Gumintang Kunang-Kunang

Gumintang Kunang-Kunang
Rahasia Aegir Segara Terungkap: Energi Utama Semesta


__ADS_3

    Perjalanan Gumintang masih harus menempuh jarak yang sangat panjang, menjadikan Negeri Segara sebagai tempat petualangan yang dipenuhi dengan energi Aegir. Sebelumnya, Negeri Segara telah menjadi kawasan yang tandus akibat ketidakseimbangan energi Aegir, sebagai energi utama semesta. Keadaan kacau terjadi, yang berujung pada kehancuran yang melibatkan seluruh semesta. Kekuatan dahsyat Aegir tidak terkendali, dan itulah asal mula terciptanya alam semesta.


    Aegir, yang terpusat dengan kuat, memiliki peran yang agung dalam dimensi maya. Menyusuri daerah timur Negeri Segara memberikan Gumintang gambaran tentang aliran terus-menerus dari energi Aegir yang begitu deras di wilayah tersebut. Dalam keadaan bersatu, baik antara Naya dan Gumintang, mereka merasakan peringatan tentang ketidakstabilan energi Aegir.


    Firasat buruk yang dirasakan Naya juga dialami oleh Gumintang, sehingga ia segera bergerak menuju pusat Aegir. Gumintang berpamitan pada Naya, berencana untuk pergi ke pusat Aegir dan berjanji untuk kembali setelah mengetahui penyebabnya.


    “Kita perlu mengungkap asal mula perasaan buruk ini,” ujar Gumintang.


    “Apakah Anda juga merasakannya, Yang Agung?” tanya Naya.


    “Betul, saya merasakan hal yang sama seperti Anda, Naya,” jawab Gumintang.


    “Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Aegir, Yang Agung?” tanya Naya.


    “Saya harus pergi ke pusat Aegir dan berbicara dengan Putihnati,” jawab Gumintang. Dia memberikan pesan terakhir, “Saya akan segera kembali, Naya,” sambil berpaling pada Naya dan para Sadako.


    “Tentu saja, Yang Agung,” kata Naya.


    Gumintang segera menuju pusat Aegir dengan memanfaatkan kekuatannya. Perasaan buruknya membuatnya merasa lemah, karena energi Aegir terasa bergolak. Ini adalah pertanda buruk yang belum pernah Gumintang alami sebelumnya.


Ordes Dih Aweyam: Mencari Jawaban di Tengah Misteri


    Tiba-tiba, Pusat Aegir dipenuhi dengan kepanikan di antara para putihnati. Mereka semua berkumpul di Taman Aegir untuk menyatukan kekuatan putihnati, dan seperti lambat laun, kegelapan tampak merayap ke seluruh semesta. Cahaya yang biasanya memancar dari Negeri Segara tiba-tiba meredup, dan sinar dari Koloni Kunang-Kunang mulai menerangi Negeri Segara.


    “Yang Agung, para putihnati berkumpul di Taman Aegir,” kata Renaka memberi tahu Gumintang, yang tengah mengamati situasi yang berbeda di Pusat Aegir dari biasanya.


    “Terima kasih, Renaka. Saya akan segera pergi ke sana,” jawab Gumintang.


    Gemuruh menggema dari berbagai arah. Tanpa ragu, Gumintang melangkah menuju Taman Aegir untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Di Taman Aegir, kekacauan merajalela, seolah-olah Ordes Dih Aweyam sedang mengalami ketidakseimbangan.


    “Mengapa ini bisa terjadi?” Lira bertanya kepada Orgages.


    “Ordes Dih Aweyam memberi sinyal bahwa suatu perubahan besar sedang menuju demi keseimbangan. Itulah yang tertulis dalam takdir,” jawab Orgages.

__ADS_1


    “Apakah mungkin Ordes Dih Aweyam ini akan hancur?” Lira bertanya lagi.


    “Saat ini, kita harus bersatu untuk menjaga kestabilan Ordes Dih Aweyam. Kekuatan para putihnati harus bersama-sama,” jawab Orgages.


    Kekuatan putihnati digerakkan untuk menjaga agar Ordes Dih Aweyam tidak hancur. Gumintang juga bersatu dalam usaha ini. Energi yang menggelegak dari Ordes Dih Aweyam memaksa para putihnati untuk menahan tekanan yang sangat kuat.


    Blugblugblug ...


    Suara seperti gelembung di dalam air terdengar, semua energi fokus pada Ordes Dih Aweyam. Dalam sekejap, situasi Ordes Dih Aweyam berhasil diredam, dan gemuruh mereda. Namun, ini hanya sementara. Orgages mengusulkan untuk menghadap Aegir. Para putihnati menyatakan bahwa Orgages seharusnya menguasai Ordes Dih Aweyam agar Aegir yang sedang menjalankan proses kesatuan semesta, yang disebut Acintya, tidak terganggu.


    Aegir, dalam proses kesatuan semesta, bertujuan mengarahkan semesta pada jalurnya yang seharusnya, menghubungkan cerita dari awal hingga akhir. Namun, Ordes Dih Aweyam, dengan gejolak energinya yang tak terduga, menjadi ancaman bagi para putihnati.


