Hadiah Cinta

Hadiah Cinta
Rencana licik


__ADS_3

"Sa, lo aja, ya, yang nyetir mobil gue?" Erika bertanya pada Sasa, sembari menyerahkan kunci mobilnya pada sahabatnya itu. Entah kenapa kepala Erika terasa sakit, dan juga tubuhnya terasa panas.


Sasa menerima kunci yang Erika sodorkan, posisi mereka sedikit jauh dari parkiran, "Lo langsung ikut gue aja, ya, biar sekalian?" tanya Sasa, ia jadi cemas saat melihat wajah sahabatnya itu yang sudah memerah. Entah apa yang terjadi pada Erika, Sasa sendiri tidak tahu.


"Gak, gue tunggu depan sana aja!" Erika menunjuk ke arah jalan yang sudah cukup lengang. Kedua gadis itu memutuskan untuk pulang dari reuni itu lebih awal, terlebih Erika merasa tidak nyaman dengan tubuhnya.


Sasa mengangguk mengerti. "Oke, gue ambil mobil dulu!" Erika mengangguk, dengan langkah pelan, ia segera beranjak dari sana. Erika merasa benar-benar gerah, padahal tadi saat di taman, lokasi reuni itu ia merasa sedikit kedinginan. Untung saja dia sudah menjauh dari teman-temannya yang masih ada di pesta itu.


"Rika?"


Tio, laki-laki itu menepuk pundak Erika, membuat Erika mendongak ke arahnya. Pandangan Erika berkabut, dia menatap Tio dengan mata yang sangat menginginkan pria itu. Apa yang terjadi dengan tubuhnya? Kenapa dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri?


Tio meraih tangan Erika, ini adalah kesempatan bagus untuknya, karena saat ini, teman Erika si Sasa yang menyebalkan itu masih berada di parkiran, mengeluarkan mobil Erika dari sana.


"Tio? Lo mau bawa gue kemana?" tanya Erika berteriak, ia memukul tangan Tio dengan menggunakan tasnya. Tapi laki-laki itu tidak kenal lelah, ia terus memaksa Erika hingga mereka tiba di dekat mobil Tio yang ternyata sudah siap sedia di pinggir jalan.


Tidak banyak yang melihat kejadian tersebut, selain karena saat ini sudah cukup malam, orang-orang masih asik dengan pesta reuni itu. Membicarakan bisnis, keluarga, rumah tangga, dan juga gaji. Iya, ajang itu menjadi sebuah pesta saling pamer, membuat Erika merasa kurang betah di sana.


"Tio!! Lo mau bawa gue kemana?" tanya Erika yang merontak, duduk di samping Tio dengan tubuh yang terasa benar-benar sudah tidak nyaman.


"Ke tempat surga dunia!" jawab Tio yang membuat Erika diam.


Erika semakin tidak nyaman, ia mengipas tubuh bagian atasnya dengan menggunakan tangan. Ia benar-benar gerah saat ini. Tio yang melihat itu tersenyum kecil.


"Lo dari dulu masih sama, Rik. Masih sangat mulus dan juga menggoda! Bahkan sekarang makin seksi!" Kalau saja Tio tidak bisa mengendalikan dirinya dengan baik, mungkin sekarang air liur laki-laki itu sudah menetes keluar dari sudut bibirnya, membuat siapa saja yang melihatnya menjadi jijik.


Erika bingung dengan dirinya sendiri, seingatnya ia tadi tidak melakukan apapun, atau makan apapun, hingga dia bisa jadi kepanasan seperti ini.


Tunggu? Iya, Erika memang tidak makan, tapi tadi dia minum minuman dari Tio, bahkan melakukan cheers bersama.

__ADS_1


Erika melirik Tio dengan tajam, "Tio! Lo jebak gue, ya?" tanya Erika dengan mata yang melotot, dia bahkan sampai menunjuk Tio saking syoknya.


"Akhirnya lo sadar juga! Pokoknya malam ini, bakal jadi malam terindah buat kita, Rik!" Tio menatap Erika dengan mata yang membuat Erika jijik. Pandangan laki-laki itu turun ke arah gaun bagian atas Erika yang memang tidak tertutup.


"Sialan lo, Tio! Berhentiin mobilnya! Berhenti!!" Erika berteriak di sisa-sisa tenaganya yang habis karena pengaruh obat yang sudah diberikan oleh Tio.


"Gak akan, Rika! Malam ini bakal jadi malam yang tidak akan terlupakan bagi kita berdua!!"


Mobil yang Tio kemudikan semakin cepat, tujuannya saat ini tentu saja adalah hotel yang ada didekat sana.


Sedangkan saat ini Sasa sedang kebingungan, ia sudah selesai mengambil mobil, tapi ia tidak melihat Erika di tempat yang tadi mereka tentukan. Sasa menghubungi ponsel Erika, tapi tidak di angkat. Karena Sasa ingat, kalau sahabatnya itu tadi membuat ponselnya dalam mode silent.


