Hadiah Cinta

Hadiah Cinta
Tanggung jawab


__ADS_3

Dengan langkah yang tertatih, Erika keluar dari dalam kamar mandi. Masih berada di hotel tadi tapi dalam kamar yang berbeda. Setelah Erika keluar, Sasa langsung mendekat dan mengeringkan rambut gadis malang itu dengan menggunakan hairdryer yang diberikan oleh pihak hotel.


Iya, mereka yang ada di sana tahu, kalau Erika sedang dalam pengaruh obat, dan untuk menghilangkan pengaruh tersebut, Sasa memutuskan untuk merendam Erika di bawah air dingin, dan syukurlah itu sepertinya berhasil.


Setelah rambut Erika kering, Sasa kemudian memakaikan jaket pada sahabatnya itu, karena tadi Erick memberikan dia perintah untuk langsung membawa Erika ke mobil kalau mereka sudah selesai.


Sedangkan saat ini Axel sedang di interogasi oleh Erick dan Rian, mempertanyakan pada pria tampan dengan tingginya seratus delapan puluh centimeter itu kejadiannya. Tapi Axel diam, membuat keduanya muak.


Erika masuk ke dalam mobil Alphard hitam yang dikemudikan oleh supir keluarganya, sedangkan mobil Erika yang tadinya di bawa Sasa kini di bawa oleh pengawal Erick.


Di dalam mobil, mata Erika menatap lurus ke depan, ia bahkan sedari tadi terus mengabaikan Sasa yang bicara panjang lebar padanya, dan Sasa memaklumi itu, karena ia paham, kalau saat ini pasti Erika masih syok.


Bayang-bayang Tio menciumnya tadi, menari-nari di kepala Erika, membuat gadis cantik itu memukuli kepalanya sendiri. Erika berteriak, membuat Sasa cemas dan juga panik.


"Rika, ini gue, Sasa. Udah, jangan takut! Sekarang lo aman sama gue, Rik!" Sasa memeluk Erika yang menangis dengan terisak, walaupun sahabatnya itu terus meronta dan membuat Sasa kesakitan, tapi ia tahan hingga akhirnya Erika lelah. Hati Sasa ikut sakit saat mendengar tangisan sahabatnya itu. Dalam hati, Sasa melaknat Axel yang sudah membuat sahabatnya jadi seperti ini.


Tiba di depan rumah Erick, mereka semua turun dari dalam mobil. Erick, Rian, dan Axel turun dari mobil yang ada di depan, sedangkan Erika dan Sasa di mobil kedua.


Di depan pintu utama rumah Erick, Julian sudah berdiri dengan wajah yang memerah. Kakak angkat dari Axel itu menatap sang adik dengan tatapan yang sepertinya ingin melahap Axel hidup-hidup.


Axel diam, tatapannya tidak terbaca, entah apa yang pria itu pikirkan, tidak ada yang tahu.


Bukkk.


Axel terpental ke belakang saat Julian memukul wajahnya. Hidung Axel berdarah, Julian yang semakin emosi berjalan ke depan, tapi langsung di tahan oleh istrinya yang ikut dengannya ke rumah Erick, sang asisten pribadi suaminya itu.

__ADS_1


Axel menyeka darah yang mengalir di hidungnya, tidak ada orang yang menahan, bahkan Erika saja tampak acuh, tatapannya lurus dan juga kosong.


"Sayang, sudah! Lebih baik sekarang kita duduk dulu, tenangkan diri kamu, dia adik kamu!" Alma, nama istri Julian, mengusap lengan suaminya. Napas Julian naik turun, terlebih saat dia melihat wajah acuh Axel yang menyebalkan.


Airin langsung mengambil alih Erika dari Sasa, wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu memeluk anak gadisnya dengan tangisan yang menyayat hati. Erika adalah permata hati mereka, putri satu-satunya dan juga sangat di sayang. Tapi tidak ada yang menyangka kalau jalan hidupnya begitu terjal.


"Jadi ... kau yang melakukan ini sampai Erika trauma?" tanya Julian, menatap tajam ke arah sang adik. Axel hanya diam, ia menatap wajah Erika cukup lama, kemudian menggeleng. Sepertinya Erika tidak mau bicara, sedari tadi hanya menangis tanpa suara, dan Axel tahu kalau Erika masih trauma.


