
Perjalanan menuju daerah selatan akhirnya membuahkan hasil ketika Gumintang, Naya, Arkana, dan Masesur tiba di tempat tujuan. Disana, mereka diterima oleh Hako, pemimpin Koloni Getsuwage. Setelah saling berkenalan, Arkana dan Masesur dengan penuh semangat menceritakan perjalanan dan tujuan mereka kepada Hako. Meskipun informasi tersebut sudah diberitahukan oleh Aegir Segara sebelumnya, Hako tetap mendengarkan dengan perhatian, mengerti bahwa kunjungan Gumintang dan Naya akan membawa kebaikan bagi koloni mereka.
Hako dengan hangat menyambut kedatangan mereka. Tidak lupa, dia juga mengajak mereka untuk melihat Koloni Getsuwage dari ketinggian, memberikan gambaran luasnya wilayah tersebut.
Namun, suasana tiba-tiba berubah ketika getaran dan suara menggema mulai melingkupi mereka. Dengan keterampilan Getsuwage, Hako mengarahkan kekuatan ini untuk membentuk sebuah bukit, memberikan pandangan yang jelas kepada Gumintang dan Naya tentang daerah selatan.
Tidak lama kemudian, Hako memulihkan tampilan awal dataran tersebut, mengembalikan segala sesuatunya seperti semula.
“Selamat datang di daerah selatan, Yang Agung,” sapa Hako kepada Gumintang. Dia juga mempersembahkan sambutan hangat kepada Naya, "Senang sekali bertemu denganmu di daerah selatan, Naya."
Bersama-sama, mereka diperkenalkan ke sebuah istana tanah yang dimiliki oleh Koloni Getsuwage. Relief-relief dan arsitektur bangunan tersebut menciptakan suasana yang hampir serupa dengan pusat Aegir.
Tak lama setelah itu, Gumintang bertanya kepada Hako tentang Inka yang mereka temukan. Kedatangan Inka memunculkan kejutan di wajah Hako.
“Dimana kamu menemukan ini?” tanya Hako dengan ketertarikan.
"Aku melihat sebuah tongkat bunga lili di Bukit Baji saat kami perjalanan menuju daerah selatan," jawab Naya.
Hako kemudian menunjukkan sebuah lukisan pasir yang memiliki gerakan sendiri. Lukisan tersebut menggambarkan peristiwa energi Aegir saat menciptakan Hako dan Koloni Getsuwage.
Cahaya Misterius: Hako, Naya, dan Kekuatan Hisha yang Tersembunyi
Sebuah lukisan pasir mulai menggambarkan sebuah kejadian luar biasa. Cahaya merah yang tercipta dari lukisan tersebut mulai membesar, dan kekuatan dalam cahaya tersebut menggetarkan alam semesta. Ternyata, saat ini sedang terjadi penciptaan Koloni Getsuwage, suatu entitas yang memiliki kekuatan dahsyat. Wujud Aegir Segara, yang dikenal sebagai Acintya, sedang menciptakan Koloni Getsuwage, dan kekuatan yang dihasilkan begitu memukau.
Tiba-tiba, Gumintang memasuki dimensi pikiran maya dari lukisan pasir tersebut. Dengan suara tegas, ia berkata, "Izinkan aku untuk memahami kisahmu yang luar biasa ini."
Seketika, suara gemuruh menggema di seluruh alam semesta, menciptakan getaran yang luar biasa.
Dalam suasana yang penuh kedamaian dan hikmat, Aegir Segara berkata, "Getsuwage, cahaya merah yang Kuciptakan dari eksistensi-Ku yang tinggi. Engkau adalah hasil dari kekuatan yang tak terbatas, dan Engkau membawa esensi yang akan membentuk takdir Negeri Segara. Di dalam dirimu terkandung potensi yang luar biasa."
Sementara itu, cahaya merah yang lembut terus bersinar intens, dan Getsuwage dengan rendah hati bertanya, "Aegir Segara, Engkau yang Maha Kuasa, aku hadir sebagai cahaya merah yang melambangkan semangat keberanian dan tekad. Apa peran yang Engkau rencanakan untukku dalam Negeri Segara ini?"
Dengan senyuman penuh kebijaksanaan, Aegir Segara menjawab, "Getsuwage, Engkau adalah Ibu bagi negeri ini. Kekuatannya untuk mengendalikan ilusi dan memanipulasi realitas akan membimbing serta melindungi Negeri Segara. Engkau akan menjadi harapan bagi mereka yang merasa putus asa, dan ketabahan Engkau akan menginspirasi orang-orang dalam menghadapi cobaan."
Dengan ekspresi yang memancarkan cahaya, Getsuwage bertanya lebih lanjut, "Aku mendengar panggilan-Mu, Aegir Segara. Aku akan menjalankan tugas ini dengan sepenuh hati. Tetapi, bagaimana aku dapat mengelola kekuatanku yang besar ini? Bagaimana aku bisa menghindari godaan untuk menggunakan ilusi demi kepentinganku sendiri?"
