haruto.


    "Tentu saja, aku sudah tak sabar," jawab Haruto.


    Cahaya hijau mulai menjalar seiring langkah Ratha dan Haruto. Namun, jangkauan cahaya ini tidaklah begitu luas. Setelah usaha keras Ratha dan Haruto, daerah yang mereka lalui telah berubah menjadi hijau yang indah. Setapak demi setapak, tanah yang sebelumnya tandus dan gersang kini dipenuhi oleh kehidupan tumbuhan yang segar dan berwarna-warni. Dengan tekad mereka yang bulat, mereka akhirnya tiba di tempat yang disebut Mopala, suatu tempat yang penuh misteri.


    Mopala terbentang di hadapan mereka, dan pemandangan yang mereka temui sungguhlah menakjubkan. Namun, keindahan itu diiringi oleh perasaan mengerikan. Di tengah-tengah Mopala, terdapat makhluk besar dan menyeramkan yang dikenal sebagai Diagra. Makhluk ini adalah penjaga tumbuhan di daerah tersebut, memiliki energi yang kuat dan melindungi bola air yang membeku, sumber kehidupan bagi tumbuhan di Negeri Segara.


    Tanpa pilihan lain, Ratha dan Haruto memutuskan untuk berhadapan dengan Diagra. Pertempuran yang sengit pun pecah, di mana Ratha dan Haruto berjuang dengan gigih untuk merebut bola air yang membeku dari genggaman Diagra. Makhluk itu memiliki kekuatan yang luar biasa, tetapi tekad mereka untuk melindungi kehidupan di Negeri Segara mendorong mereka untuk terus maju.


    Pertempuran berlangsung sengit, dan dalam momen-momen kritis, Gumintang Yang Agung memberikan petunjuk kepada Ratha dan Haruto. Gumintang mengungkapkan bahwa Diagra memiliki kelemahan di hatinya yang dirasakan kesepian. Dengan wawasan ini, Ratha dan Haruto tidak hanya berjuang untuk merebut bola air, tetapi juga untuk mengerti dan merasakan perasaan Diagra.


    Akhirnya, saat Diagra merasa terancam dan sendirian, Ratha dan Haruto tidak melanjutkan serangan mereka. Sebaliknya, mereka berbicara dengan lembut kepada Diagra, berbagi tentang tujuan mereka untuk memulihkan kehidupan di Negeri Segara dan meminta agar Diagra bergabung dengan mereka. Diagra pun perlahan-lahan meredakan pertahanannya.


    Dialog antara Diagra, Ratha, dan Haruto sungguh menggetarkan hati. Diagra menceritakan tentang kesepiannya dan bagaimana ia merasa terisolasi selama bertahun-tahun. Ratha dan Haruto mendengarkan dengan penuh pengertian, merasa simpati terhadap makhluk ini yang awalnya menjadi musuh.


    "Diagra, aku benar-benar merasakan sakit dan penderitaanmu. Saya datang ke sini bukan untuk bersaing dengan siapa pun," ujar Ratha dengan penuh pengertian.


    "Kehidupan harus terus berlanjut, tugas saya adalah menjalankan takdir Negeri Segara sesuai dengan arahan Naya, pemimpin Koloni Sadako," tambah Ratha, napasnya terengah-engah akibat kewaspadaannya terhadap kemungkinan serangan mendadak dari Diagra.


    "Kami tidak bermaksud merebut bola air itu. Tujuan kami hanyalah menggunakan bola air ini untuk menghidupkan kembali tumbuhan di dataran utara Negeri Segara dan mengembalikannya ke Despair serta Vinaya," sampaikan Haruto.


    Graaaggghhh!!!


    Namun, Diagra belum sepenuhnya mengerti maksud mereka.


    "Aku tidak bisa begitu saja percaya pada kalian," Diagra berkata, ilusi Diagra berkembang menjadi tiga bayangan. Ketiga bayangan ini ada guna melindungi dirinya dan wilayah Mopala.


    "Kristal putih ini mengandung energi Aegir Segara," Ratha meyakinkan Diagra bahwa niat mereka adalah positif.


    "Aku tidak bisa begitu saja mempercayainya," Diagra menegaskan.


    "Saya tahu bahwa kamu tidak ingin mengulang penghancuran Negeri Segara untuk yang kedua kalinya. Kamu tidak bisa disalahkan atas itu, Diagra. Semuanya telah ditakdirkan," kata Haruto.


