
Keesokan harinya, di sekolah
Sisil yang baru saja sampai disekolahnya disambut dengan keadaan yang tidak mengenakkan. Sisil belum juga melewati gerbang sekolahnya tapi sudah mendengar desas-desus tentang dirinya. Orang-orang disekitarnya, memandang sinis Sisil dan menggosipinya.
"Hei hei itu dia orangnya!"
"Sttt diam lah!"
"Gila sihh"
Sisil punya firasat buruk jika dia memasuki gerbang. Sisil sudah berkeringat dingin, tetapi Sisil memberanikan dirinya untuk masuk. Untuk mengcegah hal yang tidak-tidak, Sisil melepas kacamatnya lalu menyimpannya di tas. Sisil mulai berjalan menuju gerbang sekolah.
Sampai di depan gerbang sekolah, Sisil melangkahkan kakinya untuk memasuki gerbang sekolah tanpa ragu. Benar saja, kasak-kusuk tentangnya lebih banyak dan hampir semua orang membicarakannya setelah memasuki gerbang.
"Liat! itu pemeran wanitanya haha!"
"Benar benar, dia masih ada muka ya berangkat kesekolah haha"
"Tapi apa yang ada di papan buletin itu benar?!"
"Tentu saja! tak hanya di papan buletin, di forum juga!"
"Padahal cantik tapi ternyata..."
"Memalukan!"
Tetapi Sisil tidak mempedulikan itu. Ia berjalan menuju kelasnya tanpa keraguan dan dengan tampang serius. "Sebenarnya apa yang terjadi? apa ada kaitannya dengan semalam? ah ya aku harus cek papan buletin" gumam Sisil. Sisil bergegas menuju papan buletin sebelum ke kelas.
Sesampai disana, papan buletin di penuhi anak-anak. Sisil semakin penasaran apa yang terjadi. "Permisi" izin Sisil untuk lewat. Anak-anak yang menyadari keberadaan Sisil langsung menyingkir jauh. Sisil mengernyitkan alisnya lalu maju ke papan buletin.
Sisil terkejut tidak main. Sisil menggertakkan giginya memandangi fotonya dengan Victor melakukan hal tak senonoh di perpustakaan. Tidak, itu bukan foto asli. Itu adalah editan, benar-benar editan yang tidak seperti editan. "Manusia mana yang bisa mengedit semulus ini?! benar-benar hebat hahah" gumam Sisil seraya menarik foto-foto itu. Sisil benar-benar kesal saat itu, tetapi anak-anak dibelakangnya malah main-main dengannya.
"Apa dia gila?"
__ADS_1
"Iya, mana mungkin ia mau mengakuinya"
"Haha sudah gila karena masalah itu"
"KALIAN LAH YANG GILA! MATA KALIAN PASTI BUTA MEMPERCAYAI EDITAN INI!" sahut Sisil marah. Tiba-tiba sekelompok guru datang. Tidak hanya para guru, tapi juga Victor. Victor terlihat menyedihkan seperti tahanan. "Tenanglah nak.." kata guru olahraga. "Ya.. pak" jawab Sisil. Sisil memandangi Victor, lalu mereka saling berkontak mata. "Sebaiknya kamu ikut kami ke ruang BK dan menjelaskannya disana" perintah guru BK. "Baik bu" jawab Sisil seraya mengikuti mereka.
**Sesampai di ruang BK **
Sisil dan Victor dipersilahkan duduk. Sejauh itu keadaan masih tenang dan belum ada yang memulai pembicaraan. Hingga guru BK itu membuka mulutnya.
Guru BK
"Kalian pasti sudah tahu apa yang ingin ibu bicarakan, sekarang ibu ingin salah satu dari kalian menjelaskanya!"
Victor dan Sisil saling memandang untuk menentukan siapa yang terlebih dahulu menjelaskan. Dan yang akan menjelaskan terlebih dahulu adalah Victor.
Victor
"Begini bu, memang benar saya dan Sisil berada di perpustakaan semalam. Tetapi kami sama sekali tidak melakukan hal senonoh seperti yang ada di foto itu. Terserah bagaimana anggapan bapak dan ibu tapi saya mengatakan apa adanya"
Guru BK
Victor
"CCTV perpustakaan, itu buktinya"
Guru BK
"Kamu pintar.. tetapi sayangnya ada seseorang yang mengambil rekaman di CCTV itu. Beberapa bapak dan ibu guru olahraga sudah mengeceknya. Kemungkinan orang yang mengambil rekaman itu adalah orang kalian atau orang dalang yang berada dibalik ini."
Victor
"Jelas itu bukan kami, kalau benar itu kami untuk apa saya menyebutkan salah satu buktinya"
__ADS_1
Sisil
"Kalaupun bukti itu sudah tidak ada dan bapak ibu semua berpikiran orang kami yang mengambilnya, bukankah itu sama saja kami menggali kuburan sendiri. Kalau saja kami tau ada yang mengambil rekaman CCTV itu pasti kami tidak akan bilang mengenai CCTV itu"
Guru BK
"Haha cukup masuk akal. Lalu apa kalian masih ada bukti?"
Sisil
"Saya tidak memiliki bukti yang kuat tetapi saya rasa ini bisa meyakinkan bapak dan ibu sekalian"
Sisil menunjukan pesan semalam dari orang tak dikenal. Para guru saling memandang.
Guru BK
"Baik, sementara ponsel kamu ibu sita terlebih dahulu untuk penyelidikan selanjutnya. Tetapi kalian jangan senang dulu"
Sisil
"Baik bu"
Victor
"Oh ya bu, ada lagi yang ingin saya sampaikan"
Guru BK
"Apaitu? katakan saja"
Victor
"Semalam ketika di perpus, saya tidak bisa membaca dengan tenang jadi saya lebih sering melihat keadaan sekitar. Saya sudah melihat seorang wanita mencurigakan yang sama sebanyak empat kali. Setiap saya tidak sengaja memandanginya ia juga sedang memandangi saya. Dan ia selalu menggenggam ponsel di tangannya. Tentu saja ini terserah bapak dan ibu sekalian, mempercayai perkataan saya atau tidak. Tetapi yang jelas-"
__ADS_1
Sisil
"Kami sudah mengatakan apa adanya!"