Dengan suara yang penuh kasih, Aegir Segara menjawab, "Getsuwage, kekuatanmu adalah sebuah ujian sekaligus berkah. Tetaplah teguh pada nilai-nilai kebijaksanaan dan cinta terhadap Negeri Segara. Ingatlah, kekuatan sejati bersumber dari ketulusan hati. Jika Engkau tetap setia pada peranmu sebagai Ibu, Engkau akan menemukan keseimbangan yang diperlukan."
Dengan tekad yang kuat, Getsuwage berkata, "Terima kasih, Aegir Segara. Aku akan mengemban tanggung jawab ini dengan sepenuh hati."
Seketika, gemuruh dahsyat mengguncang atmosfer. Cahaya merah dan biru bersatu dalam ledakan cemerlang. Setelah ledakan tersebut, muncullah Hiranya dalam bentuk cahaya biru yang tenang, sementara Hako muncul dalam bentuk cahaya merah yang ceria.
Dengan ketenangan, Hiranya berkata, "Hako, anakku, meskipun kami terpisah dalam bentuk ini, kami tetap bersatu dalam esensi. Engkau akan berada di selatan, menjadi perwakilan semangat perubahan dan keberanian."
Dengan semangat, Hako menjawab, "Ibu Hiranya, aku siap! Aku akan membawa semangat ini ke seluruh penjuru negeri, menginspirasi mereka untuk bangkit dan menghadapi segala tantangan."
Dengan penuh kasih, Hiranya menyatakan, "Jadilah sinar pemandu, Hako. Negeri Segara membutuhkanmu."
Kedua cahaya itu saling memandang dengan tekad yang dalam, mereka memahami peran baru mereka dalam nasib Negeri Segara yang akan datang.
Lukisan pasir hanya memvisualkan kisah hingga di sini, tetapi Gumintang berhasil menjelajahi lebih dalam lagi, mencapai bagian, "Mengapa terjadi pecahan dalam satu cahaya penciptaan Aegir Segara? Atau mungkin ini adalah salah satu misteri semesta yang masih menyelubungi pengetahuanku ..."
Ketika ledakan melanda, memunculkan dua kekuatan yang berbeda: cahaya biru (Hiranya) dan cahaya merah (Hako).
Alam semesta mengalami perubahan mencolok, tercermin dalam bentuk superior Aegir Segara.
Di sebuah negeri yang dikenal sebagai Segara, terhamparlah keindahan alam yang tak tertandingi. Namun, sebelum negeri ini terbentuk, sebuah takdir telah tertulis oleh Aegir yang terangkai dalam sejarah agung semesta. Pusat Aegir diperintahkan oleh Aegir untuk memilih utusan guna menciptakan sebuah negeri yang akan membawa kehidupan dan peradaban baru. Seorang putihnati bernama Segara diutus untuk mewujudkan alam hidup ini. Sebagai wujud pengabdian kepada Aegir, Fulmala, dengan hati tulus, mengirimkan anaknya untuk menjalankan tanggung jawab agung ini.
Setelah keputusan diambil, Aegir dari bentuk superior-nya menciptakan Aegir Segara untuk mengabadikan pengabdian Segara. Aegir membelah energinya, melahirkan Aegir Segara, dan memberi nama pada negeri baru ini: Negeri Segara. Seluruh alam semesta bersuka cita, termasuk para putihnati.
Aegir yang paling agung (Acintya) memiliki belahan cahaya yang disebut Aegir Segara. Cahaya ini mampu berkomunikasi dengan para putihnati. Wujud Aegir Segara menjadi simbol keagungan dalam sejarah agung semesta, sebuah entitas yang akan menjadi objek penghormatan putihnati dan makhluk di dimensi Segara.
Fulmala melangkah menuju taman pusat Aegir. Dalam Ordes Dih Aweyam tercatat, "... Segara dalam wujud alam hidupnya sering merasakan duka akibat kekeringan. Hutan-hutan dijadikan rumah tanpa pertimbangan, mengakibatkan kehancuran. Segara adalah wujud alam yang hidup di Negeri Segara, memiliki semangat kasih dan hasrat untuk mengejar takdirnya. Ketika menjalankan tugasnya sebagai alam, Segara sering mencurahkan isi hatinya kepada ibunya, Fulmala, putihnati pertama yang muncul dari energi Aegir Segara dan mendiami pusat Aegir. Fulmala memiliki hati penuh kasih dan tekad kuat. Meskipun berada di dimensi yang berbeda dengan anaknya, cinta Fulmala pada Segara tetap abadi ..."
Mengetahui garis takdir semesta, Fulmala tidak dapat terus membantu putranya yang tengah menjelma menjadi alam hidup di Negeri Segara. Keterbatasan dimensi dan keterikatan di setiap dimensi mencegahnya. Namun, takdir telah menetapkan perjalanan hidup Segara, dengan berbagai ujian dan rintangan yang berat. Fulmala merasa sedih, namun menyadari bahwa keputusan ini adalah yang terbaik dan dia sudah memahami konsekuensinya sebelum memberikan titah ini.
