Gumintang Kunang-Kunang

Gumintang Kunang-Kunang
Penciptaan Jenuz


__ADS_3

    Pertahanan barat daya, yang sebelumnya berhasil diungguli oleh Banes dan Sambu, telah membuat para musuh terdesak dan mundur. Bahkan, Rerq, pemimpin pasukan Jenuz Ungu, telah berada dalam kurungan mata dewa milik Sambu, menguatkan garis pertahanan barat daya yang dipertahankan dengan keberanian oleh para koloni. "Hahaha… mereka kabur terbirit-birit," gumam Banes, merasakan kemenangan di udara.


    “Banes, segera masuk ke dalam garis pertahanan!” seru Hako dengan nada serius. Kekhawatiran ini didasari oleh pemahaman bahwa serangan musuh yang lebih besar mungkin akan terjadi. Hako memutuskan untuk memperkuat pertahanan di setiap sisi, menghindari risiko Banes terkena serangan yang mungkin akan dilancarkan oleh musuh.


    Garis pertahanan pun ditutup kembali oleh Hako. “Nawa Gedo!” Perlahan-lahan, di udara, terbentang remang-remang benang cahaya yang penuh dengan kerlap kerlip bintang berwarna merah mengelilingi pertahanan barat daya.


    Banes telah berhasil mempertahankan barat daya dengan kemampuannya yang luar biasa. Sambu kemudian mendapatkan informasi dari Hacibi dan Wobu bahwa, “Sambu, ternyata Negeri Jaez adalah koloni Negeri Segara yang terlempar oleh kekuatan Aegir sendiri.”


    Sambu lantas bertemu dengan Rerq di pikiran maya. Sambu melihat begitu banyak informasi yang diterima sehingga dia merasa dengung di telinganya semakin keras, mencoba mengolah semua pengetahuan yang baru didapatnya.


    Dalam sejarah Ordes Dih Aweyam sebagai energi inti dari pusat Aegir, terjadi penciptaan empat koloni di Negeri Segara, yakni: Koloni Kunang-Kunang, Koloni Kin’Yobi, Koloni Sadako, dan Koloni Getsuwage. Keempat koloni ini memancarkan beragam cahaya, masing-masing melambangkan elemen penyeimbang yang penting. Kunang-Kunang dengan cahaya kuning melambangkan kemakmuran dan kebajikan, Kin’Yobi dengan cahaya hitam melambangkan keberanian dan kekuatan, Sadako dengan cahaya hijau melambangkan ketenangan dan kebahagiaan, sementara Getsuwage dengan cahaya merah melambangkan kemandirian dan ketegaran.


    Sambu menyaksikan proses penciptaan Aegir yang membentuk Getsuwage, yang akhirnya terpecah menjadi dua: cahaya merah mewakili Hako dan cahaya biru sebagai Hiranya. Dua kekuatan yang semula bersatu, kini terbagi menjadi dua entitas yang tetap sempurna.


    "Aku begitu terpesona melihat keindahan dan kekuatan energi ini, meskipun hanya dalam bentuk pikiran maya," gumam Sambu, memandang terbentuknya Getsuwage.


    Kekuatan yang begitu besar itu bergema di seluruh alam semesta. Getsuwage menjadi koloni keempat Negeri Segara di dataran selatan. "Hadirilah di dataran selatan, Getsuwage... kamu akan dikenal sebagai Getsuwage yang menguasai ilusi maya," Terdengar suara Aegir menggelegar di seluruh semesta.


    Dalam dentuman yang berulang-ulang, sebuah cahaya putih yang mempesona muncul setelah beberapa saat. "Apakah ini Xar?" gumam Sambu dengan bingung saat memperhatikannya. "Tidak, ini bukan Xar."


    "Wahai, Hiranya, apakah kamu memberikan tempat bagi Jenuz di Negeri Segara?" tanya Aegir.

__ADS_1


    “Dalam Ordes Dih Aweyam, hanya empat koloni yang tercantum di Negeri Segara. Bagaimana jika Aegir menambahnya?” tanya Hiranya lagi.


    “Seperti dirimu yang dulunya adalah Fulmala dan kini menjadi Hiranya, apakah kamu akan memberikan kesempatan pada Jenuz?” tanya Aegir.


    “Jika keputusan berada di tanganku, aku tidak akan memberi tempat selain keempat koloni di Negeri Segara. Itu akan mengacaukan keseimbangan Ordes Dih Aweyam,” jawab Hiranya.


    “Baiklah, Jenuz akan aku tempatkan di sebuah negeri yang cukup jauh dari Negeri Segara untuk memulai peradaban baru di wilayah tersebut,” jelaskan Aegir.


    Sebelum akhirnya ditempatkan di Negeri Jaez, Jenuz berkata bahwa, “Akan ada makhluk yang tercipta dari Ordes Dih Aweyam yang akan mengakibatkan ketidakseimbangan di dalamnya, tidak memiliki kekuatan sama sekali, namun akan melemahkan keempat koloni di Negeri Segara.”


    Ucapan tersebut jelas terdengar bagi Sambu yang menyaksikan Jenuz terlempar berkilometer-kilometer jauh dari Negeri Segara. Keputusan Aegir Segara memenuhi permintaan Hiranya karena penciptaan Jenuz berada di luar kendali Aegir, terlahir dari keangkuhan dan kemarahan, berbeda dengan Banes, Jenuz tidak terkendali.