    "Tataplah, aku akan membawamu ke dalam sebuah kisah di mana semuanya dimulai. Fulmala, ibu semesta, memberikan titah kepada putranya yang bernama Segara. Tempat di mana kita berada sekarang berasal dari situ. Inilah awal dari cerita ini, Diagra," kata Ratha.


    "Fulmala, sebagai pemimpin Putihnati, menjadi tonggak peradaban bagi Negeri Segara," tambah Ratha.

__ADS_1


    "Kenapa?" tanya Diagra.


    "Walaupun aku tidak memiliki penjelasan yang pasti, Yang Agung pernah memberitahuku bahwa sudah saatnya kamu bergabung dan berbaur bersama kami," jawab Ratha.


    Kekuatan Diagra masih sulit dikendalikan, dan penjaganya tetap kuat. Bahkan Gumintang, yang melihat energi Diagra yang ingin menghancurkan Ratha dan Haruto, segera memberitahu Sambu, sahabatnya, agar segera pergi ke Mopala. Kedatangan Sambu yang tepat waktu mencegah Ratha dan Haruto hampir terhapus oleh kekuatan tak terkendali Diagra.


    Dengan suara keras, tangan Sambu melancarkan pukulan dahsyat yang menghantam pipi kiri Diagra, memantulkan Diagra cukup jauh. Serangan mendadak ini membuat Diagra terhuyung-hayang, terkejut oleh jangkauan pukulan Sambu yang luar biasa.


    Cahaya kuning menyelimuti Diagra, membatasi geraknya. Diagra tidak bisa bergerak dan terdiam, terkunci dalam keadaan yang mematikan disebut Hoksam. Energi Diagra perlahan terserap oleh Hoksam, menenangkannya. Dalam posisi yang menguntungkan bagi Ratha dan Haruto, Ratha menjelaskan bahwa kecurigaan dan penyesalan bukanlah bentuk kegagalan.


    Ratha kemudian menunjukkan bahwa Denik telah menjadi seorang Putihnati juga. Denik, yang dulunya adalah saudara Diagra, telah menjadi penjaga Pusat Aegir dan menghilang karena energi misterius akibat pengulangan takdir. Mengetahui hal ini, Diagra merasa lega karena akhirnya mengetahui kebenaran. Diagra akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan mereka, bukan lagi sebagai musuh, tetapi sebagai teman yang akan membantu menjaga dan memelihara tumbuhan di Negeri Segara.


    Perjalanan mereka untuk menghidupkan kembali tumbuhan di Negeri Segara dan membantu Diagra menyembuhkan hatinya pun berlanjut. Semua yang mereka lalui telah mengajarkan tentang kekuatan persahabatan, empati, dan tekad untuk melakukan yang baik, bahkan kepada mereka yang awalnya dianggap sebagai lawan.


Sambu Mengenali Haruto sebagai Satu Koloni


    Setelah pertarungan yang sengit, Ratha dan Haruto berhasil mengatasi kekuatan tak terkendali Diagra. Akhirnya, mereka diajak oleh Sambu untuk pergi ke daerah yang disebut Risalaya, bagian dari Koloni Kunang-Kunang. Risalaya adalah tempat yang menakjubkan dengan dataran tinggi yang memungkinkan pandangan yang luas hingga daerah selatan, selama awan hitam milik Kin'Yobi tidak menghalanginya. Sambu membawa mereka ke Risalaya atas perintah dari Gumintang Yang Agung, dengan tujuan mengenalkan mereka pada wilayah ini dan juga untuk membantu Ratha dan Haruto dalam misi mereka untuk menghijaukan dataran utara.


    Saat mereka tiba di Risalaya, pemandangan indah dan luas memukau Ratha dan Haruto. Namun, dalam pemantauannya terhadap mereka, Sambu menyadari sesuatu yang mengejutkan. Ia menyadari bahwa Haruto memiliki energi murni yang sama seperti yang dimilikinya sebagai Koloni Kunang-Kunang. Hal ini terungkap ketika Haruto secara tidak sadar menggunakan energinya untuk melindungi Ratha dari serangan Diagra, makhluk yang merasa terancam oleh misi Koloni Sadako di daerah Mopala.


    Sambu akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan Haruto. Ia berbicara mengenai energi murni yang Haruto miliki, menjelaskan bahwa Haruto memiliki potensi besar sebagai bagian dari Koloni Kunang-Kunang. Namun, Sambu juga memahami bahwa Haruto memiliki pilihan dan keinginan sendiri. Haruto memilih untuk tetap berada di Koloni Sadako, mengikuti jalannya sendiri.


