
Sisil sudah memutuskan kalau ia akan mencoba hal baru, mengubah genrenya, dan menjadi lebih kejam. "Mulai dari mana ya.." gumam Sisil. Sisil sampai kantin saat kantin dipenuhi orang. Semua orang terkejut dan terus memandangi Sisil. Sisil tetap tidak mempedulikan itu. Ia hanya membeli makanan lalu duduk di bangku kosong dan sendirian. Tak lama kemudian Velena datang ke tempat Sisil duduk. Dan menemani Sisil makan siang.
Velena
"Yo~ apa kabar?"
Sisil
"Not bad"
Velena
"Really? dengan kejadian yang baru kamu alami?"
Sisil
"Hei-hei gimana pun juga aku ini korban, aku juga tak ingin pusing-pusing mikirin masalah hari ini"
Velena
"Haha good, jadi gimana rencanamu buat nemuin dalang dibalik semua ini?"
Sisil
"Aku.. aku belum memikirkan cara apapun"
Velena
"Ah astaga, apa kamu perlu bantuanku?"
Sisil
"Tentu, kita harus bekerja sama karena sepertinya dalang dibalik kasus kita-"
Velena
"Adalah orang yang sama"
__ADS_1
Sisil
"Yosh! aku undang kamu kerumahku sepulang sekolah"
Velena
"Haha oke, oh ya gimana dengan Victor? bukannya sebaiknya kita ajak dia juga"
Sisil
"Ide yang bagus, tapi kami diminta untuk ga ketemu dulu dalam seminggu"
Velena
"Oh ternyata begitu"
Orang-orang yang menyaksikan itu terheran-heran. Kenapa bisa seorang primadona sekolah menemani Sisil dengan keadaan Sisil saat itu. Dan setahu anak-anak sekolah, mereka berdua tidak dekat.
Tiga teman Sisil juga memperhatikan Sisil dan Velena. Mereka pikir hanya merekalah teman baik Sisil. Mereka bertiga merasa gagal menjadi teman baik Sisil karena tidak menemaninya saat ada masalah.
Sisil memasuki kelasnya dan disambut dengan pelukan oleh Ica. Nadine dan putri juga berada disampingnya. Sisil terkejut sekaligus senang. Sisil terharu hingga mengeluarkan air mata. "Sudah.." kata nadine seraya mengelus punggung Sisil.
Sisil
"Aku pikir *hiks* kalian gak akan percaya padaku"
Ica
"Kami percaya padamu, kamu gak mungkin ngelakuin itu"
Putri
"Iya, tapi aku masih meragukanmu.. maaf"
Sisil
"Ehm! gapapa, oh ya makasih"
__ADS_1
Nadine
"Hm, maaf kami gak nemenin kamu dari awal"
Sisil
"Tenang ajah, kalian percaya padaku aku uda seneng~"
Ica
"Eh duduk yuk, bentar lagi guru kita datang"
Sisil dan circlenya bergegas duduk, lalu berbincang. Teman-teman sekelasnya heran kenapa mereka bertiga tetap mau berteman dengan Sisil. Teman-teman sekelasnya hanya memandang sinis mereka, tanpa berbicara apapun. Itu tidak penting, yang penting adalah Sisil kembali mendapat kepercayaan teman baiknya. Victor turut senang kepada Sisil, ia tersenyum melihat Sisil berbincang asik dengan circlenya.
**Bel kembali berbunyi, jam pulang sekolah telah tiba. ** Velena sudah menunggu Sisil di dekat gerbang sekolah. Sisil lari menuju gerbang sekolah ketika menyadari Velena yang sudah menunggu. "Hai~" sapa Sisil. "Oh hai~ akhirnya kamu keluar juga" jawab Velena. "Kita gak perlu naik bus, aku sudah meminta supir rumahku untuk jemput kita" kata Sisil. "Waw benar-benar orang kaya, kalau gitu makasih" jawab Velena. Sisil dan Velena bergegas menuju parkiran.
Suasana sore dengan angin sepoi-sepoi. Sekolah sudah mulai sepi. Victor duduk di taman sekolah dengan mendengarkan musik menggunakan earphone. Entah apa yang ia lakukan. Bukannya pulang, tetapi malah bersantai disana.
"tap tap tap" tiga anak perempuan yang baru saja keluar dari kelasnya, berjalan menuju gerbang sekolah. Mereka berbincang bahagia dalam kesepian.
???
"Ahahah kamu benar-benar hebat"
???
"Hei ini ide ku"
???
"Haha okei, aku hanya melakukan sesuai rencana"
???
"HAHAHAH yang penting semuanya berjalan sesuai rencana"
Victor melirik sinis menyadari mereka lewat di depannya. "Ck ck" gumam Victor. Salah satu dari tiga anak perempuan menyadari Victor berada di taman. "Oi oi oi~ lihat siapa yang duduk menyedihkan disana" kata perempuan itu seraya menunjuk ke arah Victor
__ADS_1