Hadiah Cinta

Hadiah Cinta
Hentikan


__ADS_3

Axel berlari keluar dari dalam gedung perusahaannya itu, dia berjalan kesana kemari melihat keberadaan Erika, hanya saja dia tidak bisa melihat kemana arah Erika pergi. Axel menyugar rambutnya dengan kasar, dia melakukan hal tadi karena tidak suka saat melihat Erika yang tertawa karena Rian, sedangkan saat bersama dengannya saja, Erika tidak mau melakukannya. Dia bahkan terus bersikap dengan ketus pada Axel.


Axel terus mencari hingga akhirnya dia menangkap siluet orang yang mirip dengan Erika, berjalan mendekat ke arah jalan raya yang ada di depan kantor perusaan Axel. Mata laki-laki tampan yang hobi sekali menyakiti Erika itu membulat dengan sempurna, dia segera berlari ke arah Erika, berteriak memanggil nama gadis itu tapi tidak dihiraukan oleh Erika.


Saat tiba di dekat Erika, Axel langsung menarik tangan istrinya itu, membuat Erika yang tidak siap langsung terhuyung, dan Axel menangkap pinggang Erika.


“Rika, apa-apaan kamu ini?!” bentak Axel saat dia memeluk Erika dengan sangat erat. Sedangkan wanita yang dipeluknya hanya diam saja, tidak memberikan respon apapun.


“Apa yang kamu lakuin, Rika?” tanya Axel saat dia menarik tangan Erika dan menjauh dari sana.


Erika mengerutkan keningnya, kemudian dia menatap Axel dengan alis berkerut, “memangnya apa yang aku lakukan?” tanya Erika yang membuat Axel langsung terdiam.


Axel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian dia menatap mata Erika yang terlihat semakin garang.


“Kamu berpikir kalau aku akan bunuh diri karena kelakuan murahan kamu itu?” Erika menatap Axel dengan sarkas, kemudian dia berdecih sinis. “Sorry, ya Kak, gue sudah gak tertarik lagi. Terserah lo mau apa dan ngelakuin apa, gue sudah gak peduli, kalau perlu nikahi aja perempuan itu sekalian, biar lo punya istri dua! Lo itu pengecut, laki-laki yang tidak punya pendirian dan juga keberanian. Lo lemah, Kak! Lo benar-benar bukan Axel gue yang dulu lagi!”


Tepat setelah Erika mengatakan hal tersebut, dia langsung pergi dari sana, meninggalkan Axel yang terdiam di tempatnya. Axel memperhatikan langkah Erika yang menjauh, gadis itu menyebrangi jalan raya dan berjalan di sekitar pinggir tempat orang yang membuka toko di sana.


Axel ,masih mematung karena perkataan Erika tadi, entah kenapa perkataan Erika membuatnya merasa tertampar. Axel ingin mengejar, tapi kakinya menolak untuk berjalan. Setelah itu, Axel tertawa kecil, kemudian dia berjalan meninggalkan taman itu. “Apakah sekarang aku harus melakukannya? Aku sudah punya segalanya untuk melawan dia! Aku sakit melihat dia sakit.” Axel bertanya pada dirinya sendiri.


Sedangkan Erika saat ini memilih untuk pulang saja, mau menghubungi Sasa, Erika sadar diri kalau sahabatnya itu pasti sedang bekerja sekarang. Kemarin saja Sasa sudah bolos karena dirinya, semoga saja sahabatnya itu tidak terkena hukuman karena dirinya.

__ADS_1


Tiba di rumah dengan menumpang taksi, untung saja Erika ingat dengan nomor rumah barunya bersama dengan sang suami yang tidak punya pendirian tegas terhadap perasaannya itu.


Erika merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, kemudian melirik ke arah lemari pakaian yang berisi semua baju-bajunya. Erika menghela napas, dan memilih untuk memejamkan mata saja.


Entah kenapa, Erika merasa ada sesuatu yang hangat dan juga basah menempel di pipinya, gadis cantik itu menahan napas dalam matanya yang tertutup, kemudian dengan perlahan dia membuka mata dan melihat sosok laki-laki nyang dicintainya berada di atas tempat tidur, sedang menatapnya dengan tatapan yang Erika sangat hapal. Dulu, sebelum Axel berubah, tatapan matanya seperti ini, penuh cinta dan juga kasih sayang.


