Gumintang Kunang-Kunang

Gumintang Kunang-Kunang
Bangunan Anakrangi


__ADS_3

    Rajas dan Gigel yang telah berhasil menghancurkan artefak kuno sebuah artefak yang diyakini sebagai sumber kekuatan para Jenuz menimbulkan sebuah ancaman baru. Rajas dan Gigel didatangi oleh sosok berjubah hitam dengan topeng emas, sosok ini bernama Dasara. Dasara adalah pemimpin Jenuz di wilayah utara. Kedatangannya membuat Rajas dan Gigel mengalami ketakutan karena jubah hitam mengalir energi yang begitu dahsyat.


    “Sialan! Kita ketahuan, Rajas!” Seru Gigel.


    “Kita harus berhati-hati menghadapi makhluk ini, jangan sampai kita lengah dan mati di altar ini,” kata Rajas.


    “Hahaha… kita tidak akan mati, Rajas,” kata Gigel sambil mencari siasat untuk memenangkan pertarungan.


    Makhluk tersebut memakan sebuah anggur putih. Seketika aura hitam mengelilingi tubuhnya. Cahaya hitam itu muncul dari ujung jubah bawah hingga ke seluruh tubuhnya. “Apa yang kalian lakukan dengan artefak itu?!” teriak Dasara.


    Hening… posisi yang tengah bersiap-siap menghadapi pertempuran. “Hancur… itulah yang terjadi, itulah yang kami lakukan hahaha…” sahut Gigel.


    “Siapakah dirimu?” tanya Rajas.


    “Aku adalah Dasara, makhluk Jenuz terkuat di dataran utara,” jawab Dasara. “Apakah kalian ingin mati di bangunan suci ini?!”


    Firasat buruk yang dirasakan oleh Rajas muncul di tengah pertarungan yang dihadapinya saat ini. “Cih! Kenapa aku memiliki firasat buruk,” gumam Rajas.


    Kekuatan Dasara melesat tajam di depan Rajas, “Rasakanlah ini!” Seru Dasara.


    Bom! Rajas dan Gigel terkena serangan hebat dari Dasara. Serangan yang digunakan Dasara untuk pertama kalinya langsung berhasil mengenai Rajas dan Gigel hingga terkapar di tanah. Akibat serangan Dasara kekuatan Rajas dan Gigel melemah. “Rajas, sebaiknya kita harus mencoba satu anggur putih ini,” kata Gigel.


    Rajas menolaknya. “Jangan, sepertinya buah anggur putih ini membuat penggunanya justru akan ketagihan dan melemahkan kekuatan,” kata Rajas.


    “Cepatlah berdiri! Hadapi aku!” Seru Dasara. “Hanya ini kemampuan kalian?!”


    “Diam! Simpan tenagamu untuk menahan serangan kami!” kata Rajas.


    “Hahaha… menahan?!” kata Dasara menganggap remeh kekuatan Rajas dan Gigel. “Sepertinya aku tidak perlu menahan diri untuk membunuh kalian.”


    Serangan kedua Dasara berhasil mengenai Rajas dan Gigel. Hantaman tangan dari Dasara membuat Rajas dan Gigel remuk, tubuh mereka tidak berdaya oleh hantaman yang sangat keras.


    Dalam pertarungan yang dahsyat ini, Gigel pun memakan buah anggur putih untuk membantu membalikkan keadaan, “Rasakanlah ini, makhluk sialan!”


    “Lexacus!” ucap Rajas menggunakan kesempatan untuk bangkit dan membalas serangan Gigel.


    Bom! Serangan Rajas berhasil mengenai Dasara. Menganggap perlawanan tidak seimbang, Dasara kemudian mengeluarkan kekuatannya dengan menggunakan kekuatan ilusi bayangan.


    Rajas dan Gigel, tak gentar meski dihadapkan pada dua bayangan Dasara, bersiap menghadapi ancaman yang lebih besar dari sebelumnya. "Ibap sarakrangi! Hahaha… lihatlah! Ini baru yang namanya seimbang," kata Dasara, menciptakan dua sosok bayangan dari dirinya. "Aku akan pergi menginformasikan tuanku, selamat bersenang-senanglah dengan bayanganku ini."


