Gumintang Kunang-Kunang

Gumintang Kunang-Kunang
Sadako Terpisah oleh Tiga Daerah


__ADS_3

    Xar adalah koloni kelima yang muncul setelah Koloni Getsuwage. Penciptaan Koloni Xar diakui dalam kesatuan bersama Aegir Segara. Saat ini, sejarah alam semesta menyambut Xar dengan suka cita, membawa keseimbangan yang tercipta, dan Ordes Dih Aweyam yang tidak lagi bergolak. Aegir Segara, dalam wujud Acintya, kembali ke pusat Aegir dan bertemu dengan Orgages serta Gumintang.


    “Wahai, Aegir Segara. Dalam wujud Acintya sebelumnya, Engkau telah menciptakan Koloni Getsuwage untuk menjaga dataran Negeri Segara. Saat ini, tugas saya dengan Kin’Yobi dan Sadako belum sepenuhnya selesai. Bagaimana saya dapat menuntaskan tugas ini, Aegir Segara?” tanya Gumintang pada Aegir Segara.


    “Wahai, Kunang. Perjalananmu masih panjang, dengan banyak hal yang belum ditemui. Namun, proses ini harus dilalui sebagaimana awalnya, Kunang,” jawab Aegir Segara.


    “Aku menyadari bahwa semuanya berada dalam keseimbanganmu. Namun, saat ini aku merasa bingung. Saya tidak tahu apakah saya merasa sedih atau bahagia?” tanya Gumintang.


    “Aku telah menyatukan perasaan duka dan sukacita menjadi satu. Ketika perbedaan itu menyatu, maka aku memberitahu bahwa sepanjang perjalananmu, aku selalu bersamamu, mendampingimu. Percayalah, Kunang,” jawab Aegir Segara.


    Aegir Segara kemudian meminta Gumintang untuk melanjutkan perjalanan tanpa keraguan. Gumintang kembali ke daerah timur, menuruni tangga dan melewati Enure. Dia melihat bayangan Naya yang tampak sedang menangis di sudut mata, namun Gumintang melanjutkan perjalanan tanpa terlalu memperdulikan hal tersebut. Dia bergerak menuju daerah timur untuk bertemu dengan Naya dan memberikan pengetahuan semesta.


    Waktu akan tiba ketika Gumintang akan menemui Xar, sesuai yang telah ditentukan oleh semesta. Aegir Segara mengingatkan Gumintang bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana yang telah diatur.


Jati Diri Sadako


    Naya, sebagai pemimpin Koloni Sadako, menemukan cara untuk merasakan kehidupan di tengah kesepian. Melalui praktik Fustra, Koloni Sadako berhasil bertahan dan semakin mengukuhkan diri. Namun, apakah ada harapan buruk bagi mereka yang menginginkan hidup? Meski pertanyaan ini muncul sebagai pertimbangan yang bijak, telaah di pusat Aegir menunjukkan bahwa tidak semua harapan dapat terwujud, sebab pandangan terbatas di Negeri Segara tidak seterang pusat Aegir.


    Harapan yang bermakna sejatinya berjalan seiring kebenaran. Seperti pepatah yang beredar di pusat Aegir, "Harapan bukanlah sekadar tentang kebahagiaan, bahkan kadang seseorang berharap akan kesedihan…" catatan ini tertulis di papan hitam. Meski terdengar aneh, hal ini mencerminkan realitas bagi mereka yang harus berhadapan dengan ketidakbenaran. Kesedihan menjadi langkah awal menghapus dosa, dan lebih dari sekadar air mata. Kesedihan di sini mencakup rasa sakit, penyesalan, dukacita, dan pemaafan.


    Harapan semacam ini sering dipanjatkan saat waktunya telah tiba. "Belum pernah kutemui harapan semacam ini sepanjang peradaban semesta," gumam Gumintang, merasakan persatuan dengan Aegir Segara.


