Gumintang Kunang-Kunang

Gumintang Kunang-Kunang
Penjelajahan Kin'Yobi dalam Dimensi Jaez


__ADS_3

    Para koloni Kin’Yobi telah melakukan penelusuran di setiap dimensi dengan membidik senjata Jenuz. Sebelumnya, senjata Jenuz telah dihancurkan berkeping-keping untuk menghentikan pelacakan oleh makhluk Jenuz di tempat persembunyian di hutan Kalas. Pertarungan sengit pun terjadi, dikenal sebagai pertahanan barat daya. Strategi bertahan digunakan untuk mengukur kemampuan musuh dalam pertarungan.


    Rajas, Argogos, Or’or, Sile, Norg, Gigel, Noru, Baldax, Zerab, Mogalri, Kora, Ibo, Zorg, Impaler, Ripper, Krueger, Jiao, dan Nao berhasil mendapatkan titik koordinat Negeri Jaez. Namun, Rajas, Or’or, Sile, Gigel, Noru, dan Baldax terperangkap dalam sebuah pertarungan dengan musuh setelah terdeteksi dalam radar musuh. Mereka dihadapkan oleh makhluk bernama Datarangi, naga hitam aneh dengan dua tanduk putih di atas kepalanya.


    “Hati-hati, naga ini memiliki kilatan petir di tanduknya. Kita harus menyerang dalam jarak dekat untuk melemahkan efek kilatan,” ucap Rajas.


    “Hahaha… sebaiknya kita amati dulu gerakan naga ini,” kata Or’or.


    “Tidak! Kilatan itu terlalu berbahaya. Tanduk putihnya bisa mendeteksi kekuatan kita dengan akurat, dan serangannya sangat membabi buta,” peringatkan Rajas.


    “Bagaimana kita bisa mengalahkannya?” tanya Or’or.


    "Serangan jarak dekat, tapi kita lakukan bersama-sama," jawab Rajas.


    "Cih! Baiklah, mari kita lakukan," kata Or’or. "Serang!!"


    Rajas, Or’or, Sile, Gigel, Noru, dan Baldax melancarkan serangan mereka kepada Datarangi. "Byush… byush!" Pergerakan mereka begitu cepat seperti angin, mengacaukan konsentrasi Datarangi.


    Datarangi yang kesal, melesatkan semburan api dari tubuhnya, membakar semua dataran di sekitarnya, membuat udara terasa panas. "Awas! Cepat pergi ke dimensi maya!" perintah Rajas, menyadari bahwa rumput-rumput di bawah dapat digunakan sebagai pelumpuh bagi yang menghirup udara panas itu.


    "Byush! Btyush! Uzzh!" Suara angin perpindahan dimensi yang cepat dikomandoi oleh Rajas.


    Tak berselang lama, rumput-rumput itu mengeluarkan asap. Asap putih membubung tinggi ke udara. Namun, pertarungan tak terelakkan; Datarangi mengungguli Rajas, Or’or, Sile, Gigel, Noru, dan Baldax.


    "Baldax, gunakan kekuatanmu untuk mematahkan tanduk putih itu," kata Or’or.


    "Baiklah, akan kucoba mematahkannya," sahut Baldax.


    "Perhatikan, kita harus tetap berada dalam jarak dekat, sangat dekat," peringatkan Rajas kepada yang lainnya. "Tidak boleh ada yang mati dalam pertempuran ini!"


    Rajas, Or’or, Sile, Gigel, Noru, dan Baldax kembali menghadapi Datarangi.


    "Hahaha… apakah kalian takut melawan ku sehingga harus bersembunyi begitu lama?" kata Datarangi. "Pulanglah, aku belum sepenuhnya ingin bertarung dengan musuh yang lemah seperti kalian!"


    "Simpanlah kata-katamu untuk saat terakhirmu saja!" balas Rajas. "Rasakan ini, makhluk aneh!"


    Kreetak! Suara retakan dari tanduk Datarangi bergema di udara.


    “Arrrgh! Rasakan ini!” teriak Datarangi, gemetar oleh kemarahannya.


    “Ayo, kembali ke dimensi maya!” teriak Rajas. Rajas, Or’or, Sile, Gigel, Noru, dan Baldax segera menyembunyikan diri di dimensi maya.


    Namun, dengan kejutan yang tak terduga, Datarangi tahu tempat persembunyian mereka. Dengan satu ayunan ekornya yang kuat, Datarangi menghantam Rajas, Or’or, Sile, Gigel, Noru, dan Baldax.


    “Noru, Baldax, segera kembali ke Negeri Segara. Kalian sudah terluka parah. Aku telah berjanji kepada Banes bahwa tak seorang pun dari kita akan mati!” teriak Rajas tegas.


    Noru dan Baldax, yang telah terluka parah, segera melarikan diri.

__ADS_1


    “Hahaha… cepat lari, kalau tidak, kalian akan mati! Hahaha…” Datarangi mengolok-olok dengan suaranya yang keras.


    “Sialan! Makhluk ini terlalu kuat!” gerutu Rajas.