    "Sialan! Makhluk sialan! Dia menghina kita," ucap Gigel dengan amarah. "Hei! Dasar pengecut!"


    Rajas dan Gigel pun berhadapan dengan dua bayangan misterius dari Dasara. "Benar saja, firasatku memang tidak pernah salah," gumam Rajas.


    Pertarungan pun berlanjut, menghadapi dua bayangan Dasara. Rajas menggunakan kekuatan dimensi maya untuk mengecoh bayangan Dasara. "Gigel, gunakan dimensi maya hanya untuk menggunakan kekuatan Lexacus. Pulihkan kekuatanmu terlebih dahulu sebelum menghadapi mereka. Aku akan mengulur waktu," ucap Rajas dengan mantap.


    "Lexacus!" seru Rajas. Buyts! Butzh! Suara dimensi maya berpindah-pindah, menjadikan Rajas terlihat seperti memiliki banyak sosok. Inilah yang disebut kekuatan cermin, dimana ilusi dan kenyataan bersatu untuk membingungkan musuh. Dalam kekacauan ilusi ini, Gigel memusatkan energinya untuk memulihkan kekuatannya yang terkuras, siap melawan dengan kekuatan penuh begitu saatnya tiba.


    Dalam pusaran ilusi dan kenyataan, pertarungan sengit antara Rajas, Gigel, dan dua bayangan Dasara berlanjut. Rajas terus menggunakan kekuatan dimensi maya dan keahlian bertarungnya untuk mengelabui bayangan Dasara, sementara Gigel fokus memulihkan kekuatan dan mempersiapkan serangan balik yang dahsyat.

__ADS_1


    Dua bayangan Dasara, meski terlihat identik, memiliki gerakan dan taktik yang berbeda. Mereka saling bergerak serentak, mencoba menyerang Rajas dan Gigel dari segala arah. Rajas dengan sigap menghindari serangan mereka, kadang melompat tinggi, kadang menggelincir rendah, menciptakan ilusi ketidakpastian yang sulit diprediksi. Sementara itu, Gigel merasakan energi semakin mengalir dalam dirinya, menandakan bahwa kekuatannya telah pulih sepenuhnya.


    Saat yang tepat tiba, Gigel melompat maju dengan kecepatan kilat, mengeluarkan serangan mematikan menggunakan kekuatan Lexacus menggunakan pedang emas yang didapatkan di altar. Salah satu bayangan Dasara berhasil dihindari oleh Rajas, tapi Gigel berhasil menancapkan pedangnya ke dalam bayangan yang lain. Bayangan itu memancarkan cahaya hitam dan lenyap, meninggalkan hanya satu bayangan Dasara.


    Rajas melihat kesempatan ini sebagai peluang untuk mengambil alih kendali pertarungan. Rajas memanfaatkan kekuatan dimensi maya untuk menciptakan ilusi serangan dari berbagai sudut. Serangan palsu itu membuat bayangan Dasara terkecoh, memberikan kesempatan bagi Rajas untuk melancarkan serangan nyata. Dengan gerakan yang cepat dan akurat, Rajas berhasil menancapkan pedangnya ke dalam bayangan Dasara yang tersisa.


    “Senjata emas yang mereka gunakan untuk membunuh musuh kini menjadi senjata yang digunakan membunuh mereka,” kata Rajas.


    Cahaya hitam memenuhi ruangan, dan bayangan Dasara yang tersisa menghilang. Pertarungan pun berakhir, meninggalkan Rajas dan Gigel dalam keadaan letih namun memenangkan pertarungan melawan musuh yang kuat.


    Rajas mengangguk serius, memahami peringatan Gigel. "Iya, Gigel. Kita tahu bahwa yang sebenarnya masih ada di luar sana. Kita harus waspada dan terus berlatih, meningkatkan kekuatan dan kemampuan kita. Kita tidak boleh meremehkan musuh, terutama Dasara yang asli."


    Mereka berdua berjalan menjauh dari tempat pertarungan, menuju tempat di mana artefak kuno itu hancur. Dalam perjalanan mereka, Rajas merenungkan kata-kata Gigel. "Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang keberadaan asli Dasara Ada sesuatu yang lebih besar yang terjadi di balik semua ini, dan kita harus menemukan jawabannya."