    Ketika berita ini mencapai Gumintang, yang tengah berada di dataran selatan, Gumintang merasakan cahaya kuning yang melintas dari arah dataran itu. Ia menyadari bahwa itu adalah tanda bahwa Haruto telah membuat keputusan penting. Haruto telah memilih untuk mengikuti panggilan hatinya dan menjadi Sadako sesungguhnya, mengabdikan dirinya pada misi Koloni Sadako untuk menjaga dan memulihkan ekosistem dataran utara.


    Dengan penuh pengertian, Gumintang merasa bangga dan menghormati keputusan Haruto. Dengan Haruto di pihak Koloni Sadako, Ratha dan timnya memiliki dukungan dan energi yang lebih kuat dalam misi mereka untuk menghijaukan dan memulihkan dataran utara. Dengan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya, mereka melanjutkan perjalanan mereka di Risalaya, siap untuk menghadapi tantangan-tantangan yang ada di depan dan mewujudkan misi penting mereka.


Despair dan Nagara Berhasil Hijaukan Daerah Tengah


    Dalam perjalanan mereka, Despair dan Nagara merasakan tanggung jawab yang besar setelah dipilih oleh kristal hitam. Mereka menyadari bahwa menghijaukan dataran tengah adalah tugas yang harus mereka penuhi. Kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh Despair dan Nagara menjadi kunci dalam mencapai tujuan ini. Keduanya mampu menggabungkan dan mengarahkan kekuatan mereka dengan sangat efektif, dan mereka juga telah menerima bantuan dari bola air energi kehidupan yang Ratha dan Haruto peroleh setelah mengalahkan Diagra.


    Ketika waktu yang tepat tiba, mereka mengarahkan energi ini ke langit dengan penuh tekad. Sebuah cahaya hijau yang memukau melesat ke atas langit, dan dengan tiba-tiba, hujan cahaya mulai tersebar di seluruh dataran tengah. Despair dan Nagara merasakan euforia dan kegembiraan yang mengalir begitu kuat, sehingga mereka mulai menari-nari dengan semangat di tengah hujan cahaya ini. Tanpa mereka sadari, gerakan mereka yang penuh sukacita justru mempercepat proses energi alamiah yang sedang mereka inisiasi.


    Di tengah momen kebahagiaan ini, Naya, yang mengamati dari kejauhan, tersenyum bahagia. Ia dapat merasakan getaran positif yang ditimbulkan oleh upaya Despair dan Nagara dalam menghijaukan dataran tengah. Keberhasilan mereka bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga memberikan dampak positif pada seluruh ekosistem dan makhluk yang tinggal di dataran tersebut.


    Semakin lama, hujan cahaya meresap ke dalam tanah dan tumbuh-tumbuhan mulai muncul dengan cepat. Dataran yang sebelumnya tandus dan gersang kini berubah menjadi hijau dan subur. Tumbuh-tumbuhan baru menjulang tinggi, menciptakan lapisan vegetasi yang indah dan mendukung kehidupan.


    Dengan cahaya hijau yang masih bersinar di langit, perjalanan mereka belum berakhir. Ada banyak lagi tantangan dan petualangan yang menunggu, tetapi mereka memiliki keyakinan bahwa dengan semangat dan kerja sama, mereka akan mampu menghadapinya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan tekad yang sama untuk menciptakan keindahan baru. Kali ini, mereka merencanakan untuk membuat taman bunga yang indah di dataran tengah, yang diberi nama Amadajayana. Despair, mewakili bunga Calendula, dan Nagara, yang mewakili bunga Lisianthus, bergabung kembali dalam misi berharga ini.


    Dalam perjalanan mereka di Amadajayana, taman bunga yang berwarna-warni dengan beragam bunga dan tumbuhan indah, tak terduga ada sebuah insiden yang menimpa Despair. Tanpa disadari, Despair tanpa sengaja meminum racun yang ada di sekitar. Racun tersebut meracuni tubuhnya, membuatnya merasa lemah dan akhirnya pingsan.


    Nagara panik dan khawatir melihat kondisi Despair yang tidak sadarkan diri. Untungnya, dalam keadaan genting ini, muncul Poram, makhluk kecil yang bijak dan penasihat setia para penjaga dataran. Poram membawa Nagara sebuah Biosa, sebuah tumbuhan penyembuh yang memiliki kekuatan penyembuhan alami. Poram juga memberitahukan kepada Nagara bahwa jika Despair memerlukan bantuan lebih lanjut, ia dapat menggunakan tongkat Gumintang untuk berkomunikasi dengan Gumintang Yang Agung.


