
Axel menggenggam tangan Erika, mereka turun dari kamar yang ada di lantai dua, berjalan menuju dapur. Di sore hari yang cerah dan juga penuh kebahagiaan ini, kedua pasangan yang sudah saling mengungkapkan perasaan masing-masing itu tersenyum satu sama lain.
Erika melihat ke arah dapur, asisten rumah tangga yang diperkerjakan oleh Axel tampak sedang membersihkan piring kotor.
“Bi.” Axel memanggil wanita paruh baya itu, hingga membuatnya langsung menoleh ke belakang.
“Iya, Tuan? Ada apa?” wanita yang Axel panggil dengan sebutan Bibi itu lekas mencuci tangannya dan berjalan mendekat ke arah beberapa piring makanan di atas meja.
"Bibi udah masak makan malam?" tanya Axel pada bibi itu dengan melirik ke arah meja makan.
“Belum, Tuan. Itu makanan siang tadi, bibi kira Tuan dan Nyonya akan makan di rumah, jadi bibi masak, atau mungkin sekarang Tuan sama Nyonya mau makan? Biar bibi panasin lagi lauknya?” Bibi yang bernama Ratih itu bertanya pada Axel dan juga Erika dengan wajah yang sopan.
Axel diam, kemudian dia melirik ke arah Erika, “bagaimana Sayang? Kamu belum makan dari pagi, kan? Sarapan tadi aja belum kamu makan,” ujar Axel bertanya pada Erika.
Erika kemudian berpikir sejenak, hingga akhirnya dia mengangguk dan tersenyum kecil.
“Oke, Bi. Siapin saja, Nyonya katanya mau makan di sini,” kata Axel, menyuruh bibi Ratih untuk segera menyiapkan makan siang yang sudah sangat terlambat ini.
Axel dan Erika makan dalam diam, kedua orang itu menikmati makanan bibi Ratih dengan lahap. Terlebih lagi Erika yang memang sudah sangat lapar karena sedari pagi belum makan.
“Masakan Bibi enak banget, Rika jadi ingin bisa masak kayak gini.” Setelah selesai makan, Erika memuji masakan bibi Ratih. Dia tersenyum lebar ke arah wanita tua itu, membuat bibi Ratih jadi tersipu malu.
“Ish, Nyonya bisa saja, bikin saya besar kepala,” ucap bibi Ratih dengan senyuman malu-malu. Axel jadi tertawa, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Masakan bibi Ratih memang the best.
__ADS_1
Setelah selesai makan, kini Axel dan Erika bingung mau melakukan apalagi, mau jalan-jalan juga sudah nanggung. Untuk hari ini Axel juga sudah meliburkan dirinya sendiri, jadi dia free sampai besok.
“Aku mau mandi aja, sudah gerah juga,” ucap Erika, dia berjalan terlebih dahulu meninggalkan Axel. Laki-laki tampan yang menjadi suaminya itu langsung melongo dan mengikuti langkah Erika.
“Sama-sama, Sayang. Kita itu diciptakan untuk berjalan beriringan berdua, bukan berjalan terpisah.” Erika yang sudah tiba di depan pintu kamarnya dan Axel mendongak ke arah suaminya itu, lalu kemudian dia mendengus.
Tanpa menyahuti perkataan Axel, wanita cantik yang memiliki tubuh jenjang dan sangat putih itu masuk ke dalam kamar, meninggalkan sang suami yang memberengut. Tapi Axel juga bahagia kalau Erika sudah tidak terlalu memikirkan traumanya lagi, dan sudah bisa di ajak bercanda. Kejujuran Axel tadi rupanya sangat berpengaruh terhadap psikis Erika. Dan semoga saja itu berlanjut hingga Erika bisa sembuh dari traumanya.
Axel duduk di atas ranjang, kemeja yang melekat di tubuhnya dia buka, meninggalkan enam buah roti sobek yang amat sangat enak untuk di padang. Bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi, membuat Axel tahu, kalau istrinya saat ini pasti sedang mandi.
