Hadiah Cinta

Hadiah Cinta
Cinta sesungguhnya


__ADS_3

Sasa terus memegangi lengan Erika dengan perasaan cemas, dia tersenyum pada sahabat kesayangannya itu. Mencoba memberikan Erika sedikit energi untuk menirukan senyuman yang dia pancarkan dari kedua sudut bibirnya.


Erika masih ingat dengan wanita itu, tapi mungkin kekasih dari laki-laki yang Erika cintai itu tidak ingat dengan dirinya. Ya, dia adalah wanita yang sama dengan yang Erika pergoki ketika ia dan Sasa jalan-jalan di mall tiga tahun lalu. Dan Erika adalah orang yang menjambak rambut wanita itu hingga rontok beberapa helai.


Ternyata sampai saat ini mereka masih berhubungan, sudah selama itu, dan Erika sadar, kalau keduanya pasti saling mencintai.


"Maaf, Kak. Kita ke sana dulu!" Sasa menunjuk ke arah kerumunan orang yang sedang minum dengan saling tertawa tersebut. Kemudian dia segera menyeret Erika, meninggalkan Axel dan Monica yang masih berdiri di sana menatap kepergian keduanya.


"Maafin gue, Rik. Gue gak tahu bakal kayak gini kejadiannya." Sasa menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena sudah memaksa Erika untuk datang ke acara ini. Kalau saja ia tidak memaksa, mungkin kini Erika tidak akan merasakan sakit untuk yang ke sekian kalinya dari laki-laki yang Sasa benci itu.


"Udahlah! Ngapain di pikirin! Gue gak apa-apa, kok." Erika tersenyum meyakinkan Sasa. Sahabatnya itu tidak bersalah, Erika lah yang salah. Dia yang tidak memiliki hati yang kuat untuk menerima ini semua.


Ponsel Erika yang ada di dalam tasnya berdering, gadis cantik yang memesona itu merogoh isi tasnya, dan mengeluarkan ponsel tersebut.


Erika melirik ke arah Sasa, yang menelponnya adalah Rian sang kekasih.


"Angkat aja, kali aja dia kangen!" Sasa menggoda Erika, dan gadis itu hanya tertawa kecil.


"Iya, Sayang?" sapa Erika saat ia sudah menjawab panggilan telepon tersebut.


"Kamu sudah sampai di acara reuninya?" tanya Rian di seberang sana. Dari nada suaranya, laki-laki yang sangat mencintai Erika itu terdengar khawatir.


Erika tersenyum lembut, "Iya, udah. Ini, aku lagi sama Sasa," jawab Erika, melihat ke arah Sasa yang sedang berbincang dengan beberapa orang, sekalian ingin meminta minuman yang ada di atas meja yang sudah di sediakan disana.


Di saat Axel selalu membuat hati Erika patah berkali-kali, Rian malah berusaha untuk membuat hati Erika membaik. Seumur hidup, dari semua laki-laki yang Erika kenal, Rian adalah yang paling sabar. Baik dalam keadaan apapun. Rian sangat sabar menanti Erika, Rian sabar menghadapi Erika yang masih sangat mencintai Axel. Rian sabar menanti Erika bisa melupakan Axel.


Tapi ... Rian juga adalah laki-laki yang paling bersedih. Karena ia gagal membuat Erika bisa melupakan Axel. Ya, Rian sadar, kalau Erika memang lebih dulu mengenal Axel, dan hatinya pun lebih dulu direbut oleh Axel.


"Kamu hati-hati, ya. Kalau aku selesai meetingnya cepat, aku bakal jemput kamu."

__ADS_1


"Eh? Enggak usah, aku nanti pulangnya sama Sasa, lagian kayaknya acara ini sampai malam banget, deh. Sekarang aja masih belum ada kata sambutannya," jelas Erika, yang membuat Rian di seberang sana menghela napas berat.


"Tapi aku khawatir sama kamu, Sayang. Perasaan aku gak enak. Pokoknya nanti aku jemput aja, ya?" Sepertinya Rian benar-benar khawatir terhadap sang kekasih, membuat Erika menghela napas panjang. Bagaimana ini? Padahal tadi dia sudah berniat untuk menginap di rumah Sasa saja.


"Oke, deh. Tapi kalau nanti kamu kecapean atau gak bisa jemput aku, hubungi aku lagi, ya. Jangan maksa diri kamu. Kamu itu juga butuh istirahat, jangan kerja terus, ngerti, kan, Sayang?" Rian yang ada di seberang sana terkekeh kecil, ia suka dengan perhatian kecil yang Erika berikan seperti sekarang ini. Setidaknya Erika sudah berusaha untuk membuat hatinya bahagia.


"Iya, ya udah, aku tutup telponnya, ya? Selamat bersenang-senang, Sayang!"


"Iya."


