
Bukit Baji menjadi tempat di mana Gumintang dan Naya menemukan sebuah tongkat bunga lili. Untuk mencapai daerah selatan, mereka harus melewati sebuah air terjun yang berbahaya karena aliran air tersebut bisa menyerap energi. Meskipun begitu, mata tajam Gumintang mampu menembus kedalaman air terjun, mengungkapkan bahwa di baliknya ada penghalang atau pelindung yang menyimpan kekuatan atau persatuan tertentu. Namun, air terjun ini menyimpan misteri yang mengancam; banyak koloni Sadako hampir menjadi korban karena tidak mengerti tentang elemen air ini.
Gumintang menyarankan kepada Naya untuk menguji kekuatan tongkat bunga lili. Dengan kejutan, tongkat tersebut mampu memancarkan kekuatan yang luar biasa, dan Naya berhasil mengendalikannya.
Hisha!
Dua makhluk dari unsur air dan tanah muncul di hadapan mereka (Naya dan Gumintang).
Masesur mewakili makhluk dari tanah, sementara Arkana mewakili makhluk dari air. Dengan mengubah wujud mereka, mereka memberitahukan kepada Naya dan Gumintang bahwa tongkat bunga lili tersebut adalah milik Hiranya. Ini adalah suatu keajaiban bahwa yang menemukan tongkat itu adalah Naya.
"Hiranya," gumam Masesur.
"Apakah kamu mengenal dan mengerti tentang tongkat ini?" tanya Naya.
"Energi tongkat ini adalah milik Hiranya," jawab Masesur.
"Siapakah dia?" tanya Naya.
Masesur terdiam dan memandang Arkana.
"Kamu adalah Hiranya," kata Masesur.
"Bukan, aku Sadako. Nama saya Naya, dari Koloni Sadako," kata Naya.
"Aegir telah memberikanmu persatuan dengan Hiranya," kata Masesur.
Naya merenung tentang kata-kata Masesur. Sementara itu, Gumintang mencoba mencari tahu mengapa air terjun ini begitu berbahaya untuk dilalui.
Arkana kemudian menjelaskan, "Air terjun ini mengalir di seluruh daerah selatan untuk melindungi perbatasan dari energi yang bisa membahayakan Getsuwage. Koloni Getsuwage bertugas menjaga dataran selatan agar tidak rusak."
“Apakah kami diperbolehkan melewati daerah selatan untuk bertemu dengan Hako?” tanya Naya.
“Tentu saja,” jawab Arkana. Izin diberikan setelah melihat bahwa cahaya biru milik Hiranya bersatu dengan kekuatan Naya.
Inka
Setelah memahami tujuan kedatangan Naya dan Gumintang, Arkana dan Masesur membimbing mereka menuju daerah selatan untuk bertemu dengan Hako. Arkana menjelaskan bahwa tongkat tersebut milik Hiranya, sebuah kekuatan paling agung dari Negeri Segara.
"Aku tahu bahwa Inka ini adalah milik Hiranya. Bagaimana kalian bisa memiliki itu?" tanya Arkana.
Naya melihat ke tongkat bunga lili tersebut.
__ADS_1
"Kami melewati Bukit Baji sebelum akhirnya tiba di Vikrama, tempat kami bertemu dengan Arkana dan Masesur. Tongkat ini tiba-tiba muncul di depan kami setelah kami berbicara di bawah pohon," jawab Naya.
"Inka ini memiliki makna yang sangat suci," kata Arkana.
Saat ini, Inka telah kehilangan kristal birunya, dan cahaya biru yang sebelumnya ada di Inka telah berpindah ke tubuh Naya. Agar dapat menggunakan kekuatan Inka, diperlukan kembalinya kristal biru ke dalamnya agar cahaya biru dapat terkumpul dalam kristal tersebut.
"Apakah kalian tahu di mana kristal biru itu berada?" tanya Arkana kepada Naya.
"… mungkin, Aegir Segara akan membantu saya mengetahuinya," jawab Naya, sambil memikirkan dan memandang Gumintang.
"... saya tengah mencari cahaya biru tersebut, Naya. Sepertinya kita perlu menuju suatu tempat terlebih dahulu," kata Gumintang.
Gumintang kemudian membuka jendela ke dimensi hitam, "Mari cepat!" seru Gumintang, mengajak mereka memasuki dimensi maya yang telah diciptakan oleh Banes untuk pergi ke Goa Janu.
Cahaya Biru di Goa Janu
“Banes,” panggil Gumintang meminta bantuan Banes untuk membuka dimensi maya ke tempat bernama Goa Janu. Dengan bimbingan Banes, Gumintang mengarahkan mereka ke Goa Janu. Koneksi yang tak terputus antara Banes dan Gumintang mempermudah pergerakan mereka – Gumintang, Naya, Arkana, dan Masesur.
“Ini Goa Janu, Sadako. Cobalah gunakan cahaya biru di sini, aku terakhir kali melihatnya di sini,” kata Gumintang.
Hishaa!!!
“Bo!!Gum!!!” Gumintang berusaha menahan tekanan tersebut.