"Aduh, Rika! Lo kemana, sih?" Sasa mencak-mencak di tempatnya, bingung harus melakukan apa. Ia teringat dengan Erick, dan memutuskan untuk menghubungi papa dari sahabatnya itu.


"Om, Erika udah pulang, ya?" tanya Sasa basa-basi, ia menggigit bibir bawahnya dengan gugup, takut kalau jawaban Erick tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Karena sepertinya tidak mungkin Erika bisa tiba di rumah dengan waktu yang secepat itu.


"Enggak, bukannya dia sama kamu, di tempat reuni?" tanya Erick, yang sudah mulai cemas karena pertanyaan Sasa. Ia merasa seperti ada yang tidak beres dengan anak gadisnya itu.


"Ya, Tuhan! Kemana anak itu? Ya sudah, Om akan suruh cari orang buat lacak dia, kamu bantu cari juga, ya?" Suara Erick terdengar panik, dan itu jelas saja terjadi. Tio benar-benar cari mati karena berbuat jahat pada Erika. Dia mencari lawan yang sangat tidak sebanding dengannya.


"Oke, Om. Sasa tutup telponnya!"


Setelah itu, panggilan tersebut terputus. Sasa kembali naik ke atas mobil, seluruh tempat di lokasi itu sudah ia jelajahi, tapi Erika masih tidak tampak batang hidungnya.


Sedangkan saat ini, di dalam kamar sebuah hotel dekat dengan lokasi reuni tadi, Erika sedang benar kepanasan, dia bahkan tidak mampu mencegah Tio yang semakin mendekat dengan seringai mesumnya setelah laki-laki itu mengunci pintu kamar hotel yang dia sewa, untuk melakukan niat jahatnya.


"Malam ini, aku bakal kasih servis terbaik buat kamu, Rika!" Mata Tio memandang Erika dari atas sampai bawah, gadis itu kini sedang duduk di tepi ranjang. Kaki Erika yang jenjang membuat libido Tio semakin naik.


"Tio, jangan mendekat kamu!!" tenaga Erika sudah habis karena memberontak sepanjang jalan menuju kamar hotel tadi. Bahkan air matanya yang jatuh tidak membuat Tio iba sedikitpun. Yang laki-laki itu inginkan saat ini adalah, bagaimana dia bisa menuntaskan hasratnya pada Erika.

__ADS_1


"Kenapa? Aku, kan, ingin menikmati kamu? Asal kamu tahu, Rika, aku sudah menunggu momen ini, lebih dari lima tahun yang lalu!" Tio semakin mendekat, dia bahkan sudah berani memegang lengan Erika, tapi langsung ditepis oleh gadis itu, membuatnya marah.


"Dasar sialan! Gak usah sok jual mahal, lo, ya! Terima aja! Gue itu kasih lo kenikmatan, bukan penderitaan!" Tio membentak Erika dengan kasar, ia bahkan sampai memegang dagu gadis itu dengan sangat keras.


"T-Tio, le-lepasin a-aku!!" Erika tergagap karena Tio memegang dagunya dengan sangat keras, dan itu membuatnya kesakitan.


Tio tertawa, ia melepaskan cengkeramannya, membuat dagu Erika tampak memerah.


Tio semakin mendekat, ia bahkan mencium leher Erika dengan ganas, merobek gaun bagian atas yang Erika pakai. Erika menjerit, dia menendang perut Tio hingga laki-laki itu terhuyung ke belakang.


"Sialan, lo, ya! Dasar wanita murahan!!"


Plak.


Tio dengan sangat keras menampar pipi Erika, wajah yang sudah memerah karena menahan gairah itu menjadi semakin merah. Tidak hanya panas, tapi juga perih di pipinya, membuat air mata Erika yang sedari tadi sudah menetes, jadi semakin meleleh dengan deras.


"T-Tio, a-aku mo-mohon, jangan—"


"Diam, lo, jala*g!!" bentak Tio, ia bahkan memukul Erika lagi, membuat gadis itu menjadi semakin terisak.


Erika berusaha untuk melindungi bagian tubuh atasnya, dia juga berusaha untuk bangkit dan berjalan, tapi itu sia-sia karena Tio menahannya dengan kuat.


Tio mencium wajah Erika, menikmati setiap sudut wajah cantik itu, saat ia ingin membuka seluruh pakaian yang Erika pakai, pintu kamar hotel tersebut di dobrak paksa dari luar. Membuat Tio kaget dan juga panik.


Hanya beberapa kali dobrakan, orang-orang berbadan besar yang melakukannya berhasil membuat pintu tersebut terbuka. Di sana empat orang laki-laki berbadan besar dan juga berkacamata menatap Tio dengan sangat tajam dari balik kacamatanya.


Sedangkan satu orang lagi menatap Tio seperti ingin mencabik-cabik tubuh Tio dengan tangannya sendiri.


"Sialan!! Beraninya kau melakukan ini pada wanitaku!! Kau mau mati?!"

__ADS_1


***


Happy reading, subscribe, vote, komen, ya!


__ADS_2