Erika yang sebelumnya sudah gemetar karena ketakutan, langsung merasa tenang begitu saja, dia menatap mata Axel yang menenangkan.


“Kenapa bangun?” suara Axel yang lembut membuat Erika merasa seperti dejavu, dia kemudian berusaha untuk duduk, dan menatap wajah suaminya itu dengan lebih lekat lagi.


“Kenapa, Kak?” Erika bertanya, tidak ada logat lo-gue dalam perkataannya itu. Dia membalas tatapan mata Axel yang menenangkan.


“Lalu, kemana pacarmu tadi?” saat mengatakannya, hati Erika terasa berdenyut nyeri. Ya, suaminya itu masih punya kekasih, dan Erika tidak akan mungkin lupa dengan itu.


Axel diam, dia menatap manik mata Erika cukup lama, kemudian tertawa kecil. “Dia bukan pacarku, dia manager di perusahaanku.”


Entah kenapa, tapi jawaban Axel membuat Erika jadi berharap banyak, dan berdoa dalam hati semoga Axel hanya berpura-pura membencinya, seperti dugaannya kali ini.


Bisakah kali ini, untuk yang terakhir kalinya Erika memohon harapan pada Tuhan, meminta semoga semua sikap menyakitkan Axel berhenti di sini.


“Apa ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari aku?” Erika merubah duduknya, dia berhadapan tepat dengan Axel, memperhatikan wajah laki-laki tampan yang selalu membuatnya kalah itu. Ya, dan kini untuk yang ke sekian kalinya, Erika kembali kalah dalam pergulatan yang membuat dadanya sesak.

__ADS_1


Erika kembali kalah akan tekatnya tadi, padahal dia sudah berencana untuk membiarkan apa pun tentang Axel, tapi saat melihat tatapan mata laki-laki yang dicintainya itu, Erika ternyata selemah itu.


“Aku punya alasan untuk semua itu, Ika.” Erika termangu saat mendengar perkataan Axel yang menyebutnya dengan nama panggilan kesayangan yang sedari dulu selalu Erika rindukan, di sebut oleh Axel. Semudah itu Axel kembali merebut hatinya.


Dasar lemah! Dasar tidak punya pendirian! Dasar, sudah terbutakan oleh rasa yang kini sudah di balas dengan sejuta cinta.


Axel memegang tangan Erika, “Sayang, maaf selama ini aku selalu bikin kamu menderita, maaf karena selama ini aku salalu membuat kamu sakit hati. Aku sebenarnya juga sakit saat melihat kamu nangis karena aku, tapi aku sadar, kalau aku belum bisa merengkuh kamu seperti dulu lagi. Aku juga tersiksa dengan semua ini, tapi sesuatu memaksaku untuk melakukannya.”


Axel berkata dengan panjang lebar, dia menatap lurus manik mata Erika yang kini sudah bergenang air mata karena ucapannya. Axel tidak tahan, dia segera membawa Erika kedalam dekapannya yang hangat. Dekapan yang sedari dulu Erika rindukan, dan kini dia mendapatkannya lagi.


Kalau saja saat ini ada sesuatu yang bisa menggambarkan perasaan senang Erika, maka dia akan menjadi orang yang paling bahagia saat ini. Wajahnya dipenuhi dengan senyuman kebahagiaan, sedangkan dia terbang tinggi di antara balon dan juga bintang-bintang.


Ya, sedalam itu rasa Erika untuk Axel. Laki-laki pertama yang mengajarkannya rasa cinta dan juga laki-laki pertama yang mengajarkannya patah hati.


Erika menatap lekat mata Axel, “Lalu kenapa sekarang kamu memilih untuk mengatakannya?” tanya Erika dengan raut wajah yang masih tersisa binar kebahagiaannya.


“Karena sekarang aku sudah kuat, aku punya uang, aku punya kekuasaan, aku punya nama besar, dan tentu aku sudah bisa mengalahkannya dan memperjuangkan kamu.”


***


luv-luv.

__ADS_1


__ADS_2