Hadiah Cinta

Hadiah Cinta
Curhat


__ADS_3

Manik mata Erika terasa jelas, matanya tampak cerah, tidak berkabut, tidak seperti sebelumnya, yang hanya diisi oleh binar kecewa saja. Kini mata itu berbinar, menantikan jawaban dari laki-laki yang di cintainya.


“Jadi apa yang ingin Kakak jelaskan?” Erika memegang tangan Axel, laki-laki yang dicintainya itu melirik ke arah tangannya yang kini di pegang oleh Erika, wanita yang sedari dulu sudah ada di hatinya. Axel akui dia munafik, tapi itu sendiri adalah kebaikan untuk Erika.


“Kamu ingat, gak, dulu sekitar tiga belas tahun yang lalu, aku juga sempat bersikap dingin terhadap kamu?”


Kening Erika berkerut, kemudian dia mengangguk, seingatnya, dia dulu memang pernah merasakan sakit juga akibat perlakuan Axel padanya, tapi itu tidak berlangsung lama, karena semenjak Axel masuk SMA laki-laki tampan itu kembali bersikap lembut dan juga hangat padanya.


“Apa ini ada hubungannya dengan itu? Maksudku, Kakak kembali mengulang masa itu lagi?” Erika bertanya dengan raut wajah kesal, kemudian dia mendengus.


“Aku punya alasan kenapa melakukan itu, Rika,” ucap Axel, Erika kembali memusatkan perhatiannya pada laki-laki yang dicintainya itu.


“Jelaskan, apa alasannya, dan tentu harus masuk akal!” Erika berkata dengan wajah garang dan juga tegas, Axel yang melihat hal itu hanya tertawa kecil.


“Dulu, pas aku kelas tiga SMP, ada perempuan yang suka sama aku,...” Erika mengangkat alisnya.

__ADS_1


“Oh, jadi maksudnya karena ada perempuan lain? Aku paham, ya sudah, gak usah dijelasin lagi, Kak, aku sudah cukup merasa sakit hati selama ini, jadi jangan di tambah lagi!”


Axel tertawa kecil, kemudian ia menggeleng, “Bukan, Sayang. Bukan itu, kamu dengarin dulu apa yang mau aku bilang ke kamu.” Walaupun malas, tapi Erika tetap berdehem, gadis cantik itu menatap wajah Axel yang kini sudah tampak serius lagi.


“Dia, namanya Mia.” Erika hendak membuka suara lagi, tapi Axel menahannya. “Dia bilang kalau dia suka sama aku sudah berkali-kali, aku sudah nolak dia juga berkali-kali, tapi dia kekeh. Katanya dia cinta mati sama aku. Aku jelas gak percaya, dong. Kita itu baru kelas tiga SMP, dan anak seusia kita itu pasti kenal yang namanya cinta monyet.” Axel diam, dia menatap wajah Erika yang tampak penasaran dengan ceritanya.


“Tapi ternyata dugaan aku salah, dia beneran cinta mati sama aku, sampai dia rela bunuh diri karena aku nolak dia. Waktu itu, aku langsung down, dia tulis surat kalau dia membawa semua rasa cintanya dia ke aku sampai mati. Aku nganggap dia sudah gila, karena mengorbankan diri kayak gitu, aku beneran down, Ika.” Erika ikut termangu saat mendengar cerita Axel. Dia menggenggam tangan Axel, berusaha untuk menguatkan suaminya itu untuk menceritakan semua masalahnya.


“Aku takut disalahin, kamu tahu kan waktu itu usia aku masih labil banget, dan pas aku tanya sama teman-teman yang lain, ternyata dia itu memang sudah sakit. Aku gak tahu apapun tentang dia, aku gak tahu rumahnya, pekerjaan orangtuanya, karena aku memang gak peduli sama dia. Aku sudah menjatuhkan pilihan aku ke kamu, jadi ya begitu aku gak pernah melirik perempuan manapun lagi.” Erika tersenyum kecil saat mendengar perkataan Axel.


“Dia kena kanker otak, Ika. Dan karena aku terus-terusan nolak dia, dia menganggap kalau dia sudah tidak punya semangat buat hidup lagi. Dan akhirnya dia memilih jalan kayak begitu.” Axel menghirup napas dalam-dalam.


“Terus-terus. Lanjut!”


