
Erika meringkuk di sudut tempat tidur, dia menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka, bajunya robek karena tangan laknat Tio, seumur hidup, Erika baru kali ini merasakan ketakutan yang amat teramat sangat. Dia menangis dengan terisak, bahkan kini tubuhnya yang terasa samakin panas membuat Erika semakin menderita.
Bukk.
Arrgghhh....
Tio memegangi wajahnya yang terluka karena pukulan pria yang mendobrak pintu kamar hotel yang dia sewa tersebut. Tio menelan salivanya dengan susah payah, mata tajam dari pria itu membuat Tio gemetar.
"Bajingan tidak tahu diri! Membusuklah kau di neraka sana, sialan!!" Laki-laki berbadan tegap itu melayangkan pukulan lagi pada Tio, dan tepat mengenai perut Tio yang langsung terasa nyeri. Tio bahkan sampai terpental ke atas tempat tidur.
Tio melihat Erika yang meringkuk semakin ke sudut saat dia terjatuh ke atas tempat tidur itu. Niat jahat Tio kembali mencuat saat dia melihat pisau pemotong buah ada di atas meja yang ada di samping nakas.
Tio dengan gerakan cepat langsung meraih pisau itu, dan melingkarkan tangannya di leher Erika, membuat gadis yang masih menangis dengan terisak itu menjadi semakin takut.
"Lo mau pergi dari sini, atau dia gue bantai habis?!" ancam Tio dengan wajah yang tampak serius, napasnya naik turun karena emosi, gugup dan juga takut yang bercampur menjadi satu.
Laki-laki yang menyelamatkan Erika itu, yang tidak lain adalah Axel berdecih sinis, "Kau mau melakukan negosiasi denganku? Kau sungguh mau mencari mati?" bentak Axel dengan mata tajamnya, bahkan belati pun sepertinya akan kalah tajam.
Mata itu membuat Tio bergetar, sedangkan Axel berjalan semakin dekat, anak buahnya yang berjumlah empat orang itu juga ikut maju, mereka mengepung Tio yang sudah berkeringat dingin.
"Lepaskan benda itu!" perintah Axel, ia menunjuk pisau buah yang entah kenapa bisa ada di sana, karena buah pun tidak ada di atas meja nakas tersebut. Sepertinya Axel harus melakukan sesuatu terhadap hotel ini, kenapa mereka begitu ceroboh sekali.
"Tidak akan!" jawab Tio dengan keberanian yang sudah tertelan habis di tenggorokannya. Dia menatap pada orang-orang yang berwajah sangar tersebut, aura yang ada dalam kamar hotel itu menjadi semakin mencekam.
__ADS_1
Axel yang sudah sangat geram langsung berjalan mendekat, tangan Tio gemetar membuat luka kecil di leher Erika. Gadis cantik yang amat sangat mencintai Axel itu berteriak kesakitan, membuat Tio kaget dan juga Axel yang semakin emosi.
Dengan hentakan kasar, Axel berhasil membawa Tio menjauh, sedangkan pisau tadi langsung di amankan oleh salah satu dari ke empat laki-laki berbadan besar yang ikut bersama dengan Axel.
Axel memberikan wajah Tio pukulan lagi, bukan hanya di wajah, perut pun ikut terkena. Hidung Tio mengeluarkan darah karena pukulan Axel. Setelah merasa puas, Axel yang bahkan tidak membiarkan Tio untuk memberikan perlawanan itu, menyerahkan laki-laki tidak bermoral tersebut pada ke empat pria berbadan besar tadi.
"Lakukan sesuatu yang seharusnya kalian lakukan terhadap dia!" perintah Axel dengan suara yang tegas dan juga dingin.
Mereka mengangguk, lalu menyeret Tio yang merontak dan berteriak keluar dari kamar hotel tersebut.
Axel menatap ke arah Erika yang menangis, dia kemudian mendekat dan naik ke atas tempat tidur itu. Niat hati ingin menenangkan gadis yang sangat mencintainya itu, tapi Axel malah mendapatkan bentakan.
