Hadiah Cinta

Hadiah Cinta
Basi


__ADS_3

'Axel?'


Erika mencengkram erat lengan Rian hingga laki-laki tampan dan juga gagah itu terkejut kesakitan.


"Sayang? Kamu kenapa?" tanya Rian panik, ia takut kalau Erika kenapa-napa, sebab gadis itu benar-benar membuat tangannya kesakitan.


Erika diam, ia tidak menjawab pertanyaan Rian, membuat laki-laki itu heran. Rian mengikuti arah pandangan Erika hingga dia melihat Axel di sana. Dan sangat kebetulan sekali, Axel yang kala itu tertawa, mendongak ke depan, hingga ia terdiam kaku saat melihat Erika yang menatap ke arahnya, ada Rian juga di samping wanita itu.


Erika melengos saat ia sadar kalau dirinya tertangkap basah saat memperhatikan Axel, laki-laki yang lama bersemayam di hatinya itu.


Rian tersenyum masam, ia merutuki dirinya sendiri karena sudah membawa Erika ke food court ini.


Rian tersentak saat Erika menarik tangannya untuk duduk di meja kosong yang ada di sana.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Erika dengan raut wajah yang terlihat biasa saja. Rian menaikkan sebelah alisnya, dengan sikap yang Erika tunjukkan saat ini.


Apa gadis itu benar-benar sudah melupakan Axel?


"Aku pesan sesuai sama yang kamu pesan aja," jawab Rian, Erika menggangguk. Kemudian gadis cantik itu segera mengangkat tangannya untuk memanggil waiters yang bekerja di food court itu.


"Saya mau steak daging sapinya dua, ya? Minumnya jus naga," ucap Erika mengatakan pesanannya.


Waiters itu mengangguk, ia segera mencatat pesanan Erika dan segera pergi dari sana.


Erika dan Rian dilanda kecanggungan, Rian tidak tahu harus mengatakan apa, sedangkan Erika juga bingung mau mengatakan apa.


"Kamu ...."


"Kamu ...."


Erika dan Rian sama-sama tertawa karena sama-sama ingin mulai bicara.


"Ladies first!" ucap Rian yang membuat Erika tertawa kecil.

__ADS_1


"Kamu lihat dia tadi, kan?" tanya Erika. Jelas Erika harus mengatakan ini, ia tidak ingin membuat Rian sakit hati karena tadi ia ketahuan sedang menatap Axel cukup lama.


"Hemm, lihat," jawab Rian.


"Kamu gak cemburu, kan?" tanya Erika hati-hati.


Rian diam, mana mungkin dia tidak cemburu, dia sangat mencintai Erika, dan jelas tahu kalau wanita yang dicintainya itu mencintai laki-laki lain, yaitu Axel.


"Aku cemburu," kata Rian, ia mengalihkan pandangannya karena malu dan secara tidak sengaja dia melirik ke arah Axel yang kini sedang memperhatikan Erika.


Tangan Rian terkepal, ia tidak suka saat melihat Axel menatap Erika seperti itu. Saat ini Erika adalah miliknya, bukan milik laki-laki yang bernama Axel itu. Rian yang selalu ada untuk Erika di saat terberat gadis itu, Rian yang selalu menguatkan Erika karena patah hati sebab Axel yang selalu menyakitinya.


Jadi ... setelah Rian mendapatkan Erika, tidak akan mungkin dia melepaskan gadis itu begitu saja. Rian tidak sebodoh Axel yang menyia-nyiakan cinta tulus Erika untuknya.


Walaupun Rian tahu kalau Erika belum bisa mencintai dia sepenuhnya, tapi Rian berjanji kalau dia akan membuat Erika benar-benar mencintainya.


"Beneran?" tanya Erika, dengan tertawa kecil. Rian kembali menatap ke arah Erika yang tampak semakin cantik dengan tersenyum seperti itu.


Saat sedang berbincang seperti itu, waiters yang tadi mencatat pesanan Erika, kembali ke sana bersama dengan temannya, membawakan pesanan Erika dan juga pesanan Rian tentunya.


Menikmati makanan itu sembari berbincang kecil, hingga Erika tidak sadar kalau sedari tadi Axel memperhatikan dia.


"Ayo!" Rian mengajak Erika untuk segera pergi dari food court itu, sebelum Axel yg kemungkinannya besar kini sedang melakukan rapat dengan kolega bisnisnya di sana berniat untuk mendatangi Erika.