Axel tersenyum jahil, kemudian dia berjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi, “Sayang, mandi bareng, ya?” tanya Axel dengan suara yang terdengar menggoda dan raut wajah yang seakan mengajak untuk berumah tangga.
Di dalam kamar mandi, jantung Erika berdebar, dia merasakan pipinya memerah karena malu. Tapi ... Erika juga takut di saat bersamaan. Kilasan memori kejadian menakutkan beberapa waktu yang lalu membuat tubuh Erika menegang. Kemudian dia memegangi pipinya, bekas tamparan Tio bolak-balik kini terasa lagi. Erika juga memegangi leher dan wajahnya, kecupan basah Tio membuat Erika spontan berjalan menuju wastafel dan membasuh wajahnya.
“Erika, kamu kuat! Kamu harus lawan rasa takut kamu karena laki-laki jahat itu. Saat ini kamu aman, Rika. Kamu dinikahi oleh Axel, jadi kamu harus kuat, seperti dia yang kuat dalam menjalani harinya. Ayolah, Rika! Lo kuat!”
Erika menyemangati dirinya sendiri di depan cermin, kemudian dia menghela napas. Sedangkan saat ini, di luar kamar mandi, Axel diam. Dia merenungi lagi perkataannya. Setelah itu rasa bersalah kini menyeruak dalam diri Axel. Seharusnya dia ingat kalau istrinya kini sedang dalam masa pemulihan pasca trauma, dan seharusnya Axel tidak mengatakan hal tadi. Kini Axel dirundung oleh rasa bersalah.
Walau bagaimanapun, seharusnya dia bisa menahan diri, tapi sebagai lelaki dewasa yang sudah memiliki istri, rasanya Axel juga mau dengan haknya sebagai suami, tapi untuk beberapa waktu Axel sadar diri kalau dia harus menahan diri, demi kebaikan bersama.
Mengingat ini, membuat Axel kini jadi semakin bersemangat untuk menyiksa Tio. Karena laki-laki itulah wanita yang amat sangat dicintainya harus mengalami trauma seperti ini.
Pintu kamar mandi terbuka, Axel menelan ludah kasar saat melihat Erika berdiri di depannya hanya dengan menggunakan handuk saja, dan tentu hanya sampai sebatas itu saja. Itu loh, itu!
__ADS_1
“Katanya mau mandi bersama? Ayok!” raut wajah Erika yang tampak sudah lebih tenang dari sebelumnya, tidak bisa menipu Axel, kalau kini wanitanya itu sedang menahan rasa takutnya.
“Aku bercanda aja, Yang. Lagian, kamu, sih, lama banget. Aku kan kebelet. Aku masuk dulu ya, dandan yang cantik, abis ini kita jalan-jalan ke supermarket depan.”
Erika bernapas lega saat Axel menutup pintu kamar mandi, tampil hanya dengan menggunakan handuk saja membuat Erika menjadi gugup.
Dengan cepat Erika berkemas seperti yang Axel katakan. Sembari menunggu suaminya itu selesai mandi.
Axel keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, dia melirik ke arah Erika yang tertidur, sembari menyandar di sandaran ranjang.
Setelah berpakaian, Axel kemudian berusaha untuk memperbaiki posisi tidur Erika. Dia berpikir pasti tidak nyaman tidur dengan posisi yang seperti itu. Tapi karena gerakannya, Erika jadi terbangun, awalnya dia terkejut dengan seseorang yang berada sangat dekat dengannya, hingga akhirnya dia menghela napas panjang dengan jantung yang berdebar kencang saat sadar kalau orang itu adalah Axel sang suami.
“Kenapa? Kok lama?” tanya Erika, memperbaiki posisi duduknya.
Axel tertawa kecil, kemudian dia mengusap tengkuknya yang tidak gatal. “Biasa, Yang. Olah-raga dulu, hehe.”
“Olah raga apa? Di dalam kamar mandi lagi?” tanya Erika heran.
“Olah raga tangan. Udah, kamu gak akan ngerti, ini urusan laki-laki. Ayo, jadi, kan, ke supermarketnya?”
***
LUV-LUV.
__ADS_1