
Axel berjalan dengan langkah lebar, masuk ke dalam sebuah ruangan yang menjadi tempat Tio di amankan oleh anak buahnya. Mata laki-laki tampan yang kini sudah melepas status lajangnya itu memindai sekeliling, hingga dia melihat Tio tergeletak di sudut ruangan itu.
Melihat wajah Tio, membuat emosi Axel mencuat lagi. Axel tak akan lupa bagaimana dia melihat bekas bibir Tio yang basah memberikan tanda di wajah Erika, dan malah dia yang di tuduh gara-gara itu.
Sepatu pantofel yang Axel pakai beradu dengan lantai ruangan itu, bunyinya membuat Tio membuka mata. Laki-laki dengan wajah yang sudah banyak lebamnya itu meringsut mundur, ia merasa pasokan udara di sekitarnya menjadi berkurang karena kedatangan Axel.
"Sudah puas istirahatnya?" tanya Axel dengan nada suara yang terdengar dalam dan juga datar. Raut wajah Axel yang dingin, seperti membekukan udara yang ada di sana, membuat Tio merasa kesulitan untuk bernapas.
Tio semakin mundur saat Axel berjongkok di depannya, dua orang anak buah Axel berjaga di belakangnya.
"Ja-jangan mendekat! Mu-mundur!!" Tio terbata-bata saat Axel tersenyum sinis padanya. Tanpa ba-bi-bu, Axel langsung melayangkan pukulan ke wajah Tio, membuat laki-laki bejat itu terpental ke belakang.
Raut wajah Axel yang tampak benar-benar marah membuat Tio menelan ludah dengan kasar. Tio tidak terlalu mengenal Axel dulunya, tapi kini dia yakin kalau Axel memiliki hubungan dengan Erika.
"Duduk!!" suruh Axel dengan suara yang terdengar mengerikan. Tio hendak bergerak, tapi kaki Axel sudah terlebih dahulu mengenai perutnya, laki-laki itu berdiri secepat kilat membuat Tio jadi tidak menyadarinya.
Perut Tio benar-benar terasa ngilu, ia ingin bergerak lagi, tapi tamparan bolak-balik di wajahnya dari Axel membuatnya merasa oleng.
"Berapa kali kau menampar Erika ku?" tanya Axel dengan raut wajah yang sulit di artikan.
Tio bergetar, ia kini jadi semakin takut saat mendengar perkataan Axel. Erika ku? Berarti Erika adalah kekasih dari laki-laki yang menghajarnya ini?
Axel muak, dia lagi-lagi melayangkan pukulan ke wajah Tio yang tampak sudah menggenaskan, bahkan hidungnya kini sudah mengalirkan darah dan wajahnya semakin lebam.
"Kalau kau tidak bisa mendekam di penjara polisi, maka mendekamlah di penjara yang aku buat untukmu, sialan!"
***
Axel pulang larut malam, dia berjalan dengan langkah pelan menaiki tangga. Semua orang sepertinya sudah tidur, dan Axel kini ingin melihat Erika, apakah istrinya itu sudah tidur atau belum. Kini dia masih tinggal di rumah Erick, dan rencananya besok Axel akan memboyong Erika ke rumahnya sendiri.
Axel membuka pintu kamar Erika dengan pelan, kemudian ia melirik ke arah tempat tidur, Axel lihat kini istrinya itu sedang meringkuk di sana. Axel berjalan mendekat ke arah ranjang, dan dalam diam dia memperhatikan wajah Erika yang terlihat sembab karena habis menangis. Pasti wanita itu tertidur karena terlalu lelah menangis.
Axel menatap dengan wajah yang datar, gadis kecil itu ... gadis yang selalu memperlihatkan senyuman cerianya pada Axel, dan kini lebih banyak kesedihan di wajah gadis kecilnya tersebut.
__ADS_1
Setelah puas melihat wajah Erika, Axel kemudian berjalan menuju kamar mandi. Dia butuh air hangat saat ini, sepertinya berendam di bathtub bisa membuatnya menjadi lebih tenang dan fresh lagi.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Axel keluar dan berjalan menuju lemari. Dia mengambil selimut bed cover yang tersusun rapi di dalam lemari itu, juga mengambil bantal yang ada di samping Erika dengan gerakan pelan.
Axel tidak mau tidur di samping Erika, dia tahu kalau istrinya itu masih trauma.
***
"Hiks ... hiks ...."
Tidur Axel terganggu saat dia mendengar suara berisik yang seperti suara tangisan. Suara itu terdengar cukup dekat hingga akhirnya Axel membuka mata.
Axel duduk dan melihat Erika yang meringkuk di sudut ranjang dengan memeluk kedua kakinya. Axel bangkit, dan dengan perlahan dia berjalan mendekat ke arah Erika. Lampu kamar yang memang tidak dimatikan memudahkan Axel.
