Gumintang Kunang-Kunang

Gumintang Kunang-Kunang
Misteri Wujud Superior Hisha


__ADS_3

    Dalam kilas balik kisah penciptaan Otoman, serta petualangan Hako dengan Eleonor dalam mencari jejak Hiranya, Otoman telah menjadi senjata yang tak tergantikan bagi Koloni Getsuwage. Senjata ini dirancang khusus untuk mendeteksi cahaya biru, menjaga dimensi Negeri Segara, dan mengendalikan kekuatan energi Aegir. Kehadiran Otoman sebagai senjata paling kuat akan meninggalkan jejak sejarah yang abadi bagi Negeri Segara.


    Eleonor, yang selalu bertindak sebagai penjaga setia Otoman, menjalankan perannya dengan penuh dedikasi, memantau setiap pergerakan dalam dimensi. Semuanya berjalan lancar, bahkan ketika dimensi tiba-tiba muncul di Hutan Vikrama, Eleonor berhasil mengatasi tantangan tersebut menggunakan kekuatan Otoman. Kekuatan Getsuwage terbukti sangat tangguh, mampu menghancurkan dimensi yang tiba-tiba muncul tersebut (yang ternyata diciptakan oleh Banes, hehe ^^).


    Meskipun dimensi-dimensi tersebut muncul tanpa peringatan, Eleonor selalu mampu mendeteksi setiap sinyal energi yang mungkin berbahaya. Namun, Shakeel merasa sedikit terganggu oleh kehadiran dimensi tersebut. Ia merasa frustasi karena kesulitan dalam fokus mencari jejak cahaya biru, sering kali terganggu oleh munculnya dimensi yang begitu aneh.


Eleonor: Terjerat dalam Energi Dimensi Tak Terduga


    Dalam penelusuran Eleonor dan Hako untuk mencari cahaya biru, peran Otoman sungguh tak ternilai, membantu mengungkap berbagai keajaiban di Negeri Segara. Pertarungan sengit antara Hako dan makhluk dimensi bernama Zapor terjadi dalam upaya mendapatkan Prasta Ning Ayoda, senjata perangkap yang dibutuhkan.


    Zapor, sang penjaga Prasta Ning Ayoda, terkejut oleh kedatangan Eleonor dan Hako. Kehadiran mereka menjadi ancaman bagi Zapor, seekor naga hitam yang penuh kesombongan. Hako menyapa Zapor, "Siapakah dirimu di antara warga Negeri Segara?" Tanya tersebut hanya mendapat tawa meremehkan dari Zapor.


    "Hey! Hahaha! Siapa kamu? Tidakkah kamu mengenaliku?" Zapor balas bertanya.


    "Zapor, aku tahu siapa kamu," jawab Hako.


    "Lalu mengapa masih bertanya tentang diriku?" Zapor tanya lagi.


    "Hanya untuk meyakinkan bahwa dirimu asli," jawab Hako.


    "Hahaha! Aku penjaga Prasta Ning Ayoda, diutus oleh Orgages sendiri," ungkap Zapor.


    "Kenapa kamu diutus ke Negeri Segara? Bukankah pusat Aegir lebih menyenangkan?" Teriak Hako, suara angin menggema kuat.


    "Tugas dan tanggung jawabku menjaga Prasta Ning Ayoda," jawab Zapor.


    "Aku ingin mengambil senjata di belakangmu, izinkan aku?" Tanya Hako.


    "Tidak!" Jawab Zapor, semburan api segera menyusul dari mulutnya menuju Hako dan Eleonor.


    Eleonor membuat perisai tanah untuk melindungi mereka dari api. "Zapor terlalu sombong, Tuan," ujar Eleonor, lalu menyerang Zapor. Hako memutuskan tindakan Eleonor.


    "Zapor, kami butuh Prasta Ning Ayoda untuk menemukan jejak Hiranya, demi ibu pertiwi," Hako berbicara dengan bijaksana.


    "Sudah kubilang, TIDAK!" Zapor sombong, selalu menghina Hako.


    "Walaupun kamu memohon, hahaha!" Ejek Zapor.


    Eleonor marah dan menyerang tanpa henti.


    Xryakkkk! "Rasakan tebasan mematiku, Zapor!" Teriak Eleonor saat tubuh Zapor terbelah.


    Zapor hanya tertawa, tubuhnya kembali utuh.


    "Begitu, Gedo Amatya!!!" Teriak Hako, serangan luar biasa melemahkan Zapor. Tapi Zapor tak lenyap begitu saja.


    "Baiklah, kamu memohon, tetapi kematianku tak akan sia-sia. Aku tidak bisa lenyap sebelum tujuanku tercapai, hahaha!" Kata Zapor, suaranya terdengar melalui dimensi.


    "Keluarlah, Zapor!" Teriak Hako, tapi hanya tawa Zapor yang terdengar. Hako memerintahkan Eleonor mengambil Prasta Ning Ayoda untuk dibawa ke Amura.