    Sadako senantiasa berkumpul di bawah pohon Alitaru setiap hari, memohon harapan untuk segala kehidupan di Negeri Segara. Bentuk harapan ini membawa keseimbangan antara pemberi dan penerima. Tidak ada ketergantungan mutlak; bila penerima tidak memelihara keseimbangan ini, pemberi pun tidak terikat olehnya, dan sebaliknya. Tetapi yang terpenting, keseimbangan ini bukan hanya sebatas antara Sadako dan energi Aegir, melainkan juga mencakup seluruh semesta.


    Sadako adalah manifestasi kebahagiaan yang menghasilkan harmoni dan kesetimbangan. Kehadirannya memiliki dampak besar bagi Negeri Segara. Dalam penciptaannya, Sadako telah diberi wawasan tentang penderitaan yang akan datang (perjalanan maya semesta). Tidak ada yang dapat menghentikan perjalanannya ini hingga waktunya tiba.


    Saat ini, Naya berada di daerah timur, memantau setiap cahaya hijau yang datang dari arah utara, tengah, dan selatan.


Kebahagiaan Melahirkan Kesedihan


    Gumintang mengajarkan pengetahuan kepada cahaya hijau (Koloni Sadako) melalui kekuatan pikiran maya, dengan penjelasan awal yang membahas dua elemen terkenal: Alitaru dan Manta. Alitaru adalah pohon yang memerlukan air untuk tumbuh, namun setiap elemen ini memiliki takaran yang harus dijaga agar tidak berlebihan atau kekurangan. Jika Alitaru menyerap atau menerima terlalu banyak Manta, hal ini akan berakibat fatal dan merenggut hidup Alitaru. Sebaliknya, jika Manta tidak memberikan cukup air kepada Alitaru, pohon ini akan mati karena kekurangan air. Sayangnya, gambaran ini membuat Alitaru tampak sangat menyedihkan.


    Mari kita bahas sisi baiknya terlebih dahulu: Alitaru bergantung pada Manta (air danau) sebagai sumber kehidupan. Namun, Alitaru harus belajar untuk tidak serakah dan menyerap air terlalu banyak sekaligus, karena hal ini akan menyebabkan kematian pohon ini. Prinsip yang sama berlaku untuk kehidupan manusia; tidak boleh serakah atau berlebihan dalam menerima. Pelajaran ini mengajarkan untuk mencukupi diri, bersyukur, dan tidak berlebihan terhadap sesuatu.


    Namun, saat melihat Alitaru yang tampak sedih, perlu diingat bahwa Manta (air) juga tidak bisa egois dan menahan aliran air untuk dirinya sendiri. Bahkan dalam penciptaan Danau Manta, aliran air itu tidak akan memiliki manfaat jika Alitaru (pohon) tidak ada. Penciptaan itu sendiri akan sia-sia jika tidak diserap oleh Alitaru, yang juga dapat merugikan dataran jika tidak ada pohon.


    Pesan yang jelas adalah bahwa kekuatan apa pun tidak ada artinya jika tidak digunakan untuk manfaat, dan hal yang sama berlaku untuk pengetahuan. Bahkan lebih, seseorang harus menggunakan pengetahuan untuk menjadi berguna dalam pencarian kebenaran.


    “Naya, mengapa kamu selalu tersenyum?” tanya Gumintang pada Naya yang sedang memandang cahaya hijau yang bersinar dari arah utara, tengah, dan selatan.


    “Aku merasa begitu bahagia melihat cahaya hijau yang begitu indah, Yang Agung. Perhatikanlah, padang rumput bergoyang oleh hembusan angin, tarian alam yang mengalirkan ke kanan dan kiri.” Naya menjawab sambil tersenyum, menunjukkan hamparan padang rumput yang berwarna hijau.


