Hadiah Cinta

Hadiah Cinta
Ke kantor


__ADS_3

Erika memandang Axel yang sedang mengemas barang-barangnya itu. Lelaki tampan yang berstatus sebagai suaminya itu tampak serius dengan pekerjaanya. Erika ingin membantu tapi tubuhnya menolak untuk bangkit. Dia melihat saja apa yang Axel lakukan, apalagi dia sedang sangat tidak bersemangat untuk melakukan apapun.


Axel yang sudah selesai dengan pekerjaannya langsung bangkit dan berjalan mendekat ke arah Erika yang sedang duduk di atas ranjang. Rumah milik Axel ini punya empat orang asisten rumah tangga yang pastinya diperuntukkan untuk membantu Erika nantinya kalau wanita cantik itu sudah bisa beraktifitas dengan normal lagi.


“Mau ikut pergi ke kantor denganku?” tanya Axel pada sang istri. Erika diam, dia tidak mejawab pertanyaan Axel, dia berpikir sejenak dan akhirnya mengangguk.


Erika masih belum terbiasa tinggal sendiri di rumah besar ini, apalagi mereka baru pindah hari ini. Axel juga berharap, setidaknya kalau Erika pergi ke kantor, gadis cantik yang sedang berada dalam titik terendah dalam hidupnya itu bisa melupakan kesedihannya barang sejenak saja.


“Ya sudah, ayo!” Axel ingin meraih tangan Erika, tapi gadis itu sudah lebih dulu bangkit dan berjalan meninggalkannya. Laki-laki tampan itu tertegun, kemudian dia berdehem canggung. Axel harus bisa membiasakan diri terhadap Erika yang baru. Kini Erika bukanlah Erika yang lama lagi, dia adalah Erika baru yang terlahir dari rasa sakit yang Axel sendiri tahu, kalau dialah yang memiliki peran besar dan ikut andil untuk membuat Erika jadi seperti itu.


Erika berjalan lurus hingga tiba di depan pintu utama, dia tidak menunggu Axel yang sedang berpamitan dengan para pelayan.


Di depan mobil Axel, Erika berdiri dengan melirik takut ke arah sekitar, rasa trauma akan kejadian malam itu membuat Erika menjadi pribadi yang mudah parno, terlebih dia melihat ada beberapa orang laki-laki berbadan besar yang mungkin itu adalah penjaga rumah ini berdiri tidak jauh dari tempat Erika memijakkan kakinya saat ini.


Erika merasa takut, dan karena itu jugalah dia memilih untuk ikut Axel ke kantor, walaupun Erika sendiri sadar kalau resikonya akan lebih besar daripada dia tetap diam di rumah dan hanya menunggu saja.


Erika bersyukur karena Axel tidak membawanya ke psikolog, karena Erika tidak mau dikatakan sebagai orang gila. Sudah cukup dia menderita karena bayang-bayang kejadian malam itu, Erika tidak mau dikatakan sebagai orang gila yang kena gangguan mental. Padahal sebenarnya tidak seperti itu, hanya saja Erika kini tidak bisa mudah percaya terhadap orang lain.


“Ayo!” Axel membukakan pintu mobil untuk sang istri yang sepertinya enggan untuk menarik gagang pintu mobil tersebut. Erika masuk setelah itu dan duduk diam menatap lurus kedepan.

__ADS_1


Mobil yang Axel kemudikan melaju meninggalkan rumah besar yang menjadi saksi bisu, bagaimana Axel berjuang untuk sesuatu yang sedari dulu dia inginkan, dan kini dia sudah mendapatkannya.


“Kamu beneran gak mau sarapan?” tanya Axel saat dia melewati sebuah restoran. Axel tahu betul kalau istrinya ini pasti lapar, sebab Erika hanya makan dengan nasi goreng buatan Axel semalam, dan setelahnya tidak ada lagi yang masuk ke perut Erika kecuali air putih saja.


“Enggak!”


Axel menghela napas, hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.