Sidang Putihnati: Kehadiran Takdir Pertama


    Setelah peristiwa tak terduga pada Ordes Dih Aweyam, Orgages mengumpulkan para putihnati untuk mengadakan sidang putihnati pertama. Sidang ini diadakan untuk membahas tentang keseimbangan semesta. Orgages, yang memimpin sidang, mengajukan pertanyaan kepada para putihnati yang hadir mengenai pengaruh Ordes Dih Aweyam.


    “Ordes Dih Aweyam mengalami ketidakseimbangan, dan semesta harus tetap stabil. Apakah ada di antara kita yang merasakan kekuatan yang menghilang akibat peristiwa pada Ordes Dih Aweyam?” tanya Orgages.


    “Apakah ini hasil dari ketidakseimbangan yang terjadi pada Ordes Dih Aweyam, Orgages?” tanya Gumintang.


    “Ordes Dih Aweyam adalah kekuatan dari segala sumber, sama seperti energi Aegir. Jika ini yang terjadi, kita harus memahami peristiwa ini dengan baik sebelum kita bertindak lebih lanjut, Orgages,” kata Gumintang.


    “Sebelum gemuruh dahsyat terjadi, tidak ada tanda-tanda aneh dari Ordes Dih Aweyam, Yang Agung,” kata Orgages.


    “Tetapi, Aegir Segara. Dalam Acintya, Aegir Segara menghasilkan energi baru, dan inilah yang terjadi ketika Sadako muncul, Orgages,” sambung Gumintang.


    “Mengapa Yang Utama (Aegir Segara) menyebabkan Ordes Dih Aweyam mengalami gelombang energi yang begitu kuat, Yang Agung?” tanya Renaka kepada Gumintang.


    “Bukan begitu. Tetapi, energi Aegir adalah Yang Utama, dan Ordes Dih Aweyam adalah yang utama kedua. Ketika keduanya berbenturan, terjadi suatu konflik. Seperti persatuan mereka belum sepenuhnya sempurna, bukankah begitu, Orgages?” Gumintang meminta pandangan dari Orgages.


    “Hm … Yang Agung, aku sadar bahwa putihnati seharusnya siap menghadapi konsekuensi dari persatuan ini,” kata Orgages.


    Putihnati berseru setuju bahwa ini adalah tanggung jawab bersama. Seruan ini menimbulkan semangat baru di antara mereka.

__ADS_1


    “Akan ada peristiwa besar di alam semesta. Sebuah penciptaan baru akan terjadi,” kata Orgages.


    Putihnati berseru dengan sukacita menyambut perkataan Orgages. Gumintang merasakan firasat yang tidak nyaman, di mana perasaan sedih dan bahagia tampaknya menyatu menjadi satu.


    Gumintang tetap berada di pusat Aegir, memantau aktivitas Ordes Dih Aweyam yang mungkin akan kembali bangkit dalam gelombang energi. Setelah sidang selesai, Gumintang mendekati Orgages untuk menemani melihat Enure.


Fragmentasi Energi Aegir: Kegetiran Alam Semesta


    Orgages bingung karena Ordes Dih Aweyam bergejolak energi, sementara Aegir Segara tetap dalam persatuan semesta. Para putihnati juga merasa hal yang sama. Dampak mengerikan ini membuat Orgages bertanya-tanya tentang kejadian Ordes Dih Aweyam kepada Aegir Segara.


    Tanpa diduga, gejolak kedua tiba-tiba muncul kembali. Orgages dan Gumintang bersatu di taman Aegir, bersama para putihnati, menggabungkan kekuatan mereka untuk menahan energi yang dapat mengancam keberlangsungan alam semesta. Meskipun berhasil menjaga keseimbangan dan menekan gejolak, suara gemuruh tetap bergema di seluruh penjuru. Dalam kesatuan, Aegir Segara memberi tahu mereka untuk bersiap menyambut sejarah baru di Negeri Segara.


    Para putihnati mendengar kabar tersebut dengan gembira dan bersuka cita. Aegir Segara berkata, "Orgages, para putihnati, dan Yang Agung, energiku mengalir di antara gemuruh, kegelapan, dan sorak suka. Xar akan menyeimbangkan Ordes Dih Aweyam di Negeri Semesta."


    Gemuruh masih bergema dan menakutkan. Para putihnati terus bersorak dengan gembira, sementara Orgages perlahan meredakan tangannya dari Ordes Dih Aweyam.


    Kemudian, energi Aegir meledak menjadi sinar terang dari awalnya yang gelap. Cahaya yang menyilaukan memenuhi ruangan. Gumintang kembali sadar di pusat Aegir. "Xar telah tercipta di alam semesta!!!" seru Orgages. Sorak sorai meriah dari para putihnati. Dalam hati Gumintang, ia bertanya, "Xar telah lahir di Negeri Segara, mungkinkah dia akan berada di dataran tengah?"


~ Catatan ~


    Bersuka cita adalah ungkapan syukur.


    Semesta berjalan sesuai dengan tujuannya, begitu pun makhluk yang tercipta di semesta.


    Semua mengikuti hukum semesta.


    Tidak ada yang mendahului.


    Semua harus berjalan sesuai dengan proses.


    Jangan sampai terlena atas keberhasilan hingga lupa memahami makna proses.


    Sehingga ketika seseorang terlena bersiaplah merasakan duka.

__ADS_1


    Karena semesta akan memantaskan bagi mereka yang layak dan berjalan di atas kebenaran.


    Tidak ada keabadian.


__ADS_2