Tanpa disadari, Poram membantu Gumintang untuk menangani kekuatan tersebut. Dalam bentuk bayangan yang tak terlihat, Poram menyelubungi kekuatan cahaya biru agar tidak sepenuhnya meresap ke dalam tubuh Naya, hanya mengelilinginya.
“Aku melihat benang-benang cahaya menjalar menuju daerah selatan dan berpusat di Goa Janu,” kata Naya. Hanya dalam sekejap, Naya kembali ke wujud normalnya, cahaya hijau mulai memudar.
Kristal Biru
Naya berhasil mendeteksi adanya kekuatan terpisah dari Inka (tongkat bunga lili), dan Gumintang berhasil mengidentifikasi lokasi keberadaan kristal biru tersebut. Naya kemudian menceritakan peristiwa di Goa Janu yang terjadi sebelum Air Terjun Vikrama. Namun, peristiwa ini memiliki kaitan dengan pemisahan kristal biru dari Inka, yang masih tersebar di beberapa titik di dataran Negeri Segara. Namun, hanya Hako yang bisa mengambilnya.
Hako, sebagai pimpinan Getsuwage, memiliki kemampuan untuk menemukan kristal biru tersebut. "Apakah kita bisa menemukan kristal biru itu, Yang Agung?" tanya Naya dengan keraguan.
"Kita telah menemukan titik-titiknya, meskipun mencari ke beberapa tempat tidak akan berguna karena kristal ini tak dapat diambil begitu saja. Hanya Hako yang bisa melakukannya. Naya, kekuatanmu bisa saja membantu menemukannya," jawab Gumintang.
"Apakah kamu lupa sesuatu, Naya?" Gumintang bertanya sambil menggenggam objek yang bersinar.
"Apa itu, Yang Agung?" tanya Naya.
"Aku berhasil mendapatkan kristal biru ini berkat bantuan Poram," jawab Gumintang.
__ADS_1
"Tapi bukankah kamu sebelumnya berkata bahwa kita tak bisa menemukannya?" tanya Naya.
"Pada awalnya, aku meragukannya. Ternyata Poram membantuku dengan mencengkeram kristal biru saat itu muncul dan lenyap begitu cepat," jawab Gumintang.
Kristal itu berkilauan.
"Naya, pasangkan ini ke Inka," kata Gumintang sambil memberikan kristal biru yang sudah ditemukan.
Naya lalu mengambil dan memasang kristal itu ke Inka. Poram kemudian muncul di depan Naya, Arkana, dan Masesur.
ARRRRRRRHHHHHH!
"Apa itu?" tanya Arkana, begitu juga Naya dan Masesur yang tampak terkejut.
"Ini adalah Poram, dia membantu menemukan kristal ini saat aku dalam kekuatan pikiran maya. Aku berhasil mengidentifikasi lokasinya, tapi Poram membantu dengan kecepatan dan membentuk elemen untuk mencengkeram dan membekukannya," jelas Gumintang.
"Dia besar sekali," ujar Naya.
Poram kemudian menjelaskan, "Salam, aku Poram, lahir dari pusat Aegir," dengan suara yang menggelegar dan menakutkan.
"Baiklah, terima kasih Poram. Sekarang, pergilah ke Orgages dan beritahu bahwa kami membutuhkan Enure untuk menyempurnakan Inka ini," kata Gumintang sambil meminta Poram untuk pergi ke pusat Aegir. Poram pergi, meninggalkan Naya, Gumintang, Arkana, dan Masesur.
Enure dalam Kristal Biru
Poram, atas perintah Gumintang, langsung menuju pusat Aegir untuk bertemu dengan Orgages dan menyampaikan informasi tersebut. Dalam pembicaraan dengan Orgages, dia mengatakan, "Ambil Enure dan Biosa ini. Kamu pasti memerlukan ini, jadi jagalah baik-baik," kata Orgages sambil memberikan Enure dan Biosa kepada Poram.
Setelah itu, Poram berpamitan dan segera menuju Goa Janu untuk menyerahkan Enure dan Biosa kepada Gumintang. Naya menerima Enure dari Poram dan dengan cepat menyatukannya dengan kristal biru. Dengan gerakan kuat, Naya memancarkan kekuatannya. Cahaya biru yang mengelilingi tubuhnya kemudian mengikuti Enure menuju kristal biru, menyatu menjadi satu dalam kristal tersebut. Dalam kerja sama yang berhasil, Enure membantu mengarahkan cahaya biru ke dalam kristal, menciptakan fokus yang sempurna.
~ Catatan ~
Membangun fondasi kekuatanmu adalah langkah awal menuju kesuksesan dirimu.
Keyakinan adalah pilar utama; tanamkan sekarang, agar esok menderu gemilang.
Terangi lorong-lorong gelap hatimu, gali ke dalam, dan saksikan keajaibanmu terungkap.
Gagal bukanlah akhir; setiap usaha berarti, meski tak selalu berbuah sempurna.
Rasa lega hadir, mengusir penyesalan, ketika tahu usahamu tak pernah sia-sia.
Kini saatnya berdiri tegak kembali, menghadapi segala tantangan dengan semangat baru.
__ADS_1