Setelah itu Rian segera mematikan sambungan telepon tersebut. Kemudian ia menatap ke arah layar ponselnya yang sudah mulai redup. "Dan aku sayang kamu," ucap Rian, menyambung lagi ucapannya yang tadi tidak sempat ia katakan lewat telepon pada sang kekasih.


Rian terkekeh kecil, ia menghembuskan napas berat. "Setidaknya aku sudah berusaha, Sayang. Kalau memang hati kamu belum bisa menerimaku, aku pasti akan menjadi orang pertama yang bahagia saat kamu tertawa dan bahagia, walaupun bersama dengan dia, orang yang kamu cintai melebihi diri kamu sendiri."


Itulah cinta yang sebenarnya, disaat kita bisa merelakan orang yang kita cintai berbahagia bersama dengan orang lain, dan ikut menjadi yang paling bahagia atas kebahagiaannya.


*


"Nih, minuman, kali aja lo haus!" Sasa menyerahkan segelas minuman yang berwarna merah pada Erika.


Gadis cantik itu menerimanya, dia tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Jujur saja, Erika memang haus, ia butuh banyak asupan untuk bisa melewati malam ini dengan baik.


"Rika?"


Erika dan juga Sasa menoleh ke arah seorang laki-laki yang menyapanya. Erika mengerutkan keningnya, merasa kenal tapi dia lupa dengan namanya.


"Ya ampun, gue Tio, masak lo lupa, sih?"


Erika melebarkan matanya, ia ingat dengan laki-laki yang bernama Tio ini, ya walaupun dulunya dia tidak akrab betul, tapi Tio adalah laki-laki yang juga mengejar Erika, bahkan berkali-kali menembak Erika, tapi selalu Erika tolak.

__ADS_1


"Iya, gue ingat," jawab Erika singkat. Ia tersenyum canggung pada Sasa yang ada di sebelahnya, karena sahabatnya itu tidak menyukai Tio, sebab laki-laki itu urakan dan juga nakal. Dulu saja saat masih SMA, Tio dan juga teman se-gengnya, sering sekali masuk club malam, hingga pernah di skorsing karena ketahuan merokok dan pesta minuman keras.


"Gimana kabar lo sekarang?" tanya Tio, ia tersenyum lebar ke arah Erika, tapi itu malah membuat Erika sedikit takut.


Perbincangan itu berlangsung terus, bahkan teman-teman Erika yang lain ikut menyapa gadis yang sudah lulus S2 itu. Mereka bahkan menceritakan kalau mereka sudah menikah dan memiliki anak.


Erika dan Sasa meringis, jangankan menikah, terpikir untuk menikah saja belum. Terlebih Sasa, setelah ia tobat menjadi play girl, sampai saat ini ia masih belum memiliki pacar lagi, laki-laki trauma padanya, karena selalu di tigakan, atau empatkan.


Dari kejauhan, Axel menatap Erika dengan sebuah minuman di tangannya. Wanita yang datang bersamanya itu masih bergelayut manja di lengannya sembari berbincang dengan teman-teman Axel yang lain. Tapi seperti memperhatikan Erika, lebih menarik dari pada itu.


Axel menaikkan sebelah alisnya saat ia melihat Tio memberikan minuman -lagi- pada Erika. Dan tadi, Axel jelas melihat kalau laki-laki itu memasukkan sesuatu kedalam gelas minuman tersebut, dari tempat yang sedikit jauh dari Erika, hingga gadis itu tidak mengetahuinya.


"Makasih, Tio. Tapi aku masih belum haus!" Erika menolak Tio saat laki-laki itu mengajaknya untuk melakukan cheers. Menerima minuman yang Tio berikan saja sudah berat bagi Erika, apalagi kini harus meminumnya.


"Ya ampun, Rika, anggap aja ini sebagai tanda kalau kita itu tetap teman, setelah kita gak ketemu bertahun-tahun!" Dari tatapan matanya, di sana sudah terlihat jelas kalau Tio mempunyai niat buruk untuk Erika. Tapi gadis itu terlalu polos hingga tidak menyadarinya.


"Buat lo juga, Sa!" Tio juga memberikan segelas minuman yang dia ambil dari atas meja, berbeda dengan minuman yang dia berikan untuk Erika.


"Ayok, semuanya ayo, cheers!" ajak Tio dengan bersemangat. Dengan ragu, Erika mendekatkan tangannya, melakukan cheers dan meminum minuman tersebut, pun begitu dengan Sasa.


Tio tersenyum licik di balik gelasnya, ia menatap Erika dengan pandangan berkabut. Sebentar lagi, ia bisa memiliki Erika. Gadis yang selalu menolaknya dari dulu. Membuat rasa penasaran Tio membuncah, dan rasa ingin memiliki Erika menjadi semakin besar.


Axel hanya diam, ia tidak mencegah atau melakukan apapun. Dia hanya melihat apa yang akan terjadi nantinya.


"Kayaknya bakal jadi hiburan yang menarik!"


***


Happy reading, semoga suka!

__ADS_1


__ADS_2