Saat merenung, Fulmala berpikir, "Apakah aku seharusnya membatalkannya?" Namun, sebelum semuanya terlambat, Segara masih bisa menikmati kebahagiaan saat ini. Meskipun nantinya ia akan memulai garis takdirnya. Keputusan telah diambil, dan Fulmala telah mengutusnya kepada Aegir. "Aku harus membantu Segara ..." Dengan bergegas, Fulmala mengubah wujudnya menjadi Daiva, wujud superior putihnati.
Dengan wujud Daiva, Fulmala dengan tulus memohon kepada Aegir Segara ... berhari-hari berlalu, para putihnati merasakan rasa tak berdayaan Fulmala dan kekhawatirannya. Fulmala merasa sedih, dan ini adalah kesedihan pertama bagi para putihnati. "Kesedihan ini adalah yang pertama bagi para putihnati ..." kata Garwita, seekor merak cantik yang membentangkan bulu-bulunya yang indah.
Di pusat Aegir, Aegir Segara dalam wujud Acintya merasa prihatin melihat perjuangan Segara dan Fulmala. Acintya, yang merupakan kekuatan tertinggi menciptakan dan mengatur alam semesta, merasa perlu campur tangan untuk memulai kembali peradaban sebelum terlambat.
Fulmala bersatu dengan Aegir Segara. "Wahai, Aegir Segara, cemas merasuki hatiku saat aku mengetahui takdir Segara yang lebih besar daripada kebahagiaanku," ujar Fulmala dengan serius, fokus dan penuh konsentrasi memohon kepada Aegir Segara.
Sebagai putihnati, Fulmala memiliki keistimewaan bertemu Aegir Segara dalam wujud superior. Sebagai pemimpin putihnati, dia kerap menyerukan melawan ketidakbenaran dan cinta kepada yang tertindas.
Gemuruh terdengar melintasi alam semesta. Kilatan cahaya memancar di hadapan pandangan mata putihnati, menandakan bahwa Aegir Segara telah mengambil wujud superior. Terdengar suara Aegir Segara berkata kepada Fulmala, "Untuk mengembalikan harmoni semesta, aku mengambil wujudku sebagai Acintya. Namun, ingatlah, Fulmala, aku tidak mengubah akhir dari awal takdir semesta ini. Namun, atas baktimu yang tulus, aku berjanji akan memulihkan energimu dalam peradaban semesta ini."
Dengan kekuatan yang luar biasa, Acintya mampu menciptakan Fulmala kembali dalam bentuk yang lebih kuat dan penuh harapan. Fulmala akan dilahirkan kembali sebagai Getsuwage, menjadi seorang ibu semesta yang bijaksana dan penuh semangat di Negeri Segara. Dalam perannya sebagai Hiranya, dia memiliki misi baru: mewujudkan impian Fulmala serta memberikan bantuan kepada Segara dalam perjalanan mereka.
Melalui reinkarnasinya sebagai Hiranya, Fulmala berhasil mewujudkan impian untuk anaknya dan negeri yang dicintainya. Di tengah-tengah kisah ini, Aegir Segara dalam wujud Acintya tersenyum saat ia menyaksikan peradaban yang ditulis ulang dengan penuh kebijaksanaan dan cinta.
Lukisan pasir berhenti menceritakan kisah cahaya biru yang melekat pada Getsuwage.
"Dalam pembentukan ini, apakah Hiranya juga mengalami pemisahan cahaya sebelumnya?" Gumintang bertanya dalam hatinya.
Tiba-tiba, Gumintang teringat akan sebuah Ordes Dih Aweyam yang menyebutkan, "Satu telah terbagi menjadi tiga kekuatan berbeda, sehingga cahaya tersebut dapat mencapai netralitas ketika tiba di dunia."
Sambil memperlihatkan sebuah kristal biru yang sama dengan yang mereka temukan, Hako berbicara kepada mereka, Gumintang, Naya, Arkana, dan Masesur. "Ketika kalian melihat bahwa kristal biru ini telah terbagi menjadi tiga bagian, pasti kalian akan terkejut."
"Di antara tiga bagian itu, dua sudah ada di Negeri Segara sebagai bentuk pengabdiannya, yaitu pada Hiranya," tambah Gumintang.
"Sisa ... hanya satu lagi," kata Hako, sebelum Naya menyela.
"Aku menyadari bahwa energi kristal ini sebelumnya ada dalam keadaan utuh," ungkap Naya.
Gumintang tersenyum penuh pemahaman. Dia menyadari bahwa pencarian Hiranya harus segera dimulai. Oleh karena itu, ia meminta Hako untuk memperlihatkan kembali benda agung yang ditemukan oleh Hako.
Hiranya: Jejak Misteri yang Mengguncang
Tugas mencari Hiranya akan dijalankan oleh mereka (Gumintang, Naya, Arkana, dan Masesur), dengan Hako bergabung bersama mereka. Naya, yang berusaha untuk memahami lebih dalam tentang siapa sebenarnya Hiranya, mengajukan pertanyaan kepada Gumintang. Tujuannya adalah agar dia dapat lebih memahami kisah ini secara mendalam. Gumintang menjelaskan, "Pusat Aegir telah terbentuk, dan seorang ibu semesta bernama Fulmala telah dipilih. Kristal biru hanyalah pecahan dari energi Fulmala yang terbagi, karena demi menjaga keseimbangan, seorang putihnati yang tiba di dunia tidak diperbolehkan memiliki kekuatan sebesar itu di dunia, sehingga terjadi pemisahan energi menjadi beberapa bagian."