    Kedatangan Poram bukan tanpa tujuan. Ini adalah perintah dari Gumintang yang saat itu sedang berada di dataran selatan bersama dengan Naya. Gumintang dan Naya merasa bahwa mungkin akan ada situasi darurat di Amadajayana, dan dengan bijaksana mereka memutuskan untuk mengirimkan Poram untuk memberikan bantuan yang diperlukan.


    Nagara dengan hati-hati menggunakan Biosa untuk mengobati Despair. Lambat laun, efek racun mereda, dan Despair akhirnya sadar. Mereka bersyukur dan merasa lega melihat kembalinya Despair ke kondisi yang lebih baik. Setelah peristiwa ini, Poram menjelaskan tentang perintah dari Gumintang dan Naya, serta memberikan tongkat Gumintang kepada Nagara untuk berjaga-jaga.


    Despair dan Nagara memutuskan untuk tetap berada di Amadajayana, merawat dan menjaga taman bunga indah mereka dengan penuh perhatian. Mereka merasakan kehadiran dan dukungan dari Gumintang dan Naya, serta seluruh koloni di berbagai dataran. Perjalanan mereka adalah bukti bahwa kerja sama, persahabatan, dan cinta terhadap alam bisa menciptakan keajaiban di dunia ini.


Vinaya dan Ayod Membuat Hutan Kalas


    Dalam perjalanan mereka menuju dataran selatan, Vinaya dan Ayod merasa panggilan tugas yang kuat untuk menciptakan sebuah hutan yang indah dan harmonis. Mereka menyadari bahwa dataran selatan juga harus memiliki tempat di mana berbagai makhluk bisa berbaur dan hidup bersama. Seperti yang terjadi pada Ratha dan Haruto di dataran utara, serta Despair dan Nagara di dataran tengah, Vinaya dan Ayod juga dipilih oleh kristal merah yang diciptakan oleh pusaran air Danau Manta, mengamanatkannya dengan tanggung jawab untuk mengubah dataran selatan.


    Tiba di wilayah yang diberi nama Kalas, Vinaya dan Ayod langsung menyadari bahwa inilah tempat di mana mereka akan menciptakan Hutan Kalas. Vinaya, yang merupakan perwujudan pohon kelapa, dan Ayod, yang mewakili bunga mawar, memutuskan untuk menggabungkan kekuatan mereka untuk menciptakan lingkungan yang indah dan seimbang. Dengan perasaan tulus dan tekad yang kuat, mereka memulai proses penciptaan Hutan Kalas.


    Namun, dalam upaya mereka, terjadi momen ketegangan yang hampir merenggut nyawa Ayod. Vinaya merasakan bahwa Ayod hampir saja mengorbankan dirinya sendiri dalam upaya bersatu dengan kekuatannya. Dalam keadaan genting ini, Gumintang mengetahui kejadian ini dan memberikan energi Aegir untuk membantu menyempurnakan kekuatan mereka. Gumintang mengirimkan getaran positif yang menenangkan kepada Vinaya dan membantu mereka menggunakan kekuatan pikiran maya untuk menyelesaikan misi mereka.


    Gumintang memberitahu Vinaya untuk menggunakan kristal merah yang mereka bawa untuk menggantikan Ayod. Dalam sekejap, Ayod kembali ke kesadarannya, dan kristal merah yang dipilih untuk mewakili kekuatannya telah habis terpakai karena energinya telah diberikan sepenuhnya untuk menciptakan Hutan Kalas.


    Meskipun kristal merah itu telah lenyap, Hutan Kalas telah menjadi karya yang luar biasa. Vegetasi yang indah, beragam tanaman, dan atmosfer yang harmonis mengisi wilayah itu. Vinaya dan Ayod merasakan perasaan puas dan bahagia yang mendalam karena berhasil menyelesaikan misi mereka dengan cinta dan dedikasi yang tulus. Hutan Kalas menjadi tempat di mana semua makhluk dapat hidup bersama, menciptakan lingkungan yang damai dan penuh kehidupan di dataran selatan.


    Gumintang dengan penuh bangga melihat kesuksesan mereka dan menyadari betapa pentingnya persatuan dan kerja sama dalam menjaga keselarasan alam. Perjalanan belum usai, tetapi setiap langkah yang diambil oleh para penjaga dataran telah memberikan dampak besar pada seluruh dunia di sekitar mereka.