    “Kebahagiaanmu benar-benar membuatku turut bahagia. Namun, pelajari juga untuk merasakan kesedihan, Naya. Aku tak tahu apakah Negeri Segara akan selalu seperti ini. Terlebih lagi, aku belum menemukan jawaban atas tugas yang ada,” kata Gumintang.


    “... belajar tentang kesedihan?” tanya Naya.


    “Pemalsuan kebahagiaan memang memalukan, tetapi ketika kita belajar merasakan kesedihan, itu juga merupakan bentuk kebahagiaan, Naya,” jawab Gumintang.


    “Bisakah Anda menjelaskan mengapa kesedihan adalah bentuk kebahagiaan, Yang Agung?” tanya Naya.


    “Semesta mengajarkan bahwa awal akan berakhir, akhir memulai permulaan, dan begitu pun dengan sukacita dan duka, Naya. Kebahagiaan melahirkan kesedihan ketika rasa syukur lebih rendah daripada yang seharusnya, kesombongan berkuasa, dan kemunafikan hadir sebagai bayangan,” jawab Gumintang.


    Mendengar jawaban dari Gumintang, Naya kemudian mulai memahami bahwa bersuka cita bukanlah hal yang buruk. “Aku belum sepenuhnya mengerti dan memahami, Yang Agung. Aku merasa bahagia untuk Sadako. Jadi, apa yang seharusnya aku lakukan?” tanya Naya, tampak bingung.


    “Jangan ragu untuk bersuka cita. Itu adalah perintah dan seruan dari Aegir Segara. Energi itu juga mengalir dalam diriku, Naya. Dan jangan lupa, Danau Manta terbentuk oleh air mata yang pernah kamu tangisi. Berapa besarkah Danau Manta yang akan tercipta?” tanya Gumintang.


    Dalam pikiran maya, terlintas gambaran sebuah makhluk yang selalu berjalan di dataran tandus, tubuhnya tidak terlalu tinggi.


    “Tiba-tiba aku melihat cahaya yang tidak aku kenali, Yang Agung. Siapakah sosok cahaya itu?” tanya Naya.


    “Apakah engkau melihat Xar?” Gumintang bertanya.


    “Apakah dia adalah cahaya tersebut?” tanya Naya.


    “Tepat sekali,” Gumintang menjawab.


    Mengikuti Gumintang, Naya diajak melihat Pohon Alitaru dan Danau Manta bersama dari sisi tebing yang tinggi. Naya melihat beberapa cahaya hijau yang berputar-putar di sekitar Pohon Alitaru.


Kekuatan Energi Aegir dan Cerminan di Danau Manta


    "Byurrr"


    "Trraadddahhhh"


    Suara benturan dan guyuran air dari Danau Manta terjadi tiba-tiba di depan Naya dan Gumintang. Sebuah energi menyerupai bola api menghantam Danau Manta, menyebabkan air berhamburan dan membasahi Gumintang serta Naya. Seperti hujan deras yang turun tanpa mendung. Dalam kesatuan dengan Naya, Aegir memberi tahu bahwa Danau Manta akan dipindahkan ke pusat Aegir, begitu juga dengan Pohon Alitaru.


    “Wahai, Sadako. Sekarang Xar hadir di Negeri Segara. Untuk menghindari kekacauan di antara Koloni, aku akan memindahkan Pohon Alitaru dan Danau Manta ke pusat Aegir. Namun, ini tidak berarti mereka akan menghilang dari hadapanmu, Naya. Sadako akan tetap memiliki kehidupan dan harapan. Pergilah ke selatan bersama Gumintang untuk menemui Getsuwage. Satukan energimu dengan Getsuwage," kata Aegir Segara bersama Naya dalam kesatuan.


    Mendengar hal ini, Naya kembali bertemu dengan Ayod.


    “Ratha, Ayod, Despair, Nagara, Vinaya, dan Haruto!” panggil Naya.


    Cahaya hijau mendekati Naya.