    “Tidak ada cara lain untuk menjelajahi Negeri Jaez kecuali kita mengalahkan makhluk ini,” kata Or’or.


    “Apakah kalian ingat apa yang dikatakan oleh Poram ketika mengalahkan Rotar di Negeri Jaez?” tanya Rajas.


    “Hm… Arcapo,” jawab Or’or.


    “Tapi bagaimana kita bisa membuat Arcapo? Kita memerlukan dua energi dari Koloni Kunang-Kunang…” kata Gigel.


    “Sile! Aku ingat kamu pernah mendapatkan satu serpihan logam dari senjata Jenuz. Ayo, mari kita coba mengalahkannya dengan menggunakan senjata Jenuz itu,” ucap Or’or.


    “Hm… mari kita coba!” kata Rajas.


    Lexacus Edam! Bom!


    Sebuah senjata Arcapo menghantam tubuh Datarangi hingga membuatnya roboh di dataran.


    “Hahaha! Rasakan itu!” seru Or’or.


    “Kita sebaiknya menghancurkannya,” ucap Or’or.


    “Benar, mari kita hancurkan. Makhluk ini sangat kuat; jika bangkit kembali, kita bisa dalam bahaya,” sahut Gigel dan Sile bersamaan.


    Boom! Datarangi telah dikalahkan. Penjagaan Negeri Jaez di dataran utara dan selatan runtuh dengan cepat. Rajas dan Gigel akan menjelajahi dataran Negeri Jaez, sementara Sile dan Or’or akan kembali ke Negeri Segara untuk memberitahu yang lain bahwa mereka telah berhasil mencapai Negeri Jaez dan mengalahkan Datarangi.


    Setelah mengalahkan Datarangi, informasi disampaikan ke Negeri Segara dengan keberitaan bahwa mereka telah berhasil mencapai Negeri Jaez dan menghancurkan penjagaannya. Namun, keberhasilan mereka tidak membuat Sambu merasa lega. Kegelisahan masih merayap di dalam benaknya. Sambu tahu bahwa tantangan yang lebih besar masih menanti di depan.


    Di Negeri Segara, Sambu mulai merencanakan ekspedisi ke Negeri Jaez. D Sambu ia memilih pasukan terbaiknya, termasuk Banes, Naya, Poram, dan anggota koloni Kin’Yobi yang telah mengalami pertarungan di dimensi maya. Mereka semua bersatu untuk mempersiapkan diri menghadapi ancaman dari Negeri Jaez.


    Sambu menggelar pertemuan. "Kita harus memahami musuh kita dengan baik. Kita tahu bahwa energi inti dari Negeri Jaez sangat kuat dan memiliki kemampuan untuk menghadapi kami di dimensi maya. Tetapi kita punya kekuatan gabungan, pengetahuan suci, dan keberanian. Jika kita bekerja bersama, kita pasti bisa mengatasi semua rintangan," ujar Sambu dengan penuh keyakinan.


Pantauan Rajas dan Gigel


    Rajas dan Gigel terus memperhatikan situasi di sekitar mereka. Mereka melihat dengan seksama bagaimana makhluk Jenuz menghilang setelah mengonsumsi buah anggur putih. Keduanya merasa semakin khawatir karena buah tersebut tidak hanya menyediakan energi, tetapi juga meningkatkan kekuatan makhluk Jenuz dengan pesat.


    "Dari mana mereka mendapatkan buah ini?" tanya Gigel, masih dalam kebingungan.


    "Aku juga merasa bingung dengan anggur putih ini," kata Rajas sambil memperhatikan penjaga ilusi di sekitar mereka. Kaca yang tadinya tampak seperti ilusi kini terlihat jelas sebagai penjaga buah anggur putih.


    "Ayo kita cari tahu lebih lanjut," ucap Gigel dengan tekad.


    Rajas dan Gigel bergerak hati-hati mendekati penjaga ilusi. Mereka merasa tegang, menyadari bahwa setiap langkah mereka harus hati-hati agar tidak terdeteksi oleh penjaga tersebut.


    "Tinggalkan itu padaku," bisik Rajas kepada Gigel. "Aku akan mencoba mengelabui penjaga ini. Saat aku memberi isyarat, kau segera serang."

__ADS_1


    Gigel mengangguk sebagai jawaban. Dia memperhatikan setiap gerak-gerik Rajas dengan ketelitian.


    Rajas mulai mengeluarkan energi dengan sangat perlahan, menciptakan ilusi palsu dari dirinya sendiri. Ilusi tersebut menyusup ke dalam benak penjaga, membuatnya melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada.


    Saat penjaga terlihat bingung dan terpecah konsentrasi, Rajas memberikan isyarat kepada Gigel. Tanpa ragu, Gigel meluncurkan serangan balik yang cepat dan presisi.


    "Lexacus Edam!" seru Gigel sambil melepaskan serangan Arcapo ke arah penjaga ilusi. Serangan tersebut berhasil menyerang penjaga, membuatnya kehilangan keseimbangan dan menghilang bersama dengan ilusinya.


