
Rian menatap lama ke depan, saat ini kekasihnya — Erika— sudah di persunting oleh Axel, laki-laki yang selalu memberikan Erika luka.
Mata Rian terasa panas, ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah samping, tidak sanggup saat melihat Axel mencium kening Erika. Tidak bisa Rian pungkiri, kalau ini adalah hari terberat untuknya. Gadis yang dia cintai, dan juga cinta pertamanya, harus dia relakan untuk dimiliki oleh laki-laki lain.
Rian tidak sanggup, dia benar-benar tidak sanggup hingga akhirnya dia memilih untuk keluar dari dalam ruangan itu. Dengan langkah yang berat, Rian pergi ke toilet, dia membasuh wajahnya yang memerah karena menahan tangis.
Baru kali ini Rian merasakan sakit yang seperti ini, walaupun sebelumnya dia sudah menyiapkan hati untuk merelakan Erika bersama dengan laki-laki yang sangat dia cintai, tapi Rian tidak menyangka kalau semuanya akan terjadi secepat ini.
Rian kalah, dia kalah dengan lukanya. Biarkan kali ini dia menjadi laki-laki pengecut dan juga cengeng, setidaknya dia sudah berusaha untuk menjadikan Erika miliknya, tapi sepertinya gadis itu memang bukan jodohnya.
Setelah merasa puas menumpahkan sesak yang ada di dalam dadanya, akhirnya Rian keluar, ia kembali ke ruangan tempat janji suci Erika dan Axel ter-ikrar. Tidak ada banyak orang yang hadir dalam acara serba mendadak itu, hanya keluarga besar Erick dan juga Julian saja yang menjadi ahli waris Axel.
Dan teman-teman Erika yang lain pun tidak ada, selain Sasa yang terus berada di samping sahabatnya itu. Pun begitu, Axel juga tidak mengundang siapapun, karena memang ini sangat mendadak sekali.
Setelah acara itu selesai, semua orang kini menuju rumah Erick. Erika hanya diam saja, dia tidak bersuara sedikitpun. Kalau saja saat ini kondisinya baik-baik saja, mungkin sekarang dia adalah orang yang paling bahagia, karena bisa menikah dengan laki-laki yang sangat dicintainya.
Tapi ... rasa trauma yang di buat oleh Tio masih membekas di ingatan Erika, bahkan gadis itu tidak bicara barang sepatah katapun tentang Tio, dan juga tidak menolak pengakuan Axel, hingga hal ini akhirnya terjadi, yang membuat Rian benar-benar terluka.
Tiba di rumah besar Erick, sang tuan putri langsung berjalan begitu saja menuju kamarnya, dia bahkan mengabaikan Sasa yang masih cemas dengan kondisi sahabatnya itu.
Rian menatap nanar langkah Erika, baru kemarin mereka pergi ke mall dan bercanda saat memakan es krim bersama, tapi kini kekasihnya itu sudah di persunting oleh laki-laki lain.
Hati Rian benar-benar serasa di remukkan dan hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Axel juga menatap langkah Erika, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menyusul istrinya itu ke lantai atas, takut kalau Erika melakukan sesuatu hal yang membahayakan, meninggalkan para orang tua yang hanya bisa menghela napas panjang.
Axel harus bicara dengan Erika, barulah setelah itu dia menemui Tio yang kini sedang di tahan oleh anak buahnya, laki-laki yang sudah membuat Erika menjadi seperti ini, dan juga membuatnya berganti status secepat ini.
Tanpa mengetuk pintu kamar Erika, Axel masuk begitu saja. Dia terdiam saat melihat Erika yang baru selesai mengganti gaunnya dengan pakaian tidur.
Erika terkejut saat melihat Axel berdiri di ujung pintu, gadis yang sudah menjadi istri Axel itu langsung berteriak dengan histeris.
"Akkhh, keluar kamu!! Keluar!! Jangan sakiti aku, aku mohon jangan lakukan apapun padaku! Keluar! Keluaaaarr!" teriak Erika dengan perasaan yang benar-benar takut.
