
Setelah peristiwa mengerikan dan menyedihkan melanda seluruh dataran Negeri Segara, Gumintang memanggil Kin’Yobi untuk mengawal dan menjaga semua koloni di wilayah tersebut. Ini terjadi jauh sebelum peristiwa tragis ini terjadi dengan cepat.
"Doronglah ke depan kebijaksanaan dan kekuatan yang telah kuberikan, jadikanlah hal ini sebagai kekuatan eksklusif bagi mereka yang tinggal di Negeri Segara yang agung ini," Gumintang berseru, kekuatan maya menyelimuti dirinya dan Banes.
Sementara Banes tertidur dalam persembunyian bersama para koloni Negeri Segara, cahaya kuning yang mempesona memecah kegelapan, menyilaukan matanya. Dalam mimpi yang membingungkan ini, Banes merasa kekuatan luar biasa mengalir melaluinya, memenuhi setiap serat tubuhnya. Dia melihat dirinya berdiri di puncak bukit yang menjulang tinggi, di tengah hembusan angin laut yang sejuk. Gumintang, dalam kekuatan maya, mendekatinya dengan wajah penuh kebijaksanaan.
"Banes," seru Gumintang dengan suara yang memenuhi angkasa, "Engkau adalah penjaga terakhir, garda terdepan Negeri Segara. Dalam dirimu mengalir kekuatan para ksatria legendaris yang pernah melindungi tanah ini. Engkau harus memimpin Kin’Yobi dan melindungi Negeri Segara dari ancaman yang akan datang."
Dengan semangat yang berkobar, Banes menjawab, "Aku akan menjaga Negeri Segara dengan segala kekuatan yang aku miliki. Para musuh tidak akan dapat menembus perisai terakhir ini. Aku siap melindungi setiap jengkal tanah ini hingga titik terakhir napasku."
Gumintang tersenyum penuh kebanggaan. "Ingatlah, Banes, dalam hatimu terdapat kekuatan yang tak terbatas. Jadilah ksatria yang tak kenal lelah, yang melindungi tanah ini dengan keberanian dan kebijaksanaan. Dan saat tiba waktunya, aku akan menciptakan ksatria yang lebih tangguh dari dirimu."
Dalam kegelapan mimpi, Banes merasa semangat dan keberanian memenuhi hatinya. Banes bersumpah untuk melindungi Negeri Segara dengan setiap kekuatannya, siap menghadapi tantangan dan mengemban tugas mulianya sebagai penjaga terakhir. Mimpi ini mengilhami Banes, memberinya keyakinan bahwa dia adalah harapan terakhir bagi Negeri Segara, dan dia tidak akan mengecewakan orang-orangnya. Mimpi ini membimbingnya menuju nasibnya yang akan datang, sebagai ksatria pemberani yang akan melindungi keagungan Negeri Segara dengan harga apa pun.
__ADS_1
Dalam cahaya lembut mimpi, Gumintang melanjutkan dengan kata-kata bijaknya, "Banes, keberanianmu adalah nyala api yang tidak boleh pernah padam. Tetaplah bersatu dengan Kin’Yobi, saudara-saudaramu yang setia, dan jadilah teladan bagi mereka. Hanya dengan persatuan dan kebijaksanaan, kita bisa menghadapi setiap ujian yang akan datang."
Banes mengangguk, meresapi kata-kata Gumintang. Banes merasa semangat membara di dalam dirinya, siap memimpin dengan bijaksana dan mempertahankan kehormatan Negeri Segara. "Aku tidak akan mengecewakanmu, Yang Agung. Aku akan menjaga teguh perintah ini dan melindungi Negeri Segara sebaik mungkin."
Gumintang tersenyum penuh kepercayaan. "Aku percaya padamu, Banes. Ingatlah, kekuatan sejati tidak hanya berasal dari keberanian dan kekuatan fisik, tetapi juga dari hati yang tulus dan tekad yang kuat. Kamu memiliki semua itu dalam dirimu."
Banes merasa penuh hormat pada Yang Agung. Dalam mimpi ini, Banes merasa terhubung dengan Gumintang yang telah melindungi Negeri Segara. Banes berjanji untuk menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati, mengorbankan dirinya demi keamanan tanahnya dan rakyatnya.
Mimpi itu memudar, tetapi semangatnya tetap menyala di dalam diri Banes ketika dia terbangun. Banes tahu bahwa tugasnya bukanlah hal yang ringan, tetapi Banes siap menghadapinya dengan kepala tegak dan hati penuh keberanian. Sebagai penjaga terakhir Negeri Segara, Banes akan melindungi tanahnya dengan segala kekuatan yang dimilikinya, mengemban perintah Gumintang dengan harga mati, dan menjaga kehormatan Negeri Segara sampai titik terakhir hidupnya.