Sebagai pemimpin putihnati, Orgages mengirim pesan rahasia kepada Gumintang melalui Beyulian, selembar kertas pengirim pesan. Pesan ini merespons pertanyaan Gumintang yang sebelumnya telah disampaikan oleh Poram, "Apakah ada kehidupan dan penciptaan sebelum diriku menjadi pemimpin putihnati di pusat Aegir?"
Poram, yang selalu membantu Gumintang, memberi peringatan agar berhati-hati terhadap dimensi kekuatan maya saat ini. Sebuah kekuatan misterius berusaha merusak aliran energi tersebut dengan menghilangkan pusat sari penggunanya, mengakibatkan kehilangan kekuatan. Ini seperti pemutusan aliran energi Aegir. Gumintang menyimpan pesan dari Poram, karena dia adalah putihnati yang tidak mengalami pengurangan kekuatan di dunia. Ini berarti bahwa jika situasi yang dijelaskan oleh Poram terjadi, pesan tersebut tetap aman dan terlindungi.
"Marilah kita menuju Hutan Vikrama, tempat di mana Koloni Getsuwage berada. Mereka memiliki kemampuan khusus untuk mengakses informasi di dunia," ajak Hako sambil mengundang untuk bergabung.
"Hutan Vikrama berfungsi sebagai jembatan antara pusat Aegir dan Negeri Segara, serta menghubungkan berbagai dimensi. Koloni Getsuwage bertugas menyampaikan informasi kepada mereka yang bingung. Tindakan ini merespon penemuan dimensi selain energi Aegir Segara yang baru-baru ini terdeteksi oleh Eleonor—,” lanjutkan Hako sebelum suaranya terputus oleh kehadiran Shakeel.
“Eleonor adalah seorang pendeteksi ulung di Negeri Segara. Keberhasilan ada di tangan kalian saat bekerja bersamanya,” ujar Shakeel, mendekati kelompok perbincangan yang terdiri dari Hako, Gumintang, Naya, Arkana, dan Masesur.
Hako kemudian memperkenalkan Shakeel kepada Gumintang dan Naya. “Inilah Shakeel, adik Eleonor yang selain kuat juga tampan hahaha ...” kata Hako sambil tertawa ringan.
“Hutan Vikrama dilengkapi dengan berbagai peralatan, gunakan alat-alat tersebut untuk berjaga-jaga. Di sana, energi Aegir dinetralisir,” tambah Shakeel.
“Baiklah, terima kasih atas pengingatannya, Shakeel,” balas Hako dengan hormat.
Shakeel kemudian menyerahkan sebuah bola, benda yang ditemukannya saat berburu di sekitar Hutan Vikrama. Hako menerimanya dengan niat untuk memberikannya kepada Eleonor.
__ADS_1
Mereka berangkat menuju Hutan Vikrama secara bersama-sama ...
Ketika mereka tiba di Hutan Vikrama, terjadi getaran hebat yang menjalar ke seluruh penjuru Negeri Segara. Getaran ini misterius, belum diketahui penyebabnya. Naya memberikan isyarat kepada Koloni Sadako untuk mengirimkan benih hijau ke langit. Dengan melemparkan benih tersebut, Koloni Sadako bertujuan untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan getaran susulan.
"Inilah Hutan Vikrama," kata Hako sambil menunjukkan luas hutan yang membentang di selatan. Hutan ini begitu luas dan lebat.
"Hutan ini dulunya adalah perwujudan kemarahan Naya, di masa sebelum Alitaru (pohon harapan) berada di Timur," tambah Hako sambil menatap Naya.
Pernyataan Hako membuat Naya dan Gumintang merasa penasaran, "Apakah Hiranya menjadi titik awal terciptanya koloni-koloni di Negeri Segara?" Sebuah kekuatan besar mampu membelah kekuatan tersebut menjadi tiga keping kristal, dan kekuatan ini masih tetap kuat. Sungguh, misteri seputar Hiranya mengguncang jiwa Naya dan Gumintang. Meski kekhawatiran Gumintang tidak berkaitan langsung dengan keberadaan Hiranya, namun kekhawatiran mengenai tiga keping kristal biru yang belum ditemukan mengusiknya. Bagaimana jika kristal-kristal ini ditemukan dan disalahgunakan? Misteri ini tetap menjadi tanda tanya besar bagi Gumintang, di mana sebenarnya keping kristal biru tersebut berada saat ini.
Robekan Cahaya: Hako dan Misteri Merah yang Terungkap
Hutan Vikrama berfungsi sebagai tempat bagi Koloni Getsuwage untuk memantau seluruh informasi yang diterima. Ini bisa diibaratkan sebagai penjaga dimensi antara pengguna yang masuk dan keluar dari Negeri Segara, serta mengatur segala pergerakan di dalamnya. Gumintang memiliki rencana untuk bertemu dengan Eleonor di Hutan Vikrama, tujuannya adalah untuk mengungkap misteri seputar kristal biru. Meski begitu, muncul pertanyaan apakah Eleonor sudah mengetahui semuanya. Keraguan ini muncul dalam pikiran Gumintang. Selain itu, perlu diingat bahwa bahaya yang diingatkan oleh Poram bisa jadi memang nyata adanya.
