Hadiah Cinta

Hadiah Cinta
Cuka diatas luka


__ADS_3

Ponsel Erika yang berada di atas nakas, di samping tempat tidurnya berdering. Ia dengan malas meraih ponsel itu.


"Undangan reuni?" tanya Erika, saat dia melihat di grup SMA-nya dulu.


"Ini serius nanti malam?" tanya Erika di grup tersebut. Teman-temannya yang lain menjawab, iya.


"Kok mendadak gitu, sih?"


Erika menghembuskan napas kasar. Ia meletakkan kembali ponselnya, tapi belum sampai tangannya terangkat, benda persegi tersebut kembali berdering. Ini bukan notifikasi chat lagi, tapi telepon dari Sasa.


"Kenapa, Sa?" tanya Erika malas. Ia masih berbaring saat ini, apalagi setelah hatinya kini merasa puas sudah membakar semua kenangannya dengan Axel.


"Kita ketemu di tempat reuni aja, ya. Gue pulang kerja mau langsung kesana!"


"Eh, gak! Gue kayaknya gak ikut, deh. Malas!" Jawaban Erika membuat Sasa di seberang sana mencak-mencak kesal.


"Sialan, Lo, ya! Gue gak mau tahu, pokoknya kita ketemu di sana! Udah pulang gak bilang-bilang, sekarang gak mau ketemu gue. Lo gak mau jadi sahabat gue lagi, hah?!" kesal Sasa, dia membentak Erika dengan suara yang nyaring, membuat telinga Erika jadi berdenging.


"Tapi masalahnya itu, angkatannya Axel juga ikut, Sa. Makanya gue males, kalau angkatan kita doang, gue gak akan nolak!"


Iya, tadi Erika sudah membaca chat di grup alumninya, dan panitia acara reuni tersebut mengatakan kalau acara reuni itu mencakup dari lima angkatan. Maka dapat dipastikan akan ada banyak orang yang datang ke sana. Termasuk Axel, karena dulu Erika sekolah di SMA yang sama dengan Axel, meskipun mereka tidak pernah bertemu karena Axel sudah lulus.


"Karena ada dia, Rik, Lo harus memperlihatkan ke dia, kalau Lo itu udah bisa ngelupain dia!" tegas Sasa. Ia gemas dengan sahabatnya yang tidak bisa move on tersebut. Kapan Erika akan bahagia tanpa bayang-bayang Axel? Kapan?


"Tapi ...."


"Gak ada tapi-tapian, pokoknya sekarang Lo siap-siap, kita ketemu di sana aja!" tegas Sasa. Tanpa mendengar jawaban penolakan dari Erika, dia segera mematikan sambungan telepon tersebut.


Erika duduk, ia mengusap rambutnya dengan sangat kasar. Menatap nanar ke layar ponselnya itu. Erika berat hati untuk datang ke acara tersebut, tapi ... ancaman Sasa membuatnya takut.


Erika sangat menyayangi Sasa sebagai sahabatnya. Sasa adalah orang yang selalu mendukungnya dalam keadaan apapun, pun begitu dengan Erika yang selalu ada di saat terberat Sasa, ketika gadis itu putus dengan salah satu pacarnya.


Dengan malas, Erika berjalan menuju lemari pakaian, melihat apa saja yang ada di dalam lemari itu. Dia tentu harus memakai dress yang cantik untuk datang ke sana.


Erika menghela napas, kalau saja dia tidak punya dress sebanyak ini, pasti dia bisa memberikan alasan pada Sasa. Tapi lihatlah, dress-nya saja tidak terhitung jumlahnya.


Erika pergi ke kamar mandi, ia perlu menyegarkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah selesai mandi, Erika mencari sebuah dress yang menurutnya paling bagus diantara deretan dress yang ada dalam lemarinya itu.

__ADS_1


Sebuah dress dengan pita di pinggangnya, dengan panjang di bawah lutut, dan dengan mode tali spaghetti di atasnya.


Erika keluar dari dalam kamarnya. Sepatu heels yang berwana senada dengan dress-nya, yaitu merah, membuat penampilan Erika malam ini jadi semakin mempesona.


"Mau kemana, Kak?" Riko yang saat ini sedang berkutat dengan laptopnya itu bertanya pada Erika. Ada Erick, Airin dan Riki juga di ruang keluarga itu.


"Mau ke acara reuni," jawab Erika singkat. Dia duduk di samping Erick, yang membuat Mamanya terpaksa beranjak dari sana.


"Isshh, kamu ini!" kesal Airin.


"Sekali-kali, Ma. Erika pinjam Papa sebentar aja." Erika memeluk lengan Erick, dan bersandar manja di sana.


"Kenapa? Malas mau pergi ke sana?" tebak Erick, dengan mengusap rambut anak perempuan satu-satunya yang digerai dengan mode Curly itu dengan sangat lembut.