__ADS_1


    "Apa yang terjadi, Naya?" tanya Ayod.


    "Aku akan segera pergi ke daerah selatan bersama Yang Agung," jawab Naya.


    "Apakah kita akan ikut bersamamu?" tanya Ayod.


    "Kalian, Ratha dan Haruto, menuju utara. Despair dan Nagara, menuju tengah. Vinaya dan Ayod, menuju barat. Buatlah padang rumput hijau di sana (utara, tengah, dan barat). Aku akan pergi ke selatan untuk membuat dataran Negeri Segara menjadi hijau secara keseluruhan," jawab Naya.


    Mendengar perintah ini, mereka (Ratha, Ayod, Despair, Nagara, Vinaya, dan Haruto) segera pergi ke tempat yang diberikan tahu oleh Naya.


    “Ingatlah, kalian tidak akan kembali ke timur. Tetaplah tinggal di sana. Ketika waktunya tiba, aku akan memberitahu kalian untuk kembali ke timur,” kata Naya.


    Naya dan Gumintang memulai perjalanan menuju selatan bersama-sama. Perjalanan ini adalah tugas untuk bertemu dengan suatu koloni yang telah disebutkan oleh Aegir Segara kepada Naya. Cahaya putih yang dilihat oleh Gumintang merupakan isyarat dari Koloni Kunang-Kunang yang telah tersebar jauh dari daerah utara. Kadang-kadang Gumintang memberikan isyarat kepada mereka yang telah beradaptasi dan berintegrasi dengan koloni setempat, yaitu Koloni Sadako. Kekuatan mereka telah menjadi bagian dari koloni yang telah ada di daerah tempat mereka berada. Serbuk-serbuk ini beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal mereka. Akan tetapi, kemampuan ini hanya dimiliki oleh Koloni Kunang-Kunang.


    “Mengapa kamu tidak memberitahukan segalanya sejak awal, Yang Agung?” tanya Naya sambil berjalan.


    “Aku memberikan mereka isyarat panggilan. Jika hati nurani mereka menolak, aku akan membiarkannya. Ini bukan berarti aku tidak mencintai mereka, tetapi aku mencintai mereka dengan memilih kebenaran. Selama kebenaran masih menjadi pilihan mereka, maka aku akan membiarkannya,” jawab Gumintang.


    “Dengan kata lain, mengapa aku harus memaksa mereka pergi dan kembali ke daerah utara, sedangkan mereka juga bisa menjadi Sadako atau koloni lainnya? Mereka telah tumbuh bersama Sadako, Kin’Yobi, atau Getsuwage. Aku ingin mereka mengenali potensi mereka sebagai suatu kelebihan di masa depan. Hal yang sama berlaku untuk Vinaya dan Haruto. Suatu saat, mereka mungkin bisa menggabungkan kekuatan Koloni Kunang-Kunang dan Koloni Sadako,” tambah Gumintang.


    “Apakah kamu tidak pernah merasakan kesedihan dan kesepian, Yang Agung?” tanya Naya.


    “... aku merasakannya saat tiba di Negeri Segara, dan aku telah merasa kesepian berjuta tahun yang lalu setelah Sambu dan yang lainnya diciptakan. Kemudian aku menemukan cara untuk mengukur waktu menggunakan Maya, sampai akhirnya Kin’Yobi, Sadako, dan Getsuwage tercipta. Energi Aegir selalu mengalir, dan tugasku masih belum selesai, Naya,” jawab Gumintang.


    “Aku merasakan hal yang sama, dan itulah sebabnya Alitaru dan Manta diciptakan sebelumnya sebelum dipindahkan ke pusat Aegir,” kata Naya.


    “Apakah kamu tahu mengapa mereka dipindahkan, Naya?” tanya Gumintang.


    “Hmm … apakah ini berkaitan dengan Xar?” tanya Naya.


    “Tentu saja,” jawab Gumintang.