"Jawab Axell!!" bentak Julian dengan napas naik turun. Julian merasa benar-benar malu terhadap Erick, ia tahu bagaimana asisten pribadinya itu sangat menyayangi Erika, gadis kecil yang dari dulu selalu ia timang dengan penuh kasih sayang.


"Iya!" Jawaban singkat dari Axel membuat hati Rian serasa remuk. Gadis yang dicintainya, yang dia jaga dengan sepenuh hati, dan dia obati lukanya karena Axel, dan kini malah semakin terluka, dan itu juga gara-gara Axel. Laki-laki yang tidak punya pendirian dan perasaan.


"Apa salah anak saya sama kamu, Xel? Kenapa kamu begitu senang sekali membuat dia menderita?" tangis Airin semakin pecah, ia ingat betul kalau dulu Axel adalah laki-laki yang akan maju lebih dulu kalau Erika kenapa-napa. Bahkan Axel tidak pernah membiarkan gadis kecilnya itu menangis. Tapi kini, Axel sendiri yang menorehkan luka untuk Erika.


Axel diam, dia tidak menjawab pertanyaan Airin yang mengiba.


Axel bungkam, dia tidak mengatakan apa-apa. Tapi saat mengingat apa yang Tio lakukan tadi, tangan Axel mengepal. Dia berjanji akan membuat laki-laki kurang ajar itu menangis agar dia tidak hidup lagi di dunia dan meminta untuk segera di habisi.


"Jawab, sialan!!" bentak Rian, dia bahkan sampai berdiri dari duduknya dan menarik kerah jas yang Axel pakai.


Bahkan pihak hotel pun tidak bisa memberikan informasi apapun pada Erick dan Rian tadi, karena anak buah Axel sudah mengurusnya.


"Lo liat gimana? Liat aja sendiri pakai mata! Masih punya mata, kan?" jawab Axel sarkas, membuat Rian semakin emosi.


"Sialan!!"

__ADS_1


"Rian, sudah!" Erick, laki-laki yang menjelma sebagai papa Erika itu kembali menahan Rian yang ingin melayangkan pukulan ke wajah Axel.


Erick mengirup napas dengan sangat panjang lalu mengeluarkannya dengan pelan. Kemudian dia melirik ke arah Axel yang sudah babak belur, wajahnya penuh lebam dan juga luka memar karena pukulan Rian dan juga Julian.


"Saya minta kamu tanggung jawab atas Erika, Xel!" pinta Erick yang membuat Rian langsung membulatkan matanya.


"Gak! Erika itu kekasihku!" ucapan Rian tertahan karena tangan Erick yang terangkat dan mengisyaratkan dia untuk diam.


"Kamu yang melakukannya maka kamu juga yang harus tanggung jawab, Axel! Tidak peduli kamu benci ataupun tidak suka terhadap Erika!" tegas Erick dengan mata yang menatap Axel dengan serius.


Rian menggeleng, dia tidak bisa membiarkan Erika bersama dengan Axel, laki-laki yang terus saja memberikan luka untuk gadis yang paling di cintainya itu.


Axel diam, dia kemudian melirik ke arah Erika yang hanya diam saja. Bahkan gadis itu tidak membantah apapun yang kini di bicarakan oleh papanya itu.


"Tapi, Pa, bukannya Papa tahu sendiri, kalau Axel tidak menyukai Erika?" bantah Airin dengan suara yang serak, ia tidak suka dengan keputusan suaminya itu. Bagaimana mungkin Erick bisa menyerahkan Erika pada Axel, laki-laki yang menjadi alasan utama Erika pergi dari negara ini selama tiga tahun dan jauh dari keluarganya.


"Ini yang terbaik, Ma! Axel yang sudah membuat Erika jadi seperti ini, maka dia yang harus bertanggung-jawab!" jawab Erick membuat Airin terdiam.


"Tapi, Pa ...."


"Saya akan tanggung jawab, saya akan menikahi Erika besok!"


***


Bersambung ....

__ADS_1


semoga suka sama cerita ini, ya. ;))


__ADS_2