__ADS_1


    “Dimensi ini akan segera lenyap, ambil Prasta Ning Ayoda, Eleonor!” teriak Hako, melihat Eleonor terdiam. Dengan sigap, Eleonor bergegas menuju Prasta Ning Ayoda. Di hadapannya, terdapat sebuah senjata berbentuk kubus tanpa atap, senjata ruang perangkap. "Menakjubkan," gumam Eleonor dalam hati.


    Namun, hal yang mengejutkan Eleonor, ia merasakan keberadaan Zapor dalam dirinya. Ia bisa merasakan bahwa naga itu berada dalam kesadarannya.


    “Keluarlah, Zapor! Mengapa kamu ada di sini?” seru Eleonor, melihat Zapor yang terlihat tertidur lelap di dalam kesadarannya.


    Hako juga melihat bahwa Eleonor tampak terdistraksi, "Apa yang terjadi, Eleonor?" tanya Hako.


    "Kamu harus kembali, Zapor. Kau telah lenyap," kata Hako, berusaha menenangkan Eleonor dan memastikan bahwa Zapor tidak lagi memengaruhi dirinya.


    “Letakkan Prasta Ning Ayoda di Otoman, Eleonor,” Hako memerintah.


    Misteri ini mengungkap dugaan Poram, bahwa Zapor telah masuk ke dalam tubuh Eleonor untuk mengendalikannya. Hal ini mungkin karena tujuan Zapor di Negeri Segara belum terselesaikan, sehingga energinya berpindah ke tubuh Eleonor setelah secara tidak sengaja menyentuh Prasta Ning Ayoda. Namun, Zapor belum berhasil sepenuhnya menyatu dengan Prasta Ning Ayoda, sehingga malah berpindah ke tubuh Eleonor.


Gedo’Shi: Formasi Sembilan Mata Aegir


    Kembali pada adegan Gedo’Shi yang dilakukan oleh Hako di Amura, Hutan Vikrama. Naya masih terheran dan bingung dengan tindakan yang diambil oleh Hako. Di sekitar Aruma, seluruh benda melayang seolah atmosfer Negeri Segara menghilang akibat dari efek Gedo’Shi. Makhluk demi makhluk seperti Masesur mulai membentuk formasi sembilan mata Aegir, menyebarkan cahaya merah dari utara hingga kembali ke utara. Gumintang mengajak serta yang lainnya dan juga berusaha menarik Eleonor yang masih terdiam karena keadaannya yang belum sadar.


    “Eleonor, pergilah! Cepat!” seru Gumintang sambil meraih tangan Eleonor dengan keras.


    “Yang Agung, cepatlah!” tambah Naya, penuh kekhawatiran.


    “Banes, kita harus keluar dari Hutan Vikrama. Radiasi dari formasi ini sangat berbahaya bagi kita yang bukan bagian dari Koloni Getsuwage,” ujar Gumintang kepada Banes.


    “Tentu, mari pegang tanganku bersama Rajas, Argogos, dan Or’or,” jawab Banes sambil mengajak mereka untuk berpegangan tangan.


    Dengan perintah itu, Banes berhasil memindahkan Gumintang, Naya, dan Eleonor keluar dari Hutan Vikrama. Tiba-tiba, ledakan cahaya yang begitu terang menyilaukan pandangan mereka.


    Hako melayang di atas Hutan Vikrama dalam wujud Gedo’Shi. Tubuhnya dikelilingi oleh sembilan cahaya merah yang membentuk sebuah cakra berputar di belakangnya, serta membawa tongkat yang menyerupai milik Naya yang memancarkan cahaya biru. Pandangan mereka perlahan pulih, dan kilauan cahaya perlahan memudar. Hako tampak mengenakan jubah merah dengan tongkat di tangannya, dan semua makhluk di Hutan Vikrama menundukkan kepala pada kehadirannya.


    “Ada apa ini, Yang Agung?” Naya bertanya kepada Gumintang, masih bingung.


    “Hako telah berhasil menggabungkan kembali kekuatan Otoman ke dalam tubuhnya, serta menemukan tongkat yang serupa dengan milikmu, Naya. Tongkat itu adalah kristal biru pertama yang ditemukan Hako saat berhasil mengalahkan Ravata,” Gumintang menjelaskan.


    “Kristal biru kedua ditemukan olehmu di Bukit Baji, tanpa perlawanan. Itu sebabnya Hako terlihat bingung dan takjub ketika kamu menjelaskan penemuan kristal biru di Bukit Baji,” lanjut Gumintang.


    “Lalu, di mana letak kristal biru yang ketiga, Yang Agung?” Naya menanyakan lagi.


    Gumintang hanya tersenyum sebagai respons.


    “Persiapkan dirimu untuk menggabungkan kekuatanmu dengan kristal biru pertama, Naya,” Gumintang berkata sambil melihat Hako mendekat ke arah mereka, juga menghadap Naya, Arkana, Masesur, Banes, Argogos, Rajas, Or’or, dan Eleonor.


Hako dan Naya dalam Wujud Superior Hisha


    Gumintang memberitahukan Hako, “Satukan kristal biru tersebut, Hako.”