"Rika ...." Axel memanggil nama Erika dengan pelan, membuat gadis itu mendongak dan menatapnya dengan tatapan sendu. Mata yang kini masih mengeluarkan air itu tampak memerah, Axel tidak tahu sudah seberapa lama Erika menangis.
"Pergiii!" Erika mengusir Axel dengan suara seraknya, seperti tidak bertenaga. Axel kini jadi berpikir, apakah istrinya itu sudah makan atau belum.
"Rika, kamu kenapa?" tanya Axel lagi, ia mengabaikan perkataan Erika yang mengusirnya.
"Kenapa kamu benci? Bukannya dulu kamu cinta?" tanya Axel. Erika mendongak, kemudian dia tertawa pelan. Tawa itu penuh dengan irama kesedihan.
"Kamu tanya itu? Setelah sekian ribu kalinya kamu menyakiti aku? Sungguh?" tanya Erika dengan mata yang menatap Axel dengan penuh luka.
Axel diam, wajah Erika yang berderai penuh dengan air mata membuatnya merasa asing.
'Aku memiliki alasan, kenapa aku melakukan itu, Rika.' Axel ingin mengatakan kalimat tersebut, tapi tenggorokannya terasa tercekat. Biarkanlah dia menyimpan rahasia ini sendiri, biarlah dia yang terluka karena egonya. Axel sangat tahu, bukan hanya Erika saja yang terluka, tapi dia bahkan lebih terluka dari Erika.
"Kamu sudah makan? Makan dulu, yuk?" Axel duduk di pinggir ranjang tersebut, membuat Erika semakin meringkuk ketakutan.
"Pergi!" tekan Erika dengan suara yang terdengar tegas.
Axel menggeleng, ini tidak boleh di biarkan. Axel rasa dia perlu membawa Erika pergi ke psikiater, tapi ... apakah gadis itu mau?
__ADS_1
"Rika, ayo makan! Kamu pasti belum makan, kan?"
"Pergi!!"
"Rika?"
"Aku bilang pergi! Kamu tuli?"
"Sayang, ayo kita makan?!"
Erika terdiam saat mendengar perkataan Axel, dia menatap lama manik mata yang sulit Erika tebak maunya apa.
"Pe-pergi!" Erika terbata, dia semakin mengeratkan pelukannya pada kedua kaki yang dia tekuk itu.
Axel menghela napas berat, dengan gerakan cepat, dia meraih tubuh Erika, dan mengangkat tubuh mungil itu membuat Erika memberontak.
"Diam, Rika! Orang-orang sedang tidur! Jangan ganggu istirahat mereka!" tekan Axel dengan suara yang berat.
Erika akhirnya diam, dia kini sedang berusaha untuk meredam ketakutannya karena sentuhan Axel. Dan kini dia sedang meyakinkan pada dirinya sendiri, kalau laki-laki yang menggendongnya ini bukan Tio, melainkan Axel, laki-laki yang sangat dicintainya.
Axel meletakkan Erika di atas meja makan, tangannya masih melingkar di pinggang wanita yang menjadi istrinya itu. Napas Erika tidak teratur, jelas sekali kalau dia sedang berusaha untuk meredam ketakutannya. Dan Axel bersyukur karena itu.
"Le-lepas!" Erika mengatakannya dengan terbata, tangan Axel masih melingkar di pinggangnya. Rasa takut itu sudah Erika lawan, dan kini dia juga sedang berperang dengan rasanya yang selama ini dia curahkan untuk Axel.
"Mau aku yang masakin?" tanya Axel dengan senyuman tipis. Erika diam, dia memperhatikan senyuman yang sudah lama tidak dia lihat itu. Kemudian dia menundukkan kepalanya.
"Apa aku harus menjadi gila dulu, supaya mendapatkan perhatian seperti ini dari kamu, Kak?" tanya Erika dengan suara pelan, tapi berhasil membuat Axel terdiam. Axel menatap Erika lama, panggilan yang Axel rindukan itu kini ia dengar lagi, tapi terdengar berbeda. Penuh dengan rasa sakit yang Axel sendiri sadar, kalau dialah yang menggoreskan luka itu.
Erika kemudian mengangkat kepalanya, tangannya dengan pelan melepaskan tangan Axel yang masih melingkar di pinggangnya.
"Kalau kamu melakukan ini hanya karena kasihan sama aku, maka aku sarankan untuk tidak melanjutkannya, Kak. Aku sudah pernah jatuh berkali-kali karena mengejar kamu, dan aku mohon sama kamu, jangan bikin aku terbang dengan semua perlakuan kamu, dan setelahnya kamu lepas aku dari titik tertinggi, hingga aku terpental jatuh dan tidak bisa bangun lagi!"
***
__ADS_1
Siapa yang pernah berada di posisi Erika?
Jangan lupa vote dan komentar, ya. Hehe.