Setelah beberapa waktu, akhirnya kini mobil yang Axel bawa tiba di depan loby perusahaan besar milik orang tua Axel yang kini sudah tenang di surga. Selama bertahun-tahun, perusahaan itu di kelola oleh Julian, laki-laki yang menjelma sebagai kakak angkatnya.


Axel yang memang sudah sangat terlambat untuk datang ke kantor melewati beberapa orang karyawannya dengan Erika yang berjalan di samping pria tampan dengan sejuta pesona tersebut.


Pria tampan yang Julian kenalkan ke depan publik sebagai adiknya. Semenjak perkenalan itu, nama Axel seperti hembusan angin segar di mata kaum hawa, karena setelah mereka dibuat patah hati oleh Julian dulunya karena dia menikahi Alma, kini mereka mendapatkan pengganti dan itu adalah adik Julian sendiri.


Erika menundukkan kepalanya, saat beberapa orang karyawan wanita menatap dia dengan sorot mata yang mengejek. Siapa yang tidak kenal Erika, gadis yang salalu datang ke kantor Axel dengan permohonan cinta yang terus Axel tolak. Tapi selama tiga tahun terakhir menghilang dengan tiba-tiba, dan kini muncul kembali dengan berjalan beriringan dengan Axel, laki-laki yang menjadi incaran oleh semua wanita.


Di dalam lift, Erika bernapas lega, karena dia berhasil melewati orang-orang dengan mulut tajam itu.


“Jangan pernah menakutkan apapun, Rika! Mereka semua kini adalah bawahanmu, kamu adalah nyonya di perusahaan ini. Kalau misalnya ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, maka katakan saja. Aku pasti akan langsung mengurusnya!” Axel berkata dengan sungguh-sungguh. Dia menatap wajah Erika yang melihat lurus ke depan.

__ADS_1


Menghela napas, Axel kini tidak bisa melakukan apapun, yang jelas dia akan terus berusaha untuk membuat mental Erika pulih kembali.


“Kak, aku mau tanya sama kamu, kenapa sekarang kamu baik sama aku? Bukankah sebelumnya itu kamu gak suka aku, kamu benci aku? Apa kamu ngelakuin itu karena kamu kasihan sama aku?” Erika menoleh ke arah samping, dia menatap mata Axel dengan lekat, Erika ingin sebuah jawaban, walau bagaimanapun, saat ini Axel masih menjadi laki-laki yang sangat berpengaruh untuk Erika.


Bukan untuk diri atau tubuhnya, tapi untuk hatinya yang sudah lama berlabuh untuk pria itu. Erika sangat tahu kalau dirinya ini munafik, bersikap seolah tidak ingin, tapi sangat berharap dan bahagia atas semua perhatian Axel untuknya.


Axel memandang wajah Erika dengan lekat, kemudian dia berdeham kecil, “Karena sat ini kamu adalah istriku, Rika! Dan tentu saja aku harus melakukan semua yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya.


Erika tersenyum tipis, sangat tipis hingga Axel saja tidak menyadarinya. ‘Apakah ini balasan Tuhan atas semua perjuanganku dulu? Kenapa terdengar manis sekali?’ Erika bergumam dalam hati.


Pintu lift terbuka, dengan langkah kecil, Erika mengikuti langkah Axel dan berjalan melewati staf sekretaris pria itu. Sudah lebih tiga tahun lamanya Erika tidak datang lagi ke perusahaan ini, dan ternyata bentuknya masih sama seperti yang Erika tinggalkan dulu.


Tapi saat tiba didepan pintu ruangannya, Axel berhenti dan kemudian dia berbalik. “Pesankan sarapan untuk saya dan juga Erika, saya tunggu lima belas menit lagi!” perintah Axel pada salah seorang wanita yang menjadi staf sekretarisnya itu.


“Kak, aku tidak mau sarapan!” Erika mencegah dengan cepat, tapi Axel langsung menggeleng.


“Kamu butuh tenaga untuk menjalani kehidupan yang keras ini, Rika. Maka menurutlah, dan jadi gadis pintar!”


***

__ADS_1


Happy reading!


__ADS_2