    "Kita berhasil!" ucap Rajas dengan lega, tetapi segera dia merasa gelisah. "Tapi ini baru awal. Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang asal-usul buah anggur ini dan bagaimana cara menghentikan pasokannya kepada makhluk Jenuz."


    Gigel mengangguk setuju. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka di Negeri Jaez baru saja dimulai, dan tantangan yang lebih besar mungkin menanti di depan. Dengan tekad yang kuat, mereka melanjutkan perjalanan mereka, siap menghadapi segala rintangan yang mungkin muncul di negeri misterius ini.


    Saat Rajas dan Gigel melanjutkan perjalanan mereka melalui dataran Negeri Jaez yang tandus, mereka terus mencari tanda-tanda keberadaan makhluk Jenuz dan sumber buah anggur putih tersebut. Mereka berdua merasa tekanan energi yang tumbuh semakin kuat seiring dengan mendekatnya mereka ke pusat Negeri Jaez.


    "Sesuatu yang besar pasti sedang terjadi di sini," kata Rajas, memecahkan keheningan. "Aegir Segara pasti terkait dengan semua ini."


    Gigel mengangguk setuju. Mereka berdua terus berjalan, mencari petunjuk dalam kegelapan yang mengelilingi mereka. Tiba-tiba, mereka melihat cahaya samar di kejauhan.


    "Apa itu?" tanya Gigel, menunjuk ke arah cahaya tersebut.


    Rajas merasakan energi yang kuat berasal dari arah cahaya tersebut. "Aku merasa ada kehadiran yang kuat di sana. Mari kita periksa."


    Rajas dan Gigel mendekati cahaya dengan hati-hati. Semakin mendekat, cahaya tersebut semakin terang, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan yang dikelilingi oleh pepohonan anggur yang menjalar. Di pintu masuk, Rajas dan Gigel melihat dua makhluk Jenuz yang bertugas menjaga.


    "Mereka pasti menjaga sesuatu yang penting di dalam bangunan ini," ucap Gigel, mempersiapkan diri untuk pertempuran.


    Rajas mengamati dengan cermat dan melihat bahwa salah satu dari makhluk Jenuz tersebut memegang sebuah buah anggur putih. "Itu dia, Gigel. Kita harus mendapatkan buah anggur itu dan mencari tahu lebih banyak tentang sumbernya."


    Dengan gerakan yang cepat dan presisi, Rajas dan Gigel melancarkan serangan kejutan kepada kedua makhluk Jenuz tersebut. Pertempuran pecah di pintu masuk kuil, dengan sinar-sinar energi yang memenuhi udara. Rajas dan Gigel menggunakan keahlian dan kekuatan mereka untuk mengalahkan musuh-musuh tersebut.


    Setelah berhasil mengalahkan makhluk Jenuz, Rajas mengambil buah anggur putih dari tangan salah satu dari mereka. "Ayo masuk ke dalam bangunan ini. Kita mungkin akan menemukan jawaban di sini."


    Mereka masuk ke dalam bangunan dengan hati-hati. Di dalam, mereka menemui lorong-lorong gelap yang dihiasi dengan ukiran-ukiran kuno. Rajas dan Gigel melanjutkan eksplorasi mereka, mengikuti lorong-lorong tersebut yang akhirnya membawa mereka ke sebuah ruangan besar yang penuh dengan energi yang berkobar-kobar.


    Di tengah ruangan, Rajas dan Gigel melihat sebuah altar yang dikelilingi oleh buah anggur putih yang bersinar-sinar. Di atas altar, terdapat sebuah artefak kuno bercahaya yang terlihat sangat kuat dan memancarkan aura misterius.


    "Inilah sumber kekuatan mereka," kata Rajas, matanya bersinar-sinar. "Kita harus menghancurkannya."


    Rajas dan Gigel mengeluarkan kekuatan terakhir mereka untuk menghancurkan artefak tersebut. Dengan serangan yang bersamaan, artefak ini hancur berkeping-keping, membebaskan energi yang sebelumnya terkurung di dalamnya.


    Tetapi, sebelum Rajas dan Gigel bisa merayakan kemenangan mereka, sebuah kehadiran misterius muncul di ruangan tersebut. Seorang makhluk yang mengenakan jubah hitam dan mengenakan topeng emas berdiri di hadapan mereka.


    "Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya makhluk tersebut dengan suara menggema.


    Keduanya saling pandang, siap menghadapi ancaman baru yang muncul di depan mereka. Petualangan Rajas dan Gigel di Negeri Jaez masih belum berakhir, dan misteri yang lebih dalam dan bahaya yang lebih besar masih menanti di negeri misterius ini.


~ Catatan ~

__ADS_1


    Kekuatan yang begitu dahsyat tanpa pengetahuan suci, bukankah itu sia-sia? Keseimbangan antara kekuatan dan kelemahan menjadi daya tarik utama mengapa semesta selalu bertahan di setiap zaman.


__ADS_2