Axel segera menutup pintu kamar Erika supaya suara teriakan istrinya itu tidak terdengar hingga lantai bawah dan mengundang perhatian orang-orang untuk mendekat. Ia bisa di tuduh menyakiti Erika kalau sampai mereka mendengarnya.
Axel berjalan mendekat ke arah Erika dengan langkah pelan.
"Aku bilang berhenti!! Jangan mendekat! Monster! Jangan mendekat!!" Erika semakin histeris saat Axel tidak memperdulikan teriakannya. Bayangan kejadian semalam membuat Erika benar-benar trauma. Bagaimana tamparan Tio membuat pipi Erika terasa perih, dan juga ciuman pria menjijikkan itu terasa basah di leher dan juga wajah Erika.
Axel menyesal karena membiarkan Tio malam itu membawa Erika dengan mobilnya, padahal waktu itu Axel melihatnya dari jarak jauh, dan saat mobil Tio melaju barulah Axel menelpon anak buahnya untuk bertemu dengannya di hotel yang menjadi tempat Erika hampir saja di lecehkan.
"Lepaskan!! Jangan lakukan itu padaku, lepaskan!!" Erika semakin memberontak saat dia berada dalam pelukan Axel.
"Erika, tenanglah! Ini aku! Rika, ini aku, Axel!" Axel berusaha untuk terus membuat Erika tenang, ia mengusap rambut istrinya yang masih memberontak itu.
"Rika, ini aku! Aku Axel, suami kamu!" Axel memegang wajah Erika, dan menghadapkan tepat dengan wajahnya.
__ADS_1
"Lihat aku, ini aku Axel!" tekan Axel dengan suara yang lembut, Erika diam, dia menatap manik hitam yang selalu membuatnya jatuh cinta itu dengan mata yang sendu.
"Rika, tenanglah! Ini aku, Axel! Kamu cinta sama aku, kan?" tanya Axel yang membuat Erika semakin diam.
Lama Erika memperhatikan wajah Axel hingga akhirnya gadis itu menggeleng. "Aku benci kamu!" tekan Erika yang membuat Axel terdiam. "Aku benar-benar benci kamu, Axel! Kamu jahat! Kamu egois, kamu kejam!" sentak Erika, ia segera melepaskan tangan Axel yang memeluk pinggangnya dan menjauh dari pria itu dengan histeris.
"Kamu laki-laki yang paling aku benci, Axel! Aku benci laki-laki jahat seperti kamu!" Bahkan kini Erika tidak menyebut nama Axel dengan embel-embel 'kak' lagi.
Axel menatap lurus ke arah mata Erika yang menyorotkan berjuta kesedihan. Mata itu terlihat rapuh, dan Axel sadar diri, dialah orang yang sudah membuat mata itu menjadi penuh dengan kesakitan seperti sekarang ini.
"Kamu yakin, kalau kamu membenci aku?" tanya Axel dengan suara datar.
Erika yang tadinya terdiam duduk di atas tempat tidur langsung mengangkat kepalanya. "Kamu orang yang paling aku benci saat ini, Axel!" jawab Erika tegas.
Axel tertawa kecil, "Kalau kamu memang benar membencinya aku, lalu kenapa mau menikah denganku? Dan kenapa kamu tidak menjelaskan ke semua orang, kalau bukan aku yang berniat untuk melecehkan kamu?" tanya Axel dengan wajah yang terlihat sedikit berbeda.
Sikap Axel yang sangat mudah berubah-ubah membuatnya menjadi laki-laki yang tidak bisa bersikap tegas, terlebih itu terjadi hanya kalau menyangkut dengan Erika saja.
Erika terisak pelan saat mendengar perkataan Axel tadi. Benar, kenapa dia tidak menjelaskan yang sebenarnya pada papanya. Tapi ... kalau dia menjelaskannya, maka dia akan di nikahkan dengan Tio, sedangkan saat ini Erika sangat trauma dengan laki-laki itu. Untuk saat ini, Erika tidak bisa berpikir panjang.
Erika mengangkat kakinya dan membenamkan wajahnya di antara kakinya itu.
"Aku benar-benar benci kamu, Axel. Aku benci kamu!!"
__ADS_1
***
Happy reading, semoga suka. Silahkan vote dan komen kalau berkenan, hehe;))