Menumbuhkan Tanaman Obat untuk Kin’Yobi

__ADS_1


    Keberhasilan Koloni Sadako dalam menyelesaikan misi di tiga titik horizontal dataran Negeri Segara sejalan dengan kebangkitan Hako dalam wujud Hisha, Banes, yang telah memanifestasikan segala energinya untuk pertama kalinya dalam sejarah Kin’Yobi. Banes menghadapi tugas yang penting, yaitu mengumpulkan persatuan energi kehidupan. Sayangnya, sebuah bola air kehidupan terpaksa digunakan untuk menghijaukan dataran Negeri Segara.


    Rajas, Argogos, Or’or, Sile, Norg, Gigel, Noru, Baldax, Zerab, Mogalri, Kora, Ibo, Zorg, Impaler, Ripper, Krueger, Jiao, dan Nao berkumpul di Hutan Vikrama. Gumintang memberitahukan kepada mereka dengan tegas, “Marilah kita bersatu mencari tanaman obat bernama Jirandaya. Tanaman ini dijaga oleh mahluk bernama Kalastaru yang berasal dari Hutan Kalas. Makhluk ini telah diciptakan sebagai penjaga Hutan Kalas, dan tugas kita adalah untuk mencari tanaman obat Jirandaya. Namun, Kalastaru berbeda dari Diagra. Kebangkitannya harus dihentikan.”


    Banes tiba-tiba melebur ke dalam udara, cahaya hitam menggelapkan langit hingga ke angkasa. Ini menunjukkan bahwa energi Banes sedang mencapai puncaknya. Namun, Biosa saja tidak cukup memberikan kehidupan bagi Banes. “Yang Agung, izinkanlah aku bersama Eleonor untuk bergabung dalam pencarian ini,” ungkap Hako dengan tulus dan tekad untuk membantu.


    “Tidak, Hako,” Gumintang mengucapkan dengan lantang.


    “Takdir ini bukanlah bagian dari perjalananmu,” tambah Gumintang.


    “Kapan kita akan memulainya, Yang Agung?” tanya Rajas penuh semangat.


    “Banes, ingatkah kamu saat energimu turut membantu melepaskan Zarpo dalam tubuh Eleonor?” tanya Gumintang kepada Banes.


    “Aku mengingat semuanya,” jawab Banes.


    Sebagai bagian dari peristiwa Prasta Ning Ayoda, siapa pun yang menyentuhnya tanpa memiliki takdir yang bersangkutan akan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Eleonor. Meskipun Banes tidak bermaksud mengambilnya secara paksa, Prasta Ning Ayoda memahaminya. Oleh karena itu, Banes diarahkan untuk mengunci energinya dalam kesatuan dengan Aegir Segara sampai berhasil mendapatkan Jirandaya.


    "Kalian tak perlu hanya fokus pada pencarian Jirandaya. Marilah kalian bantu terlebih dahulu Naya dalam usahanya untuk menghijaukan seluruh dataran Negeri Segara," ucap Banes dengan suaranya yang perlahan memudar.


    "Kekuatan Banes telah menghilang bersama dirinya, namun Rajas, Argogos, Or’or, Sile, Norg, Gigel, Noru, Baldax, Zerab, Mogalri, Kora, Ibo, Zorg, Impaler, Ripper, Krueger, Jiao, dan Nao, kalian telah mendengar kata-kata Banes. Kita harus bersatu dalam pencarian Jirandaya," kata Gumintang dengan tekad yang kuat.


Naya Menyempurnakan Hamparan Hijau


    Kejadian demi kejadian telah terjadi begitu cepat, Naya mengucapkan mantra Hisha untuk memulai menyempurnakan misi dari penghijauan Negeri Segara. Kekuatannya perlahan menyinari seluruh dataran Negeri Segara secara garis horizontal. Bunga teratai setiap perbatasan Negeri Segara mengeluarkan serbuk bunga dan menyatu dengan Naya.


    Naya mencapai wujud Superiornya. Begitupun dengan Hako, Gumintang pada wujud superiornya karena persatuan keempat koloni Negeri Segara. Bahkan kristal putih dan hitam bersatu.


    “Hisha!!!” ucap mantra Naya.


    “Jar Eyar!!!” ucap mantra Gumintang.


    Rajas, Argogos, Or’or, Sile, Norg, Gigel, Noru, Baldax, Zerab, Mogalri, Kora, Ibo, Zorg, Impaler, Ripper, Krueger, Jiao, dan Nao pun mengambil posisi melingkar. Hako dan Eleonor dalam persatuan memberitahukan bahwa Negeri Segara akan terjadi sebuah hujan cahaya hitam dan putih untuk pertama kalinya yang dengan membentuk formasi Murva yang begitu kuat mengelilingi lingkaran yang dibuat oleh Gumintang dan Naya.