    Gigel menatap Rajas dengan kepercayaan. "Kamu benar, Rajas. Kita berdua adalah prajurit yang tangguh dan penuh semangat. Kita akan mengungkap misteri ini dan melindungi Negeri Segara dari ancaman apa pun, bahkan jika itu berarti menghadapi Dasara yang sejati. Kita adalah harapan terakhir bagi banyak orang."


    Mereka tiba di tempat altar dengan puing-puing bangunan yang tersisa. Puing-puing dan serpihan-serpihannya berserakan di sekitar. Rajas dan Gigel saling pandang, memahami bahwa tugas besar menanti mereka. Dengan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya, mereka bersiap menghadapi tantangan berikutnya dalam petualangan yang penuh bahaya, siap melawan kegelapan demi cahaya, dan melawan kejahatan demi kebenaran.


    "Mengapa kehancuran dari artefak ini tidak terlihat dan sepertinya ini tidaklah asli, mereka sudah tahu kedatangan kita saat pertarungan dengan Datarangi," kata Rajas, kebingungan melanda dirinya saat mempertanyakan misteri Negeri Jaez yang semakin kompleks.


    “Rajas! Aku mengerti, sebuah artefak ini telah menghancurkan tempat anggur tersebut, energi yang ada di artefak kuno ini mengalirkan energinya kepada buah anggur yang dipetik oleh mereka,” jelas Gigel dengan semangatnya, mencoba menguraikan teka-teki yang semakin rumit.


    “Artefak seperti bulan putih ini berasal darimana?” tanya Rajas, matanya mencari-cari petunjuk dalam ruangan itu.


    Gigel pun mengajak Rajas untuk mengelilingi bangunan Anakrangi ini, mencari tahu lebih banyak informasi. “Ayo kita pergi mencari tempat yang tersisa untuk mengetahui beberapa informasi yang bisa disampaikan kepada Banes, Naya, Hako, dan Poram,” ajak Gigel, semangatnya seakan memberikan semangat baru pada tim mereka.


    Rajas dan Gigel, bersama dengan teman-teman mereka, mencari tahu lebih banyak di dalam bangunan Anakrangi yang luas itu. “Aku masih belum percaya Dasara pergi begitu saja meninggalkan kita dengan dua bayangan, apakah dia berpikir kita akan mati dengan begitu mudah?” gumam Gigel, mencoba mencari jawaban di dalam pikirannya yang kacau.


    “Kemanakah mereka pergi, bukankah seharusnya Or’or, Sile, Noru, dan Baldax sudah kembali membawa bantuan?” tanya Gigel, merasa kegelisahan terus menggelayuti pikirannya.


    “Bersabarlah, Gigel, kemungkinan di Negeri Segara sedang mengalami hal yang sama seperti kita, sebaiknya kita harus berhati-hati di sini,” jawab Rajas dengan bijak, mencoba menenangkan pikiran temannya yang resah.


    Beberapa saat kemudian, di tengah ketidakpastian Rajas dan Gigel, akhirnya Or’or, Sile, Noru, dan Baldax tiba di hadapan mereka. “Hei!” sapa Or’or dengan senyum optimis.


    “Kami sudah membawa bantuan, ada Haruto dari koloni Sadako, Wobu dari koloni Kunang-Kunang, dan Rapad dari koloni Getsuwage,” jelas Or’or dengan cepat, memberikan harapan baru pada tim mereka.


    “Baiklah, kita harus mencari tahu tentang energi inti yang sudah kita hancurkan di bangunan ini,” kata Rajas dengan tekad, memimpin mereka menuju petualangan baru yang mungkin membawa jawaban atas segala misteri yang telah terjadi.


    Dari puing elemen artefak bulan yang masih berserakan di sekitar anak tangga bangunan Anakrangi, Wobu kemudian menggunakan kekuatan pikiran maya untuk masuk menyelami sejarah dari bangunan Anakrangi. Rajas Gigel, Or’or, Sile, Noru, Baldax, Haruto, dan Rapad pun mengitari membentuk formasi mata dewa guna membentuk kuncian dimensi.


