
Axel mengepalkan tangannya karena marah. Ia merasa sakit hati dengan apa yang Erika katakan. Mata tajamnya membuat Erika membeku. Gadis cantik yang dulu pernah mencintainya itu, atau mungkin kini masih mencintainya itu terdiam dengan kaku.
"Kurang ajar mulut Lo, ya!" tunjuk Axel dengan tangan kirinya tepat di depan wajah Erika. Ia berusaha untuk menahan napasnya yang memburu karena kesal.
Erika tersentak saat mendengar perkataan Axel, dan juga ia menatap nanar ke arah tangan Axel yang menunjuknya. Hati Erika terasa sakit, seperti diremas-remas hingga hancur. Kenapa laki-laki ini suka sekali membuatnya terluka?
Erika menghirup napas panjang, lalu ia mengangkat kepalanya dan matanya bersirobok dengan mata Axel yang menatapnya dengan tajam, seperti sebuah pedang yang sedang menghunus, siap memberikan luka kalau sampai terkena ujungnya.
Axel tersentak saat ia melihat mata sendu Erika, gadis yang sudah ia sakiti berkali-kali.
"Baru aku bilang seperti itu, kamu sudah marah, Kak. Lalu bagaimana dengan aku yang selama bertahun-tahun menahan sakit karena perkataan kamu? Bukan hanya perkataan, tapi juga perbuatan kamu."
Erika tersenyum pedih, usahanya pergi ke Australia untuk melupakan Axel hancur lebur. Hari ini ia kalah. Dia benar-benar kalah. Dia wanita yang benar-benar lemah, sangat pengecut dan tidak tahu diri.
Tiga tahun dia bertahan sendiri di negara Kanguru itu, dan hanya butuh waktu beberapa menit ia bertemu dengan Axel, tapi ... laki-laki itu berhasil membuatnya kembali hancur dalam rasa yang semu. Dalam rasa yang sangat sulit untuk dia genggam, karena sama seperti sedang menggenggam pecahan kaca yang membuat telapak tangannya berdarah.
Cinta yang dari kecil Erika pupuk dengan baik, karena ia seperti merasa mendapatkan balasan dari laki-laki itu, tapi kini Erika harus menelan pil pahit berkali-kali, kalau dia adalah wanita yang paling menyedihkan, yang ada di muka bumi ini.
"Rika ...." Axel hendak menarik tangan Erika yang terkulai lemas, tapi wanita itu langsung menjauhkan tangannya dan menatap Axel dengan tersenyum.
"Kamu manusia paling egois yang pernah aku kenal, Kak. Berbahagialah!" Setelah mengatakan itu, Erika langsung berjalan ke samping dan meninggalkan Axel yang terdiam di sana.
Dengan langkah yang cepat, tapi terasa sangat berat dan penuh duri, memaksa Erika untuk meninggalkan toilet itu. Air mata berusaha ia tahan, agar tidak tergenang dan jatuh di pipinya.
Erika berdirinya sebentar, ia menghirup napas berulang kali, berharap rasa sesak di dadanya bisa hilang dengan dia melakukan itu.
Setelah merasa lebih tenang, Erika kembali melanjutkan langkahnya, mendatangi Rian yang masih setia menunggu dia di tempat mereka berpisah tadi.
"Sayang, kamu gak apa-apa, kan?" Rian bertanya dengan nada yang cemas dan juga panik. Karena Erika terlalu lama di dalam kamar mandi, dan saat ia kembali, wajah kekasihnya itu murung dan terlihat tidak bersemangat seperti tadi.
__ADS_1
"Gak pa-pa. Kita langsung pulang, ya. Aku capek banget." Erika memberikan senyuman terbaiknya pada Rian, berusaha untuk membuat kekasihnya itu tidak cemas lagi.
Rian menghela napas panjang, kemudian ia mengangguk. Laki-laki itu mengusap kepala Erika dengan lembut dan tersenyum, "Kalau kamu butuh tempat curhat, aku bisa dengarkan semua keluhan kamu, Sayang," ujar Rian dengan tulus.
Erika diam, ia kemudian mengangkat kepalanya dan menatap mata Rian yang memancarkan cinta yang benar-benar tulus untuknya.
"Iya," jawab Erika singkat, ia memberikan senyuman terbaiknya pada Rian, membuat laki-laki itu menjadi lega.