    Naya bekerja keras dengan tekad bulat untuk mengubah seluruh dataran Negeri Segara menjadi sebuah taman yang hijau dan subur. Dengan kekuatan yang dimilikinya, serta dukungan dari para penjaga dataran, dia berhasil mengatasi berbagai rintangan dan hambatan dalam perjalanannya. Pohon-pohon raksasa, bunga-bunga yang berwarna-warni, dan rerumputan yang segar mulai menjamur di setiap sudut dataran, menciptakan pemandangan yang menakjubkan.


    Sementara Negeri Segara mengalami perubahan yang luar biasa, keberhasilan ini juga memiliki akibat pada persatuan keempat kristal di berbagai koloni. Kristal hitam dan kristal putih, yang selama ini menjadi simbol persatuan dan kekuatan, perlahan-lahan mulai memudar. Saat Naya menghijaukan dataran dengan kekuatan energinya, persatuan keempat koloni tersebut mencapai puncaknya dan kristal-kristal itu lenyap bersamaan. Begitupun dengan bunga teratai penjaga dataran Negeri Segara yang ikut lenyap.


    Koloni Sadako, Koloni Kunang-Kunang, Koloni Kin’Yobi, dan Koloni Getsuwage merasakan kehadiran kristal-kristal itu lenyap dari pusat kekuatan mereka. Namun, tidak ada sedikit pun penyesalan dalam hati mereka. Mereka menyadari bahwa perubahan ini adalah harga yang harus dibayar untuk keseimbangan alam dan keberlangsungan Negeri Segara.


    Dengan bantuan dan kerja sama semua penjaga dataran, Negeri Segara kini menjadi tempat yang harmonis dan indah. Hijau yang menghijau, warna yang melimpah, dan kehidupan yang berkembang di setiap jengkal tanah adalah bukti dari upaya keras yang telah mereka lakukan. Meskipun kristal-kristal telah lenyap, persahabatan dan semangat yang terjalin di antara penjaga dataran tetap kokoh, dan mereka bersama-sama melangkah menuju masa depan yang lebih cerah.


    Pada akhirnya, kehijauan Negeri Segara bukan hanya cerminan dari keberhasilan Naya dan para penjaga dataran, tetapi juga menggambarkan kekuatan persatuan, kerja keras, dan kecintaan terhadap alam yang mampu mengubah nasib dan menciptakan keajaiban di dunia ini.


    Gumintang dengan tekad yang kokoh mendorong mereka terus melangkah dalam perburuan Jirandaya. Namun, saat langkah mereka merambah Hutan Kalas yang gelap dan misterius, takdir tiba-tiba mempertemukan mereka dengan rahasia yang mengguncang. Di tengah bayang-bayang yang merayap dan angin yang berbisik, kebenaran yang mengejutkan sedang bersiap untuk mengubah segalanya, mengikat takdir mereka dengan misteri yang mengelilingi Negeri Segara.


~ Catatan ~


    Pengorbanan adalah mata uang tak terlihat di balik setiap pencapaian.


    Dalam setiap langkah menuju kesuksesan, seseorang akan merelakan bagian dari dirinya.


    Bahkan ketika kita berpikir bahwa tidak ada usaha, keheningan diri pun telah menjadi pengorbanan yang tak terungkap.


    Kegagalan adalah penguji sejati identitas kita, mengukir jejak perjalanan yang membentuk diri menjadi lebih kuat.


    Namun, di tengah hiruk-pikuk perjalanan ini, satu hal tetap tegak: konsistensi.


    Konsistensi adalah tonggak yang mendukung setiap langkah menuju tujuan akhir.


    Fokuslah seperti sinar matahari yang menembus kabut pagi, menerangi jalan menuju impian.


    Jangan tergoda untuk memutar haluan, karena hanya dengan konsistensi kita mampu meraih bintang yang dulu hanyalah impian di langit malam.

__ADS_1


    Ingatlah, di setiap langkah, setiap perjuangan, dan setiap pengorbanan, kita mengukir cerita yang tak tertulis.


    Dan saat kita meraih kesuksesan dengan keringat dan ketekunan, kita melihat bahwa setiap pengorbanan adalah bagian penting dari kisah yang menjadikan kita siapa kita saat ini.


__ADS_2