Rian menggenggam tangan Erika keluar dari Food court itu, dengan niat ingin menunjukan pada Axel, kalau saat ini Erika adalah miliknya.


Sedangkan Axel, semenjak kedatangan Erika dan Rian tadi, ia sudah tidak bisa fokus pada pembicara yang dia lakukan dengan koleganya itu. Hingga ia di tegur beberapa kali.


Setelah rapat itu selesai dan koleganya pergi dari sana, Axel juga menyuruh sekretarisnya untuk pulang ke kantor terlebih dahulu, dan ia juga membuat alasan ada sesuatu yang penting yang ingin dia lakukan.


Sejak tadi, entah kenapa Axel merasa gelisah. Sebab dia melihat tangan Rian yang menggenggam tangan Erika. Axel benar-benar tidak suka saat melihatnya, ia merasa ada sesuatu yang terbakar dalam dirinya.


Dengan langkah cepat, Axel celingak-celinguk kesana kemari untuk mencari keberadaan Erika dan juga Rian. Ia ingin bicara dengan Erika, kemana gadis itu selama ini, kenapa dia menghilang begitu saja.

__ADS_1


Axel sudah mencari kemanapun Erika pergi, tapi dia kehilangan jejak Erika, terlebih dia juga dilindungi oleh Julian, dan tentu saja Axel kalah sangat jauh dari kakaknya itu.


"Cih!" Axel berdecih saat ia melihat Erika sedang tertawa dengan Rian, mulut dan juga pipi gadis cantik itu penuh dengan es krim yang mereka beli.


"Dasar kekanak-kanakan!" umpat Axel kesal. Ia terus mengikuti kedua orang itu hingga dia mengernyitkan dahinya saat melihat Erika menjauh dari Rian.


Axel kira, sepertinya Erika ingin pergi ke toilet, terlebih lagi tadi mereka terlihat sedikit berdebat, karena Erika yang melarang Rian untuk ikut dan Rian yang memaksa untuk ikut dengan kekasihnya itu.


Axel tersenyum sinis, kemudian ia berjalan pergi dari sana dan mengikuti Erika menuju toilet.


Lama Axel menunggu Erika di antara tembok pembatas toilet perempuan dan laki-laki itu, hingga akhirnya dia melihat Erika yang keluar dari dalam sana.


Erika menegang saat melihat Axel yang berdiri di depannya. Erika berusaha untuk menahan debaran jantungnya yang menggila, tapi sepertinya ia kesulitan.


Erika menghirup napas panjang lalu membuangnya dengan lambat, kemudian ia berjalan hendak mengabaikan Axel, tapi laki-laki itu sudah terlebih dahulu mencegatnya.


"Kau sudah pulang?" tanya Axel, dia bersidekap dada, menatap Erika dengan angkuh. Axel sangat menyakini satu hal dalam hatinya, yaitu Erika masih sangat mencintainya sampai saat ini.


"Bukannya Lo liat gue udah berdiri di sini sekarang? Dan itu artinya gue udah pulang?" tanya Erika sarkas.


Axel terhenyak saat mendengar perkataan Erika. Kini gadis itu menjadi lebih kasar terhadapnya, dan juga, gaya bahasanya pun berubah.


"Gimana rasanya pergi ngehindar kayak gitu, enak?" tanya Axel, dia menatap Erika dengan remeh. Tidak masalah Erika bersikap ketus padanya saat ini, karena Axel yakin kalau itu hanyalah tameng bagi gadis cantik tersebut untuk mencoba menjauh darinya.


"Ngehindar? Ngehindar dari siapa? Lo? Ya kali!" jawab Erika, ia bersidekap dada, menatap Axel dengan remeh dan senyum sinis. Tapi percayalah, bagaimana di dalam sana debaran jantung Erika yang menggila.


"Jujur aja, Rika! Lo ngehindar dari gue, kan, karena kejadian dulu?" tanya Axel, dia sangat yakin karena hal itu. Sebab, sampai kini Axel sering merasa bersalah setiap kali mengingatnya, terlebih Julian juga memarahi dia habis-habisan karena kejadian Erika yang pergi menjauh entah kemana, karena tidak ada seorangpun yang mau memberitahunya.


"Sorry, Lo udah bukan orang yang gue perjuangin lagi! Lo udah basi, dan sekarang pantas buat di buang!"


***


Happy reading!!

__ADS_1


__ADS_2