Gumintang Kunang-Kunang

Gumintang Kunang-Kunang
Poram di Pusat Aegir


__ADS_3

    Ditengah-tengah pertempuran yang begitu dahsyat oleh para pemimpin koloni Segara: Banes, Hako, Sambu, dan Naya bersama pasukan Jenuz ungu, yang sedang membabi buta melawan para koloni Segara karena telah membunuh pemimpin Jenuz ungu, yakni Rerq. Poram, yang tengah mencari jawaban terhadap kematian Gumintang, menghadapi pasukan Jenuz sendirian. Apakah dia akan mati begitu saja? Pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran Poram membuatnya segera pergi ke pusat Aegir untuk bertemu dengan Orgages, pemimpin putihnati.


    Saat berada di istana bawah tanah...


    “Aku akan pergi ke pusat Aegir dan bertemu dengan pemimpin putihnati. Apakah kalian bisa bertahan di sini?” tanya Poram ketika melihat Sambu dalam formasi mata dewa.


    Seketika itu, Banes, Naya, dan Hako terdiam, terkejut mendengar ucapan Poram. Hako mengambil nafas begitu dalam. “Baiklah, aku akan menciptakan dua sosok Poram agar menjaga kestabilan pertahanan barat daya Negeri Segara. Apakah kalian setuju?” tanya Hako.


    Banes dan Naya pun menganggukkan kepala di tengah situasi genting ini. Mereka tidak bisa berpikir atau mengambil keputusan yang dapat mengakibatkan kerugian bagi Negeri Segara. “Sambil menunggu pemulihan kekuatanku, aku belum kuat untuk melawan mereka dengan jumlah yang begitu banyak. Pasukan Jenuz ungu terus menabrakkan diri mereka ke perisai pelindung secara terus-menerus,” kata Banes yang sedang dipulihkan oleh Naya dengan cahaya hijau.


    Poram pun menyetujui maksud Hako. “Baiklah, aku tidak keberatan. Enam puluh persen kekuatanku akan ada pada bayangan ini, sehingga kesadaranku akan cenderung berada di Negeri Segara, dan empat puluh persen tetap bersamaku ketika aku pergi ke pusat Aegir,” kata Poram.


    “Hm… bukankah itu akan membuatmu kesulitan membuka pintu utama Aegir, Poram?” tanya Naya.


    “Yang Mulia, Orgages telah memberikanku izin untuk datang dan pergi ke pusat Aegir sesuka hatiku, selama ada kekuatan yang tersimpan,” jelas Poram.


    Hako pun melakukan ilusi untuk menciptakan dua bayangan Poram. “Amatya!”


    Poram kini telah terbagi menjadi dua. “Aku akan segera pergi untuk mendapatkan jawaban dari Orgages. Aku berharap kalian semua mampu bertahan sekuat mungkin.”

__ADS_1


    "Byutz!" seru suara bergema. Poram pun melangkah menuju pusat Aegir. Poram melihat sekeliling pintu utama pusat Aegir, mengenang masa-masa di mana Poram bersama Yang Agung. Keinginannya yang paling besar adalah menjadi pelayan Yang Agung. "Sudah begitu lama semenjak kehilangan Yang Agung. Aku telah bertarung dengan tekun di sisi tuanku," gumam Poram dalam hatinya.


    Garwita, seekor merak, penduduk Putihnati, menyapa Poram. "Wahai Poram, ini pertama kalinya aku bisa bertemu denganmu," sapa Garwita dengan lembut, menyambut kedatangan Poram yang baru saja tiba di pusat Aegir.


"Aku hendak bertemu dengan Orgages, Garwita... aku sedikit lelah setelah perjalanan jauhku," jawab Poram.


    Poram melangkahkan kakinya menuju pintu tengah pusat Aegir, dan melanjutkannya hingga sampai ke tempat Orgages berada. Langkahnya terasa sedikit tertatih-tatih. Ingatannya begitu penuh dengan kenangan.


    "Poram? Apakah itu kamu?" tanya Orgages yang sedang sibuk melihat taman bunga di pusat Aegir. "Mengapa kamu terlihat begitu sedih, Poram?"


    "Jelas saja, Tuanku, Yang Agung. Dia telah pergi meninggalkanku, berusaha mengalahkan para Jenuz biru sendirian saat kebangkitan Hiranya," jawab Poram, seolah-olah mengadu dengan begitu mendalam.


    Orgages menatap Poram dengan tulus dan mengangguk penuh penghargaan. "Poram, aku sungguh berterima kasih atas pengabdianmu kepada Gumintang, Yang Agung kita. Engkau adalah seorang pelayan yang setia dan kuat," ucap Orgages penuh penghargaan.


    Poram mengangguk, memahami bahwa masa depan Negeri Segara dan Negeri Jaez bergantung pada peristiwa-peristiwa besar yang tengah berlangsung di dua negeri yang berbeda ini. "Apakah keberadaan Yang Agung akan dapat kembali?" tanya Poram.


    "Hm... aku sangat yakin kamu akan menanyakan hal ini, Poram," sahut Orgages. "Akan ada waktunya."