    “Aku tidak tahu, Yang Agung,” kata Naya.


    “Hal ini mirip dengan Biosa yang dimiliki oleh Sage. Biosa telah ditempatkan di taman Aegir. Aku menyadari bahwa akan memiliki dampak negatif jika dibiarkan berada di Negeri Segara, maka aku memindahkannya ke pusat Aegir. Begitu juga dengan Enure yang tercipta dari kristal hitam Kin’Yobi. Semua ini tersedia di pusat Aegir,” kata Gumintang.


    “… Naya, unsur-unsur ini adalah hasil dari duka, dan tidak baik untuk tetap ada di Negeri Segara yang damai terlalu lama. Ini akan berpengaruh pada energi Aegir. Seperti juga wujud kemarahan Kin’Yobi, duka yang telah menciptakan Danau Manta dan mengalir ke Pohon Alitaru harus dibersihkan oleh Orgages agar energi Sadako bisa seimbang seperti Ordes Dih Aweyam,” tambah Gumintang.


Perjalanan ke Bukit Baji: Menemukan Kehidupan Yang Tersisip


    Dalam perjalanan ke selatan, Naya ditemani oleh Gumintang melalui Bukit Baji. Bukit ini memiliki lereng dan batuan yang tajam. Sebuah cahaya dari puncak bukit terlihat berkedip-kedip, terlihat oleh Gumintang seperti energi Aegir. Menjelajahi medan yang cukup sulit, Naya mengubah batuan-batuan tersebut menjadi pohon-pohon, setiap batuan yang dilewati berubah menjadi pohon melalui kekuatan Naya.


    “Harap berhati-hati, Naya. Ada kemungkinan pijakan palsu,” kata Gumintang memberi peringatan.


    “Bukit ini cukup tinggi dan curam. Daripada terus berjalan di atas batu-batu yang berbahaya, lebih baik aku ubah mereka menjadi pohon-pohon,” kata Naya sambil melangkah dan tangan kanannya menyentuh batuan yang segera berubah menjadi pohon.


    Hisha!!!


    Uusssshhhhhhhhhfff


    Batu besar yang menghalangi jalan segera berubah menjadi pohon yang memberikan keteduhan.


    Gumintang melihat ke belakang, melihat jalur yang mereka lewati.


    “Naya, lihatlah ini,” Gumintang menunjuk pada keindahan banyak bunga dan pepohonan yang telah tumbuh.


    “Woww …” Naya terkagum-kagum, demikian juga dengan Gumintang.


    “Bukit Baji telah berubah menjadi tempat yang sangat indah, Naya,” Gumintang berkomentar.


    “Tengok! Di tengah bunga-bunga itu, aku melihat sesuatu. Cahaya putih yang bersinar,” seru Naya.


    “Aku juga melihatnya,” Gumintang berkata dan mendekati bunga-bunga tersebut.


    “Inilah bunga lili. Bunga yang unik dari Bukit Baji, namun ini kali pertama aku melihatnya,” kata Naya.


    “Bunga lili ini memiliki perbedaan. Ia memancarkan cahaya putih yang berkilauan,” kata Naya lagi sambil memegang dan memeriksa bunga lili dengan seksama.


    “Naya, bunga lili ini sebenarnya adalah tongkat,” kata Gumintang.


    “Bagaimana mungkin?” tanya Naya yang terkejut.


    “Amati lebih teliti bagian bawahnya, itu sebenarnya adalah tongkat,” Gumintang menjelaskan.


    “Oh,” kata Naya dengan rasa kagum.


    “Lihatlah, ini bukanlah bunga lili sejati,” kata Gumintang.


    “Bagaimana bisa tongkat ini tumbuh sebagai bunga lili, Yang Agung?” tanya Naya.


    “Bisakah kamu mengambilnya, Naya? Kamu telah menyentuhnya, dan ketika kamu pertama kali menyentuhnya, cahaya itu bersinar sangat terang,” kata Gumintang.