    “Apakah Xar yang dimaksudkan oleh Jenuz?” gumam Sambu dalam hatinya. "Di mana makhluk yang dimaksud oleh Jenuz tersebut berada?" Sambu masih bertanya-tanya. Jenuz, yang akhirnya memulai peradaban di Negeri Jaez, berada dalam keadaan tidak terkendali tanpa pengendalian energi inti, Ordes Dih Aweyam. Gejolak ini semakin membesar seiring berjalannya waktu. Beberapa kali, dalam pertemuan mereka dengan Aegir Segara, Jenuz mengulangi pertanyaan yang sama, "Kapankah peradaban Negeri Jaez dapat terpusat dengan energi inti?" Menyikapi pertanyaan yang berulang-ulang dari Jenuz, Aegir Segara dengan tegas menjawab, "Semua makhluk harus bersatu di bawah bimbingan Ordes Dih Aweyam. Jika makhluk berada begitu jauh, mereka harus mampu mengendalikan diri melalui energi inti, karena pecahan Ordes Dih Aweyam mengalir kepada mereka yang mampu mengendalikan energi inti."


    Semenjak kesatuan Jenuz Roghitman, peradaban di Negeri Jaez perlahan dimulai. “Ordes Dih Aweyam sama sekali tidak mencatat peradaban Negeri Jaez,” gumam Sambu, penuh kebingungan. Lantas, Sambu teringat bahwa Aegir Segara memberikan energi inti kepada setiap makhluk Jenuz. “Mungkin itulah mengapa sejarah mereka dicatat secara terpisah. Apakah karena mereka belum mampu atau justru mampu begitu cepat?” Pertanyaan Sambu membuat dirinya terus merenung, mencoba mencari jawaban atas fenomena ini.


    Dalam kesatuan, Sambu berbincang dengan Aegir Segara, “Wahai, Kunang-Kunang, mengapa dirimu begitu bingung akan peristiwa ini? Sejarah tetap mencatat bahwa Negeri Jaez adalah bagian dari alam semesta ini,” ucap Aegir.


    “Wahai Aegir Segara, aku tidak bingung akan segala penciptaanmu, aku meyakini kesempurnaan telah ada pada dirimu. Namun, dalam benakku, pertanyaan besar terus mencuat, lantas mengapa makhluk Jenuz menyerang para koloni di Negeri Segara dengan begitu membabi buta?” tanya Sambu, bertekuk lutut di hadapan Aegir Segara.


    “Tahukah bahwa Jenuz telah dibutakan oleh sebuah kekuasaan? Pengendaliannya tidak akan mampu diatasi oleh sebuah energi inti semata, Hiranya yang kamu anggap sebagai ibu penghianat, itu tidaklah benar. Hiranya mengambil keputusan besar ini karena Jenuz hanya akan menyebabkan Negeri Segara cepat hancur oleh ketidakseimbangan Ordes Dih Aweyam,” jelas Aegir Segara.

__ADS_1


    “Mengapa kamu memberikan energi inti kepada setiap makhluk Jenuz, Aegir?” tanya Sambu dengan penuh kehati-hatian.


    “Pada masanya, Jenuz akan merasa bahwa dirinya mengalami ketidakadilan,” jelas Aegir Segara.


    “Mengapa tidak dimusnahkan saja?” tanya Sambu.


    “Setiap peristiwa yang lampau menjadikan kita pembelajaran. Jenuz telah memberikan pemahaman terhadap pengendalian diri yang baik tanpa atau adanya energi inti, semuanya sama saja, justru mengendalikan diri tanpa pisau lebih aman dilakukan,” terang Aegir Segara. “Namun, Jenuz terus menerus mendesak untuk membawa energi inti kepada Negeri Jaez, ini justru lebih membahayakan.”


    “Apakah selamanya Jenuz akan menyerang Negeri Segara?” tanya Sambu.


    “Negeri Jaez akan terus menerus menyerang hingga menguasai Ordes Dih Aweyam. Jika itu terjadi, kekuatan Jenuz akan bertumbuh menjadi lebih kuat,” terang Aegir.


    “Aegir… Aegir…” panggil Sambu yang mulai terputus-putus dalam kesatuan bersama Aegir. “Lantas apa yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan Negeri Segara?”


    “Telusuri dan cari tahu kelemahan Jenuz,” sahut Aegir Segara.


    Guncangan batin Sambu terjadi karena Rerq mencoba melawan pikiran maya Sambu, si mata dewa. Konsentrasi Sambu terputus, dan hubungannya dengan Aegir Segara terganggu.


    Pertanyaan Sambu tentang kebingungannya akhirnya mendapatkan jawaban. Sambu memutuskan untuk menyusun rencana baru untuk pergi ke Negeri Jaez, menjelajahi wilayah tersebut, dan membuat kesepakatan dengan Jenuz. Akankah rencana Sambu berhasil menyelamatkan Negeri Segara? Bagaimana perjalanan Kin’Yobi di dimensi maya? Apakah salah satu dari mereka berhasil mendapatkan koordinat Negeri Jaez?


~ Catatan ~

__ADS_1


    Sang penakluk kekuatan tidak memerlukan kekuatan fisik yang besar, kebajikan dan pengetahuan suci sudah cukup untuk menaklukkannya. Sederhananya, memahami sesuatu yang rumit dari berbagai sudut pandang tidak sulit jika kita membuka pikiran untuk melihatnya dari segala arah.


__ADS_2