
Axel menatap lama manik mata Erika yang masih basah. Mata yang merah karena sudah terlalu lama menangis itu membuat Axel merasa aneh.
Tangan Axel yang semula sudah dilepaskan oleh Erika dari pinggangnya, kini menarik sang istri lagi, lebih dekat dengan dada bidang laki-laki tampan yang kini sudah sah menjadi suami Erika tersebut.
Erika terdiam seribu bahasa, dia menatap Axel yang tingkahnya selalu berubah-ubah. Erika tidak tahu, kenapa sikap Axel selalu membuatnya bingung.
Axel biasanya selalu menjadi laki-laki yang cuek, ketus, dingin dan juga sedikit kasar pada Erika. Dia selalu mengusir Erika kalau gadis itu datang menggangu ke perusahaannya.
Tapi semenjak kejadian mengerikan itu menimpa Erika, sikap Axel banyak berubah. Entah kenapa, Erika tidak mau memikirkannya.
Lama mata mereka saling bersirobok dan bertukar pandang, hingga akhirnya Axel menghela napas panjang.
"Besok kita pindah!"
Perkataan Axel yang tidak pernah terpikirkan oleh Erika, membuat gadis tersebut menjadi terkejut. Erika membulatkan matanya kemudian menggeleng.
"Aku gak mau!" tolak Erika cepat, sungguh dia tidak mau pergi keluar dari rumah ini. Erika takut kalau nanti sikap Axel akan berubah lagi terhadapnya. Tingkah suaminya itu tidak dapat Erika tebak, sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar cuek dan juga ketus.
"Kamu harus mau, Rika. Sekarang kita sudah menikah, dan kamu adalah tanggungjawabku. Jadi aku akan membawa kamu ke rumah kita!"
Erika mengerutkan keningnya, "Rumah kita?" tanyanya yang membuat Axel langsung gelagapan.
Axel mengalihkan pandangannya ke arah lain, kemudian dia berdehem. "Iya, kan kamu sekarang istriku, jadi semua yang aku punya adalah milikmu." Axel bernapas lega setelah mengatakan itu.
Erika diam, apa yang Axel katakan adalah benar, hanya saja tadi Erika sempat besar kepala dan menganggap kalau Axel sudah menyiapkan rumah itu sebelum mereka menikah. Erika tertawa miris dalam hatinya, mana mungkin Axel melakukan itu, sedangkan dulu untuk melihatnya saja Axel enggan.
Saat melihat Erika diam, Axel menghela napas panjang. Kemudian dia menjauhkan tubuhnya dari Erika, meninggalkan gadis itu terduduk di atas meja, sedangkan dia sendiri pergi ke bagian masak yang ada di dapur itu.
Axel melihat-lihat isi kulkas, dan memutuskan untuk membuat nasi goreng sayur saja. Ia sangat berharap, kemampuan memasaknya yang tidak dapat di banggakan itu tidak membuatnya malu saat ini.
__ADS_1
Axel menyiapkan berbagai macam jenis bahan yang diperlukan. Tapi terlebih dahulu dia melihat nasi, apakah masih tersisa di dalam magic com atau tidak, dan syukurnya masih ada.
Axel mulai memotong bahan-bahan yang diperlukan, setelah itu ia menyiapkan wajan dan juga menyalakan kompor.
Erika melihat dari atas meja, semua yang dilakukannya oleh Axel serba cepat, ia kemudian menghela napas. Tinggal di Australia sendiri, jauh dari keluarganya membuat Erika bisa mengurus dirinya sendiri, termasuk memasak. Padahal sebelumnya dia tidak bisa melakukan itu, dan itu salah satu keuntungan Erika menjauh dari Axel.
Erika termenung dalam kenangan-kenangan yang tiba-tiba melintas di benaknya, hingga ia tidak menyadari saat Axel meletakkan sepiring nasi goreng di atas meja. Dengan bentuk yang menurut Erika sangat biasa saja.
Erika mengangkat alisnya saat melintas Axel menggaruk tengkuk dan juga melirik ke arah lain.
"Aku gak yakin sama rasanya, tapi aku harap kamu suka!"
Erika diam, dia tidak menjawab perkataan Axel hingga suaminya itu menyuapi sesendok nasi goreng padanya.