    Mendengar ucapan singkat dan bermakna tersebut, Poram merasa ada harapan dan keyakinan bahwa saatnya pasti akan datang. "Sungguh, aku merasa tidak sopan jika harus terus menerus bertanya, Yang Mulia. Namun, saat ini Negeri Segara tengah dilanda oleh pertempuran sengit. Apakah para Putihnati tidak membantu untuk melawan?" tanya Poram.

__ADS_1


    “Bukankah salah satu di antara kami telah tergabung dalam pertempuran?” ucap Orgages, menatap Poram penuh ketajaman. “Kami tidak dapat turun membantu secara langsung karena hal ini akan memunculkan peristiwa baru yang mungkin berdampak besar. Tanggung jawabmu sebagai pelayan Yang Agung masih harus kamu laksanakan, Poram. Kamu masih terikat pada janji itu, berbeda dengan aku; semesta memang telah menggariskan hal ini kepadamu.”


    “Baiklah, aku akan melanjutkan perjalananku dan perjuanganku bersama para koloni Negeri Segara. Tapi, bisakah aku mengetahui lebih banyak tentang makhluk Jenuz dari Negeri Jaez tersebut, Yang Mulia?” tanya Poram dengan penuh rasa penasaran.


    “Jenuz dari Negeri Jaez. Percayalah, hal ini tidak tercatat di Ordes Dih Aweyam, Poram. Bahkan keberadaan makhluk ini sempat membuat guncangan hebat di Ordes Dih Aweyam dan menyebabkan terjadinya sidang Putihnati pertama,” jelas Orgages. “Ketika aku hendak mencari tahu lebih lanjut, aku menemukan bahwa peristiwa besar ini sedang berlangsung mengikuti jalannya alam, dan aku tidak akan terlibat begitu dalam. Negeri Segara harus berjuang untuk menjaga keseimbangan. Pusat Aegir akan mengirimkan sumber kekuatan sebagai bantuan pertama dan terakhir ketika saat itu diperlukan olehmu.”


    “Baik, aku berterima kasih kepadamu, Yang Mulia. Akan aku kerahkan segala kekuatanku dalam pertempuran ini,” kata Poram dengan semangat.


    Poram pun melangkahkan kaki keluar dari pusat Aegir. “Poram, bantuan terakhir...” kata Orgages setelah Poram melangkahkan kakinya begitu jauh.


    Poram melangkah dengan langkah mantap menuju pintu utama dan keluar dari pusat Aegir. Di dalam diri Poram, api semangat berkobar-kobar. Poram merasa beban tanggung jawabnya sebagai pelayan Yang Agung semakin berat, namun, di dalam hatinya juga berkobar semangat untuk melindungi Negeri Segara. Poram mengerti bahwa di pundaknya ada tugas besar untuk menjaga keseimbangan antara dua negeri yang terancam oleh kekuatan luar.


    Langit senja memerah di atas Negeri Segara saat Poram melangkah keluar, memenuhi langit dengan warna-warna hangat yang mencerminkan semangat perjuangannya. Dengan hati penuh keyakinan, Poram bersiap untuk melibatkan diri dalam pertempuran besar yang akan datang, siap mempertaruhkan segalanya untuk melindungi negerinya. Sambil menatap ke kejauhan, Poram bersumpah akan menjalankan tugasnya dengan penuh keberanian dan tekad, siap menghadapi segala rintangan demi keberlangsungan Negeri Segara.


    Namun, apakah yang akan terjadi dalam pertempuran yang akan bergulir di batas pertahanan barat daya Negeri Segara? Misteri akan nasib para pemimpin dan para koloni negeri Segara masih menjadi teka-teki besar, dengan tiap langkah yang diambil penuh risiko dan pengorbanan. Tapi di antara ketegangan dan ketidakpastian, keberanian mereka tetap berkobar, siap menjaga Negeri Segara dari ancaman yang mengintai.


~ Catatan ~


    Dalam setiap perjalanan hidup, kita seringkali dihadapkan pada berbagai rintangan dan ujian yang sulit. Namun, sejatinya, kehidupan adalah sebuah petualangan yang memunculkan pelajaran berharga di setiap tikungan. Ketika kita memandang masalah sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh, kita meraih kebijaksanaan. Setiap kegagalan adalah peluang untuk bangkit, setiap kekecewaan adalah panggilan untuk lebih sabar, dan setiap cobaan adalah ujian kekuatan hati dan ketabahan.

__ADS_1


    Selama perjalanan ini, kita juga belajar tentang pentingnya persahabatan dan kerjasama. Tidak ada yang bisa mencapai kesuksesan sepenuhnya sendiri. Dalam kerjasama tim, kita menemukan kekuatan yang besar. Dalam dukungan teman dan keluarga, kita menemukan ketenangan di tengah badai. Persahabatan yang tulus adalah penawar bagi luka-luka hati, dan dalam kebersamaan, kita menemukan kehangatan di tengah dinginnya dunia.


    Terakhir, kebijaksanaan sejati datang dari penghargaan terhadap kehidupan dan orang-orang di sekitar kita. Setiap individu memiliki cerita dan pengalaman unik yang bisa memberikan pelajaran berharga. Dengan mendengarkan dan menghormati pandangan orang lain, kita membuka pintu menuju pemahaman yang lebih dalam. Kebijaksanaan bukanlah sekadar pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk mengayomi, menghargai, dan menyebarkan kebaikan kepada sesama manusia.


__ADS_2