“Nah karena itu juga aku cari SMA yang jauh dari SMP aku yang lama, supaya aku gak diteror oleh rasa bersalah lagi. Pas SMA, aku sudah bisa merasa nyaman lagi dengan lingkungan aku yang baru, dan bisa bikin kamu tertawa lagi. Tapi itu ternyata gak berlangsung lama, karena kakaknya Mia, dia neror aku pas masuk kuliah.”

__ADS_1


“Aku tahu dia juga dari keluarga yang berada, dan karena itulah aku jadi semakin takut, sebab dia ngancam aku bakal nyakitin siapa pun cawek yang dekat dengan aku. Dan karena itu aku ngejauhin kamu, Ika. Aku terlalu sayang sama kamu, makanya aku memilih jalan itu.” Tanpa terasa, hati Erika jadi ikut sakit saat mendengar cerita Axel. Dia kira, selama ini dialah yang paling menderita, tapi ternya Axel lebih menderita lagi.


“Aku akui aku bodoh karena gak cerita masalah ini sama siapapun, karena aku gak mau kalian semua terbebani oleh masalah aku. Apalagi waktu itu Kak Julian juga sedang ada masalah. Aku takut Ika, waktu itu aku benar-benar merasa sendiri, karena itu juga pikiran aku jadi berubah-ubah”


“Karena takut, aku bahkan pernah konsultasi sama psikiater, aku malu mengakui ini tapi ini kenyataan, karena aku ngalamin semuanya. Rasa bersalah itu bikin aku merasa mau gila aja, tinggal di apartemen sendiri pas kuliah, aku benar-benar jadi orang lain. Kadang-kadang bayangan Mia yang tiba-tiba muncul membuat aku jadi semakin merasa bersalah. Dan perandai-andaian membuat aku semakin terpuruk.” Axel menghela napas berkali-kali, rasa takut itu membuat emosinya jadi berubah-ubah.


“Aku mikir, andai saja dulu aku nggak nolak Mia, andai saja dulu aku tahu dia sakit, andai saja dulu dia gak nekat seperti itu, mungkin aku nggak akan jadi seperti orang gila. Aku ke psikiater lebih dari setahun, dan syukurnya setelah itu aku merasa lebih baik. Tapi teror itu masih aku dapat dari kakak Mia, tapi setelah lulus teror itu sudah gak ada lagi, tapi rasa takut itu masih ada.”


“Karena itu juga, aku terpaksa terus bikin kamu sakit hati karena dia tahu kalau wanita yang aku sayang itu kamu, dan kebetulan Rian juga suka sama kamu, sebenarnya aku gak suka itu semua, tapi aku sadar diri kalau semuanya terjadi gara-gara aku. Aku berusaha buat ngerelain kamu sama dia, sampai aku bikin sandiwara konyol dengan berpura-pura punya pacar bahkan sampai menghina kamu.” Axel tertawa kecil, mengingat kebodohan dan juga rasa sakit yang berusaha dia sembunyikan selama ini.


“Kamu tahu, aku sendiri yang ngerasa kesal dan juga benci sama diriku sendiri karena hal itu. Pas kamu pergi ke luar negeri aku takut tapi juga bersyukur, karena waktu itu perusahaan aku kolaps, karena di serang sama perusahaan kakak Mia, tapi untungnya Kak Julian bantu aku buat ngelawan dia, dan karena perjuanganku selama tiga tahun lebih, sekarang aku sudah berdiri kokoh, aku sudah punya banyak cabang perusahaan, dan juga ada Kak Julian yang bantu aku dari belakang, jadi aku ngerasa kalau sekarang aku sudah bisa menunjukkan kamu ke dunia, walaupun nanti bakal ada orang yang tidak suka itu. Sekarang aku punya kekuatan untuk melawan, dan tidak mengandalkan kak Julian lagi, ya walaupun aku tahu, kalau aku selalu butuh dia.”


“Kamu yang paling sakit di antara kita berdua, Kak. Harusnya kamu ceritakan ini ke semua orang, dan jangan menyimpan semuanya sendiri.”


“Aku takut karena di kejar oleh rasa takut dan bersalah, Ika.”

__ADS_1


***


Adakah yang sudah menebak seperti ini? Dan menurut kalian bagaimana? Masuk akal gak? Wkwkwkwk.


__ADS_2