Hadiah Cinta

Hadiah Cinta
Laki-laki itu!


__ADS_3

Erika dan Axel berjalan keluar dari dalam rumah. Gandengan tangan yang mereka lakukan membuat semua orang yang melihat jelas tahu kalau keduanya saling mencinta.


Tatapan mata laki-laki yang menggenggam tangan wanitanya itu tampak benar-benar tulus. Begitu juga sebaliknya, kedua orang itu tampak saling mencintai, itu jelas terlihat dari kedua mata mereka.


Erika dan Axel masuk ke dalam mobil, sore menjelang malam ini mereka berniat untuk menghabiskannya dengan berbelanja kebutuhan dapur yang sepertinya sudah menipis, karena mereka baru pindah hari ini.


“Sayang ....” Axel memanggilnya Erika yang duduk di sebelahnya, menggenggam tangan wanita itu padahal dia sendiri sedang menyetir mobil.


"Bawa mobil yang bener!" tegas Erika, menarik tangannya dari Axel, membuat laki-laki itu merenggut. Erika tertawa kecil, tingkah Axel seperti ini membuat moodnya semakin naik.


Supermarket yang berada tidak jauh dari komplek perumahan mereka itu tidak jauh letakan. Dan kini mereka sudah tiba di sana, hanya melewati gerbang utama area komplek itu dan berjalan sedikit lagi maka sudah sampai di supermarket tersebut.


Erika turun dari dalam mobil, dia berjalan mendekat ke arah Axel yang berniat untuk membukakan pintu mobil.


"Mau beli apa, Sayang?" tanya Axel saat dia sudah mengambil troli belanjaan dan mendorongnya mengikuti langkah Erika.


Erika diam, dia tidak menjawab pertanyaan Axel dan berjalan menuju rak bahan makanan yang ada di sana. Mengambil daging sapi dan ayam, telur, sayur, buah, dan juga bumbu rempah.


Axel hanya mengekor saja, Erika membeli semua kebutuhan rumah mereka. Hingga ketika dia ingin menjangkau deterjen, dia agak sedikit kesulitan.


Erika terkejut saat ada seseorang yang mengambilkan detergen itu untuknya, Erika mendongak dan tertawa kecil karena itu ternyata adalah suaminya.


"Makanya, jangan ngelakuin semuanya sendiri, Sayang. Aku ada di sini, di belakang kamu."


Axel mengusap dan mengacak-acak rambut Erika beberapa kali hingga Erika yang awalnya terpesona karena suaminya itu jadi kesal.

__ADS_1


"Iya, tapi rambut aku jangan di acak-acak gini, dong!" kesal Erika, kembali merapikan rambutnya dari tangan jahil Axel.


Laki-laki yang menjadi suami Erika itu tertawa dan mengusap pipi Erika dengan pelan. "Aku kangen momen kita dulu, Sayang. Aku yang selalu temani kamu belanja di mini market, dan akan menggendong kamu pas kamu gak bisa ambil permen yang kamu suka karena tinggi. Aku rindu dengan semua momen kita dulu."


Erika diam mendengar perkataan Axel, kemudian dia mengangguk membenarkan apa yang dikatakannya oleh suaminya itu.


"Tapi setelah itu kamu berubah dan bikin aku kesal terus," ucap Erika dengan mendelik kesal, "Dan gak ngomong apapun padahal aku selalu nungguin kamu jelasinnya. Eh, abis itu baik lagi."


Erika dan Axel sama-sama tertawa, Axel mengusap rambut Erika dengan pelan, "Ayo!"


Axel mendorong troli belanjaan itu ke bagian lain yang diikuti oleh Erika dari belakang.


Setelah selesai berbelanja, kini kedua orang suami istri yang baru menikah itu duduk di depan supermarket sembari memakan es krim yang mereka beli. Mengingat lagi ketika dulu merupakan juga melakukan hal ini.


"Sayang, aku ke toilet bentar, ya." Erika mengangguk saja saat Axel mengatakan hal itu, dia tetap diam memakan es krimnya, melihat langkah Axel yang menjauh ke toilet umum yang berada tidak jauh dari sana.