Gumintang bertanya kepada Hako, “Hako, apakah kalian bisa mengetahui apa yang terjadi di antara koloni sebelum penciptaan kalian?”
Hako menjawab, “Kami bisa memperoleh informasi tentang hal tersebut melalui energi Aegir, Yang Agung.”
Gumintang melanjutkan, “Namun, mengapa kalian belum mampu mengungkapkan misteri kristal biru dan keberadaan Hiranya?”
Hako menjelaskan, “Saya pernah mencobanya, tetapi dimensi yang begitu luas sering kali menghalangi tanpa izin dari Getsuwage, mengakibatkan gangguan dalam upaya saya melacak jejak energi tersebut.”
“Selain itu,” tambahnya, “ketika saya bersatu dalam kesatuan, semua koneksi terputus setiap kali saya berusaha.”
Gumintang merenung, semakin yakin bahwa dimensi tersebut bukanlah sembarang energi, melainkan dimensi Banes yang dimanfaatkan oleh koloninya.
Maka Gumintang bertanya lagi, “Dapatkah Getsuwage menciptakan dimensi ruang maya?”
Dia bertanya setelah menyadari bahwa Banes adalah dalang di balik gangguan yang sering dialami oleh Hako.
Di depan sebuah batu besar, gelombang cahaya yang memukau berdenyut seperti molekul-molekul yang bergelombang. ZRTTT!!! Suara getaran gelombang mengejutkan dengan kehadirannya.
USHHHH!!! Getaran gelombang bergema seperti angin yang berhembus pelan, menciptakan suara seakan-akan alam sedang berbicara.
Seseorang mendekat ...
“Yang Agung ... apakah tujuanmu datang ke Hutan Vikrama?” tanya Eleonor sambil berlutut di depan Hako, Gumintang, Naya, Arkana, dan Masesur.
“Berdirilah ...” kata Gumintang dengan tegas, mengisyaratkan agar Eleonor berdiri. Poram menunjukkan tanda-tanda kewaspadaan dengan taring yang sedikit terlihat, seolah-olah mengisyaratkan bahaya yang mengancam. Saat Gumintang hendak mendekati Eleonor, Poram mencegahnya, “Jangan menyentuhnya, Gumintang. Dia tidak pantas menerimanya.”
Gumintang terhenti mendengar peringatan Poram.
Grrrrrz!!! Poram mengeluarkan suara tanda kewaspadaan, seolah-olah siap untuk menghadapi ancaman.
Namun, Gumintang masih belum mengerti maksud di balik tindakan Poram.
Sementara itu, Hako berbicara dengan Eleonor, “Kami menemukan sebuah bola yang ditemukan oleh adikmu, Shakeel. Apakah kamu mengenal bola ini?”
Gumintang dalam komunikasi batin dengan Poram, "Apa yang sedang kau lakukan, Poram?"
Poram menjawab, “Aku tidak ingin kamu mendekatinya, Eleonor.”
Gumintang bingung, "Apa yang terjadi?"
Poram melanjutkan, "Dia bukanlah Eleonor."
Kaget, Gumintang berkata, "Tidak mungkin! Kami harus berhati-hati. Mari kita perhatikan dulu dan lihat apa yang terjadi."
Poram berusaha menenangkan Gumintang, "Bersabarlah, jangan terburu-buru. Kita perlu memastikan situasinya."
Gumintang hampir menghentikan Hako dalam memberikan bola misterius tersebut kepada Eleonor.
Poram memberikan klarifikasi, “Benar, Shakeel tahu itu karena percaya pada kakaknya. Namun, dia belum tahu bahwa sosok di depannya bukanlah Eleonor yang sebenarnya.”
Poram menggambarkan, “Perhatikan cahaya di sekitar tubuhnya, dan lihat tanda di belakang leher yang tersembunyi di bawah rambutnya.”
Eleonor akhirnya memberikan tanggapannya, "Tunggu sebentar." Dia mengambil bola yang diberikan oleh Hako. Hako dan yang lainnya pergi untuk melihat bagaimana Getsuwage menjalankan tugasnya sebagai penjaga dimensi.
Gumintang merasa terpaksa untuk tetap tenang dan mengikuti instruksi Poram. Poram tetap berjaga-jaga di belakang, memastikan keamanan situasi.
Dalam kondisi siaga, Poram bergerak di balik Gumintang, mengamati dengan hati-hati dan siap untuk bertindak jika diperlukan.
Hutan Vikrama menyimpan sebuah batu yang terdiri dari lapisan-lapisan mulai dari dasarnya, berupa lempengan besar yang melingkar. Lempengan-lempengan ini tersusun dalam rangkaian yang bergradasi dari ukuran kecil hingga besar, serta dari besar ke kecil. Di dalamnya mengalir gelombang-gelombang dimensi maya, mirip dengan aliran listrik yang mengalir melalui tiang-tiang, dan batu ini memuat berbagai informasi yang memungkinkan kita melihat ruang dimensi.