Erika menerima suapan itu, dan mengunyahnya secara perlahan. Nasi gorengnya tidak buruk, hanya saja rasanya hambar. Tapi Erika tetap memakan nasi goreng buatan Axel itu tanpa berkomentar sedikitpun, karena ia sangat menghargai kerja keras suaminya itu.
Setelah selesai menghabiskan satu piring nasi goreng hambar tersebut, Axel menggendong Erika menuju kamar mereka yang ada di lantai atas, membiarkan saja piring kotor itu terletak di wastafel.
Axel mengusap kepala Erika beberapa kali, hingga istrinya itu memejamkan mata. Sampai Axel mendengar deru napas Erika yang teratur, barulah dia bergerak meninggalkan ranjang dan berjalan menuju sofa yang ada di sana.
Axel merebahkan tubuhnya di atas sofa itu dan menatap lama ke arah langit-langit kamar. Hingga kemudian dia menghela napas saat otaknya tidak mampu lagi untuk ia ajak berpikir.
***
"Mau pergi sekarang?" Axel bertanya pada Erika yang kini sedang duduk di depan cermin. Menatap pantulan dirinya yang kini sudah sedikit lebih segar.
Erika mendongak, matanya menatap Axel yang kini sedang memakai jas. Pakaian Axel di bawakan orang pelayan yang ada di rumah besar Julian, dan rencananya kini ia dan Erika akan pergi ke rumah mereka sendiri.
"Apa kita benar-benar harus pindah?" tanya Erika dengan suara pelan. Rasa takut Erika kini sudah mulai bisa ia kendalikan, tapi seperti itu hanya berlaku untuk Axel saja.
__ADS_1
Mau sekeras apapun Erika mengatakan kalau dia benci Axel, tapi tetap saja jantungnya berdebar dengan sangat keras ketika pria itu menatap matanya. Hanya saja Erika sudah bertekad pada dirinya sendiri, kalau dia tidak akan pernah mengemis lagi pada Axel.
Erika harus bisa membuat Axel yang mengejarnya, karena dia lelah berlari untuk mengejar pria tersebut.
"Lebih cepat lebih baik."
"Oke!"
Axel hanya mengangguk pelan, sikap Erika yang kini berubah dingin padanya membuat sesuatu di sudut hati Axel terasa berdenyut.
"Ayo!" Axel mengulurkan tangannya pada Erika yang masih duduk di depan cermin, tapi gadis itu tidak menyambutnya dan malah mengabaikan tangan Axel begitu saja. Dia bangkit dan menatap lurus ke depan.
Axel menatap telapak tangannya, kemudian ia diam dan tidak mengatakan sepatah katapun. Sikap Erika yang seperti ini membuat Axel merasa sakit, tapi dia sadar kalau dirinya lebih kejam dari ini.
Erika berjalan menuruni tangga, Axel mengekor di belakang dengan dua buah koper berisi barang-barang milik Erika di dalamnya yang sebelumnya sudah ia kemasi.
"Rika?" Erick yang duduk di ruang keluarga, sepertinya memang sedang menunggu anaknya itu turun langsung berdiri. Dia berjalan mendekat ke arah Erika, tapi anak perempuannya itu malah terdiam kaku.
Hati Erick sakit saat melihat mata Erika yang tampak takut padanya, tapi kemudian ia tersenyum simpul saat gadis kecilnya itu mendekat dan memeluknya. Erika kini sedang berperang dengan rasa takutnya.
"Maafkan papa karena tidak bisa menjaga kamu dari dia, Nak!" Erick memeluk Erika dengan erat, dia yang dimaksud oleh laki-laki tua itu adalah Axel, padahal dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Erika diam, dia yang tadinya tidak menangis jadi menitikkan air mata saat mendengarkan perkataan Erick. Kedua orang itu kini ada dalam pusaran salah paham. Erika mengira kalau Erick sudah tahu yang sebenarnya, sedangkan Erick mengira Axel lah pelakunya.
"Kamu yakin tidak mau tinggal disini saja, Nak?" suara Airin yang datang dari arah dapur memecah pelukan itu. Bapak dan anak tersebut serempak menoleh ke arah wanita yang sama-sama mereka cintai.
"Rika sudah menikah, Ma. Tentu Rika harus ikut dengan suami Rika. Karena sekarang Erika sudah memiliki imam yang harus Erika ikuti langkahnya."
***
__ADS_1
Di tunggu komentar dan votenya, ya, hehe, kalau berkenan. Happy reading!