    Formasi mata dewa yang dilakukan oleh Wobu untuk membuat Rajas Gigel, Or’or, Sile, Noru, Baldax, Haruto, dan Rapad tidak terlihat dan ikut melihat menjelajahi sejarah dari bangunan Anakrangi. “Asor dimensi mata dewa!” Formasi mata dewa pun dibuat oleh Wobu.


Bulan Anakrangi


    Wobu dihadapkan oleh sebuah dataran tandus yang dipenuhi oleh berbagai kepulan asap putih dengan bau seperti belerang. “Sepertinya ini adalah sisa-sisa material letusan gunung berapi yang aktif tersebut,” gumam Wobu.


    “Coba lihatlah ke atas?!” kata Rajas.


    Sebuah energi inti yang begitu besar dengan kekuatan yang begitu besar mengalir ke seluruh dataran melalui akar-akar pepohonan menciptakan sebuah kehidupan dengan menghadirkan rerumputan hijau.

__ADS_1


    “Inikah Negeri Jaez?” tanya Rajas.


    “Tidak kita berada tepat di bangunan Anakrangi, dulu tempat sebelum didirikannya bangunan Anakrangi adalah sebuah tempat yang begitu tandus dan panas,” jelas Wobu.


    “Mengapa bulan ini begitu besar lima kali lipat dari artefak yang kita temui di Anakrangi?” tanya Rajas.


    Sebuah bayangan dari Roghitman, Dasara, dan Rerq muncul dihadapan mereka yang sedang mengendalikan bulan Anakrangi. “Nampaknya ini adalah sumber energi inti yang dikatakan oleh Sambu kepadaku,” kata Wobu.


    “Apa yang dikatakan oleh Sambu?” tanya Rajas.


    “Dia telah berhasil menangkap salah satu pemimpin Jenuz bernama Rerq. Dalam sebuah ingatan tertulis bahwa Negeri Jaez memiliki satu pemimpin utama dan dua pemimpin batasan, satu pemimpin utama bernama Roghitman yang tercipta oleh kekuatan energi Aegir Segara, sedangkan dua pemimpin batasan Dasara dan Rerq berhasil diciptakan oleh Roghitman karena energi inti yang dimilikinya, energi inti ini tumbuh begitu cepat oleh sebuah buah-buahan yang Roghitman ciptakan dengan sangat licik,” jelas Wobu.


    “Apakah buah-buahan yang kamu maksudkan adalah buah anggur putih ini?” tanya Rajas.


    “Tidak hanya satu, setiap wilayah Jaez memiliki perbedaan kekuatan, wilayah utara dengan cahaya putih menguasai kekuatan ilusi bayangan, wilayah tengah mengatur segala kekuatan memanipulasi kekuatan musuh, wilayah selatan menciptakan senjata yang sangat dahsyat,” kata Wobu.


    Dalam cahaya remang-remang di dalam ruangan Anakrangi, suasana tegang terasa ketika semua menghadapi kebenaran yang terungkap. Gigel, meskipun masih merasa marah, mulai mengerti sisi cerita yang lebih dalam. "Ah! Pantas saja Dasara yang licik itu menciptakan bayangannya sendiri untuk mengalahkan kita," sahut Gigel dengan nada geram.


    Rajas mengangguk perlahan, "Stt... biarkan Wobu menjelaskan kepada kita terlebih dahulu, Gigel."


    Wobu melanjutkan penjelasannya, menjelaskan mengenai sejarah dan tujuan sebenarnya dari bulan Anakrangi. "Tidak ada kelicikan, Gigel. Semua menggunakan kekuatan mereka untuk memenangkan sebuah pertarungan. Tetapi, Jenuz telah menyalahi aturan semesta dengan menentang Aegir Segara melalui bulan Anakrangi. Mereka ingin menciptakan kekuatan untuk menyaingi Aegir Segara."


    "Cih! Makhluk ini diciptakan oleh Aegir Segara dan malah menciptakan kegaduhan," kata Gigel dengan nada kesal.