    “Aku akan mencobanya,” Naya berkata sambil meraih bunga lili dengan tangan yang erat.

__ADS_1


    Dengan sekali tarikan, "Sssshhhaaaaa!!!"


    “Ooouh? Aku kira ini sangat sulit dicabut hehehe …” kata Naya.


    Ternyata bunga lili itu adalah tongkat.


    “Rupanya Aegir Segara memberikan ini untuk menyatukan kekuatanmu dengan Getsuwage,” kata Gumintang.


    “Perhatikan, tongkat ini begitu indah, Yang Agung,” kata Naya.


    Gumintang kemudian meresapi energi sekitar untuk memeriksa sejarah tongkat tersebut. Naya juga mengaktifkan kekuatannya, “Hisshhaa!!!”


    Pikiran maya Gumintang merentang ke dalam dimensi maya, memandang perjalanan penciptaan tongkat ini.


    Sebuah kekuatan besar menerpa dataran Negeri Segara pada tahun keempat, saat Kin’Yobi terkejut dengan kemunculan Gunung Iwawa yang tiba-tiba. Gumintang menjelajahi dimensi maya, menyaksikan terbentuknya Getsuwage dan cahaya merahnya yang memancar menuju Bukit Baji. Perlahan-lahan, Bukit Baji muncul, ditumbuhi oleh segala jenis batuan hingga menciptakan lereng yang curam dan tinggi.


    Getsuwage terbentuk dari batuan Bukit Baji, memiliki tubuh tinggi dan berotot. Namun, cahaya biru juga melambangkan Getsuwage. Gumintang melihat sosok seorang ibu; meskipun dia hadir dalam pikiran maya, energinya merasakan atmosfer yang tegang dan menguras. Merinding yang tak pernah dirasakannya sebelumnya mengalir melalui kekuatannya, menekan dan memadatkan.


    “Adakah ini energi Aegir?” Gumintang merenung dalam pikiran maya tongkat bunga lili. Sementara itu, Naya telah berubah menjadi seorang putri cantik berbalut cahaya putih dengan aura hijau di sekelilingnya. Rambutnya melayang di angin, dan matanya bercahaya hijau. Naya menahan perhatian Gumintang dengan tongkat tersebut, memungkinkannya untuk fokus dalam dimensi maya, sementara Naya memastikan situasi di sekitar Bukit Baji tetap terkendali.


    Bukit Baji tidak hanya terbentuk dari kekuatan Getsuwage. Guncangan pertama bukanlah dari Hako; guncangan itu menciptakan Gunung Iwawa di bagian barat Kin’Yobi. Guncangan kedua muncul dari Hiranya. Cahaya merah kedua dari Getsuwage.


    “Aku adalah Hiranya. Aku terlahir kembali untuk melindungi tanah kelahiranku dan merawat anak-anakku ha …! haha …! ha,” suara samar perempuan terdengar dari dalam cahaya merah, saat cahaya itu merentang ke dataran Negeri Segara.


    Gumintang kemudian melepaskan genggaman pada tongkat dan menghentikan kekuatan pikiran maya.


    Buuussssshhhsssttt


    Seperti suara hembusan angin. Naya perlahan-lahan mengurangi kekuatannya. Mereka (Naya dan Gumintang) melanjutkan perjalanan, membawa tongkat tersebut.


Tongkat Bunga Lili


    Awalnya, bunga lili yang ternyata adalah sebuah tongkat menjadi milik Naya. Tongkat tersebut memiliki berbagai keanehan, mulai dari ujungnya yang kehilangan kristal hingga terpancar cahaya biru tanpa diketahui penyebabnya. Meskipun Naya sesekali menggunakan kekuatannya dengan tongkat tersebut, namun tak satupun kekuatan berhasil dikeluarkan oleh tongkat bunga lili ini.