Saat sedang menatap lurus ke depan, seseorang duduk di samping Erika. Membuat gadis yang memiliki kulit putih bersih itu jadi sedikit terkejut.


"Sendiri saja, Nona?" tanya orang itu, yang tak lain adalah seorang laki-laki yang memakai kaos dan jaket denim.


Erika tersenyum canggung, dia mengusap tengkuknya. Rasa takut akan laki-laki itu kini hadir lagi, hanya saja sudah tidak separah sebelumnya.


Laki-laki itu menghembuskan rokok yang dihisapnya kedepan, membuat Erika yang tidak terbiasa dengan asap rokok langsung terbatuk, membuat laki-laki tadi menjadi canggung.


"Maaf ...." dia memberikan minuman botol yang sudah di buka tapi belum di minum pada Erika. Dan diterima oleh istri Axel itu dengan senyuman tipis.

__ADS_1


"Namanya siapa?" tanya laki-laki itu setelah Erika memberiku lagi botol minuman itu padanya.


"Erika," jawab Erika singkat. Dia tersenyum kecil saat laki-laki tadi mengangguk mengerti dengan apa yang dia katakan.


Untuk sesaat, Erika merasa baikan saja, hingga akhir dia merasakan kepalanya berat dan membuatnya terhuyung ke depan. Laki-laki tadi segera menangkap Erika dan tersenyum jahat. Dia memandang wajah Erika yang tertidur lalu menggendong gadis itu ke mobile yang berada tidak jauh dari sana.


Kejadian itu begitu cepat, hanya dia menit saja, dan laki-laki itu berhasil membawa Erika. Tidak ada orang yang melihatnya kejadian itu, hanya ada cctv yang memantau di sudut tembok supermarket tersebut.


Axel yang baru saja kembalidari buang air besarnya, heran saat tidak melihat Erika berada di tempat mereka tadi. Ia bergegas mencari ke mobil tapi nihil. Tidak ada Erika di sana, membuat Axel menyugar rambutnya dengan kasar.


Axel masuk lagi ke dalam supermarket, menanyakan kepada pegawai supermarket itu tentang keberadaan istrinya. Axel kemudian menghubungi nomor Erika, awalnya aktif, tapi setelah itu di matikan. Saat Axel ingin menghubungi sekali lagi, ponsel Erika sudah tidak aktif.


"Disini ada cctv, kan? Istri saya hilang! Cepat! Periksa cctv-nya!" Axel benar-benar panik, seharusnya dia tidak meninggalkan Erika sendiri di sini, terlebih kini juga sudah menjelang Maghrib, jadi orang-orangnya berdiam diri di rumah untuk sementara waktu hingga tidak ada yang melibatkan kejadian itu.


Axel dan pegawai supermarket yang ketakutan itu langsung berjalan menuju ruang kontrol. Melihat wajah Axel yang marah, membuat pegawai supermarket itu menjadi ciut. Sungguh tampak sangat tegas tapi juga menakutkan.


Axel menyipitkan matanya saat melihat Erika yang diberikan minum oleh seorang laki-laki yang Axel kenal. Axel mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, laki-laki yang berusia hampir tiga puluh tahun itu menatap marah pada layar monitor tersebut.


"Sialan! Sialan!" umpat laki-laki tampan yang sangat memesona itu. Dia memukul dinding dengan tangannya yang terkepal, tidak terjadi apa-apa memang dengan tembok itu, hanya saja ada bekas darah segar yang menempel di sana, meyakini kalau tangan Axel pasti sangat sakit karena pukulannya itu.


"Berani-beraninya dia!!" tegas Axel lagi, kalau saja saat ini tidak ada pegawai supermarket itu yang menemani Axel, mungkin sekarang layar monitor itu sudah tidak berbentuk karena kemarahan suami dari Erika itu.


Axel kemudian merogoh kantong celananya, dan mengeluarkan lagi ponselnya dari sana.


"Aku ingin kau mencari istriku saat ini! Dimanapun dia, kau harus menemukannya! Aku ingin Erika ku kembali dengan keadaan yang baik-baik saja, dari tangan laki-laki kurang ajar itu!"

__ADS_1


***


Komen, dong. Hehe.


__ADS_2