"Inilah yang dikenal sebagai Otoman, senjata paling kuat yang pernah ada di alam semesta, tercipta oleh kekuatan Getsuwage," ujar Hako, memperkenalkan lempengan-lempengan yang pertama kali dilihat oleh Gumintang dan Naya. Sementara Arkana dan Masesur mengikuti mereka dari belakang.
"Otoman yang saya ciptakan bertujuan untuk menjaga Negeri Segara tetap stabil, tanpa disadari kami mengawasi dimensi-dimensi dan informasi maya," tambah Hako. Gumintang dan Naya mengikuti langkah Hako, diikuti oleh Arkana dan Masesur.
"Bola ini sebenarnya adalah serpihan dari bunga teratai selatan, Tuan," ucap Eleonor sambil mendekati Hako.
"Dalam bentuk bola bulat sebesar ini?" tanya Naya dengan keterkejutan.
"Mungkin terjadi ketika energi benturan yang berlangsung terus-menerus terjadi di dataran tengah Negeri Segara," jawab Eleonor.
"Padahal dataran tengah tidak memiliki kehidupan lain, hanya Despair dan Nagara yang menuju ke sana. Aku belum tahu apakah mereka mulai menerapkan penghijauan atau bagaimana. Lalu, sebesar apa energinya hingga bisa memicu benturan sedahsyat ini ... sungguh luar biasa, bukan begitu, Yang Agung?" tanya Naya dengan terkejut dan heran.
"Hmm ... kekuatan sebesar ini hasil dari Fustra pembagian dengan Hisha Danau Manta mungkin terdengar mustahil ... namun, bola hitam tentu berasal dari kekuatan Sadako dan Kunang-Kunang," jawab Gumintang.
Hako lalu menggerakkan kekuatannya untuk mengurai misteri yang terkandung dalam bola hitam ini.
Dataran Negeri Segara tiba-tiba diguncang oleh getaran hebat, dan bola hitam mulai melayang dengan perlahan dan berputar mengelilingi Otoman. Hako pun secara perlahan tenggelam ke dalam dimensi maya, bersama dengan energi dari bola hitam yang tetap berputar mengelilingi Otoman. Gumintang, yang sudah berada dalam pikiran maya Hako, berusaha membatasi komunikasinya agar tidak terdeteksi oleh Otoman, dan begitu pula dengan Poram yang mengikuti langkah Gumintang.
Namun, Hako tidak mendapatkan tanggapan dari dimensi yang ingin dicapai. Gumintang, yang menyadari hal ini, segera memberi tahu Hako untuk kembali, karena dimensi tersebut merupakan ruang kosong yang berbahaya. Cahaya merah yang berasal dari Hako tertarik ke dalam dimensi maya tersebut.
"Hako! Kembali, ini berbahaya. Kamu belum bisa mengendalikan energi bola itu," seru Gumintang kepada Hako.
"Aku mencobanya," jawab Hako.
"Hako, cahaya merahmu terus tertarik ke dimensi itu. Jika ini berlanjut, kamu akan menghilang begitu saja," kata Gumintang. "Cepat kembali!"
Poram kemudian berbicara kepada Gumintang, "Yang Agung, dimensi ini adalah perangkap. Eleonor telah memanipulasinya. Tandai tubuhku dan berikan kepada Banes."
"Hako, masih ada kesempatan untuk kembali," kata Gumintang sambil terus berjuang melawan tarikan dimensi yang menarik Hako.
Sssshhhhaahhhsss...
Cahaya merah dari tubuh Hako semakin terisap.
"Jangan dipaksakan, Hako," ujar Gumintang.
"Hako telah kehilangan kesadaran, Yang Agung. Tariklah dia, aku akan mencoba menahan dimensi ini," kata Poram.
Gumintang menarik Hako, sementara Poram berusaha menahan dimensi tersebut dari depan tubuh Hako. Akhirnya, tarikan Gumintang berhasil membawa Hako terlempar kembali ke Hutan Vikrama.
(Suasana tiba-tiba tegang dan penuh kaget) Gumintang, yang berdiri di antara mereka di Hutan Vikrama, segera memberitahu Naya untuk bersiap-siap. "Naya, kekuatanmu sangat diperlukan saat ini," kata Gumintang.
"Apa yang terjadi, Yang Agung?" tanya Naya dengan nada pelan. Naya melihat ke arah Hako dengan keterkejutan saat melihat Hako terlempar.
"Naya, cepat pulihkan Hako. Energi Hako mengalami gangguan serius saat mencoba memasuki dimensi tadi," jawab Gumintang.
__ADS_1
"Bisakah kamu mengatasi ini? Aku akan melakukan tindakan," lanjut Gumintang yang berencana menyelamatkan Poram, karena Poram tidak mungkin bisa menahan dimensi itu sendirian. Gumintang memanggil Banes, Rajas, Argogos, dan Or'or untuk hadir di depan mereka semua. Lalu, dia berkata, "Bantu aku. Seperti yang aku katakan sebelumnya."