"Ayo!" Rian menggenggam tangan Erika yang terasa dingin dengan tangannya yang hangat. Mereka melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Tempat yang membuat luka Erika kembali menganga dengan lebar.
Di kejauhan, Axel berdiri, mengintip kedua sejoli tadi. "Cih!" decihnya sinis, kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.
***
Erika merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia bertumpu pada batal yang kini sudah mulai basah karena air mata.
Erika benci dengan dirinya. Ia benci dengan hatinya yang lemah. Erika benci dengan rasa cintanya selama ini pada pria itu. Benar, Erika benar-benar benci, bukan hanya pada dirinya saja, tapi pada Axel. Laki-laki yang bahkan tidak pernah meliriknya barang sekilas saja.
Erika duduk, ia memukul dadanya yang terasa sesak, berharap dengan melakukan itu ia akan merasa lega, dan sesak yang ia rasakan bisa hilang.
Setelah merasa puas menangis, bahkan sampai membuat matanya bengkak, hidungnya mampet, dan suaranya serak, Erika bangkit. Ia berjalan turun dari atas ranjang, dan berjalan ke arah lemari yang ada di dalam kamarnya.
Membuka laci bagian paling bawah dari lemari itu, Erika mengeluarkan sebuah kotak kayu dari sana.
Ia membuka kotak itu, dan menatap isinya dengan tatapan nanar.
Semua barang-barang yang dulu Axel berikan padanya sewaktu kecil, Erika simpan di sana. Foto-foto kebersamaan mereka tersusun rapi di dalam kotak itu. Dan kini, Erika sedang berusaha untuk menguatkan hatinya untuk membakar semua barang-barang yang sudah lama tidak ia sentuh tersebut.
Erika meletakkan kotak itu di atas ranjangnya, dan berjalan menuju kamar mandi. Yang jelas, ia tidak ingin membuat orang rumah menjadi cemas padanya karena mata sembab dan juga wajahnya yang masih memerah.
__ADS_1
Setelah selesai, Erika membuka pintu kamarnya yang terkunci, dan keluar dari sana. Menuruni anak tangga, hendak berjalan menuju ruang depan.
"Pak Didi," Erika memanggil satpam penjaga yang sedang berada di posnya. Suara Erika terasa sangat keras, karena pos itu cukup jauh dari rumahnya.
Pak Didi menampakkan dirinya saat ia merasa ada yang memanggilnya, dan ia segera berlari ke arah Erika yang melambaikan tangan.
"Kenapa, Non?" tanya Pak Didi, satpam yang sudah setengah baya itu, bertanya dengan sopan pada Erika.
"Pinjam korek, Pak," ujar Erika, sembari menengadahkan tangannya.
Pak Didi langsung memeriksa saku celana dan juga bajunya, dan akhirnya ia mengeluarkan sebuah korek dari sana dan memberikan pada Erika.
"Makasih, Pak. Nanti saya balikin, ya, pinjam dulu bentar," ucap Erika tersenyum senang.
Pak Didi mengangguk, ia juga tersenyum pada Erika dan melihat langkah Erika yang pergi ke samping pos, dekat dengan tempat sampah. Pak Didi mengikuti langkah Erika.
Erika membuka kotak itu, ia mengambil sebuah foto di sana. Ada potret dirinya yang sedang di gendong oleh Axel, di dekat wahana bermain. Foto kedua ia sedang duduk dengan Axel yang memasangkan tali sepatunya. Dan kemudian foto-foto selanjutnya.
Erika terisak pelan, hatinya sakit saat mengingat kenangan manis itu, karena sangat berbeda dengan kenyataan saat ini. Pak Didi terkejut saat mendengar isakan Erika, mau menenangkan, tapi ia takut membuat Nona nya itu menjadi marah. Jadi Pak Didi tidak punya pilihan lain selain diam dan melihat saja.
"Hiks, kamu jahat, Kak!" isak Erika dengan sangat pelan.
Erika kemudian memantik korek itu dan mulai membakar foto-foto kenangan tersebut. Hubungan Erika dan Axel sudah tidak dapat di harapkan lagi. Jadi Etika tidak ingin menyimpan kenangan itu lagi, karena akan semakin membuatnya sakit hati.
"Pergilah kamu dari hatiku, Kak. Dan jangan pernah kembali lagi, kalau hanya untuk memberikan luka, yang bahkan luka sebelumnya saja masih basah."
***
Jangan lupa review, vote, subscribe, ya wkwk.
__ADS_1