"Iya, Pa. Rika malas kesana, tapi Sasa pengen ketemunya di sana." Erika mengerucutkan bibirnya, membuat Erick gemas.


"Pergi aja, kali aja nanti di sana kamu bisa ketemu laki-laki lain, dan move on," Erick terkekeh saat mengatakan kata terakhirnya. Ia paham betul dengan anak perempuannya yang sangat susah move on itu.


"Iisshh, Papa!" Erika memukul lengan Erick dan segera bangkit. "Erika udah punya Rian, jadi gak perlu ada yang dicari lagi!" ujarnya kesal.


"Udah, tapi tadi katanya dia ada meeting malam ini, jadi Erika gak mau maksa, Erika pergi sendiri aja. Dahh, Pa, Ma," Erika melambaikan tangannya, sedangkan Riko dan Riki hanya mendengus.


"Lah, kita gak di sapa!" kesal keduanya.


Erika mengemudikan mobil merah miliknya keluar dari gerbang utama rumah besar itu. Erika melihat pada ponselnya yang dia letakkan di atas dasboard mobil, beberapa kali berdering. Dan itu jelas dari Sasa.


"Iya, Sasa. Ini gue lagi otw ke sana!" kesal Erika.


"Baguslah! Gue tunggu disini!"


"Hemm!" setelah itu, sambungan telepon tersebut terputus.


Erika menatap pada jalanan yang cukup padat malam ini. Malam Minggu, jelas saja padat, karena banyak muda-mudi yang pergi berkencan malam ini.


Dan sialnya, Erika harus pergi reuni, tanpa Rian, yang katanya sekarang masih ada meeting, karena tadi siang di meninggalkan pekerjaannya untuk pergi bersama dengan dirinya.


Erika turun dari dalam mobil. Acara yang di buat di sebuah taman itu tampak semarak dan juga ramai. Erika berjalan dengan gugup saat banyak mata yang melirik ke arahnya.

__ADS_1


Mata Erika memindai sekeliling, dan akhirnya dia melihat Sasa yang mendekat padanya.


"Lama amat, sih!" omel Sasa saat ia dan juga Erika sudah melepaskan pelukan rindu keduanya.


"Maaf, ngumpulin niat buat kesini itu, susah!" sindir Erika yang membuat Sasa mendengus.


Saat Erika berbincang dengan Sasa, suara heboh bisik-bisik dari peserta reuni yang lain membuat Erika dan Sasa mengalihkan perhatian mereka, ke arah dua orang yang berjalan dengan sangat serasi dan juga bergandengan tangan.


Sasa memegang lengan Erika, berusaha untuk menguatkan sahabatnya itu. Erika memegang jemari Sasa dan tersenyum seolah dia baik-baik saja.


Ini yang Erika takutkan saat datang ke acara ini, karena ada Axel juga yang pasti akan datang. Dan lihatlah, kini laki-laki itu datang bahkan dengan menggandeng seorang wanita, tersenyum lebar dan tampak sangat bahagia. Membuat hati Erika semakin sakit.


'Itu bukannya Axel, ya? Jadi makin keren aja, dia!'


'Iya, yang jalan sama dia itu, siapa?'


'Bukannya dulu dia dekat dengan anak dari asisten kakaknya yang tajir melintir itu?'


'Mana gue tau, kali aja udah pisah!'


Erika tersenyum masam saat mendengar bisik-bisik itu. Untung saja mereka tidak tahu, kalau perempuan yang mereka gosipkan tersebut adalah dirinya.


"Sialan, tu orang! Gak nanggung-nanggung bikin Lo sakit hati, Rik!" umpat Sasa yang sudah kesal.


Erika tertawa, "Biarin aja," ujarnya dengan hati yang ternyata masih berdenyut sakit. Ini adalah resiko yang harus dia tanggung sendiri. Jatuh cinta sendiri memang menyakitkan.


Sasa semakin memegang lengan Erika saat ternyata Axel dan juga wanita yang bergandengan dengannya itu berjalan ke arah mereka. Seolah ingin memperjelas hubungan mereka kepada Erika. Seperti menaburkan cuka di atas luka Erika yang masih menganga dengan lebar.


"Hai, Erika!" Axel mengapa dengan senyuman lebar tanpa rasa bersalah. Wanita yang berdiri disampingnya itu ikut menyapa Erika.


"Hai, Kak!" balas Erika tersenyum. "Dia siapa? Pacar Kakak?" Erika merutuki mulutnya yang dengan lancang bertanya seperti itu. Sial! Desis Erika kesal.


"Iya, kenalin, dia Monica, pacar aku."


***


Jangan lupa subscribe, vote, review, ya. Happy reading!

__ADS_1


__ADS_2