"Jangan mendekat!! Jangan mendekat!!" sentak Erika dengan suara keras, ia mengacungkan tangannya sebagai pertanda larangan untuk Axel agar laki-laki itu tidak mendekat pada dirinya. Erika merasa kotor, dia bahkan jijik pada dirinya sendiri, dan ... Erika benci laki-laki!
Erika diam, nama Axel biasanya sangat berpengaruh terhadap dirinya, tapi kini ... Erika benci, ia benar-benar benci! Ia benci dengan makhluk berjambang itu. Kecuali Papa dan adik-adiknya.
"Jangan mendekat!! Kamu jahat!" sentak Erika, dia bahkan enggan melirik ke arah Axel, pengaruh obat yang masih ada dalam darahnya membuat tubuh Erika serasa makin panas, terlebih ada Axel juga di dekatnya, membuat Erika jadi menginginkan laki-laki itu.
"Rika, ini aku! Aku Axel, Rik!" Axel masih berusaha untuk membujuk Erika agar mendekat, ia meringis saat melihat leher Erika yang berdarah.
Namun sayangnya, rasa trauma Erika sepertinya lebih besar dari efek obat itu, walaupun dia sangat menginginkan sentuhan saat ini, tapi rasa takut akan bayang-bayang Tio tadi membuat nyali Erika menjadi terkubur di bawah dasar jurang yang paling dalam.
Axel yang melihat Erika tampak semakin tidak nyaman, kembali mencoba mendekat, ia mengabaikan teriakan Erika dan memeluk gadis yang menagis dengan terisak tersebut.
__ADS_1
Dan pas di saat itu pula, pintu yang tadi hanya ditutup sedikit itu karena engselnya rusak, terbuka dengan paksa.
Axel dan Erika menoleh ke arah Erick, Rian dan juga Sasa yang berdiri di sana. Bukan hanya mereka saja, tapi ada pihak hotel juga di sana, berdiri dengan gugup. Dinginnya malam ini, tidak menyurutkan peluh mereka untuk membasahi pelipis sebesar biji jagung.
Melihat kondisi Erika yang bercucuran air mata dan penuh dengan rasa takut, membuat emosi Rian mencuat. Rian mendekat dan menarik Axel secara paksa, hingga pelukan Axel terhadap Erika terlepas.
Rian memukul wajah Axel dengan brutal, ia tidak menyangka kalau Axel melakukan hal seperti ini. Tapi Axel hanya diam, ia tidak melawan Rian sedikitpun.
Sedangkan Sasa langsung mendekat ke arah Erika yang masih menangis, memeluk sahabatnya itu dengan perasaan yang sedikit lega, karena ia berhasil menemukan Erika yang ternyata ada di hotel bersama dengan Axel.
"Bajing*n! Kepar*t! Sialan kamu, Xel! Gak puas-puasnya kamu menyakiti Erika, dan sekarang kamu melakukan hal menjijikkan seperti ini!!" Rian berteriak di depan Axel, dan kembali memberikan wajah Axel yang sudah terkena pukulannya beberapa kali itu satu pukulan lagi.
"Rian, sudah!" Erick segera menyingkirkan Rian yang masih tampak sangat emosi. Erick juga emosi, dia marah, dia kecewa dan juga ... dia terluka.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Axel!" tekan Erick, menunjuk Axel dengan matanya yang tampak memerah.
Erick mendekat ke arah Erika, ia kemudian mengambil alih Erika dari pelukan Sasa, dan membenamkan wajah anak perempuan satu-satunya itu di dada bidang Erick yang masih terawat dengan baik.
"Papa, Rika takut, Pa. Rika takut, dia jahat, Pa! Dia itu monster, Pa!" Erika mengadukan tentang Tio pada Erick, bukan Axel. Tapi ketiga orang yang tidak mengetahui duduk perkaranya itu langsung menuduh Axel, bahkan Rian kembali memberikan Axel pukulan hingga laki-laki tampan itu tersungkur.
"Sialan, lo, Axel!! Kalau lo gak suka sama dia, jangan berbuat kayak gini! Jangan menyakiti dia kayak gini, Xel! Dia udah banyak menderita gara-gara, lo!"
***
__ADS_1
Happy reading, semoga suka. Silakan tinggalkan jejak berupa vote, dan review jika berkenan.