    “Baiklah, Yang Agung,” sahut Hako.


    Naya pun mengucapkan Hisha!

__ADS_1


    Hako yang masih dalam wujud Gedo’Shi nampak kaget, tubuhnya memancarkan cahaya hijau. Hal ini disebabkan saat Naya sempat menolong Hako, sehingga ada beberapa energi yang menyatu dengan tubuhnya Hako.


    “Hako dan Naya telah mencapai wujud Superior Hisha,” gumam dalam hati Gumintang. Sebuah keajaiban penyatuan kristal biru telah usai dilakukan.


    “Yang Agung, kekuatan ini sungguh menakjubkan,” kata Arkana.


    “Tubuh Hako dapat disatukan dengan Hisha karena beberapa energi Naya telah masuk ke tubuh Hako saat memulihkan Hako dengan Biosa dan Enure,” kata Gumintang.


    Wujud Superior Hisha ini muncul hanya sebentar karena sesungguhnya itu adalah Hiranya yang perlahan-lahan menampakan kekuatannya, Inka pun telah menjadi satu. Kristal biru tersebut kini digunakan oleh Hako.


    “Banes, bantulah aku untuk menyadarkan Eleonor,” kata Gumintang.


    “Baiklah, Yang Agung,” jawab Banes.


    Banes kemudian menyatukan energi Gumintang dan masuk ke pikiran maya Eleonor untuk menemukan Zapor.


    “Banes, bawalah Zapor kepada Prasta Ning Ayoda, tarik dia!” seru Gumintang ketika telah mendeteksi tempat Zapor berada.


    “Eleonor,” panggil Banes.


    Eleonor terkunci dalam dirinya sendiri, sedangkan Zapor berhasil mengendalikannya begitu lama. Banes menyelamatkan Eleonor dan memancing Zapor untuk masuk ke Prasta Ning Ayoda. “Cepatlah Zapor, Prasta Ning Ayoda adalah tempatmu, jangan menganggu Eleonor, kau telah menyebabkan banyak kekacauan,” kata Banes berseru kepada Zapor.


    “Aku masih marah kepada Hako dan Eleonor, mereka mengambil paksa Prasta Ning Ayoda,” kata Zapor.


    “Baiklah, akan aku kembalikan ini kepadamu, kembalilah!” kata Banes.


    “Zapor!” panggil Gumintang yang akhirnya berhasil menemukan Banes.


    “Yang Agung, inilah Zapor,” kata Banes kepada Gumintang.


    “Yang Agung, mohon maafkan aku,” kata Zapor kepada Gumintang dengan hormat.


    “Baiklah, kita harus cepat, Prasta Ning Ayoda akan segera berpindah kembali ke pusat Aegir, dirimu harus segera kembali ke Pusat Aegir,” kata Gumintang.


    “Cepatlah, jika tidak Orgages akan segera menguncimu selamanya disini, itu berarti tugasmu telah berakhir, maka dirimu akan lenyap begitu saja,” tambah Gumintang kepada Zapor.


    “Baiklah, Yang Agung,” kata Zapor dan kemudian keluar dari tubuh Eleonor dan kembali pada Prasta Ning Ayoda.


~ Catatan ~


    Seseorang yang berjuang dengan penuh pengorbanan demi cita-cita adalah cahaya yang tak terpadamkan. Di dalam hatinya, ia menaruh harapan agar orang yang dicintai dapat merasakan kebahagiaan.


    Pengorbanan ini adalah bakti yang luar biasa, sebuah perasaan tulus yang mengalir dalam setiap tindakan. Ia berusaha semaksimal mungkin, takut bahwa kegagalan akan membuat orang yang dicintai kecewa oleh harapan yang dijatuhkan padanya.


    Perjuangan ini melibatkan pertempuran yang beragam: melawan orang lain yang meragukan, melawan diri sendiri yang kadang meragukan, dan melawan ketakutan untuk tidak memenuhi harapan orang yang dicintai. Dalam pertarungan yang bergelora ini, ia menemukan kedalaman di dalam dirinya yang sebelumnya tidak terungkap.


    Ia menavigasi jalan yang tak terlihat dengan mata tertutup, menghadapi ketidakpastian dengan keyakinan. Melalui setiap rintangan dan kejatuhan, ia mengukir jejak menuju impian dan harapan yang lebih tinggi.


    Tak hanya keberanian yang ia hadapi, namun juga ketabahan dan keberanian untuk tetap melangkah. Dalam perjuangan melawan orang lain, diri sendiri, dan harapan yang ada, ia menemukan makna sejati dari usaha dan dedikasi.

__ADS_1


    Karena di balik perjuangan ini tersembunyi keinginan untuk membawa kebahagiaan kepada mereka yang dicintai. Dan meskipun medan pertempuran kadang menguji mental dan fisiknya, dia terus maju dengan hati yang penuh tekad.


    Karena pada akhirnya, pengorbanannya akan menjadi kilauan harapan yang cerah bagi orang yang dicintainya.


__ADS_2