    "Tidak," tegur Wobu, "Ini wajar saja, mereka tercipta oleh ketidaksengajaan Aegir Segara, mereka tidak tertuliskan di Ordes Dih Aweyam dan mereka juga telah ditolak untuk menapakkan kaki di Negeri Segara oleh Hiranya. Karena hal ini, Jenuz memiliki prasangka buruk, padahal Aegir Segara memberikan sebuah energi inti melalui bulan Anakrangi untuk mereka gunakan sebagai keseimbangan, mengendalikan diri dengan kekuatan mereka."


    Rajas, dengan wajah serius, bertanya, "Lalu, apakah kita membiarkan Jenuz menghancurkan Negeri Segara?"


    Wobu menggelengkan kepala, "Tidak, Sambu dalam kesatuannya bersama Aegir Segara meminta untuk menghentikan serangan mereka dan menyadarkan mereka bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah kesalahan."


    Sementara mereka tengah mendiskusikan rencana berikutnya, sebuah bayangan muncul kembali. Roghitman, salah satu pemimpin Jenuz, bersama dengan Dasara dan Rerq, mengadakan pertemuan rahasia. Mereka memutuskan untuk membagi bulan Anakrangi menjadi tiga bagian. Inilah asal muasal dari artefak kuno ini yang telah terbagi menjadi tiga bagian, setiap bagiannya berada di dataran yang berbeda.


    "Aku mengerti sampai di sini, sebaiknya informasi penting ini harus diberitahukan kepada Zerab, Mogalri, Kora, Ibo, Zorg, Impaler, Ripper, Krueger, Jiao, dan Nao, agar mereka dapat menemukan bangunan Anakrangi di tempat masing-masing," kata Rajas, memimpin rencana berikutnya.


    Wobu mengangguk, "Baiklah, akan aku sampaikan kepada koloni Kin’Yobi tentang informasi yang sangat penting ini."


    Sementara informasi mengenai bulan Anakrangi berhasil disampaikan kepada Zerab, Mogalri, Kora, Ibo, Zorg, Impaler, Ripper, Krueger, Jiao, dan Nao melalui kekuatan pikiran maya Wobu, Rajas merasa gelisah. Rajas masih belum mendapatkan informasi yang diperlukan mengenai buah-buahan dari Negeri Jaez yang disampaikan oleh Poram dan Sambu. Ketidakpastian membayangi pikirannya.


    Di dataran utara Negeri Jaez, Wobu tengah berkonsentrasi. Wobu berusaha menghubungkan dirinya dengan serpihan artefak bulan Anakrangi yang ada di sana. Keringat mengucur dari wajahnya karena usahanya yang begitu keras.


    Sesaat kemudian, pikiran Wobu merasuki serpihan artefak tersebut. Namun, segera setelah Wobu berhasil menyatu dengan energi dari artefak bulan Anakrangi, bayangan hitam muncul. Sebuah ancaman yang tak terduga mengancam mereka. Apa yang mereka akan hadapi di dataran utara Negeri Jaez?


    Dengan nafas tertahan, Wobu menyadari bahwa perjalanan mereka menuju kebenaran masih jauh dari selesai. Mereka akan menghadapi ujian yang lebih besar lagi, ujian yang mungkin akan mengguncang dasar-dasar kepercayaan mereka.


    Di tengah ketidakpastian ini, pertanyaan besar melayang di udara: Akankah mereka mampu mengungkap rahasia tersembunyi di balik artefak bulan Anakrangi dan melindungi Negeri Segara dari ancaman yang semakin mengintensifkan diri? Hanya waktu yang akan menjawabnya.


~ Catatan ~


    Misteri masa depan begitu rumit untuk dipahami oleh makhluk yang hanya bisa hidup di masa kini. Tersembunyi di balik lapisan waktu yang tak terhingga, pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab menyelinap di antara garis-garis hitam dan putih kehidupan. Kehadiran mereka di tengah arus takdir menuntut ketekunan dan keberanian untuk menghadapi segala kemungkinan yang belum terungkap. Apakah mereka akan mampu menanggapi panggilan takdir dengan kebijaksanaan, ataukah akan terbawa arus peristiwa yang tidak dapat diubah? Hanya waktu yang akan memberikan jawaban, sementara mereka, dengan hati penuh keteguhan, terus melangkah maju, menjelajahi samudra misteri yang belum terjamah.

__ADS_1


__ADS_2