Persembahan Poram: Pengorbanan dan Kejatuhan dalam Perlindungan Gumintang
Bola hitam berputar mengelilingi Otoman, menjadi tanda bahwa Poram masih berada di dimensi tersebut. Fisik Gumintang segera bergerak menuju lokasi yang telah ditandai di tubuh Poram, didampingi oleh Banes dan Rajas. Sementara itu, Argogos dan Or’or menyertai Naya dan Hako di Hutan Vikrama.
Ssshhhahhh...
Banes kemudian menciptakan dimensi khusus untuk mencapai tempat di mana Poram berada.
"Argogos dan Or’or, tetap waspada!" seru Banes, memandang mereka dengan ketegasan.
Akhirnya, mereka bergerak menuju dimensi di mana Poram terperangkap.
Banes melihat lubang dimensi yang sangat berbahaya untuk pertama kalinya, dan bahkan Rajas merasa begitu terkejut oleh keanehan lubang dimensi hitam ini, yang mengeluarkan cairan dan tentakel yang menimbulkan sensasi tidak nyaman. "Apakah mungkin untuk menyelamatkannya dalam situasi seperti ini?" batin Rajas, sambil melihat Poram yang berusaha menahan diri dari tarikan energi yang menakutkan itu. Dia pun berkata, "Apa jenis monster ini? Ia benar-benar tidak pantas ada di dimensi Negeri Segara! Cih!"
"Kami berada dalam situasi yang sangat sulit, Yang Agung. Kami berada di dimensi di mana energi jahat terus menyerang. Jika kita menyelamatkan Poram, dia akan masuk ke Negeri Segara," kata Banes.
"Kita mungkin harus mengalahkan makhluk itu terlebih dahulu, Banes!" seru Gumintang dengan penuh semangat.
BOGUM! Gumintang berteriak dengan penuh amarah sambil mengaktifkan mantra-nya.
Lexacus! Mantra Kin’Yobi juga diucapkan dengan tegas oleh Banes dan Rajas.
Pertempuran energi akhirnya pecah di antara makhluk misterius dan persatuan cahaya kuning dan hitam. Namun, tampaknya persatuan kekuatan tersebut belum mampu menyeimbangi energi yang dikeluarkan oleh makhluk misterius yang kuat. Poram berusaha menahan energi tersebut agar tidak menyerap siapa pun. Namun, dia menyadari bahwa jika situasi ini berlanjut, posisinya pun akan menjadi tidak aman.
Gumintang berniat menyelamatkan Poram dengan bantuan Hostra Damasya, namun Poram melarangnya karena khawatir tindakan tersebut bisa menghancurkan Otoman dengan mudah. Kehancuran Otoman akan membuat upaya pelacakan kembali menjadi sangat sulit.
"Yang Agung, kita seharusnya mencoba menggunakan Arcapo," usul Banes. Bersama-sama, mereka (Gumintang, Banes, dan Rajas) mencoba menyatukan kekuatan untuk menciptakan Arcapo. Namun, sebelum mereka berhasil menyelesaikan proses tersebut, Poram tiba-tiba terhisap oleh lubang dimensi bersama makhluk misterius.
Begitu Poram terhisap, Arcapo melesat ke dalam lubang dimensi dengan tujuan menghancurkan makhluk misterius tersebut. Sebelum hilang sepenuhnya, Poram berkomunikasi melalui kekuatan pikiran maya yang masih tersambung dengan Gumintang. "Tidak ada pilihan lain untuk menghentikan lubang dimensi ini, Yang Agung," ungkap Poram.
Gumintang merasa terpukul, namun dia tidak ingin menyerah begitu saja. "Izinkan aku masuk ke dalam lubang dimensi ini, Yang Agung. Aku ingin mengabdikan diriku untuk melayanimu," kata Poram dengan tulus.
Namun, Gumintang masih mencari alternatif lain. "Apakah ini satu-satunya cara, Poram? Tidak ada jalan lain?" tanya Gumintang.
Poram menjelaskan, "Aku bisa mencoba berteleportasi ke pusat Aegir, tetapi lubang dimensi ini tidak akan tertutup tanpa satu sumber energi. Keberadaan lubang dimensi ini sangat berbahaya bagi Negeri Segara, karena merusak Otoman dan keseimbangan dimensi di sini."
Setelah diskusi singkat, Gumintang akhirnya mengambil keputusan. "Pergilah, Poram. Kami akan menghadapi situasi ini bersama Banes dan Rajas," kata Gumintang.
Poram menjelaskan bahwa lubang dimensi tidak bisa ditutup begitu saja karena bukanlah senjata, melainkan ruang hampa. "Aku paham bahwa ini bukanlah yang kau inginkan," kata Poram kepada Gumintang.
Gumintang mengungkapkan kegelisahannya, tetapi Poram mengingatkan bahwa semua sudah tertulis dalam Ordes Dih Aweyam, termasuk nasib mereka dan semesta. "Ambil Biosa dan Enure ini dan keluar dari lubang dimensi ini," saran Poram.
Gumintang ingin mencoba menggunakan Arcapo, tetapi pembicaraan terputus saat Poram terhisap oleh lubang dimensi.