Setelah Banes tersadar dari kekuatan maya bersama Yang Agung, dia merasakan semangat perlawanan memuncak di dalam dirinya. Dengan tekad yang bulat, Banes memutuskan untuk menyatukan koloni Kin'Yobi dalam perlawanan melawan kejahatan yang mengancam Negeri Segara.
Dengan penuh semangat, Banes berseru kepada koloni Kin'Yobi yang setianya, "Ayo gelapkan seluruh dataran ini! Ini adalah tanda berduka, tetapi juga tanda perlawanan kita yang tidak akan pernah padam!" Seruannya disambut dengan seruan serentak dari para koloni, yang dengan cepat bersatu dan mengeluarkan kekuatan tersembunyi mereka.
__ADS_1
Sebagai pemimpin yang penuh semangat dan bijaksana, Banes menginstruksikan koloni Kin'Yobi untuk menggelapkan langit dengan awan hitam. Dalam sekejap, awan hitam pekat menyelimuti langit, menyebarkan kegelapan perlawanan di seluruh dataran Negeri Segara. Cahaya bulan dan bintang tersembunyi, memberikan perlindungan kepada para pejuang dan rakyat yang berada di bawahnya.
Persembunyian mereka, yang sebelumnya tersembunyi di bawah cahaya rembulan, sekarang diselimuti oleh kegelapan yang mendalam. Namun, bukanlah kegelapan ketakutan, melainkan kegelapan keberanian dan tekad untuk melawan. Mereka tahu bahwa kekuatan mereka bukanlah sesuatu yang bisa diukur oleh mata manusia biasa, melainkan kekuatan kesatuan, keberanian, dan tekad yang tulus.
Dengan langit yang gelap gulita dan persembunyian yang tertutup awan hitam, Negeri Segara siap menghadapi ujian terbesarnya. Para pejuang, dipandu oleh semangat Banes dan bijaksana Gumintang, bersiap untuk melawan kegelapan dengan terangnya harapan, keyakinan, dan tekad yang tak kenal lelah. Dalam kegelapan, mereka menemukan kekuatan dan keberanian untuk melanjutkan perlawanan mereka, menunjukkan bahwa cahaya selalu dapat ditemukan bahkan di dalam kegelapan terdalam.
Setelah kekalahan Gumintang, Negeri Segara mengalami keheningan yang mendalam. Kematian Yang Agung menyebar seperti angin melalui seluruh koloni, menciptakan kekosongan yang tak terisi. Para pejuang Negeri Segara meratapi kepergian Yang Agung dengan hati yang berduka. Namun, di tengah duka, muncullah semangat perlawanan yang semakin membara di dalam diri mereka.
Sementara itu, Poram, yang penuh dengan amarah dan ketakutan akan masa depan Negeri Segara tanpa Gumintang, memutuskan untuk memanfaatkan situasi ini. Dalam gelapnya malam, di dalam keheningan, Poram bersama para koloni Kunang-Kunang merencanakan serangan besar ke Negeri Jaez. Dalam pertemuan ini, mereka menyusun rencana rahasia yang dipenuhi dengan kebijaksanaan dan keganasan.
Rencana ini melibatkan gerakan pasukan terlatih secara intensif, penggunaan kekuatan ilusi maya, dan manipulasi yang cerdik. Poram bersumpah untuk membalaskan dendam atas kematian Gumintang dengan merobohkan Negeri Jaez. Dia merencanakan serangan besar yang akan mengguncang fondasi kerajaan tersebut, dengan harapan memperoleh kekuasaan yang meluas dan membalaskan kematian sang tuan.
Namun, yang tidak diketahui oleh Poram adalah bahwa di dalam kegelapan itu, di balik awan hitam yang menyelimuti Negeri Segara, semangat perlawanan terus berkobar. Banes dan koloni Kin'Yobi, yang telah diilhami oleh mimpi dan semangat Gumintang, bersiap untuk melawan ancaman baru ini dengan keberanian yang tak tergoyahkan. Mereka tahu bahwa masa depan Negeri Segara kini tergantung pada keteguhan hati mereka dan keberanian untuk menghadapi kegelapan yang mengancam. Dalam gelapnya malam, dua kekuatan besar mulai bersiap untuk pertempuran, menciptakan ketegangan yang mendalam dan membuat nasib Negeri Segara bergantung pada hasil pertempuran yang akan datang.
__ADS_1
~ Catatan ~
Kegelapan bukanlah sesuatu yang patut ditakuti; tidak semua dari kita mampu mencegah dan menahan kegelapan sepenuhnya sendirian. Bahkan kekuatan terbesar tidak hanya berarti melawan, tetapi juga bersabar, membantu membangkitkan jiwa dan keyakinan bahwa cahaya akan datang.