    “Apakah kamu melihat retakan ini, Yang Agung?” tanya Naya pada Gumintang.


    Gumintang kemudian mengamati tongkat bunga lili tersebut. “Benar, aku melihatnya,” jawab Gumintang.


    “Apakah karena retakan ini sehingga kekuatanku tidak bisa berfungsi?” tanya Naya.


    “Salah satu kemungkinannya, Naya. Mungkin saja itu penyebabnya,” jawab Gumintang sambil memandang cahaya biru yang sesekali muncul. Ia kemudian menatap ke arah langit dan berusaha melihat kembali kejadian yang terjadi dari tongkat bunga lili tersebut.


    Haxhhhhh …


    Haxxhh …


    Berulang kali Gumintang mencoba menjulurkan tongkat tersebut ke arah langit, namun belum ada perubahan yang terjadi.


    BO!!GUM!!


    Setelah Gumintang mengucapkan mantra bogum, tubuh Naya terangkat oleh cahaya biru dari kekuatan tongkat bunga lili tersebut.


    Kemudian, kesatuan Naya dihadirkan oleh Aegir Segara.


    “Wahai, Sadako. Perjalananmu ke daerah selatan hendaknya membawa tongkat tersebut, yang sebenarnya adalah milikmu. Namun, sebelum itu, kamu harus menemukan cahaya biru yang dimiliki oleh Hiranya dari Getsuwage,” kata Aegir Segara.


    “Wahai, Aegir Segara. Siapakah Hiranya?” tanya Naya.


    “Hiranya adalah kekuatan dari Getsuwage yang lebih besar. Namun, saat ini Hiranya masih belum bangkit sepenuhnya dari kekuatannya. Kekuatan Hiranya ingin bersatu dengan kekuatanmu untuk sementara waktu, agar dapat melindungi Sadako,” jawab Aegir Segara.


    Bussshhhh …


    Naya berada dalam keadaan tidak sadarkan diri, ketika cahaya biru mulai memasuki tubuhnya dengan perlahan. Gumintang memutuskan untuk memasuki pikiran Ayod, dengan tujuan untuk menanyakan rahasia ketakutan terbesarnya.


    “Bo!!!!!Gum!!!!” Gumintang mengucapkan mantra itu kembali, berusaha mengakhiri persatuan tersebut. Cahaya biru tersebut tidak mampu mengendalikan kekuatannya sendiri. Tubuh Naya tidak dapat menampung begitu banyak kekuatan secara tiba-tiba. Mengakhiri persatuan adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Naya. “Naya! Cobalah untuk mengendalikan cahaya biru itu!” Gumintang memanggil dalam pikiran maya Naya.


    Naya berusaha keras untuk mengendalikan kekuatan itu.


    Dalam wujud yang dimilikinya saat ini, Gumintang mampu mengendalikan cahaya biru tersebut. Namun, Naya harus mencari cara untuk menguasainya sendiri. Percakapan Naya dengan Aegir Segara berakhir, energi Aegir mengalir ke tubuh Naya, dan dengan seketika persatuan tersebut terputus.


    Dengan bantuan Aegir Segara, Naya akhirnya dapat mengendalikan cahaya biru tersebut.


~ Catatan ~


    Mengutamakan Kebenaran (dharma) berarti mengesampingkan kepentingan pribadi, tradisi, dan sumpah.


    Setiap tindakan, kata, dan perbuatan seharusnya selaras dengan nilai kebenaran.


    Jika merasa ragu, langkahkanlah pertimbangan terlebih dahulu.


    Pikirkan akibat yang mungkin timbul jika keputusan salah diambil.


    Sejarah yang penuh duka tak harus menguasai ruang kebahagiaan.

__ADS_1


    Kehidupan harus bergerak sesuai jalurnya.


    Kuasailah potensi diri dan yakini bahwa hidup masih menawarkan peluang.


__ADS_2