Kekuatan Terkunci: Poram dan Petualangan di dalam Cahaya
Gumintang, Banes, dan Rajas, yang terlempar dari dimensi yang diciptakan oleh Otoman, merasakan sengatan kilat akibat gesekan yang memaksa menutup ruang dimensi. Banes terpaksa menutup dimensi tersebut untuk menghindari terbentuknya lubang dimensi.
Peristiwa yang mengejutkan ini membuat Gumintang merasa bersalah kepada Poram. Meskipun Gumintang masih berusaha menggunakan kekuatan pikiran maya untuk berhubungan dengan Poram, usahanya tidak membuahkan hasil.
“Yang Agung, kami harus segera menyelamatkan Hako,” ujar Naya.
Mantra Banes, Lexacus, kemudian diucapkan, mengalirkan Enure dari tangan Gumintang ke tubuh Hako. Rajas, Argogos, dan Or’or juga mengikuti mengucapkan mantra tersebut.
“Naya, berikanlah Biosa ini kepada Hako. Ini adalah tanaman obat yang diciptakan oleh Sage,” Gumintang menjelaskan.
“Poram memberikannya padaku. Dia benar-benar telah menunaikan tugasnya dengan baik hingga saat akhir,” tambah Gumintang.
“Dimanakah Poram, Yang Agung?” tanya Argogos.
Hening ...
“Lubang dimensi dan makhluk misterius telah membawanya pergi. Saya berharap Arcapo (senjata kilat) telah mengenai makhluk tersebut,” Gumintang menjawab.
Banes kemudian berusaha mendeteksi dimensi tersebut dan mencari keberadaan Poram. Meskipun dimensi misterius tersebut belum terdeteksi, Banes dapat melihat makhluk misterius tersebut.
“Yang Agung, makhluk itu telah binasa di lokasi ini,” Banes memberitahu Gumintang melalui dimensi maya.
“Nampaknya Arcapo telah berhasil mengenai makhluk misterius itu,” Gumintang berkomentar.
“Namun, saya masih tidak bisa mendeteksi keberadaan makhluk atau Poram, Yang Agung,” kata Banes.
“Poram terperangkap dalam dimensi ruang misterius itu, Banes,” Gumintang menjelaskan.
“Apakah ada cara untuk menemukan Poram, Yang Agung?” tanya Banes.
“Kita pasti bisa menemukannya, Banes,” Gumintang menegaskan.
Setelah mencoba dan gagal menemukan Poram serta mendeteksi dimensi maya sebelumnya, Banes kembali ke Hutan Vikrama. Meskipun tidak berhasil menemukan Poram, Banes meyakini bahwa makhluk misterius tersebut telah terkena Arcapo dan binasa.
Biosa: Menyembuhkan dalam dan Luar Hako, Kekuatan Tak Terduga
Hisha!
Naya mengeluarkan kekuatannya untuk menyembuhkan Hako, cahaya hijau mengangkat tubuh Hako dan memulihkan Hako, perlahan-lahan Hako kembali kepada kesadarannya.
Huuuussshhh ...
Suara embusan angin terasa begitu kencang, daun-daun mengelilingi Hako, seperti melindungi tubuhnya. Naya masih dalam wujud Hisha, Gumintang yang melihat keadaan Hako, kemudian berkomunikasi dengan kesatuan.
“Apakah peristiwa ini sudah tertulis di Ordes Dih Aweyam, Aegir Segara?” tanya Gumintang dalam batinnya.
Hening ... tidak ada jawaban dari Aegir Segara.
“Benar, semua ini sudah ditakdirkan, Kunang,” jawab Aegir Segara.
“Lantas mengapa semua ini harus terjadi?” tanya Gumintang.
“Semua yang ada di alam semesta telah mengikuti perannya masing-masing Kunang, begitupun kehadiranku bersamamu, semua sudah ditakdirkan, tidakkah kau menyadari atau dirimu telah lupa karena kekhawatiranmu terhadap Poram,” kata Aegir Segara.
“Aku telah mengetahui semua pasti akan kembali kepadamu, Aegir Segara,” kata Gumintang.
Aegir Segara terlihat tersenyum dari sebuah energi yang dihadirkan kepada Gumintang.
Dalam wujud Hisha, Naya sudah berhasil menyembuhkan Hako seperti sedia kala, perlahan-lahan wujud Hisha memudar. Hako kemudian melihat Otoman yang ada di depannya begitupun dengan bola hitam misterius tersebut.
~ Catatan ~
Takdir kadang memerlukan waktu untuk menjalankan perannya.
Bisakah takdir berubah? Orang yang bekerja keras, berbuat baik, dan berdoa menghadapi ujian semesta yang sangat sulit.
Ujian ini menguji kesabarannya dalam usaha, kesabaran dalam keikhlasan, dan ketulusannya.
Semesta mengungkapkan siapa pemenang sejati, karena takdirnya sudah tertulis, yaitu pemenang sejati seperti yang saya katakan.
Bahkan malaikat pun mengetahui mengapa takdir tertulis untuk orang tersebut sebagai "Sang pemenang sejati di hatiku."
__ADS_1