
"Apa-apaan ini, kapan perbincangan serius antara aku dan Velena akan dimulai" batin Sisil yang masih berdiri di dekat pintu.
Mama Sisil dan Velena malah asik berbincang. Sisil sudah geram menunggu perbincangan itu tak kunjung selesai.
Sisil
"Mama! masih ada hal yang harus aku lakukan dengan Velena, mohon mama jangan ganggu kami dahulu"
Mama
"Eih.. siapa yang mengganggu? mama cuma ngobrol sama Velena"
Sisil
"Ngobrol kan bisa nanti aja, sekarang masih ada hal yang lebih penting"
Mama
"Yah kalau begitu mama gak akan ganggu kamu"
Mama Sisil beranjak keluar kamar lalu menutup pintu kamar Sisil.
Velena
"Kamu ini kenapa sih?! dia itu ibumu lho!"
Sisil
"Sudahlah sekarang masih ada yang lebih penting, kalau aku hanya diam saja kamu sama mamaku bakal kebawa suasana sampai lupa tujuan aku memgundangmu kesini"
Velena
"Hmph!"
Sisil
"Kembali ke topik! apa yang mau kamu sampaikan?"
__ADS_1
Velena
"Ah.. masalah itu, apa kamu kenal Lusy dan circlenya? orang tua mereka tidak kalah hebat dengan orang tuamu bukan? terutama Lusy orang tuanya adalah salah satu pemegam saham di sekolah kita"
Sisil
"Mereka itu cukup terkenal mana mungkin aku tidak mengetahui mereka, memangnya kenapa?"
Velena
"Ini yang kamu gak tahu, satu tahun lalu saat aku belum menjadi primadona sekolah, entah kenapa mereka mencelakaiku padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun kepada mereka gak hanya itu mereka juga mengancamku untuk gak deketin cowo-cowo tenar disekolahan"
"Apa kamu ingat, satu tahun yang lalu aku sempat opname di rumah sakit gara-gara diserang oleh geng motor?"
Sisil
"Ya, aku masih ingat"
Velena
"Bahkan wajahku juga dirusak oleh mereka, aku membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan seluruh tubuhku"
Sisil
"Apa itu benar? kenapa kamu tidak melaporkan ke polisi kalau ada dalang dibalik kejadian itu?!"
Velena
"Untuk apa aku bohong?! aku sudah melaporkan itu.. tapi tidak ada yang mempercainya dan lagi aku tidak punya bukti yang cukup kuat"
Sisil
"Velena.. maaf aku gak tahu kamu punya masa lalu yang kelam, tunggu tapi kenapa mereka ingin mencelakaimu?"
Velena
"Karena Lusy tahu kalau aku akan menjadi primadona sekolah dan iri akan kecantikanku, ia mencelakaiku berharap aku tidak akan bisa menjadi primadona sekolah"
__ADS_1
"Namun rencananya gagal, wajahku kembali seperti biasa karena ada yang membiayai aku untuk operasi plastik"
Sisil
"Jadi.. kamu ini operasi plastik?"
Velena
"Yah benar.. menjijikan bukan?"
Sisil
"Gak, sama sekali engga, yang menjijikan itu adalah mereka, iri membuat mereka buta"
Velena
"Makasih.. aku hanya ingin bilang kepadamu untuk hati-hati terhadap mereka, mungkin sasaran selanjutnya adalah kamu"
Sisil
"Eh?! kenapa aku?!"
Velena
"Tentu saja karena sekarang kamu itu terkenal lho~ bahkan akrab dengan ketos baru itu, jelas target selanjutnya adalah kamu"
Sisil
"Oke.. makasih.. oh ya apa kamu gak berencana buat balas dendam? kamu pasti sudah tersiksa selama ini"
Velena
"Hmm.. kamu gak perlu mengkhawatirkan aku.. tentu saja aku ada rencana"
Sisil dan Velena melanjutkan perbincangan itu dan membahas tentang bagaimana cara untuk menjatuhkan Lusy dan temannya. Selama ini Sisil mengira hidup Velena tentram-tentram saja, tapi tidak disangka Velena cukup melewati banyak rintangan. Rintangan yang lebih sulit dari rintangan hidupnya sendiri. Sisil merasa ingin lebih dekat dengan Velena dan membantunya membalaskan dendam.
Velena pulang ketika petang. Padahal Sisil sudah mengajaknya untuk makan malam bersama dan akan mengantarkanya pulang selesai makan tetapi ia menolaknya. Ia berkata ada hal yang harus dilakukan, dan harus tiba dirumahnya sebelum malam hari.
__ADS_1